MAH.. KOK JADI GINI, YA? - DWI YULIA & SAFIRA

 

Kata Pengantar 

Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa.  Berkat limpahan karunia-nya, kami dapat menyusun  Cerpen yang berjudul “Mah.. Kok Jadi Gini, ya?”. Dalam  penyusunan Cerpen ini penulis telah mengusahakan  semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan penulis.  Namun sebagai manusia biasa, penulis tak luput dari  kesalahan dan kekhilafan baik dari segi penulisan maupun  tata bahasa.  

Terima kasih kami ucapkan kepada bapak/ibu  guru pembimbing yang telah menuntun kami dalam  proses penyusunan cerpen ini. Karena tanpa adanya  masukan-masukan dari berbagai pihak, mungkin kami  tidak mampu menyelesaikan Cerpen ini. Cerpen ini dibuat  sedemikian rupa semata-mata untuk meningkatkan minat  baca para putra/putri Indonesia dan semata-mata untuk  memotivasi kreativitas para pembaca untuk ikut serta  menciptakan suatu karya tulis.  

Jakarta, Oktober 2024

Prolog 

17 Februari 2003, Kebahagiaan yang luar biasa  dirasakan oleh sepasang suami istri yaitu Jaeral  Kartanegara dan Ria Anasyahla. Lahir anak perempuan  pertama mereka yang mereka panggil Ana Kartanegara.  “Cahaya hidupku” itu yang ada dibenak mereka. 

17 Juli 2006, Kebahagiaan keluarga Jaeral kini  bertambah. Pada hari itu, lahir anak perempuan kedua  dari mereka yang diberi nama Syahla Kartanegara. Tangis  haru dirasakan oleh Jaeral dan Ria. “Bahagiaku” itu pikir  mereka.  

17 Maret 2008, Keluarga kecil Jaeral yang disebut  “Keluarga Cemara” sedang berkunjung ke kebun  binatang. “Ana, Syahla, kalau kalian sudah besar nanti  ajak anak-anak kalian ke sini ya, dan bilang sama mereka  kalau kalian pernah berkunjung kesini sama ayah dan  mamah.” Ucap Ria kepada kedua putri kecil mereka. 

31 April 2009, “ANA, AWAS!!” Awal  kehancuran bagi keluarga Jaeral. BRAKKK. “Mas!  Tolongin anak kita!” Ucap Ria yang sudah banjir air mata.  Tak berdaya rasanya saat melihat putri sulungnya 

tergeletak dijalan sebab menjadi korban tabrak lari sebuah  mobil sedan di halaman rumahnya. “Tulang kaki Ana  remuk, dia bisa sembuh hanya saja tak normal lagi.” Ucap  dokter membuat hati Jaeral dan Ria hancur bagaikan  ditusuk seribu pisau. 

31 Oktober 2012, “Syahla, sini nak.” Panggil Ria  kepada putri bungsunya. “Syahla anak mamah yang  pintar. Nanti kalau mamah pergi, mamah titip ayah dan  kak Ana ya, nak. Nanti kalau Syahla capek, Syahla tidur  ya sebentar, tapi esok hari harus bangun lagi. Nak, ingat  pesan mamah, dunia itu keras, nak. Kamu harus berani  ambil keputusan dan berani ambil resiko. Kamu harus  bisa menyusun masa depan yang baik. Bantu ayah dan  kak Ana ya, Nak.” Tutur Ria yang dipanggil “Mamah”  oleh Syahla. 

31 Desember 2012, “Istirahat yang tenang, mah.  Syahla janji bakal susun masa depan Syahla dengan baik.  Syahla bakal selalu ingat pesan mamah. Syahla bakal  jagain ayah dan kak Ana. Syahla sayang mamah” Batin  Syahla berusaha melepaskan kepergian sang ibu.

BAB 1 

Kalau bisa, tidur selamanya saja ‘Menurutmu, hari ulang tahun itu seperti apa?  Menyenangkan? penuh haru? atau sebuah kegagalan  manusia yang tertunda? Sejak kematian ibu, hari ulang  tahun ku menjadi kelabu, selalu bertepatan dengan hujan  yang membawa langit berubah menjadi pilu. Tapi,  setidaknya aku memiliki ayah dan kakak yang tetap  membuat rumah ini hangat, walau tanpa usap dan dekap  hangat ibu ku. Namun, apa jadinya jika ulang tahunmu  berubah menjadi semakin menyeramkan, berubah  semakin pilu, karena adanya benalu.’ 

Remaja menuju dewasa itu memandangi setiap  bait yang tertoreh dalam diary book-nya, kata demi kata  yang teruntai membuatnya teringat, ini adalah curahan 

hati terakhirnya, tepat saat dirinya berumur lima belas  tahun dengan penuh penekanan dan ketidakrelaan,  membuat Syahla berhenti menulis di buku kesayangannya  tersebut.  

Syahla tersentak mendengar knop pintu kamar  yang perlahan terbuka, dengan terburu-buru, ia menutup  diary book kesayangannya itu. Lalu dengan cepat  memutar tubuhnya untuk memusatkan fokus pada orang  yang dengan lancangnya membuka pintu kamar tanpa  mengetuk. “Syahla, Nak,” sang ayah berkata diiringi  dengan gerak tangan yang mengusap lembut rambut anak  sulungnya, “Bunda Tami bilang, saat pulang sekolah,  kamu nangis, ya? Ada apa nak, Syahla mau berbagi cerita  kepada ayah?” Sang ayah bertanya dengan sangat lembut,  namun tidak menghilangkan nada kekhawatiran dari tiap  ucapannya. Syahla bergeming, dengan mata yang  berkaca-kaca Syahla berucap, “Kalau aku gagal di setiap  langkahku nanti, apa ayah dan kakak akan terus  mendamping ku? Rasa-rasanya, aku seperti melanggar semua janjiku mamah, bahkan aku tidak bisa menjaga  kalian, tidak bisa membahagiakan kalian, semuanya 

terasa berputar di kepala ku, semuanya selalu ada pada ku,  nyaman rasanya memiliki tempat pulang. Tapi kenapa  semuanya terasa hampa, yah? rasanya begitu frustasi,  semuanya membuat aku Ingin menenggelamkan diri ku  sendiri, aku..” Suaranya begitu lirih, serat akan frustasi  yang selama ini dipendam, rasanya setiap kata yang  diucapkan menutup rongga dadanya sehingga menjadi  sesak.  

Nafas Syahla semakin memberat, dibarengi oleh  lengan hangat sang ayah yang mendekap erat dirinya,  seolah mengatakan, ‘Tidak apa, ada ayah di sini, kamu  akan baik-baik saja.’ Sesosok anak dan ayah itu pun  menangis tersendu, menjatuhkan ego untuk menangis  tersendu dalam dekapan hangat masing-masing,  menunjukan kerapuhan dan kelemahan dalam jumawa  semesta. “Syahla, kamu mau untuk konsultasi dengan  psikolog? Ayah akan mengantarmu, jika kamu mau,”  Sang ayah merasakan gelengan pelan dalam pelukannya,  tanda bahwa Syahla menolak. Ayah menyisir pelan  rambut Syahla, seraya berkata, “Ya sudah, kalau begitu  Syahla tidur ya. Besok masih harus sekolah, kan?”  Dituntunnya Syahla menuju ranjang tidur, dengan lembut, 

ayah membaringkan Syahla, sembari memberikan  kecupan-kecupan kecil pada pucuk kepala sang anak.  “Syahla, jangan berpikir terlalu keras ya nak, ayah  dan kakak akan selalu melindungimu, menjadi rumah dan  menjadi sandaran ternyaman untuk Syahla. Tidur ya,  Syahla butuh banyak istirahat hari ini,” Sang ayah  berucap lirih sekali, dan setelahnya melenggang pergi dari  kamarnya. Syahla menatap kosong punggung lebar sang  ayah yang kian menjauh, ‘Kalau bisa, Syahla ingin tidur  selamanya saja. 

