HORIZON;KHAINA - JENIFER ASSYFA

  Horizon; KhaiNa

Karya: Jenifer Assyfa


Kailand, yang biasa dipanggil Kak Kai, adalah sosok pria yang selalu terlihat tenang, seolah-olah dunia berjalan lebih lambat di sekitarnya. Ada sesuatu dalam tatapan matanya yang dalam dan suara baritonnya yang membuat orang lain terpaku. Jenna merasa Kailand adalah teka-teki yang tak pernah benar-benar bisa ia selesaikan. Ia adalah seseorang yang tampak memiliki banyak lapisan, seperti laut yang permukaannya biru pekat namun menyimpan arus kuat di dalamnya. Kailand memperlakukan Jenna layaknya seorang ratu, memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus. Bagi Jenna, setiap momen bersama Kailand adalah hadiah kecil yang selalu ia nantikan. Jenna, yang sering dipanggil Jen atau Dek, adalah gadis yang sensitif dan mudah tersentuh. Ia seperti langit senja yang selalu berubah warna, lembut namun mudah goyah oleh angin.

Kailand adalah laut yang dalam dan tak mudah terbaca, sedangkan Jenna adalah langit yang mudah berubah—kadang cerah, kadang mendung. Mereka bertemu di garis horizon, tempat di mana laut dan langit bertemu, saling melengkapi meskipun berbeda. Hubungan mereka hangat, penuh tawa, namun terkadang juga diwarnai petir kecil yang sesekali menyambar. Suatu hari, Jenna menghabiskan waktu bersama Kailand. Mereka bercengkrama, membicarakan hal-hal tidak jelas, seperti pasangan pada umumnya. “Jen, aku mau tanya,” panggil Kailand, matanya menatap Jenna penuh rasa ingin tahu. Jenna menoleh dengan malas, “Halah, apalagi nih? Mau nanya apa, Kak?”

Kailand mendekat sedikit, senyumnya tipis. “Kiss itu kan cium, ya?” tanya Kailand, berusaha menahan tawa. Jenna mengangguk, “Iya, emang kenapa?”

“Terus kalau pray itu doa?” lanjut Kailand, matanya mulai berbinar. “Eh, iya betul. Serius banget sih, Kak?” jawab Jenna dengan sedikit bingung.

Kailand pura-pura serius, “Kalau kiss dan pray digabung jadi kisspray, kenapa malah jadi pelicin pakaian? Masa ciuman berdoa buat baju licin?” Kailand menatap Jenna dengan wajah polos, seolah pertanyaannya adalah hal paling penting di dunia saat ini.

Jenna terdiam sejenak sebelum akhirnya tertawa keras, hampir jatuh dari kursinya. “Astaga, KAK! Itu bukan gitu maksudnya!” ujarnya sambil terbatuk karena terlalu banyak tertawa. Kailand menyandarkan tubuhnya ke kursi, tersenyum puas. “Tapi bener kan, agak aneh juga kalau dipikir-pikir. Ciuman berdoa, terus bajunya jadi kinclong!” tambahnya sambil memperagakan gerakan menyemprotkan sesuatu. Jenna hanya bisa menggelengkan kepala, merasa Kailand adalah kombinasi antara pacar romantis dan badut pribadi. Di tengah gelak tawa mereka, Jenna berpikir betapa berartinya momen-momen kecil seperti ini.

Namun, di tengah tawa itu, terlintas dalam pikiran Jenna bagaimana jika suatu hari mereka putus. Kailand tertawa dan berkata, “Haha, ngga mungkinlah, kakak bodoh kalau begitu. Soalnya susah nyari yang kaya kamu.”

Dalam hubungan mereka, pertengkaran tak jarang terjadi, sering kali karena hal yang sama. Bagi Jenna, komunikasi adalah hal yang sangat penting. Ia tidak suka diabaikan, sementara Kailand, dengan usianya yang lebih matang, mulai serius memikirkan masa depan dan karirnya. Jenna, yang keras kepala, hanya bisa merasa marah dan kesal saat Kailand mengabaikannya. Suatu hari, mereka bertemu secara tidak sengaja di supermarket. Jenna memanfaatkan kesempatan itu untuk bicara empat mata. “Kak, KEMANA AJA sih? Dari kemarin HILANG terus? Aku nungguin kabar kamu! Aku tuh STAY liat HP, berharap ada notif dari kamu, tapi NIHIL! Kamu udah BOSEN sama aku ya? Aku ini APA sih di mata kamu, Kak? Pajangan? Hiasan etalase? CAPEK aku, tahu ngga?! Kenapa aku harus kayak orang gila nungguin kamu?” ucap Jenna meledak, matanya berkaca-kaca menatap tajam Kailand sambil melipat tangannya di dada.

Kailand menatap Jenna dengan sorot mata yang tak lagi hangat. “Tuh kan, lagi-lagi kayak gini. Bisa ngga sih berhenti jadi orang yang merasa paling tersakiti? Kakak juga sibuk, Jen! Ngga bisa setiap saat kabarin kamu! Kakak ini kerja, mikirin masa depan, dan kamu nuntut terus kayak ngga ngerti! Kakak capek. Kamu ngga bisa terus-terusan kayak gini. Dunia ini bukan cuma tentang kamu, Jen.”

Kailand mendekat, matanya menusuk tajam, “Dengar ya, kakak sayang sama kamu. Tapi kalau ini terus-terusan, kakak juga bisa capek dan pergi. Jangan sampai kamu nyesel karena kebiasaan kamu sendiri.” Suaranya rendah tapi penuh tekanan, membuat Jenna terdiam. Ia menunduk, tidak berani menatap Kailand lebih lama.

Kata-kata Kailand seperti badai yang menghantam hati Jenna. Ia terdiam, matanya berkaca-kaca, namun tak ada air mata yang tumpah. Hatinya hancur, tapi entah kenapa tak ada ruang untuk menangis. Jenna merasa bodoh dan merutuki dirinya sendiri. Ia sadar bahwa dirinya egois. Mungkin, jika ia lebih mengerti keadaan Kailand, pertengkaran ini tak akan terjadi. Hari demi hari, hubungan mereka menjadi asing. Mereka hanya bertukar kabar lewat pesan singkat, sekadar sapaan selamat pagi dan selamat malam. Jenna merasa rasa sayangnya pada Kailand mulai pudar. Ia berpikir bahwa hubungan mereka sudah tidak bisa diperbaiki. Rasa hormat yang hilang dan egonya yang tinggi membuat Jenna berpikir untuk mengakhiri hubungan ini secara baik-baik. Setelah sebulan menjalani hubungan yang hambar, mereka memutuskan untuk bertemu dan menyelesaikan semuanya.

Mereka duduk dibangku taman yang biasa mereka kunjungi untuk sekedar bercanda dan bertukar cerita namun untuk saat ini tidak ada canda tawa dan senyuman tulus itu. Kailand yang merasa lebih tua memilih untuk berbicara lebih dulu dan mengutarakan apa yang ada di hatinya dan pikirannya “Jen, kakak minta maaf sama kamu, maafin kakak untuk yang tempo hari kakak agak membentak kamu, dan maaf kayanya kakak gabisa terus terusan kaya gini, kakak mau udahin hubungan kita ya dan maaf kakak gabisa tepatin janji janji kakak” kata nya sambil menatap matanya dalam. Jenna menarik nafas lalu menatap balik sang empu “Aku juga minta maaf kak karna aku duluan juga begitu, aku tau kakak ga suka kalo aku meledak ledak gitu, aku berfikir kayanya aku juga lagi pengen sendiri dulu dan perbaiki diri aku, gapapa ka mungkin lain kali atau nanti kakak bisa tebus janji itu, aku maafin kakak asal kakak maafin aku”

Pertemuan itu berakhir dengan baik. Mereka berpisah dengan ikhlas, meskipun luka di hati keduanya belum sepenuhnya sembuh. Perpisahan itu diakhiri dengan janji, “Mari bertemu di versi terbaik masing-masing yang menjadi lebih baik.” Setelah keikhlasan tumbuh, penyesalan tak terasa begitu berat. Sebaliknya, rasa syukur muncul dan melegakan hati. Mereka sadar bahwa Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk keduanya. Dari perpisahan ini, banyak hal positif yang bisa diambil. Salah satunya adalah bekal untuk hubungan berikutnya yang lebih baik. Kadang kala, kita harus ikhlas terhadap keputusan yang kita ambil, meskipun ada sedikit penyesalan dalam diri.






Bio Penulis


Jenifer Assyfa, lahir di Jakarta pada 16 Juli 2007, adalah seorang siswa kelas 11 di SMKN 49 Jakarta, jurusan Akuntansi. Memulai perjalanan menulis sejak tahun 2022, Jenifer gemar menuangkan kisah-kisah penuh emosi yang mampu menyentuh hati pembaca. Selain menulis, ia juga aktif di media sosial sebagai platform untuk berbagi inspirasi dan karya tulisnya.

  • Nomor HP: 0895321017686

  • Instagram: @soundof_je

  • Twitter: @looksoundje



Komentar

Postingan Populer