KEIRIAN SEORANG ADIK ADOPSI - RIFDAH HANIFAH QOLBI

 

Amora Weasley dan Aruna Weasley merupakan dua orang kakak beradik. Mereka  lahir di keluarga yang sangat berkecukupan. Ayah mereka Narendra merupakan seorang  direktur di sebuah perusahaan yang cukup besar di kota Medan. Sedangkan ibu mereka Elora  merupakan seorang desainer yang cukup terkenal. Amora dan Aruna, seorang anak yang  sangat berbakat dan berprestasi. Amora lebih berbakat di bidang pengetahuan, sedangkan  Aruna lebih berbakat di bidang olahraga. Usia Amora hanya berselisih 1 tahun dengan adik 

nya Aruna. Amora duduk di bangku sekolah kelas 6 dan adik nya Aruna duduk di bangku  sekolah kelas 5, di salah satu Sekolah Dasar di kota Medan. Mereka sangat banyak  mempunyai teman, karena keramahan nya. 

Di malam hari Amora, Aruna dan bersama kedua orang tua nya duduk di meja makan  untuk menyantap hidangan makan malam hari ini. Di tengah-tengah sela obrolan mereka,  ayah tiba-tiba berkata  

"Amora, Aruna, ayah ingin mengatakan sesuatu hal kepada kalian berdua, sebetul nya ayah  dan ibu sudah memikirkan hal ini dari lama, tetapi kami baru berani mengatakan nya sekarang  ini". 

"Ada apa yang ingin ayah katakan?" tanya Amora. 

"hmm…baiklah nak, ayah dan ibu sudah memiliki kalian, dua orang anak perempuan kami  yang sungguh cantik, tetapi…" 

"apa yah?" tanya Aruna. 

"Tetapi, ayah merasa kesepian tidak dapat mempunyai seorang anak laki-laki, ayah sangat  sungguh menginginkan nya nak.." ucap ayah. 

"Jadi, ayah dan ibu ingin mengadopsi seorang anak laki-laki. Setujukah kalian berdua jika ibu  dan ayah mengadopsi nya? Apa kalian keberatan dengan keputusan kami?" ucap dan tanya  ibu kepada Amora dan Aruna. 

"Wah! Kalo Aruna sih setuju banget. soalnya aku sungguh menginginkan saudara laki-laki"  jawab Aruna. 

"Aku sih setuju aja, asal ayah dan ibu nantinya tidak pilih kasih terhadap kami" jawab Amora. "Nak, tenang saja, ayah dan ibu tidak akan seperti itu" ucap ayah. 

 Seminggu kemudian, akhirnya mereka menemukan anak yang akan di adopsi. Hari itu juga  akan menjadi awal mereka bertemu dengan adik adopsi nya. Saat bel pulang sekolah. 

"Mora, besok jangan lupa ya kerja kelompok IPA" seru Rani, sahabat Amora. "Siap, tenang aja Ran" balas Amora. Dari kejauhan Aruna menghampiri nya. "Kak! gimana sih tadi gue panggil-panggil ga denger" ucap kesal Aruna kepada kakak nya.

"E-eh…hehehe sorry, tadi gue lagi ngobrol sama Rania, jadi ga tau kalo lo manggil" Jawab  Amora. 

Masih dengan kekesalan Aruna terhadap Amora, akhirnya mereka berdua pulang ke  rumah. Sesampai nya di rumah mereka terkejut ketika melihat ada seorang anak laki-laki di  kamar Aruna. 

"Heh! Lo siapa kok ada di kamar gue" kata Aruna dengan nada tinggi. 

Ayah dan Ibu yang sedang berada di kamar sontak keluar dan melihat apa yang terjadi. "Aruna sayang, ada apa? kenapa kamu berbicara dengan nada tinggi seperti ini?" Tanya Ibu. "Dia siapa bu? ada di kamar Aruna" tanya Amora sambil menunjuk anak laki-laki itu. 

"Oh, itu dia anak yang ayah dan ibu adopsi dari panti asuhan, nama nya Arga, umur nya 10  tahun. Sungguh tampan kan dia seperti ayah?" ucap ayah sambil sedikit tertawa. 

"Dih tampan dari mana nya?! tampan-an ayah daripada tuh anak ngeselin gitu, bisa-bisa nya  dia berantakin kasur aku" jawab kesal Aruna. 

"Aruna! Bisa diam nggak sih lo? kayanya dari tadi emosi terus, udah sono masuk kamar aja"  kata Amora yang kesal melihat tingkah laku adik nya. 

Keesokan hari nya Arga di ajak oleh Amora untuk melihat-lihat ada ruangan apa saja di rumah  ini. 