§ 

BAB 2

Tuhan, Bukankah Itu Terlalu Kejam? “Sudah mau berangkat, dek?” Suara yang  mengalun merdu keluar dari mulut sang kakak. Ia berjalan  mendekat kearah kakak-nya, “Iya kak, aku harus  berangkat lebih pagi, hari ini ada pentas seni, jadi aku  harus berangkat lebih cepat untuk ngebantu panitia yang  lain.” Ana mengangguk pasti, “Siap deh, good luck ya,  dek! Duh, bangga banget kakak, dulu masih kecil bisanya  merengek tapi sekarang udah bisa jadi panitia. Oh iya,  kamu pulang malam dong, dek?” Sang kakak bertanya  diselingi kekehan kecil, mengingat sang adik yang dulu  hanya bisa merengek, sekarang malah sudah bisa  berpartisipasi dalam event besar. Syahla hanya  mengangguk sebagai jawaban, lalu menyalami Ana dan  bergegas keluar dari rumah. Takut-takut tertinggal  busway. Syahla berjalan dengan cepat menuju halte,  mulutnya terhenti merapalkan doa agar tidak tertinggal  busway pertama di pagi ini, bisa gawat jika datang  terlambat dan sedikit membantu, bisa-bisanya nanti  dirinya terkena makian dari berbagai divisi.

Sesampainya Syahla di halte bus, ia melihat bus  pertamanya hampir jalan meninggalkan dirinya. “Pak,  tunggu pak. Aduh, mana supirnya bolot lagi,” Syahla  menggerutu sendiri, dengan terus menambah kecepatan  pada tungkai kakinya, untungnya dengan tubuhnya yang ringan, Syahla bisa berlari dengan sangat cepat dan  berhasil mendapatkan bus pertama di pagi ini. “Neng– 

neng, bus itu datangnya pagi, jangan lelet kalo bangun.  Emang kebiasaan anak jaman sekarang susah amat  bangun pagi,” Sopir bus tersebut berbicara dengan sarkas,  sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sepertinya  sang sopir kepalang sebal dengannya. Syahla hanya  tersenyum pahit sambil mengatur nafasnya yang  tersengal.  

Saat sudah sampai di sekolahnya; salah satu  Sekolah Menengah Atas Negeri yang terkenal dengan  keunggulannya, Syahla pun berlari dengan cepat menuju  lapangan utama, tempat pentas seni akan diadakan.  

Syahla langsung bergegas mengerjakan jobdesk-nya. 

Mari sejenak kita tinggalkan Syahla agar fokus  mengerjakan tanggungjawabnya. Jika kalian bertanya,  apakah Syahla termasuk anak berprestasi dan aktif?  Jawabannya adalah, ya. Ia merupakan anak berprestasi  serta aktif dalam kegiatan kepanitiaan. Namun, semuanya  ia lakukan karena perasaan kosong yang selalu  menemaninya, banyaknya kegiatan yang dilakukan  semata-mata hanya untuk mengisi kekosongan yang ada  di relung hatinya. Entahlah, Syahla selalu merasa sendiri,  kosong, frustasi, walau mempunyai banyak orang  terkasih, tidak menutup kemungkinan bahwa Syahla  merasakan semua perasaan itu. Syahla sering terlalu kalut,  ia akan melakukan self harm dengan alasan ‘kepuasan  diri’ banyak sekali hal-hal yang tidak dimengertinya, ada  apa sebenarnya? Apakah hanya perasaan kalut akan  kehilangan sang ibunda tercinta, atau memang ia  dilahirkan untuk merasakan itu semua? Tertelan oleh rasa  frustasi membuat banyak lubang hitam dalam hatinya,  mengantarkannya dalam kekosongan luar biasa.  

Hari sudah gelap, dan acara sudah hampir  rampung, Syahla memijat pangkal hidungnya, pertanda  bahwa dirinya sudah lelah. Mengurusi acara seperti ini 

10 

sejujurnya membuat dirinya muak, sesak rasanya setiap  berhadapan dengan orang, semuanya terasa menyebalkan,  mengerjakan sesuatu hanya untuk mengisi kekosongan  yang tidak dapat diobati membuat dirinya muak.  

Tepat jam setengah sebelas malam, semua acara  sudah rampung, semua panitia dibubarkan oleh satpam  sekolah, karena waktu pulang yang tidak sesuai dengan  surat izin yang diberikan. Syahla sangat gembira dengan  itu, ia buru-buru memesan ojek online, tanpa berpikir;  bahwa ini sudah larut malam, driver mana yang mau  menerima pesanannya. Namun, dalam waktu 5 menit ada  driver yang menerimanya, Syahla bersorak senang dalam  hati karena bisa pulang tanpa drama susah transportasi.  “Mba Syahla, ya?” Syahla mengangguk seraya naik ke  atas motor sang driver.  

Selama perjalanan driver tersebut mengajaknya  berbicara, banyak sekali topik yang dibuka oleh driver tersebut, namun Syahla hanya menjawabnya dengan  deheman pelan; Sudah lelah diajak bicara pula, pikirnya.  Tangan driver itu merambat mengelus paha Syahla, “Mba 

11 

cantik deh, tapi kalo diajak bicara kayak orang bisu, jawab  dong mbak, saya kurang ganteng ya makannya mbak ga  jawab?” Driver ojek itu makin bertindak kurang ajar,  mengelus paha Syahla dengan pelan sampai hampir  menyentuh pangkal selangkangannya. Keringat sebulir 

bulir biji jagung mulai menetes di sekujur tubuhnya,  nafasnya memburu seakan ada batu besar yang  menyangga paru-parunya, tubuhnya membeku dengan  suhu tubuh yang semakin mendingin. Syahla ketakutan  setengah mati. Ia memegang kencang lengan driver  tersebut, menghempaskannya kasar sampai motornya  terjatuh di jalanan sepi, masih jauh dari rumahnya. 

Syahla terisak, air mata mulai menggenang di  pelupuk matanya, ia ketakutan setengah mati. “Mas!  Jangan keterlaluan ya sama saya! Brengsek, emangnya  mas kira saya itu hewan yang bisa seenaknya disentuh!”  Syahla berteriak bagai orang kesetanan, dengan tubuh  yang bergetar Syahla mulai berbalik, berjalan dengan  terseok-seok. Driver tadi mengejar Syahla, dan dengan  mudahnya sang driver berhasil menangkap Syahla,  karena memang, kondisi Syahla jauh dari kata baik. Air  mata yang terus mengalir di matanya, celana bagian lutut 

12 

yang robek dan mengeluarkan darah segar. “Mau kemana  lu, pasti lu mikir bisa kabur cepet ya,” Driver tersebut  berkata dengan nada tinggi, seringai seram mulai muncul  di wajahnya dengan mencengkram kuat rambutnya. Rasa 

rasa, pada detik itu kewarasan Syahla ditarik dari raganya.  Syahla mencengkram tangan driver tersebut seiring  dengan jambakan di kulit kepalanya, Syahla diseret  menuju pinggiran, tepatnya di sebuah ruko kosong di  seberang jalan kosong itu. Syahla menggeleng kuat,  tangisannya terdengar semakin pilu, terus-menerus  dirinya mengampun pada sang pelaku, namun seperti  dirasuki iblis, driver tersebut menyeretnya semakin  bengis.  

Tubuh Syahla dilempar dengan kasar ke  dinginnya lantai ruko. Kepala Syahla terus menggeleng,  menangis sesegukan dengan telapak tangan yang  digosokkan satu sama lain. Syahla terus memohon  ampun, menyerta mertakan permintaan maaf atas sikap  buruknya tadi, membungkukan tubuhnya seolah meminta  pengampunan pada Tuhan.  

Namun semuanya sia-sia, tangan bejat itu terus  menggerayangi tubuh tidak berdayanya, menyentuh 

13 

bagian-bagian intim tubuh Syahla. Menghiraukan  teriakan permohonan yang selalu diserukan. Syahla  meraung-raung, terus mencoba mendorong tubuh bejat  Itu dari atas tubuhnya. Ia ketakutan setengah mati. Namun  nihil, tubuh itu lebih besar darinya, bahkan dari  perlawanan yang dilakukan, tubuh kotor tersebut tidak  bergeming sedikitpun dari tempatnya. “Anak kecil kayak  kamu emang pantes diginiin, biar nggak songong,” Tawa  iblis itu keluar dari mulut kotor pelaku, seolah  menertawakan ketidakberdayaan gadis di bawahnya.  Syahla menggeleng gusar, terus meminta tolong, entah  pada siapa. Tubuhnya dijamah, nyawanya seakan dicabut  paksa dari tubuhnya, Syahla memandang kosong langit langit usang di atasnya, matanya tidak henti  mengeluarkan air mata, rintihan demi rintihan kesakitan  keluar dari mulutnya. Menyerukan terus menerus nama  sang ayah, mama dan kakak di dalam hatinya. Seakan akan permintaan tolongnya sampai karena telepati jiwa,  meminta keadilan Tuhan yang selalu jahat kepadanya,  kenapa semuanya jadi seperti ini? 

§

14 

BAB 3 

Bukan Awal Dari Penderitaan Tepat jam 12 malam, terlihat seorang perempuan  penuh memar dengan baju yang berantakan sedang  menangis pilu. Itu Syahla, berjalan gontai ditempuhnya 

15 

tempuh menuju rumah, tanpa memakai alas kaki dalam  perjalanan dengan jarak yang cukup jauh untuk mencapai  rumah. Sekujur tubuh perempuan itu terasa sakit, tetapi  rasa sakitnya tidak sebanding dengan luka jiwa yang  terasa. Syahla memeluk dirinya sendiri, udara dingin  menusuk-nusuk tubuhnya yang sudah seperti kanvas,  penuh dengan goresan tinta. Satu jam, Syahla menempuh  perjalanan panjang penuh luka, pupil matanya bergerak  ke bawah, melihat kakinya yang sudah terbalut darah.  

Ia Melangkahkan kakinya ke dalam rumah,  matanya menyoroti sekitar; sepertinya semua sudah  terlelap. Malam ini, Syahla melihat nyata bahwa sehancur  apapun dirinya, dunia akan tetap berjalan sesuai porosnya.  Pikirannya kacau, rasanya semuanya sudah hancur sejak  kejadian itu. Raganya masih ada, namun jiwanya seakan 

16 

mati lebih cepat. Malam itu, dinding-dinding kamar  Syahla menjadi saksi bisu betapa hancurnya gadis itu. Syahla berjalan pelan ke arah kamarnya, dengan  bercak darah bercetakan kakinya ia torehkan pada lantai  dingin rumahnya. Terduduk pelan di pinggir kasurnya,  mengambil pulpen tajam di laci meja belajarnya. Ia  menangis sesenggukan, semuanya terasa semakin  melelahkan. Tangan kanannya memegang sebatang  pulpen yang sangat tajam. Secara perlahan, Syahla  

menusukan pulpen tersebut ke pergelangan tangannya,  saat bagian tajam pulpen sudah menembus kulitnya, ia  secara pasti menggeser sambil menekan pulpen tersebut  agar menusuk lebih dalam nadinya, sehingga tercipta  garis horizontal yang mengeluarkan darah segar dari  pergelangan tangannya. Torehan luka di tangannya  seakan mengungkapkan sebagian kecil rasa sakit yang dia 

17 

rasakan. Sesaat setelah Syahla menelan 5 tablet  Paracetamol bersamaan dengan soda, pandangannya  kabur dan sepenuhnya kehilangan kesadaran. ‘Ayah, kak  Ana, maaf.. Aku gagal’  

§ 

Isak tangis terdengar samar di sekelilingnya  membuatnya memaksa untuk membuka mata. Sorot  lampu tepat menyoroti matanya. Tidak, ini bukan  dirumah. Bola matanya mulai bergerak, mencoba  mencermati dimana dan dengan siapa dia saat ini.  “Syahla, kamu bangun, nak? untungnya dokter sigap  menangani mu, nak.” Sang ayah segera mendekap putri  bungsunya itu. Syahla awalnya menerima kedatangan  sang ayah dalam peluknya, namun sesaat setelahnya,  rekaman tentang kejadian malam itu seolah terputar  otomatis dalam benaknya. Ia mencengkram rambutnya  dengan kasar, peluh sudah membanjiri dahinya, dirinya,  dadanya bergerak naik turun secara cepat seirama dengan  nafasnya yang memburu. “BRENGSEK, JAUH-JAUH  DARI GUE SIALAN, LO JAHAT, JAHAT SIALAN!”  Syahla berteriak secara histeris. Reflek sang ayah 

18 

terdorong menjauh, ia terkejut melihat anaknya berteriak.  Sorot matanya memandang sang ayah dengan tatapan  takut. “Syahla kenapa, nak?” Sang ayah menatap khawatir  dan mencoba mengikis jarak dengan Syahla. Namun,  semakin ia mendekat, semakin kuat jerit yang Syahla  teriakkan. “Menjauh Brengsek! Bajingan tengik kamu  begitu menjijikkan!” 

Ana meminta ayahnya untuk keluar dari ruangan,  sedangkan ia mencoba menenangkan adiknya. “Syahla  sayang, ini kakak, sayang. Syahla tenang, ya. Hanya ada  kakak dan kamu disini” Seraya didekapnya tubuh sang  adik; mengharapkan ketenangan adiknya.  

“Saya rasa pasien baru saja mendapatkan  perlakuan yang tidak pantas diterimanya sehingga dia  mengalami gangguan mental, Pak. Banyak memar di  sekujur tubuhnya menandakan keaadaan yang tidak biasa  bahkan pasien menjerit ketakutan tidak hanya kepada  bapak, bahkan saat saya mencoba memeriksa keadaan  pasien tadi, pasien menolak dan ketakutan. Kalau boleh  saya sarankan, pasien di visum saja, bagaimana?”

19 

“Lakukan yang terbaik, dokter. Saya mohon,  lakukan apapun yang terbaik untuk kesembuhan putri  saya.” 

