BUNGA DI TENGAH DERITA- IKA WULANDARI

 BUNGA DI TENGAH DERITA



Hiduplah seorang remaja bernama Aksa. Ia berusia tujuh belas tahun yang kini menduduki masa SMA. Ia berasal dari keluarga yang bisa di katakan kurang mampu, meskipun kehidupan kurang berkecukupan Aksa puas dengan apa yang ia miliki. Karena ia memiliki kepintaran diatas rata rata berkat ketekunan belajar nya. Aksa masuk sma menggunakan bantuan biaya pendidikan dari pemerintah, maka dari itu ia selalu di bully oleh teman temannya karena dari keluarga yang kurang mampu. 


Aksa juga di bully karena terlihat sok ambis di mata teman kelasnya yang bernama Nevan dan Nesa. Nevan dan Nesa adalah saudara kembar yang selalu membully Aksa, mereka merupakan anak dari pengusaha sukses maka itulah yang membuat mereka merasa paling berkuas. Orang tuanya juga ternyata donatur sekolah membuat mereka bersikap sombong dan selalu berpikir bahwa mereka tidak perlu belajar dengan giat. Mereka justru berpikir belajar giat tidak terlalu penting karena bagaimana pun nanti mereka yakin akan meneruskan perusahaan orang tuanya.


Pagi itu, matahari baru saja merangkak naik memancarkan sinarnya yang hangat ke seluruh halaman sekolah. Di sekitar sekolah, kicau burung terdengar bersahutan, memberi sentuhan damai di antara hiruk-pikuk kedatangan para siswa. Bel sudah berbunyi tanda bahwa jam pelajaran dimulai, beberapa kelas sudah tampak sunyi dan damai. Namun, di dalam kelas XI B, suasananya jauh dari damai. Meja-meja bergeser, beberapa siswa sibuk bermain game di ponsel, dan ada juga yang mengobrol dengan suara keras, tak memedulikan guru yang belum datang. Gelak tawa dan suara teriakan menyatu dalam satu ruang, membuat kelas itu seperti pasar yang ramai.


Di tengah hiruk-pikuk itu, seorang siswa duduk tenang di bangkunya, namanya Aksa. Di tangannya, sebuah buku pelajaran terhampar, dan matanya fokus pada setiap halaman yang dibacanya. Beberapa teman memperhatikan tingkah Aksa dengan pandangan heran, bahkan ada yang berbisik sambil tertawa kecil. “Lihat tuh si Aksa, pagi-pagi baca buku. Rajin amat, kayak mau ujian aja,” gumam salah satu temannya sambil tertawa. Tapi Aksa tak peduli. Ia hanya menegakkan punggungnya dan terus membaca, mencoba menahan diri dari setiap gangguan yang datang.


Tak lama kemudian Bu Maya masuk, membawa buku dan senyuman hangat yang khas. Beliau adalah guru yang dikenal baik hati dan selalu memberikan semangat kepada murid-muridnya. 


“Selamat pagi, anak-anak!” sapa Bu Maya.


“Pagi, Bu!” jawab siswa serempak.


Hari ini, Bu Maya memutuskan untuk membahas topik yang ringan tapi penting bagi masa depan anak-anak didiknya.


“Anak-anak, hari ini kita akan membahas tentang cita-cita. Setiap orang pasti punya impian dan cita-cita. Nah, coba siapa di sini yang mau berbagi cita-citanya?” tanya Bu Maya sambil tersenyum.

Beberapa murid mulai mengangkat tangan, antusias untuk berbicara. Tak ketinggalan, seorang anak laki-laki bernama Aksa. Aksa adalah siswa yang rajin, meski berasal dari keluarga sederhana. Ia tak pernah ragu untuk bermimpi besar.


Bu Maya menunjuk Aksa. “Nah, Aksa, apa cita-citamu?”


Dengan penuh semangat, Aksa menjawab, “Saya ingin jadi pengusaha sukses, Bu. Saya ingin bisa punya perusahaan sendiri dan membantu banyak orang.”


Suasana kelas mendadak hening, dan sebagian siswa tampak kaget mendengar cita-cita Aksa yang begitu tinggi. Bu Maya tersenyum bangga. “Bagus sekali, Aksa. Menjadi pengusaha sukses adalah cita-cita yang luar biasa. Kamu harus terus berusaha dan berdoa agar bisa mewujudkannya.”