"Wah! Kak Amora dan Kak Aruna hebat deh! punya banyak banget piala." dalam hati Arga  sambil memandangi piala dengan rasa kagum. 

Tahun demi tahun berganti Arga menjadi lebih dekat dengan Amora dan Aruna.  Sampai suatu waktu ayah dipindah tugaskan keluar kota, ayah ditugaskan di kota Jakarta.  Mereka pindah dan tinggal di kota Jakarta. Saat itu Arga berumur 17 tahun. Amora, Aruna,  dan Arga memang terlambat masuk sekolah karena alasan tersendiri, sehingga Amora kelas  12, Aruna kelas 11, dan Arga kelas 10. Mereka duduk dibangku Sekolah Menengah Atas. 

Sebetulnya di hati terdalam Arga dia menyimpan rasa iri kepada kakak-nya. Karena,  banyak nya prestasi yang di raih oleh Amora dan Aruna. Sedangkan, dia merasa tidak  diperhatikan. Karena, ayah dan ibu sibuk atas sejumlah prestasi yang diraih kakak nya.  Hingga Arga melakukan sebuah hal yang sungguh tidak terduga, Arga ingin menyingkirkan  Amora dan Aruna dari kehidupan dia, ayah, dan ibu. 

Beberapa bulan Amora dan Aruna bersekolah berjalan dengan baik. Sampai tiba saat  nya untuk ujian semester. Tidak terasa, 5 hari ujian semester sudah mereka lalui dengan baik.  Tetapi Arga sungguh licik, dia memulai rencana nya. 

Tokk…tok…tok… 

"Silahkan masuk" kata Bu Riska, Ibu Kepala Sekolah. Arga pun membuka pintu.

"Eh, Arga ada apa?" tanya bu Riska. 

"Ibu ada yang mau saya bicarakan" jawab Arga. 

"Silahkan nak" kata bu Riska. 

Arga pun menceritakan awal ia di adopsi, pindah, sekaligus rasa iri dan rencana dia terhadap  kakak nya itu. 

"Tenang kok bu, saya bakal kasih ibu uang, asal ibu mau lakuin rencana yang saya katakan  tadi dan ibu harus menjaga rencana ini rapat-rapat jangan sampai ada yang tau" ucap Arga. 

"Hmm…sebetulnya ibu juga sedang butuh uang untuk operasi bapak nya ibu, karena biaya  nya mahal sekali, gaji ibu banyak dipakai untuk kebutuhan rumah tangga" ucap bu Riska. 

"Jadi gimana bu mau ga? Nanti operasi bapak nya ibu saya yang akan membayar nya" tanya  Arga, sambil mengiming-imingkan uang. 

"Baiklah kalo begitu, ibu setuju" jawab bu Riska. 

Pembagian rapot pun tiba, nilai Amora dan Aruna benar-benar dirubah menjadi lebih  rendah. Padahal, sebenarnya hampir semua jawaban ujian semester mereka benar semua.  Sepulang nya ayah dan ibu mengambil rapot Amora dan Aruna. Ayah sungguh kecewa dan  marah 

"Amora! kenapa nilai kamu belakangan ini menurun? kamu tuh belajar apa gak sih?! Ayah  biayain kamu sekolah supaya kamu bisa pintar!" ucap kesal ayah melihat nilai Amora yang  selalu menurun. 

"M-maaf ayah" ucap Amora 

Disisi lain Aruna sedang dimarahi oleh ibu. 

"Aruna! Kenapa nilai kamu ikut menurun seperti kakak kamu. Dan juga hari ini kamu sudah  ibu keluarkan dari klub sepak bola, karena nilai kamu menurun!" 

"M-maaf bu, tapi…" ucap Aruna, yang merasa sedih. Tetapi, belum selesai Aruna berkata. "Cukup Aruna! Tidak ada yang perlu kamu jelaskan!" ucap Ibu dengan nada tinggi. 

Aruna masuk ke kamar dan dia menceritakan semua kejadian yang menurut dia sungguh  tidak masuk akal kepada Amora. 

"Kak, lo ngerasa ga sih kaya gue? Masa nilai ujian semester gue rendah banget, gue tadi  nanya temen yang jawaban nya hampir mirip. Nilai dia di atas 80" curhat Aruna, merasa ada  yang tidak beres. 

"Gue juga ngerasa gitu, kaya ada yang janggal" jawab Amora, yang juga merasakannya.

"Kak, gue mau cari tau deh. Feeling gue ada yang iri sama kita jadi dia ngelakuin suatu hal  terhadap kita. Lo mau ikut nggak kak?" ucap Aruna, ingin menyelidiki lebih dalam. 

"Feeling gue sih juga gitu, gue ikut deh" jawab Amora. 

