ELYSIAN - AABIDAH SALSABILAH

 

ELYSIAN

BY : AABIDAH SALSABILAH. Y

Arlo pranaja, laki laki berusia 16 tahun yang saat ini sedang melamun di teras rumah. Pagi ini hujan turun lebat, Arlo senang mendengarkan suara hujan, tenang pikirnya. Ada banyak orang berkata pada Arlo, untuk menjadi dewasa, seseorang harus melewati banyak hal sulit. Arlo tidak tahu apakah kalimat itu benar benar terbukti atau tidak sama sekali. Karena alih alih menjadi dewasa, ia hanya

berakhir menjadi anak remaja yang tak tahu arah. Dia tidak tahu harus pergi ke mana dan apa yang harus ia lakukan.

"ARLO MASUK NANTI BAJU MU BASAH!" itu suara bunda. "IYAA" saut Arlo. Arlo masuk ke dalam rumah, rumah yang sederhana, namun menyimpan banyak hal. "Kamu kenapa sih suka banget duduk di teras kalo hujan? Kesambar petir tau rasa" "Eh, kalo ngomong jangan gitu Raf, Arlo kan tetep adik kamu"


Barusan itu percakapan antara Rafka dan Kak Lula. Mereka merupakan saudara dari Arlo. Rafka berselisih 1 tahun lebih tua dari Arlo, tapi Arlo tidak mau memanggil Rafka dengan sebutan Abang, tidak cocok katanya. Sementara Kak Lula berselisih 4 tahun dengan Arlo. Omong omong, di antara mereka, tidak ada yang memakai “Lo-Gue” untuk memanggil satu sama lain. Karena menurut bunda itu tidak sopan, jadi mereka menerapkan pemakaian “AkuKamu”.

"Daripada aku gangguin kamu belajar, mending duduk di teras" ucap Arlo. "Udah ah ribut nya, nih bunda bikin nasi goreng spesial telur nya dua"

"Widihh favorit Ayah nih, ayo makan"

Nasi goreng spesial buatan bunda menjadi pemersatu di pagi itu. Ditambah dengan berbagai candaan ayah yang mengundang tawa di meja makan. Sehingga hujan pun tidak bisa menutupi suara tawa

mereka.


Saat sore tiba, hujan datang lagi. Arlo berjalan ke arah jendela untuk melihat hujan, tapi ia

menemukan Rafka duduk di sofa. Arlo berdecak ketika melihat Rafka menikmati makan siang nya yang terlambat dengan sebuah buku yang terbuka. Bahkan dalam keadaan seperti ini, dia berusaha untuk terus belajar supaya nilai nya bagus. Supaya dia bisa mendapat peringkat, supaya dia bisa

membanggakan keluarga. Sementara di balik jendela, Arlo justru sibuk memperhatikan hujan lebat di pekarangan rumah.

"Rafka" Arlo memanggil nya, masih dengan mata yang sibuk memperhatikan hujan. Tapi meski begitu, Rafka tetap menoleh ke arah Arlo. "Buat kamu, nilai itu penting?" "Penting dong"


Kali ini Arlo menoleh ke arah Rafka. "Sampai angka berapa kamu bisa beranggapan kalau nilai itu penting buat kamu?" Rafka terdiam cukup lama. Dia bahkan mengabaikan nasi dan bukunya hanya untuk diam menatap Arlo. Seolah dia sedang mencari tahu, hal hal apa saja yang saat ini ada di dalam kepala

Arlo. "Kalau nilai dan angka kamu anggap penting, seberapa besar orang lain bisa menghargai kamu? 1 juta? 2 juta? 1 triliun?" Dan Arlo kembali bertanya ketika Rafka masih tak kunjung berkata apa apa.

Kemudian tak lama setelah itu, Rafka mendecak. "Tuh kan, mulai lagi."

"Aku cuma nanya" Kata Arlo. "Kamu bisa nggak sih kalau nanya tuh yang nggak usah bikin aku mikir?" "Ya kalau kamu nggak mikir, namanya bukan pertanyaan dong!" Rafka terkekeh, lalu dia melanjutkan

acara makan siang nya seolah pertanyaan Arlo tidak pernah ada. Tapi Arlo tahu, di balik diam nya Rafka, dia sedang memikirkan semua pertanyaan Arlo. Mereka hidup bersama hampir sepanjang hidup, jadi mustahil Arlo tidak bisa menerka saudara nya sendiri.