Pembahasan terus berlanjut sampai tak terasa istirahat pun tiba. Saat Aksa ingin bangkit untuk keluar kelas Nevan dan Nesa menahan nya dengan tatapan mengejek.


"Heh cupu! tadi lu mau jadi apa?! Pengusaha sukses? Hahaha orang miskin macam lu jadi orang sukses tuh ga mungkin, lu aja ga ada biaya gimana bisa sekolah tinggi." ejek Nesa.


"Lu udah jadi beban keluarga masa mau nambah beban lagi ngebiayain lu untuk sekolah tinggi, udah lah gak usah tinggi tinggi impian lu, lagian percuma juga ga bisa kuliah dan percuma juga tuh nunjukin sikap sok ambis lu." sambung Nevan dengan senyum smirknya.


Aksa yang mendapat ejekan tersebut hanya bisa diam membisu.


"Hey kalian! jangan gitu dong kasian Aksa, dari pada urusin hidup Aksa mending kita ke kantin yuk!" ajak Alan yang merupakan teman satu circle nya.


"Lu kenapa bela Aksa mulu si!?" Nevan kesal dan langsung pergi menuju kantin.


Jam pulang sekolah Aksa yang sudah sampai dirumah dengan dia yang terus memikirkan ucapan Nevan dan Nesa, dia duduk di meja belajar sambil melihat nilai nilai nya.


"Nilai aku bagus bagus tapi setelah aku pikir aku rajin dan mendapat nilai bagus untuk apa kalo nantinya aku tidak melanjutkan kuliah, kalau nanti pake beasiswa kayanya ga mungkin deh, takut ga lolos kalau tidak pake aku harus bayar dan itu uang dari mana? aku harus gimana aku bingung, apa tetap memperjuangkan cita dengan belajar giat atau menyerahkan saja lagian untuk apa?" pikir Aksa.


Seminggu kemudian......


Saat Bu Maya sedang membagikan ulangan harian yang mereka kerjakan Minggu kemarin Bu Maya menghampiri Aksa.


"Aksa, kenapa nilai ulangan kali ini dibawah kkm dan Ibu lihat akhir akhir ini kamu tidak mengerjakan tugas dan terlihat tidak fokus saat pembelajaran, kedepannya lebih rajin dan fokus ya." nasihat Bu Maya.


"Baik bu" jawab Aksa dengan lesu.


Aksa setelah mendengar perkataan Nevan dan Nesa minggu lalu dia jadi malas untuk belajar dan tidak fokus karena memikirkan omongan Nevan dan Nesa, Karena menurut nya bener kata mereka. Jadilah Aksa yang malas belajar Sekarang.


Istirahat pun tiba...


Tiba tiba teman kelas Aksa yang bernama Rara mendekati Aksa yang sedang melamun, karena ia merasa kasihan dengan Aksa yang sekarang.


"Aksa," panggil Rara.


"Ada apa Ra?"


"Gua denger denger nilai lu turun dan lu ga fokus belajar ya?" tanya Rara.


"Ya gitu lah," Aksa menjawab dengan lesu.


Rara yang penasaran akhirnya bertanya, "Lu lagi ada masalah? lu bisa cerita kok ke gua siapa tau gua bisa bantu." 


"Gua kepikiran Omongan Nevan dan Nesa mereka bilang kalau gua ga akan bisa jadi pengusaha sukses karena gua berasal dari keluarga kurang mampu," keluh Aksa.


"Apanya yang gak bisa? bisa kok kalau lu mau usaha dengan belajar yang giat dan selalu berdoa. Justru dengan lu malas malasan belajar seperti ini tidak akan bisa. Yang terpenting jangan pantang menyerah dan gak usah dengerin omongan mereka. Lu harus bangkit dan buktikan kalau lu bisa, semangat!" nasihat Rara sambil menepuk punggung Aksa.


"Iya bener kata lu Ra, Gua harus berusaha dan gua yakin pasti bisa, makasih ya Ra," jawab Aksa. 


"Sama sama, Oh iya gua punya ide gimana kalau lu jualan kecil kecilan aja dulu menurut gua itu bisa jadi pengalaman lu nanti"


"Wah ide bagus tuh, kayanya gua jualan donat aja deh kebetulan gua bisa buat donat," seru Aksa.


"Coba lu buat dan lu jual di sekolah siapa tau banyak yang minat dan nanti pas udah lulus bisa jadi pengusaha donat yang sukses." kata Rara yang membuat Aksa menjadi lebih semangat.


"aamiin makasih ya Ra" 


"Sama sama, lu harus bangkit dan buktikan kalau lu bisa"



Dua hari kemudian....


Aksa mencoba berjualan donat ternyata banyak yang suka dengan donat buatannya bahkan ada yang memesan untuk acara.


Hari terus berlanjut, banyak rintangan yang gagal hadapi saat berjualan donat di sekolah, tetapi itu bukan menjadi penghalang buat dirinya. Dua tahun kemudian setelah dinyatakan lulus berkat usaha kecil-kecilannya dulu dia menyisihkan uang jualannya untuk membeli tempat untuk jualan donat dan sekarang ia sudah memiliki tempat. Aksa sudah memiliki banyak pelanggan hingga tokonya menjadi tokoh yang besar. Tak hanya itu Rara yang dulunya menjadi penyemangat Aksa dia juga menjadi pengusaha minuman minuman cafe, Aksa dan Rara bekerja sama. Aksa dan Rara membicarakan tentang kerjasamanya di sebuah cafe. 


"Biar lebih banyak menunya kira-kira tambah apa lagi ya?" bingung Aksa.


"Gimana kalau ditambah menu makanan dan minuman yang disukai anak muda," jawab Rara yang tiba tiba kepikiran ide tersebut.


"Wah ide bagus salah satunya dessert," seru Aksa.


Saat mereka sedang membicarakan tiba-tiba pelayan dari sebuah kafe tersebut datang untuk memberikan minuman yang mereka pesan. 


"Permisi ini minumannya," sambil menata minuman pesanan Rara dan Aksa.


Saat mereka melihat pelayan tersebut mereka tidak menyangka bahwa pelayanan tersebut adalah teman mereka saat SMA yaitu Nevan dan Nesa.


"Nevan Nesa?, kalian bekerja di sini?" syok Aksa saat melihat mereka.


"Bukankah orang tua kalian memiliki usaha mengapa tidak kerja di perusahaan orang tua kalian?" tanya Rara dengan bingung.


"Orang tua kita sudah bangkrut sejak lama Ra...." Jawab Nesa yang nunduk menahan malu.


"Kita minta maaf ya Aksa kita menyesal dulu pernah membully lu dan ternyata lu bisa menjadi pengusaha sukses seperti sekarang," memang nelvan sudah mengetahui karena ia pernah mendengar kabar dari teman temannya bahwa Aksa sudah berhasil.


"Iya ternyata malas-malasan tidak ada manfaatnya dan malah membawa petaka," sesal Nesa.


"Sudah sudah itu sudah lalu," Rara yang menghentikan topik, toh kalau sudah terjadi mau bagaimana.


"Yang terpenting kalian harus berubah" seru Aksa dan Rara .


Berkat usaha kecil-kecilannya dulu, Aksa jadi punya banyak pengalaman juga pastinya berkat teman dekatnya yaitu Rara dan juga berkat ketekunannya dulu yang suka mencari tahu dan membaca buku mengenai pengusaha sukses. Jadilah Aksa Pengusaha sukses donat sekarang. Aksa sangat bersyukur bahwa cita-citanya menjadi pengusaha sukses terwujud. sekarang iya sadar bahwa derajat ekonomi bukanlah penghalang kesuksesan dan yang terpenting punya semangat, pantang menyerah, rajin, berani ambil resiko dan percaya diri kunci menjadi pengusaha sukses.


Nevan dan Nesa sadar bahwa sifat kemalasannya tidak bermanfaat bagi dirinya. Nevan dan Nesa membagi ilmu yang mereka ketahui kepada Aksa tentang usaha karena mereka sedikit tahu mengenai itu yang dikenalkan oleh kedua orang tuanya kepada mereka harapan penerusnya tetapi semuanya gagal. Semakin lama semakin lama usaha donat Aksa semakin luas dan memiliki cabang dimana-mana.


~ Teruslah berusaha janganlah mendengar perkataan negatif teman yang membuat kita jauh dari kesuksesan karena kesuksesan berada dan berawal dari diri kita sendiri. ~


Komentar

Postingan Populer