Proses visum telah berhasil dilewati oleh Syahla.  Meskipun banyak penolakan dan pemberontakan yang  dilakukan olehnya, syukurnya semua berjalan sesuai yang  diharapkan. Tiga hari setelahnya, Syahla di izinkan  pulang dengan syarat; harus rutin konsultasi ke Psikologi  setiap hari Rabu, Jumat, dan Minggu. Hasil visum sudah  terbit, dan dinyatakan bahwa Syahla baru saja mengalami  pelecehan seksual beberapa waktu lalu. Hancur? tentu.  Hal itu dirasakan oleh ayah dan kakaknya. Mereka merasa  gagal menjaga gadis kecil itu. Namun, sang ayah bertekad  untuk menangkap pelaku baik hidup maupun mati.  Hatinya penuh dendam kepada pelaku yang telah  melakukan hal kotor dan menjijikkan kepada putrinya. 

Keadaan Syahla semakin memburuk, ia enggan  bertemu dengan laki-laki termasuk ayahnya. Ia juga  enggan diajak bicara dengan siapapun. Tatapannya  kosong dan penampilanya berantakan seperti tak terurus.  Dalam beberapa waktu, sesekali Syahla mengamuk dan 

20 

menjerit saat traumanya kambuh. Hal itu membuat ibu tiri  Syahla dan Ana kewalahan karena harus merawat anak  ‘gila’ dalam kesehariannya.  

Terapi dan pengobatan untuk Syahla telah  berjalan selama 3 Bulan penuh. Tanpa sekolah, tanpa  bermain, dan tanpa interaksi dengan dunia luar. Syahla  hanya berinteraksi dengan kakaknya, ibu tirinya, dan  dokter psikiaternya. 

Jika kalian bertanya bagaimana dengan ayahnya?  Apa peran sang ayah? Jaeral berperan di belakang layar,  dia yang membayar biaya psikiater Syahla, menebus obat  Syahla, membeli makanan untuk Syahla, membayar  segala kebutuhan Syahla, bahkan membayar biaya taxi 

online untuk Syahla pergi terapi rutinan ke rumah sakit.  Jaeral bersama dengan polisi juga masih berusaha  menyelidiki pelaku yang membuat Syahla menjadi seperti  ini. Bukti-bukti seperti akun ojek online milik pelaku,  alamat pelaku, dan identitas pelaku sudah ada ditangan.  Sekarang tinggal menunggu kesaksian Syahla saja,  namun sayangnya, kondisi mental dan kejiwaan Syahla  belum siap untuk menguak kejadian malam itu.

21 

BAB 4 

Ayah, Maaf.. 

6 Bulan berlalu, keadaan Syahla kian membaik.  Syahla sudah bisa diajak bicara dengan normal oleh kakak  dan ibunya, meski tetap enggan untuk bertemu dengan 

22 

laki-laki. Kini syahla kembali bersekolah lagi. Berharap  semuanya menjadi lebih baik tanpa kecemasan kecemasannya yang akan muncul. 

Rindu? Itu adalah perasaan yang dirasakan oleh  Jaeral kepada putri bungsunya. Ayah dari dua anak itu  kini mulai mencoba berbagai hal untuk berusaha bertemu  dengan putrinya itu. Mulai dari berpura-pura menjadi  perempuan dengan berpenampilan seperti perempuan  pada umumnya, memakai topeng boneka, dan percobaan  lainnya hanya untuk berinteraksi dengan Syahla. Namun  Syahla bukan anak kecil yang bisa dibodohi begitu saja.  Berulang kali ayahnya mencoba mendekatinya, berulang  kali juga Syahla mengusirnya menjauh. Bahkan Syahla  pernah tiba-tiba memohon ampun saat ayahnya  mendekatinya.  

“Syahla, udah pulang, sayang?” Sapaan hangat  sang kakak membuka percakapan antara kakak beradik  tersebut. “Udah kak, hari ini aku sedikit nggak enak  badan. Jadi disuruh pulang lebih cepat.” Ana yang  mendengar jawaban adiknya tentu terkejut, raut wajahnya  yang hangat kini berubah menjadi khawatir. “Syahla  sakit? apa yang sakit, sayang?” Sang kakak berjalan 

23 

perlahan dengan serseok-seok lalu segera menyentuh  kening Syahla. Syahla terkekeh kecil melihat  kekhawatiran sang kakak, “Kak, aku cuma agak pusing  aja. Bukan apa-apa kok. Jangan khawatir, ya.”  

Mendengar Ana bernafas lega, Syahla segera  membantunya untuk duduk di sofa dan ia segera berbenah  dan membersihkan diri. Setelahnya, Syahla menyusul  sang kakak untuk duduk di sofa. Namun, Syahla hanya  diam tanpa suara membuat suasana menjadi sedikit  canggung. “Dek..” Panggil sang kakak berusaha  memecahkan keheningan namun hanya dibalas dengan  deham-an dari sang adik. “Kamu nggak kangen ayah?”  Sesaat setelah pertanyaan itu dilontarkan oleh sang kakak,  Syahla langsung mematung. “Kangen, kak. Tapi entah  kenapa, kalau aku dekat sama laki-laki rasa takutku saat  kejadian waktu itu muncul lagi.” Ucapnya setelah itu  menunduk lesu. “Tapi laki-laki itu ayahmu, dek. Ayah  kangen sama kamu, ayah nggak jahat kayak laki-laki  diluar sana” Syahla bergeming. “Kak, aku capek. Mau ke  kamar dan istirahat dulu, ya.” Setelah itu Syahla berlalu  pergi meninggalkan sang kakak sendirian. Ana  menghembuskan nafas berat karena adiknya; entah 

24 

sampai kapan dia akan terus menghindari ayahnya  sendiri. 

Hari ini Syahla pulang sekolah lebih sore dari  biasanya. Dia pulang pukul setengah lima sore karena ada  latihan untuk lomba menyanyi di sekolahnya. Saat ingin  menyebrang di lampu merah, Syahla melihat badut  dengan kostum boneka beruang diseberang sedang  melambaikan tangan ke arahnya. Tau siapa orang dibalik  badut tersebut, ia memutar bola matanya malas. Ia segera  membalikkan badan dan menjauh dari badut boneka yang  ada di seberang sana.  

Badut itu berusaha mengejar Syahla dengan  berlari kecil. Namun, sulit untuk berlari karena beratnya  kostum badut tersebut menghambat pergerakannya. Saat  ia berusaha menyeberang untuk mengejar Syahla,  BRUKK! Sebuah motor jatuh karena menghindari badut  tersebut. Syahla menoleh kebelakang dan melihat badut  beruang itu sedang berlutut di hadapan orang lain yang  sedang memaki-nya seraya menyatukan kedua tangannya  di depan muka menandakan kalau ia memohon maaf.  Syahla yang melihat kejadian tersebut segera berlari

25 

menghampiri dan segera meminta maaf kepada  pengendara motor tersebut mewakili badut yang bersalah. Masalah selesai, orang-orang yang hadir dalam  masalah tadi sudah berlalu lalang pergi menyisakan  Syahla dengan badut beruang dihadapannya. “Lain kali  hati-hati!” Pesan Syahla ketus. Badut itu mengangguk  antusias tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Kemudian  tangan badut tersebut terbuka memberi isyarat kepada  Syahla untuk tunggu sebentar. Syahla mengernyitkan  dahi dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh badut  tersebut. Melihat Syahla mengiyakan permintaan badut  itu, ia segera memulai atraksi-atraksi sederhana seperti  juggling bola di tangan, menghilangkan koin, dan yang 

terakhir ia memberikan sebuah coklat untuk Syahla. Tak  sadar, air mata Syahla mulai mengalir setetes demi  setetes, membuat badut tersebut panik setengah mati 

26 

karena takut melakukan kesalahan. Badut tersebut  berlutut dihadapan Syahla kemudian menyatukan kedua  tangannya lalu menunduk memohon maaf dari gadis kecil  dihadapannya.  

Sontak Syahla memeluk badut beruang itu  membuat badut itu membeku. “Ayah, Maaf..” Dua kata  yang keluar dari mulut Syahla membuat keduanya  berderai air mata. Lega rasanya mengetahui bahwa Syahla  berhasil mempercayai ayahnya setelah sekian lama.  Didekapnya tubuh kecil milik anak perempuannya itu;  meluapkan rasa rindunya yang kian membara. Meskipun  tanpa suara, isak tangis dari sang ayah bisa dirasakan oleh  Syahla. Perlahan Syahla melepas peluknya dan membuka  bagian kepala kostum badut yang dikenakan oleh sang ayah. Terlihat di wajah sang ayah ada rasa lelah dan pucat  dengan keringat dan air mata. Hal itu membuat hatinya  hancur. Padahal dulu, dia memilih untuk bertahan hidup  untuk ayah dan kakaknya. ‘Mah, maaf aku membuat ayah  menjadi seperti ini.’  

§

27 

BAB 5 

Pecundang yang Takut Interaksi.. Hari berganti hari, Syahla mulai menerima semua  takdirnya walaupun itu hal yang menyakitkan. Pagi itu,  Syahla diantar sang ayah untuk sekolah. Sedang manja  ceritanya. Saling melemparkan candaan selama  perjalanan, mobil sang ayah mengemudi dengan 

28 

kecepatan sedang, agar tidak telat tetapi tetap selamat.  Saat sudah sampai di sekolah, Syahla langsung  berpamitan pada ayahnya. “Ayah doakan Syahla ya, agar  Syahla sukses selalu,” Ucap Syahla dengan senyum yang  mengembang di wajahnya. Sang ayah mengelus lembut  rambut putri bungsunya, “Pasti sayang, ayah akan selalu  mendoakan Syahla, tanpa diminta pun, ayah akan selalu  jadi orang pertama yang mendoakan Syahla.” Suaranya  yang mengalun lembut membuat Syahla sesak, mengingat  dirinya yang sempat menolak kehadiran sang ayah saat  rasa takut menguasainya. Syahla buru-buru mengangguk  dan menyalami sang ayah, membuka pintu mobil ayahnya  secara cepat. “Dah ayah, Syahla sayang ayah,” Syahla  tidak lupa memberikan kecupan kecil di pipi sang ayah.  

Sebenarnya hari-hari di sekolah berjalan begitu  monoton, Syahla hanya bangun pagi, mandi, sarapan,  berangkat sekolah diantar ayah dan berlalu dengan cepat  menuju kelas. Dengan tujuan meminimalisir kontak fisik  dengan laki-laki. Sebenarnya Syahla tidak masalah jika  hanya kontak fisik, tetapi kontak fisik minim. Meski 

29 

Syahla masih sering sesak dan merasa takut oleh nada  keras juga makian.  

Syahla berjalan gontai ke arah kelasnya. Hari ini,  ia merasa sangat malas bersekolah, udara yang dingin  membuatnya berbaring sangat nyaman di kasur  empuknya tadi pagi.  

Syahla terhuyung ke depan saat ada laki-laki yang  menginjak tali sepatunya yang lepas. Jatuh dengan posisi  tengkurap di koridor dingin sekolahnya. ‘Sial, pagi-pagi  sudah jatuh,’ mendengus dengan kasar mencoba  memperbaiki posisi tubuhnya sebelum tubuhnya  membeku saat ada tangan yang menepuk pundaknya.  “Kak, butuh bantuan?” Syahla berbalik dengan cepat  seraya menepis tangan lelaki di depannya. “Nggak, gue  jatuh juga karena lo, sialan!” Syahla berteriak di depan  orang tersebut, melihat ada satu garis di dasinya; laki-laki  dari kelas satu. Menjengkelkan, Syahla merasa dirinya  akan muntah sekarang juga. Syahla berbalik, berlari  dengan sekencang mungkin untuk mencari tempat  Tujuannya yaitu, Toilet Sekolah. Syahla memuntahkan  semua makanan yang sudah masuk di perutnya, 

30 

memandang kaca dengan tangan yang sudah bergetar dan  keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhnya.  Nafasnya memburu, tubuhnya luruh bersandar pada  dinding.  

Semua suara hari itu berputar di kepalanya  bagaikan lonceng kematian untuknya. Sial, ia kira dirinya  sudah membaik secara penuh, nyatanya ia hanya  pecundang yang selalu takut pada interaksi. Suara  tangisannya menyayat hati, memukul-mukul lantai  sampai tangannya memerah yang akan meninggalkan  bekas kebiruan nantinya. Mengambil satu butir obat  penenang yang sudah tak disentuh selama satu minggu.  Ternyata, ia masih membutuhkan bantuan untuk  menenangkan dirinya. 

Setelah keadaan tubuhnya membaik, Syahla  bergegas berjalan ke kelasnya karena jam sudah  menunjukkan jam tujuh kurang sepuluh. Bel masuk sudah  berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, Syahla pasti akan  telat mengikuti pembelajaran. Namun saat sampai di  depan kelasnya, ternyata guru yang mengajar tidak ada, 

31 

desas-desusnya sedang ada rapat. Syahla bernapas lega,  dirinya langsung menuju tempat duduknya; barisan  belakang paling pojok. Ia langsung menelungkupkan  kepalanya di lipatan tangan, lelah rasanya.  

“La, gue mau ngasih bingkisan nih, dari adek  kelas kalo ngga salah,” Orang yang berbicara padanya  adalah Lilly, teman sekelasnya yang cukup dekat  dengannya.” Syahla hanya celingukan, memproses  otaknya yang tiba-tiba diberikan bingkisan. Lilly semakin  menjulurkan bingkisannya ke depan wajah Syahla, “Ini,  cepat ambil, katanya sih simbol permintaan maaf.” Ia  langsung tertegun, pikirannya langsung berkelana, apa  jangan-jangan anak kelas sepuluh yang tadi menabraknya  di koridor sekolah. “Buang aja, gue lagi mual,” Syahla  kembali membaringkan kepalanya pada meja. “Ih, jangan  gitu lah, gue taro sini ya, siapa tau lo berubah pikiran.  Kasian tau dia, kayaknya mah ngerasa bersalah banget,”  Syahla hanya mengusir pelan Lilly dengan gestur  tangannya; tanda mengusir.  

§

32 

BAB 6 

Revan Wicaksana 

Jam pelajaran pun berakhir, ini saatnya untuk  pulang. Syahla membereskan semua alat tulis miliknya,  tidak lupa untuk memasang earphone pada telinganya.  Membawa tasnya di satu bahu, lalu berjalan keluar dari  kelas yang sudah sepi. Dirinya sengaja pulang terakhir 

33 

karena menunggu bus sepi, malas berdesakkan dan  berakhir panas-panasan di dalam bus ber-Ac, pikirnya.  Saat sampai di sekitar halte dekat sekolah, dirinya  merasa ada yang memanggil, entah siapa itu. “Kak!”  Ternyata anak kelas sepuluh yang tadi menginjak tali  sepatuku ada di depan muka. Anak laki-laki itu  menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal, bingung  

harus mulai dari mana. “Kak, udah nerima bingkisan  permintaan maaf saya? Maaf ya kak saya ngga ngasih  langsung karena tadi kakak gak ada di kelas, saya jadi  bingung. Maaf juga kak kalo misal tadi saya lancang  menyentuh pundak kakak, kakak jadi nangis keras seperti  tadi pagi,” Kalimat panjang dan lebar keluar dari  mulutnya, melelahkan mendengarkan ocehan tidak 

34 

bermutu laki-laki di depannya ini, menyebalkan. “Revan  Wicaksana, betul?” 

Syahla menghela nafas panjang sebelum  melanjutkan kalimatnya, “Gini ya, saya udah maafin  kamu walaupun kamu sudah lancang. Jadi, berhenti terus menerus merasa bersalah. Dan berhenti ganggu saya  apalagi memberikan saya bingkisan permintaan maaf,  dari kemarin, presensi kamu di hadapan saya itu  mengganggu mata sehat saya. Ini!” Ucapan tegas Syahla  bagai menyayat hati, dengan tangan yang menyerahkan  balik bingkisan yang Revan beri padanya tadi pagi. Saat  tidak ada pergerakan dari bocah di depannya, Syahla  menjatuhkan bingkisan itu ke lantai dan berbalik pergi  meninggalkannya. Revan hanya memandangi punggung  kakak kelasnya yang semakin menjauh, “Kamu kenapa  jadi impulsif gini ya, kak?” Lirih Revan.  

Lelaki kelas sepuluh dengan mata hitam  legamdengan rambut undercut, disempurnakan oleh  hidung bengir dan alis tebal dengan bibir tipisnya, bahkan  dengan proporsi rahang tegas yang kokoh itu.  Dianugerahkan wajah yang sangat proporsional tidak  membuatnya diterima baik oleh Syahla, bahkan badannya 

35 

saja sangat sempurna. Dengan tinggi seratus delapan  puluh sentimeter yang nantinya bisa terus bertambah,  kulitnya yang berwarna sawo matang sangat match  dengan proporsi bahunya yang lebar dan kokoh seperti  tembok itu. Pintar? Bahkan Revan selalu menjadi murid  pararel satu di sekolahnya, menjuarai berbagai jenis  lomba akademik dan non akademik. 

Setelah Syahla menghilang dari pandangannya, ia  langsung menaiki motor sportnya itu, dengan kecepatan  di atas rata-rata. 

Syahla berjalan sejauh dua kilometer untuk  menuju halte bus, malas menunggu di halte bus dekat  sekolah karena ada bocah yang lancang menyentuhnya.  Bahkan Syahla tidak marah saat bocah itu menginjak tali  sepatunya sehingga menyebabkannya jatuh tersungkur di lantai dingin koridornya, tetapi ia menjadi sangat  emosional saat lelaki itu menyentuh pundaknya. 

§ 

Syahla sudah sampai di rumahnya tepat sebelum  malam. Saat ini, ia sedang makan malam bersama 

36 

keluarganya. “Gimana sekolahnya, la?” Sang ayah  bertanya sambil menyuap makanannya. “Ya…. Seperti  itu yah, biasa saja, nothing special,” Kakaknya mulai  tertarik mendengarkan obrolan ayah dan anak itu. “Masa  sih dek, kamu nggak mau deket sama siapa gitu di  sekolah?” Syahla melepaskan pegangannya dari sendok  makan miliknya, sampai menimbulkan suara kencang  dentingan sendok dan piring. Lalu Syahla mendengus  kencang, menyendokan kembali makanan ke dalam  mulutnya. 

Ayah dan bunda Tami yang mendengar dengusan  kasar Syahla pun hanya terdiam di tempat, masih asik  menikmati hidangan makan malamnya; Sang ayah tidak  bisa berbuat lebih karena istrinya tersebut pasti akan  sangat tidak suka kalau dirinya mencampuri terlalu dalam  anak-anaknya dan membuat kenyamanan serta  ketenangan istrinya terganggu. “Perilaku kamu itu harus  dirubah, biar sopan sama yang tua, kebiasaan jelek mu itu  terlalu sering diwajarkan, benar-benar buruk,” Bunda  Tami berucap dengan tenang tetapi sangat menyayat hati,  Syahla yang terbiasa dengan bundanya itu hanya diam  dan asyik memakan hidangannya dengan lahap. Ana yang 

37 

menjadi percikan api di dinginnya makan malam hari ini  hanya mengatupkan bibirnya; Takut salah berbicara lagi.  § 

Pagi ini Syahla sampai di sekolah lebih pagi dari  biasanya. Resolusi pagi hari yang dingin disertakan awan  mendung itu adalah tidur setengah jam sebelum jam  pelajaran dimulai. Tetapi Syahla menemukan sebuah  bingkisan berisi keychain berbentuk karakter-karakter  lucu di laci mejanya, siapa yang menaruhnya? Kemarin  saat ia pulang, dirinya tidak menemukan apapun di dalam  lacinya. Kening Syahla berkerut, memikirkan segala  kemungkinan orang yang menaruhnya di sini, “Siapa sih,  rese banget.” Menggerutu sekarang menjadi salah satu hal  wajib di hidupnya, apapun keadaannya. 

Tujuh hari mulai terlampaui dengan sedikit baik,  dengan bingkisan-bingkisan kecil yang selalu ada di laci  mejanya, sebenarnya siapa? Manusia tidak punya kerjaan  mana yang selalu menaruhnya tanpa absen, tidak  mengganggu namun menimbulkan ketakutan tersendiri  bagi Syahla. 

38 

Pagi itu Syahla berangkat lebih pagi dari biasanya.  Ia melihat ada orang yang sedang menaruh sesuatu di  mejanya, Syahla mengangguk pelan dengan berjalan  penuh keangkuhan sambil bersedekap tangan, Syahla  mendekati orang aneh tersebut. Saat Syahla sudah sampai  di belakang punggungnya, orang di depannya berbalik  pasti. Wajah orang di depannya terlihat sangat kaget  terbukti dengan tubuhnya yang terdorong pelan ke  belakang sampai menabrak meja Syahla. “Bukannya udah  gue peringatin? Lo masih belum ngerti juga? Freak  banget, sumpah!” Syahla berujar kasar pada laki-laki  yang ada di depannya.  

Revan Wicaksana, bocah menyebalkan, anak  yang pernah memiliki cerita manis dengannya saat masa  Sekolah Menengah Pertama. Entah bagaimana dulu  mereka bisa dekat. “I’m just recalling things you like kak,  maaf ya kalo mengganggu, aku mau kita dekat seperti  dulu lagi, I'm just-” Revan berucap lirih, mendekatkan  tubuhnya pada kakak kelas yang paling dikaguminya ini.  Syahla bergerak mundur. “KELUAR DARI KELAS  GUE SEKARANG!” Teriakan Syahla menggelegar 

39 

seperti emosinya yang meledak-ledak sekarang, Revan  bergerak untuk memeluk tubuh Perempuan di depannya.  Merapalkan kata maaf kepada tubuh di pelukannya, tetapi  dirinya panik saat merasakan napas Syahla menjadi tidak  beraturan dengan tubuh yang perlahan meluruh di  dekapannya. “Kak, aku-” Belum sempat Revan  menyelesaikan kalimatnya, dirinya sudah lebih dulu  terdorong kuat oleh perempuan dihadapannya. “Lancang  lo, sialan!” Ucap Syahla lirih lalu segera berlalu pergi  meninggalkan adik kelasnya itu. 

