Waktu yang habis di awal cerita - YASMINE SYAHRANI
Waktu yang habis di awal cerita
Ruangan yang didominasi oleh cat berwarna putih, dengan aroma antiseptik yang begitu menyengat memasuki indera penciuman.
Di atas brankar rumah sakit, seorang gadis cantik telah terbaring lama. Tubuhnya kaku dan pucat ditambah dengan nafasnya yang kian melemah. Bunyi mesin terdengar pelan, memecah kesunyian yang terasa menekan.
Namanya Amara, tak ada yang tau pasti sejak kapan ia terbaring seperti saat ini. Namun, beberapa bulan yang lalu, gadis itu masih terlihat sehat dengan tubuh tegak terbalut Seragam putih Abu-Abu yang rapi, menyambut hari pertamanya di kelas 10 SMK dengan senyum penuh harap.
Di sekolah Amara dikenal sebagai sosok yang ceria. Tawanya ringan, mudah menyebar pada siapa saja yang berada di sekitarnya. Di kelas barunya, ia tidak butuh waktu lama untuk berkenalan. Amara bahkan sempat bercanda dengan teman teman sebangku nya, seolah mereka adalah teman lama yang dipertemukan kembali.
Setiap pagi, Amara selalu datang lebih awal. Ia duduk dibangku nya sambil membuka buku, meski sesekali pandangan nya melayang ke jendela, memperhatikan langit yang berubah warna. Namun, tak jarang ia mengusap pelipisnya pelan, seolah menahan sesuatu yang tidak ingin ia akui. Baginya, itu hanya rasa lelah biasa, sesuatu yang akan hilang dengan sendirinya.
Baginya, sekolah bukan sekedar tempat belajar, tetapi juga tempat untuk mengejar mimpi yang diam-diam ia simpan rapat didalam hati.
Namun, di balik hari-harinya yang tampak ceria, Amara menyimpan kebiasaan yang perlahan menggerogoti kesehatannya. Ia sering mengkonsumsi makanan tidak sehat seperti minuman manis berlebihan, jajanan instan, dan makanan cepat saji yang hampir selalu menjadi pilihannya setiap hari.
Sesekali, setelah menghabiskan minuman manis favoritnya, ia merasa kepalanya sedikit berdenyut. Namun, ia hanya mengabaikannya, menganggap itu hal kecil yang tidak perlu dikhawatirkan. Baginya, itu adalah hal biasa, sesuatu yang tidak pernah dianggap berbahaya.
Hari demi hari berlalu tanpa perubahan. Hingga suatu pagi di sekolah, Amara mulai merasakan sakit kepala yang tak biasa. Awalnya hanya ringan, tetapi semakin lama terasa menekan dan menusuk. Ia mencoba tetap mengikuti pelajaran, meski pandangannya sesekali berkunang-kunang.
“Kamu nggak apa-apa, Mar?” tanya temannya pelan.
Amara hanya tersenyum tipis. “Cuma pusing biasa,” jawabnya, berusaha meyakinkan.
Namun, rasa itu tidak benar-benar hilang. Justru semakin hari semakin parah. Hingga pada suatu siang, tubuhnya tiba-tiba melemah. Buku yang dipegangnya jatuh ke lantai, dan sebelum sempat berkata apa pun, Amara kehilangan kesadaran di dalam kelas.
Ia segera dilarikan ke rumah sakit. Setelah serangkaian pemeriksaan, dokter menemukan adanya penumpukan cairan di kepalanya yang telah berkembang cukup lama tanpa disadari. Kondisi itu membuat Amara harus segera ditangani secara intensif.
Sejak saat itu, Amara terbaring dalam diam, tanpa suara, tanpa senyum, hanya ditemani bunyi mesin yang terus berdetak pelan di sekelilingnya.
Di ruangan yang didominasi warna putih itu, waktu terasa berjalan lambat, seolah enggan meninggalkan setiap detik yang tersisa. Setelah berbulan-bulan terbaring dalam diam, akhirnya kelopak mata Amara sempat terbuka. Tatapannya lemah, namun cukup untuk membuat harapan yang hampir padam kembali menyala.
Senyum kecil sempat hadir di wajah pucatnya ketika ia diperbolehkan pulang. Rumah yang dulu terasa biasa, kini menjadi tempat paling hangat yang pernah ia rindukan. Tawa pelan, percakapan singkat, dan kebersamaan sederhana kembali mengisi hari-harinya, meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
Namun, harapan itu ternyata tak bertahan lama. Di suatu malam yang sunyi, ketika semua tampak baik-baik saja, kondisi Amara tiba-tiba kembali melemah. Napasnya terasa berat, tubuhnya kembali kehilangan tenaga, dan kesadarannya perlahan memudar untuk kedua kalinya.
Ia kembali dibawa ke ruangan yang sama. Ruangan dengan dinding putih dan aroma antiseptik yang menyengat, tempat di mana waktu pernah terasa berhenti. Kali ini, suasana terasa jauh lebih hening. Tak ada lagi harapan yang lantang diucapkan, hanya doa-doa lirih yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan.
Bunyi mesin kembali terdengar, namun tidak lagi sekuat sebelumnya. Perlahan… melemah… hingga akhirnya berubah menjadi satu garis panjang yang memecah kesunyian.
Di ruangan itu, Amara kembali terlelap dan kali ini, ia tak lagi membuka matanya.
Kabar itu menyebar dengan cepat, melintasi setiap lorong sekolah, masuk ke dalam ruang-ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara tawa. Hari itu, suasana terasa berbeda. Tak ada riuh seperti biasanya, kini hanya bisik-bisik pelan dan tatapan kosong yang saling bertukar tanpa kata.
Nama Amara disebut dengan suara lirih, seolah-olah terlalu berat untuk diucapkan dengan jelas. Beberapa teman menunduk diam, sebagian lain tak mampu menahan air mata. Bangku yang pernah ia duduki kini kosong, menyisakan kenangan yang tak lagi bisa diulang. Guru-guru pun terdiam lebih lama dari biasanya. Dalam hati mereka, tersimpan kehilangan yang sama, seorang murid yang pernah hadir dengan senyum sederhana, namun meninggalkan jejak yang begitu dalam.
Tak ada yang benar-benar siap untuk perpisahan secepat ini. Amara yang dulu berjalan di lorong yang sama, kini hanya hidup dalam ingatan dan cerita yang akan terus dikenang.
Dan sejak hari itu, semua orang belajar, bahwa waktu tidak selalu memberi kesempatan kedua. Bahwa hal-hal kecil yang sering diabaikan, bisa menjadi sesuatu yang tak tergantikan.
Di antara sunyi yang tersisa, nama Amara tidak benar-benar pergi. Ia tinggal, dalam doa, dalam kenangan, dan dalam hati setiap orang yang pernah mengenalnya.
Penulis: Yasmin Syahrani X PM 2
Tentang Penulis:
Yasmin Syahrani adalah seorang pelajar yang percaya bahwa setiap perasaan, sekecil apa pun, layak untuk diceritakan. Ia menuangkan emosi, kehilangan, dan harapan ke dalam tulisan yang sederhana namun penuh makna. Baginya, menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi tentang menghidupkan kenangan yang mungkin tak bisa diulang.

Komentar
Posting Komentar