Pada saat sore hari ketika semua guru sudah pulang, mereka menyelinap masuk ke  dalam ruang guru dengan pelan-pelan agar tidak ketahuan satpam. Beruntung nya ruang guru  masih belum di kunci. Di dalam mereka mengecek apakah kunci jawaban guru dan jawaban  mereka itu banyak yang salah. Selama 5 hari berturut turut mereka mengecek dan  memastikan, memang butuh waktu selama itu. Setelah itu, ternyata alangkah terkejut nya  mereka bahwa jawaban ujian semester mereka hampir seluruh nya benar. 

"Kak, tapi menurut gue bukti ini kurang cukup karena kita gak tau pelaku sebenar nya siapa"  ucap Aruna. 

"Lo betul juga sih, kita harus cari tau pelaku nya. Gimana kalo kita cek CCTV aja deh"  sambung Amora. 

Mereka pun, pergi meminta izin ke satpam dan melihat rekaman CCTV sekolah. Saat  menyetel rekaman, pandangan mereka tertuju pada ibu kepala sekolah sekaligus Arga.  Sungguh mengejutkan Arga disitu terlihat sedang memberikan sebuah amplop berwarna  coklat. Entah apa isi yang ada di dalam amplop tersebut. Mereka menyimpan video rekaman  tersebut ke dalam flashdisk. Sesampai nya Amora dan Aruna di rumah ia langsung  merencanakan sesuatu. Ia memanggil Bu Riska, meminta untuk menjelaskan hal tersebut. Bu  Riska pun mengakui perbuatan tersebut di depan orang tua Amora. Amora, Aruna, kedua  orang tua nya, dan Bu Riska langsung menuju kamar Arga. 

"Heh! Arga! Waktu itu gue pernah liat lo masuk ke ruang kepala sekolah. Lo ngapain di sana?!"  tanya Aruna, sambil menaikan alis nya. 

"E-eh, engga kok gue ga pernah masuk kesana" jawab Arga, dengan gugup. 

"Arga! Lo gak usah pura-pura lagi ya! Gue bahkan, Aruna, Ayah, dan Ibu udah tau kebusukan  lo selama ini! Gue kecewa banget sama lo!" ucap Amora dengan kesal dan tanpa basa-basi. 

"M-maksud kalian apa? Selama ini aku ga pernah ngelakuin apa-apa" tanya Arga 

"Alah! berisik lo nggak usah pura-pura ga tau! Lo selama ini kan yang mau menyingkirkan kita  dari rumah ini! Karena lo iri sama apa yang kita capai! Kalo lo belom ngaku, gue punya satu  saksi sekaligus pelaku dalam hal ini!" jawab Aruna dengan tegas. 

"Bu Riska, silahkan masuk bu" panggil Amora, mempersilahkan Bu Riska masuk. 

"M-maaf nak Arga. Ini uang yang kemarin kamu kasih ke ibu, ini ibu kembalikan ya nak. Ibu  tidak mau terlibat lebih jauh dalam rencana kamu terhadap Amora dan Aruna. Maaf semua  nya saya izin pamit pergi. Sekali lagi mohon maaf" ucap Bu Riska dengan perasaan terpukul.

"Puas lo sekarang! Ngaku kan lo sekarang?!" ucap Amora. 

"M-maaf in aku, aku salah, aku khilaf. Ayah, Ibu, Kakak tolong maafin aku, aku ngaku salah.  Aku janji ga ngulangi lagi" jawab Arga sambil memohon maaf. 

"Ayah dan ibu sungguh kecewa banget sama kamu! Amora, Aruna maafin ayah sudah  berprasangka buruk pada kalian" ucap Ayah. 

"Amora, Aruna. Ibu juga minta maaf sama kalian nak" sambung ibu. 

"Iya ayah, Ibu, kita maafin kok" kata Amora dan Aruna secara bersamaan. 

Setelah semua kebusukan Arga selama ini terbongkar. Ayah dan Ibu ingin melihat kesungguhan Arga apa dia akan berubah menjadi lebih baik setelah ini. Sebulan berlalu,  ternyata Arga benar-benar membuktikan nya dia bisa mendapatkan nilai yang tinggi di kelas  nya. Dia akhirnya belajar bahwa pintar bukan hanya membutuhkan belajar, tetapi tenaga dan  perjuangan untuk memahami sekaligus mencoba dari sebuah kegagalan hingga berhasil  menemukan jawaban tersebut. Jangan pernah iri kepada siapapun itu karena kita berbeda  sesuai kemampuan masing masing. 

- Jakarta, 3 November 2022 - 

Rifdah Hanifa Qolbi


Komentar

Postingan Populer