Dengan nafas yang memburu dan langkah lebar  Syahla segera menuju ke toilet. Untuk kesekian kalinya  Syahla harus menelan obat penenang karena ulah adik  kelasnya yang lancang menyentuhnya. Tangisnya kini  pecah, ia berdiri didepan cermin toilet dan memandang  dirinya yang tengah diselimuti dengan ketakutan yang  mendalam saat ini. Persetan dengan sembuh dari  traumanya, bahkan untuk pulih saja sulit. 

Setelah dirasa Syahla mampu mengendalikan  ketenangan dalam dirinya, ia bergegas menuju ke 

40 

kelasnya. Jam menunjukan pukul setengah tujuh; hampir  setengah jam Syahla mengambil space untuk  menenangkan diri di toilet sekolah. Beruntungnya tidak  ada siswi yang pergi ke toilet pagi itu. Jam pelajaran  dimulai, Syahla menjalankan harinya seperti biasanya. 

§ 

BAB 7 

“Ayo Perbaiki” 

Seminggu setelah kejadian pagi itu, Syahla  menyadari bahwa tidak ada tanda-tanda kehadiran Revan  lagi. Baguslah, pikirnya. Ia bisa menjalani hari-harinya  dengan baik tanpa kehadiran bocah tengil yang sangat  dibencinya. 

41 

Pagi ini Syahla lupa membawa topi, padahal hari  ini adalah hari Senin, dan sekolah selalu mengadakan  upacara rutin. Jika ada siswa yang tidak membawa atribut  lengkap maka sanksi nya akan dipajang di depan lapangan  dengan dikalungi papan bertuliskan “Saya melanggar tata  tertib sekolah” lalu ditampilkan didepan seluruh warga  sekolah saat upacara. Panik? itu yang dirasakan oleh  Syahla pagi ini. Secara, Syahla merupakan murid teladan  yang menjadi kebanggaan sekolah; mau ditaruh dimana  mukanya. Salahnya sendiri semalam terlelap dan lupa  menyiapkan hal-hal yang harus dibawa besok pagi ke  sekolah.  

Sebelum upacara dimulai, ia berkeliling dari kelas  ke kelas untuk menanyakan apakah ada yang membawa  dua topi. Namun nihil, siapa yang memiliki dua topi  sedangkan setiap anak hanya diberikan satu topi saat  pembelian atribut di koperasi? Dan siapa yang akan 

merelakan dirinya dihukum hanya untuk meminjamkan  topi ke Syahla?  

Upacara akan segera dimulai, Syahla sudah pasrah  dan merelakan dirinya menjadi tontonan seluruh warga 

42 

sekolah. Namun saat dirinya sedang menuju ke lapangan  untuk berbaris, Lilly menghampiri Syahla dan  memberikan sebuah topi untuknya. “La, nih pakai  topinya.” Syahla mengernyitkan dahi bingung, siapa  pemilik topi itu? padahal saat dirinya berkeliling dari  kelas ke kelas tadi tidak ada satupun siswa yang mau  memberikan topi untuknya. “Punya siapa ly?” Tanya  Syahla penasaran. “Pakai aja La, daripada lo dipajang di  depan lapangan nanti.” Dibalas dengan anggukan oleh  Syahla; tak ada waktu untuk memikirkan siapa pemilik  topi ini, yang penting dia selamat.  

Upacara akan berlangsung dan guru-guru sudah  berkeliling untuk menarik siswa-siswi yang tidak  memakai atribut lengkap. Saat guru-guru bergegas  kembali ketempatnya, hanya satu siswa yang ditarik ke  depan oleh guru. Awalnya Syahla bernafas lega karena ia  tidak menjadi salah satu siswi yang akan menjadi bahan  sorotan hari ini. Namun sesaat setelahnya, matanya  terbelalak melihat siapa yang ditarik maju kedepan  lapangan oleh guru. “Wah, wah.. hari ini kita dapat siswa  teladan yang ga taat tata tertib nih. Revan.. Revan.. Jangan  mentang-mentang kamu siswa berprestasi, kamu bisa 

43 

seenaknya melupakan tata tertib sekolah ya. Harusnya  kamu bisa jadi contoh buat siswa-siswi lainnya, masa  bawa topi untuk upacara aja lupa!” Orang yang menjadi  sorotan kini hanya menunduk saat mendengar celotehan  guru BK dihadapan seluruh warga sekolah.  

Kini ia siap untuk menjadi tontonan gratis para  siswa-siswi dengan cap ‘siswa melanggar tata tertib  sekolah.’ Syahla yang melihat pemandangan tidak  mengenakkan didepannya segera melepas topinya dan  menyidik topi yang baru saja dikenakannya; berharap  mendapat petunjuk tentang siapa pemilik topi tersebut.  Benar saja, di bagian dalam topi tersebut terdapat coretan  spidol kecil yang bertuliskan ‘Revan 10A.’ Hal itu  membuat dirinya mendengus kesal. Nyatanya niat baik  Revan tidak diterima baik oleh Syahla. 

Upacara selesai, para guru dan siswa-siswi berlalu  lalang meninggalkan lapangan menyisakan Syahla dan  Revan di sana. Dengan langkah lebar Syahla  menghampiri adik kelasnya itu dan menyerahkan topi  padanya dengan sedikit kasar. “Lain kali gak usah sok  baik, deh! Gue ga butuh bantuan lo!” Ucap Syahla ketus 

44 

seraya membalikkan badan meninggalkan Revan  dilapangan.  

§ 

Bel istirahat berdering nyaring, menandakan  waktu yang ditunggu para murid untuk mengisi  amunisinya telah tiba. Begitupun dengan Syahla dan Lilly  yang sekarang berjalan bersemangat menuju kantin,  tunggu; Hanya Lilly yang bersemangat sambil menarik  pelan tangan Syahla. “Ayo La, lama banget sih jalannya,”  Lilly menggerutu pelan, Syahla ini tipikal orang yang kalo  jalan harus dinikmati. “Ya udah lo duluan aja, kaki gue  pegel males jalan ce- eh, dia kenapa kok masih dihukum?  Bukannya kalau udah masuk jam istirahat hukuman kecil  udah pasti dibebasin ya?” Lilly celingukan mencari orang  yang dimaksud Syahla, gotcha ia menemukannya dan  langsung bersemirik menatap Syahla dengan pandangan  yang ambigu. “Duh, nggak tau deh, kasian ya dia. Ngga  pakai topi karena ngasih topinya buat orang tersayang,  tapi orangnya nggak peka, mana nggak peduli lagi. Aduh aduh, mukanya udah pucet banget, takut dia pingsan deh,”  Lilly berucap dengan nada yang begitu menyebalkan, 

45 

Syahla berdecak kencang dan tiba-tiba berlari kencang ke  arah kantin tanpa memperdulikan Lilly yang mencaci  makinya karena merasa ditinggalkan.  