Sore itu, mereka akhirnya terdiam cukup lama. Ayah dan bunda belum pulang. Hanya ada Kak Lula yang memilih berdiam di kamar semenjak pulang. Hanya suara hujan dan gelegar petir yang

meramaikan kesunyian mereka.

"Ngomong ngomong, gimana PDKT kamu sama Hani?"

"PDKT? Aku nggak bisa bilang dengan gampang kalau itu PDKT."

"Terus? Kamu bilang suka sama dia?" Arlo menarik napas panjang, "Aku bilang gitu soalnya dia lucu. Tapi pernah nggak sih kamu ngerasa suka sama orang tapi nggak pengen jadian atau have something sama dia? Cuma pengen berhubungan baik sebagai teman dekat."

"Jadi selama ini kamu nggak punya perasaan apa apa ke dia?" Tanya Rafka. Arlo menggeleng. "Hah? Jadi selama ini kamu baik sama dia buat apa?"

"Gini, awalnya aku pikir juga aku suka sama dia. Tapi semakin sering aku main atau jalan sama dia, aku nggak ngerasain apa apa. Juga, karena baru kali ini aku ketemu orang yang sefrekuensi sama aku. Waktu aku bilang kalau aku deg deg-an tiap ketemu dia, aku pikir juga awal nya aku suka sama dia. Tapi lama

lama biasa aja. Jadi aku rasa, itu bukan berasal dari rasa suka antara cowok ke cewek, tapi kemungkinan besar karna aku terlalu antusias punya teman sefrekuensi."


Rafka ber-oh panjang. “Tapi Ar, kamu tahu nggak sih? Sampai kapanpun, kita nggak akan pernah cocok sama manusia mana pun. Mungkin sesekali kita bakalan nyaman ngobrol sama seseorang, sesekali ngerasa bahagia sama seseorang soalnya bisa ketemu sama orang yang sefrekuensi. Tapi kenyataannya, nggak akan ada yang benar benar bisa cocok sama kita" Jelas Rafka. Disampingnya, Arlo tetap diam mendengarkan, membiarkannya untuk terus berbicara. "Kita hanya bisa saling mengerti, saling

berdampingan. Bukan berusaha keras untuk menjadi satu atau menjadi sama. Karena sampai kapanpun kita nggak akan pernah bisa." "Kenapa?"

"Ya karena karakter manusia itu beda beda, Arlo. Orang yang sudah menikah aja nih, kadang masih bisa berantem. Kadang di keadaan paling sulit, nggak jarang final argumen mereka, “Karena kita udah nggak cocok lagi”. Padahal sejatinya manusia tuh nggak akan pernah bisa cocok. Kita itu saling melengkapi,

persis kaya papan puzzle. Bentuk setiap potongannya nggak sama, tapi disaat yang bersamaan, kita bisa menjadi satu gambar yang utuh."

"Jadi intinya?" Tanya Arlo.“Mau dengan siapa saja kita berteman, mereka semua nggak akan benar benar cocok sama kita. Pasti ada beberapa hal dari mereka yang nggak kita setuju atau nggak kita suka, tapi kita masih tetap bisa temenan. Karena hakikatnya, berteman bukan hanya soal cocok dan nggak cocok. Itu soal kita bisa atau nggak menerima orang lain di hidup kita dengan semua kurang dan lebihnya mereka." Hari itu, Arlo berjanji pada dirinya bahwa ia akan mengingat kata kata dari Rafka. Itu meninggalkan kesan yang sangat hebat pada dirinya.


Hari berganti dan selama empat hari Arlo dirawat di ICU. Kok bisa? Jadi sepulang sekolah, Arlo tak sengaja melihat Rafka yang sedang dipalaki oleh Jaya dan geng nya. Jaya itu tidak menyukai Arlo karena Arlo pernah membuat Jaya terkena hukuman dari guru BK, padahal itu juga karna ulah Jaya sendiri. Arlo marah saat melihat Rafka sudah siap di pukuli, ia pun menghampiri mereka.

“WOY MAKSUD KALIAN SEMUA APA MUKULIN RAFKA”

Jaya dan gengnya langsung menoleh ke sumber suara, “Ar, sekali aja lo ga usah ikut campur urusan gue, bisa gak?” kata Jaya.

“Gue bisa aja ngelakuin itu tapi sayang nya urusan lo selalu berhubungan sama orang orang terdekat gue” jawab Arlo. “Ya elah Raf, adik lo sok sok-an banget mau jadi pahlawan” kata Jaya. “PAHLAWAN KESIANGAN CUY!!” saut salah satu teman Jaya. Mereka tertawa terbahak bahak mendengar itu. Arlo yang memang mudah tersulut emosi menjadi terpancing. “Ar, sudah jangan” cegah Rafka.“Raf minggir, aku gak terima kamu di giniin sama mereka”

“Pahlawan kesiangan kita lagi ngasih saran guys” Jaya meremehkan. “AHAHAHAHAHAHAHAHAHA” Jaya dan teman teman nya tertawa.

“MAJU SINI JANGAN BERANI NYA KEROYOKAN RAME RAME” jawab Arlo yang sudah emosi. “Dih nantangin” ucap Jaya.


Arlo dan Jaya bertengkar berdua. Mereka tidak akan berhenti sebelum ada yang menyerah. Arlo terkena satu pukulan di bibir nya. Gantinya, rahang Jaya terkena pukulan keras dari Arlo. Mereka berdua sudah

sama sama babak belur. Tapi, ternyata Jaya membawa alat tajam. Dengan cepat Jaya mengeluarkan pisau itu lalu menusuk perut Arlo. Arlo sangat kaget akan hal tersebut. Ia perlahan terdiam dan terjatuh

merasakan sakit. Darah keluar dari seragam putih nya. Jaya yang dirasa sudah menang memutuskan untuk mengakhiri aktivitas nya.

“Makanya udah gue bilang gak usah ikut campur urusan gue Ar” ucap Jaya.

“GUYS AYO BALIK, URUSAN KITA UDAH SELESAI” bukan tanpa alasan Jaya berkata begitu. Ia takut nanti nya ada polisi atau orang dewasa yang tau akan hal yang ia perbuat. Karna di tempat itu tidak ada CCTV, dia rasa akan aman untuk sementara. Karena pasti cepat atau lambat, ia akan terkena masalah.


Rafka yang melihat Arlo bersimbah darah menghampiri nya dengan khawatir. Arlo hanya menutup mata tapi kesadaran nya belum hilang. Arlo menunjuk ke arah ponsel nya yang tadi terjatuh saat bertengkar dengan Jaya. Rafka yang peka pun mengambil ponsel Arlo dan menghubung Kak Lula.

Dan disaat itu juga, Arlo kehilangan kesadaran nya. Dan disinilah ia sekarang. Berada di ICU selama empat hari, tapi akhirnya tadi pagi Arlo sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap. Ia juga sudah sadar dan membuka matanya. Dan kalimat pertama yang ia ucapkan sangat tak terduga.

“Ayah, mau pisang nugget” Ayah sangat kaget. Tapi ia tidak kewalahan untuk menganggapi permintaan anak nya itu. Ayah memeluk Arlo dan menangis. Arlo justru tenang dan menepuknepuk tubuh besar ayah nya yang sesegukkan itu.“Udah Yah, ga cocok sama badan” Ayah menyeka air mata nya, “Kalo tidak sedang sakit begini sudah Ayah pites kamu” Arlo tertawa dan melihat ke keluarga nya. Namun, ia heran karena Rafka yang sudah memakai sarung dan peci lengkap.

“Ngapain kamu pakai peci?”

“Aku pikir kamu bakal mati Ar!!” Rafka histeris dan berlari ke arah Arlo.

“Aku sudah tunggat tunggit sholat Dhuha sama Tahajud biar kamu gak mati!” ucap Rafka mengeluarkan semua kekhawatiran nya.

“AHAHAHAHA- ADUH!” pekik Arlo saat dirasa bagian perut kiri nya sangat sakit. Ia memeriksa perut nya dengan menarik baju nya ke atas. Ia terdiam sambil mengelus pelan daerah yang tertutup perban itu. “Sinting, lagian kamu ngapain sih pake sok ngebales Jaya segala?!” ujar Rafka kesal.


Arlo mengubah arah pandang nya menatap Rafka.“Ya kalo kamu jadi aku, rela gak lihat saudara kamu di palaki?” tanya nya.

