RUN FOR LIVING - MAULANA RASYID

PROLOG: Run For Living

Seorang pria paruh baya, sekitar usia 40–45 tahun, sedang tertidur lelap di ranjangnya yang
nyaman.
Tiba-tiba, jam beker di sampingnya berbunyi nyaring, membuat pria itu terbangun.
Dengan kesal, ia memukul jam itu hingga terdiam. Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi.
Ia mengusap matanya, lalu melirik jam tangan di pergelangan kirinya—angka digital di sana
menunjukkan "1...9...3...0"
Tanpa banyak berpikir, ia mendengus dan melanjutkan tidurnya.
Tak lama kemudian, suara lonceng desa keras menggema di seluruh ruangan,
membangunkannya kembali.
Dengan wajah kesal, ia menutup telinga sambil bergumam,
“Hoaaam... sudah jam sembilan saja.”
Ia menoleh ke jam tangannya lagi—sekarang menunjukkan "1...8...7...3"
Ia mendadak terdiam.
Matanya melebar.
“...Wtf. Kenapa harus di sini lagi? Aaarghh...”
Sambil menggaruk kepala, ia bangkit.
“Aku harus bergegas,” gumamnya.
Setelah membersihkan diri, ia memilih baju untuk keluar membeli sarapan. Tapi langkahnya
terhenti ketika matanya menangkap rompi sheriff tergantung di lemari, dengan nama “James
Hillgun” terjahit di dada.
Ia terdiam sesaat.
“Ah iya... dia. Aku hampir lupa,” gumamnya lirih.
Masih dengan kolor biru bergaris, ia bergegas turun ke ruang bawah tanah.
Di sana, seorang pria muda terikat dan disekap. Saat melihatnya datang, si pria menyapa
dengan nada sarkastik,
“Haiii... Sheriff James. Gimana? Lebih baik istirahat tiga hari penuh di sini daripada keliling kota
panas, kan?
Kau kelihatan lelah. Mau makan? Aku bisa beliin. Tunggu sebentar, ya~”
Ia tertawa kecil sambil menepuk-nepuk topi koboi besarnya. Jubahnya compang-camping,
seolah siap pergi membeli sarapan.
Pria itu melangkah keluar dari pintu rumahnya dengan hati-hati.
Begitu kepalanya menyembul, matanya langsung membelalak.
“...Sialan. Itu kan Rickoy,” gumamnya dalam hati.
“Kenapa dia muncul justru saat aku lagi lapar, haduh...“
“Jimmy Hoffmann ya?...., mau sampai kapan begini..?“
Sapa Rickoy dengan tatapan sinis dan mematikan.

Ia memaksa senyum, berpura-pura santai.
“Ooohh, Sheriff Rickoy! Ada perlu apa pagi-pagi datang ke rumah saya? Kamu pasti sibuk, kan?
Masa nyari pengangguran kayak saya, hahaha...”
Rickoy menatapnya dingin, lalu mengangkat kartu tanda sherifnya.
“Bukan. Aku cuma patroli,” katanya datar, “karena ada sesuatu yang janggal.”
Wajah Rickoy kini lebih dekat.
“Anak buahku... JAMES HILLGUN!”
Ia menekankan namanya.
“Sheriff magang itu... hilang!. Sudah tiga hari.”
Ia menatap tajam.
“Jadi, Jimmy... apakah kamu melihat dia?”
Jimmy mulai gemetaran.
Tatapan Rickoy terlalu tajam—ia seperti menembus isi kepala Jimmy.
Menyadari ada yang aneh, Rickoy memberi aba-aba.
“Tangkap dia.”
Tiga anak buah Rickoy maju.
“Berdiri. Balik badan. Angkat tangan,” perintah mereka.
“Borgol dia.”
Tapi sebelum sempat diborgol, Jimmy bergerak cepat—ia mencabut revolver kecil dari saku
celananya,
DOR! DOR! DOR!
Tiga kuda milik anak buah Rickoy tumbang.
Jimmy langsung lari masuk ke dalam rumah.
“ARRRGHHH! Anak buah tidak berguna!!!” teriak Rickoy penuh amarah.
Jimmy melesat ke dapur, lalu memecahkan kaca jendela dan melompat ke luar.
Ia berlari melewati jalan setapak di belakang rumah.
Rickoy, tak mau kalah, melompat dari atap ke atap. Gerakannya gesit dan liar, seperti pemburu
sejati.
Jimmy menoleh ke belakang, panik.
“Sial,,, dia sudah dekat..“ gumamnya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti.
SRET!
Sebuah katana menempel di lehernya.
“Cukup, Jimmy. Ikut aku,” desis Rickoy.
Jimmy menggertakkan gigi.

“Lebih baik aku mati... daripada harus nyerahin diri.”
“Jangan bodoh,” jawab Rickoy tegas. “Kau tahu ini tak ada untungnya.”
Jimmy menyeringai.
“Jika kau sangat ingin menengkapku, bagaimana kalau kita duel? Seperti pria sejati.”
Rickoy menarik kembali pedangnya.
“Tidak ada gunanya duel dengan orang seperti—”
DUK!
Jimmy menendang area vital Rickoy sekuat tenaga.
“UURGH!!!” Rickoy jatuh ke tanah, tergeletak sambil memaki.
“Haaaa!, take that B#TCH!" ejek Jimmy dengan puas.
Jimmy tidak membuang waktu. Ia kembali berlari. Ia berlari menuju ke pasar, sesampainya ia di
sana. Ia bertemu seorang gadis cantik yang menggunakan gaun sederhana sedang menjaga
kedai miliknya.
“Main kejar-kejaran lagii?,,, mau sampai kapan coba?“ celetuk gadis tersebut sambil melihat
Jimmy yang sedang terengah-engah.
“Gak ada yang tau,, tckk lagipula aku juga gak mau begini..“ balas Jimmy dengan sedikit kesal.
"Hufftt... aku capek banget, aku pesen susu nya dua gelas.“
"Siap,, dua gelas susu datang“
tawa kecil gadis itu menanggapi Jimmy.
Gadis itu menyiapkan susu untuk Jimmy dan mereka pun mulai bercengkrama.
"Kenapa mereka terus mengejar ku yahh"
Jimmy Mengeluh.
"Sini,,, ulurkan tangan mu“ ucap gadis itu.
Jimmy mengulurkan tangannya..
**Gadis itu mengatur angka di jam tangan Jimmy menjadi
“2...0...0...0“**
Keadaan disekitar menjadi hening, detak jam dinding di kedai itu terhenti, benda benda disekitar
melayang,,, kemudian Jimmy menekan jam miliknya dan..
SEKETIKA-

Atmosfer gurun yang gersang dan panas berubah menjadi perkotaan yang dipenuhi gedung
gedung serta lalu lintas yang padat. Kedai itu juga berubah menjadi supermarket yang terdapat
banyak kebutuhan dan perlengkapan sehari hari. Dua gelas susu Jimmy berubah menjadi
Milkshake rasa stroberi dan anggur.

BERSAMBUNG.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer