Kemana Aku Harus Pulang - Berlina Queen Aquila

Kemana Aku Harus Pulang
Berlina Queen Aquila


Namanya Lara. Seorang gadis malang yang memiliki banyak kepahitan dalam hidupnya. Ia
tumbuh di rumah yang tak benar-benar terasa seperti rumah. Ayah dan ibunya mudah marah. Setiap
kesalahan kecil menjadi alasan bentakan, setiap pendapat dianggap pembangkangan. Lara seringkali
menjadi tempat pelampiasan kedua orang tuanya sendiri ketika kedua orang tuanya sedang memiliki
masalah.

Ia dibentak, dicaci dengan kata-kata yang tidak pantas, bahkan dipukul. Sampai-sampai
sumpah serapah adalah hal yang biasa terdengar di telinganya, dan luka lebam adalah hal yang biasa
ia terima di tubuhnya. Keluarganya sendiri memperlakukannya dengan tidak pantas. Saat ia menangis,
mereka menyebutnya lemah. Saat ia mencoba bercerita, mereka mengatakan ia berlebihan. Sampai
akhirnya Lara berhenti berharap dimengerti oleh orang tuanya sendiri.

Di sekolah, ia punya sahabat yang sangat ia percaya. Orang yang mendengar curhatannya,
tahu luka-lukanya, tahu ketakutannya. Orang yang ia kira peduli dengannya. Namun justru dari mulut
sahabatnya itulah cerita Lara berubah menjadi bahan tawa. Rahasianya menyebar, namanya
dijatuhkan, dan ia dikucilkan habis-habisan. Tusukan itu tidak berdarah, tapi mampu melukainya
begitu dalam. Menghancurkannya. Benar-benar hancur.

Satu-satunya tempat Lara bersandar adalah cinta. Ia memiliki pasangan. Ia percaya pada
pasangannya, percaya bahwa akhirnya ada seseorang yang menganggapnya, menyayanginya, peduli
dengannya. Sampai suatu hari, kebenaran datang tanpa permisi. Orang yang ia cintai lebih memilih
sahabatnya sendiri. Ya, sahabat yang telah melukainya pula. Dua orang terdekatnya berkhianat dalam
satu waktu.

Dunia Lara runtuh. Malam hari, ditemani rembulan, ia duduk sendirian di kamarnya yang
gelap. Kepalanya penuh suara. Bentakan, pukulan, dan sumpah serapah orang tua, tawa dan cacian
teman, tusukan dari seorang sahabat, janji cinta yang patah. Lara mulai berfikir bahwa menghilang
mungkin adalah cara untuk membuat semua penderitaannya berhenti. Ia mengambil seutas tali dan
menarik bangku. Bersiap menggantung diri di hadapan sang rembulan dengan harapan semua
lukannya akan berakhir sampai di sini.

Tali mulai erat mengikat lehernya. Mulutnya mulai sulit untuk berkata. Ia pun mulai susah
untuk bernafas. Namun di antara sesaknya nafas dan air mata, ada satu pikiran kecil yang bertahan.
“Kalau aku pergi sekarang, semua luka ini akan menang”.

Ia tidak tahu darimana kekuatan itu datang. Mungkin dari luka yang ia dapat. Dari sakit yang
ia rasa. Dari lelah yang ia lalui. Mungkin juga dari harapan yang terlalu keras kepala untuk mati. Ia
pun berusaha melepas ikatan tali itu dari lehernya, berusaha menapakkan kakinya lagi ke bangku yang
ada di bawahnya. Ia memilih untuk tetap hidup.

Lara memilih bertahan bukan karena hidup terasa indah. Tapi karena ia ingin membuktikan
bahwa ia lebih dari luka-lukanya. Hari-hari berikutmya tidak mudah. Ia menjauh dari orang-orang
yang menyakitinya. Ia mulai menulis, belajar, bekerja, dan membangun dunia kecilnya sendiri.
Perlahan, ia belajar berkata tidak. Ia belajar bahwa darah tidak selalu berarti keluarga, dan sepi tidak
selalu berarti kalah.

Tahun demi tahun berlalu. Lara tumbuh menjadi perempuan yang kuat bukan karena
hidupnya mudah, tapi karena ia tidak menyerah. Ia sukses dengan caranya sendiri. Mandiri, tegak,
tidak lagi meminta pangkuan dari mereka yang pernah meremehkannya.
Suatu hari, ia tersenyum di depan cermin. Bukan senyum sempurna, tapi jujur.

Ia pernah hampir menyerah, dan pernah terlintas di kepalanya “Kemana aku harus pulang?” sampai
berfikir untuk bunuh diri karena menganggap lebih baik pulang kepada Tuhan saat itu. Namun ia
memilih hidup. Dan keputusan itu mengubah segalanya. Karena terkadang, keberanian terbesar
bukanlah melawan dunia, melainkan memutuskan untuk tetap hidup dan bertahan ketika dunia terasa
kejam.

Komentar

Postingan Populer