"TAPI KAMU HAMPIR MATI!!" Pekik Rafka, ia meremang saat mengingat adik nya bersimbah darah saat ia mencapai rumah sakit.

Arlo terkekeh pelan, "Nyawa aku sembilan". Hari itu ditutup dengan adegan Rafka yang memukul pelan Arlo dikarenakan gemas dengan tingkah sang adik.


Tiga hari yang lalu Arlo pulang dari rumah sakit. Dan hari ini Hani berkunjung ke rumah nya.

Kenapa Hani tidak menjenguk Arlo kala di rumah sakit? Karena saat itu Hani sedang berlibur ke Bali. Tapi ia sempat menghubungi Arlo sambil mengomel dan menasehati nya.

"HAHAHAHAHAHAHAHA KAMU JELEK BANGET" tawa Hani menggelegar. Arlo sudah sabar sembari mengelus dada,

"Aduh jangan bikin nge-down dong Han" Arlo memelas. "Maaf, lagian kamu sok ngide sih"

"Ya kan aku pengen kelihatan cakep pakai rambut coklat gitu. Orang lain cocok aja tuh pakai rambut begini" keluh Arlo. Jadi setelah bosan rebahan, Arlo dan Rafka berpikiran untuk mewarnai rambut mereka menjadi cokelat terang. Setelah dicuci dan dikeringkan, Rafka menjadi semakin tampan.

Bayangkan warna cokrlat muda ke muka dia yang putih, sudah seperti idol Korea. Nah masalahnya di

Arlo. Setelah mewarnai rambutnya kenapa dia malah seperti jamet?? Dia juga mewarnai nya tidak rata, masih tersisa bagian yang hitam.

Arlo meraih ponsel nya dan berkaca, "Jelek banget ya Han? Perasaan Rafka jadi bagus deh, kok aku jadi begini ya?"

"Faktor F" jawab Hani "F?" tanya Arlo.

Hani melambaikan tangan di depan muka nya sendiri, "Face.."

Arlo makin pundung, "Kamu mah body shaming Han"

"Kenapa sih? Biasanya juga gak peduli mau cakep apa jelek" tanya Hani. "Ya kan aku niatnya pengen ganteng, supaya gak malu maluin kalo kamu lagi jalan sama aku" Arlo duduk di sebelah Hani, "Aku curiga kalau kita lagi jalan bareng, orang orang mikirnya ada bule sama tour guide jalan bareng"

Hani kembali tertawa, "Ahahahaha! Apaan coba Ar?"

Arlo duduk lalu berkata, "Sudah lah, aku keluar saja deh" Hani menahan pergelangan tangan Arloh, "Duduk dulu sini" "Males ih, kamu ngetawain aku mulu. Pundung nih aku"

"Padahal mau dipuji"

Arlo langsung duduk di depan Hani, "Ayo puji aku cepat "


Hani mengambil ponsel nya dan membuka kamera. Ia bergeser ke sebelah Arlo dan mencoba mendapatkan selfie mereka berdua. "Senyum". Arlo mengikuti perintah Hani, "Ngapain sih? Katanya mau muji?"

"Sebentar" Hani terlihat tersenyum lalu menunjukkan ponsel nya ke arah Arlo, "Kenapa?" tanya arlo.

"Mau kamu cakep atau jelek, mau kamu gendut atau mau kamu jerawatan, brewokan, kumisan. Aku gak peduli Ar" Hani merapihkan poni Arlo, "Kamu tetap jadi sahabat aku, mau dengan kurang atau lebih nya kamu” jelas Hani. Arlo salah tingkah dengan ucapan Hani. Ia berharap bisa terus berhubungan baik

dengan Hani sampai tua nanti. Ia harap, tidak pernah ada rasa canggung di antara mereka. Ia sangat peduli terhadapnya. Begitupun juga Hani kepada Arlo.

Arlo ingin mereka tetap menjadi tetangga, ia ingin melihat Hani bahagia dengan pasangan nya suatu hari nanti. Hari itu di akhiri dengan suara tawa mereka yang terdengar keluar dengan perasaan bebas.

Bahagia itu sederhana bukan? Terkadang kita selalu komplain kalau hidup kita terlalu sederhana atau biasa biasa aja. Tapi sebenarnya, mengerjakan sesuatu yang biasa itu tidak mudah. Setiap hari itu bukanlah hari yang biasa.


Komentar

Postingan Populer