Syahla mondar mandir di pinggir lapangan sambil  membawa air dingin di tangannya, apakah dirinya harus  memberikan air ini sebagai ucapan terima kasih? Atau  menitipkan saja pada orang lain, bimbang melanda.  Namun Lilly yang berada di sebelahnya terus saja  mendorong tubuhnya agar semakin mendekat pada tengah  lapangan agar memberikan botol itu secara langsung.  Agar Lebih sopan katanya.  

Revan yang sedang dijemur itu merasa kaget saat  ada tangan yang terulur berisikan botol air  digenggamannya. Saat ia memiringkan tubuhnya, Revan  langsung melihat oknum yang memberikannya minuman.  Revan langsung senyum-senyum sendiri melihat Syahla  yang mengulurkan tangan dengan wajahnya yang masam.  Revan mendekatkan tubuhnya kepada Syahla dengan  tangannya yang disatukan agar membentuk pelindung  kepala dan di letakkan di atas kepala Syahla, “Jangan ke  sini kak, panas. Kulit kakak nanti merah-merah.” Syahla 

46 

mengeratkan genggaman tangannya pada botol yang ada  di tangannya itu. “Ini cepet diambil, lo nggak ngebolehin  gue kepanasan tapi lo bikin tangan gue pegel!” Revan  buru-buru menerima botol air yang disodorkan oleh  Syahla, dan ia tidak lupa untuk meneriakkan terima kasih  kepada kakak kelasnya yang punggungnya mulai  menjauh dari pandangannya. 

Dengan senyum mengembang menjalankan  hukumannya, kapan lagi hukuman membawa sesuatu  yang buruk berakhir manis. 

Jam pulang sekolah pun datang, ini saatnya  mereka pulang dan mengistirahatkan tubuh ke dekapan  kasur yang empuk. Seperti hari-hari biasa, Syahla akan  menunggu transportasi umum dengan duduk di kursi  halte. Earphone sudah terpasang apik di kuping kanan,  dengan volume full. Secara tiba-tiba Revan yang sedang  membawa motor sportnya memarkirkannya di depan  halte, mendekatinya dan duduk di sebelahnya. ”Busnya  lama loh kak, mau pulang bareng aku?” Syahla diam tidak  berkutik, menganggap Revan hanya angin lalu. Revan  mulai mengulurkan tangannya untuk mengajak Syahla 

47 

pulang bersama, namun Syahla masih tidak bereaksi  apapun. Revan yang tidak menyadari apapun akhirnya  menyentuh telapak tangan Syahla. Sendi-sendi Syahla  terasa kaku, nafasnya mulai memburu. Menepis kencang  tangan yang dengan lancang menyentuhnya, kepalanya terasa berdengung dengan pandangan yang memburam.  Revan hanya mencerna perbuatannya yang membuat  Syahla merasa sangat kesakitan, membuat Syahla  semakin ketakutan padanya. “Kak maaf, aku ngg-”  Ucapannya terpotong oleh tubuh Syahla yang berjalan  cepat menuju bus yang sialnya sudah datang, bertepatan  dengan semua kejadian yang berjalan cepat.  

§ 

Hari kian berganti hubungan Syahla dan Revan  semakin dekat, dengan cara pendekatan yang tidak agresif  mendekatkan Revan pada kakak kelasnya itu. Dirinya  perlahan mengetahui bahwa perempuan itu bukan lagi  perempuan remaja awal yang suka-suka saja jika  mendapat sentuhan kecil seperti saat mereka SMP.  Bahkan dirinya mulai mengetahui ada yang aneh dari 

48 

Syahla karena reaksi berlebihannya kepada sentuhan,  apalagi kontak fisik dengan laki-laki.  

Revan sedari tadi mencari Syahla kemana pun,  namun ia tidak menemukannya dimana-mana. Saat  berpas-pasan dengan salah satu teman Syahla, dirinya  bertanya dimana presensi kakak kelasnya itu, Lilly hanya  mengangkat bahunya dan menjawab kemungkinan ada di  perpustakaan. Revan memutuskan untuk mencarinya ke  perpustakaan, dirinya celingak celinguk bagaikan maling  yang menunggu korbannya pergi. Matanya pun  menangkap presensi Syahla yang tengah  menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan buku  yang menutupi kepalanya.  

Revan berakhir duduk di bangku sebelah Syahla,  dengan kepala yang mulai didekatkan pada wajah Syahla  yang sebagian terdapat helaian rambutnya. Revan  menyentuh helaian rambut Syahla yang menutupi  wajahnya, menyelipkan ke belakang telinga. Oh, Syahla  ternyata merasa terganggu dengan kegiatan Revan yang  sedang memperbaiki rambutnya itu. Keningnya  mengkerut, namun Revan semakin mendekatkan  wajahnya dengan jarak lima sentimeter ia bisa melihat 

49 

wajah cantik di depannya. Meniup dahi Syahla pelan dan  mengusapkan kerutan dahi Syahla dengan tangan  dinginnya. Lalu Revan mengeluhkan kepalanya di lipatan  tangan dengan menghadap ke arah Syahla, jari  telunjuknya menelusuri wajah Syahla yang terasa  sempurna itu. Mengusap hidung perempuan di depannya  dengan sangat halus, membingkai pipinya dengan satu  tangan besarnya. C'mon Revan Syahla akan terbangun  dan menendang mu saat dirinya tahu.  

Bel pelajaran sudah berganti, rasa pegal di  tangannya membangunkan perempuan itu dari tidur  nyenyaknya. Dirinya merasa terkejut saat melihat ada  presensi Revan di hadapannya, bahkan wajahnya  berdekatan dengan wajah Revan. Syahla mulai  memikirkan segalanya, apakah dirinya harus membuka  lembaran baru. Mencoba menerima Revan dalam  hidupnya, rasa-rasa Revan selalu melakukan banyak hal  agar membuatnya merasakan tenang dan aman. Syahla  perlahan mendekatkan telapak tangannya untuk  mengusap rahang tegas Revan. ‘Apakah harus dirinya  terjebak lagi pada kisah cinta monyetnya dulu?’ Effort Revan untuknya jelas sangat banyak, Syahla ingat sekali 

50 

saat Revan berusaha untuk menjemputnya namun dengan  kontak fisik yang minim. Revan langsung menjemputnya  menggunakan mobil dan berusaha untuk menghindari  kontak fisik dengannya. Memesan makanan kesukaannya  saat dirinya sedang sibuk di organisasi. Bahkan selalu  menunggunya sampai larut agar bisa mengantar Syahla ke  rumahnya dengan selamat.  

Revan mengerjapkan matanya pelan saat  merasakan elusan lembut pada rahangnya, ternyata  Syahla yang sedang membingkai rahangnya dengan  tangan yang kecil dan lembutnya itu. Syahla tersenyum  kecil saat menyadari bahwa Revan sudah membuka mata,  dirinya bergerak untuk melepas tangannya dari rahang  sang adik kelas. Menegakkan tubuhnya sambil  membereskan buku-bukunya. Syahla berjalan menuju rak  untuk menaruh buku yang sudah ia pinjam, Revan  mengekor bagai anak bebek yang takut kehilangan  induknya. Revan hampir saja terbentur rak buku karena  nyawanya yang belum terkumpul apalagi saat kakak  kelasnya itu mengucapkan kata-kata yang membuat  jantungnya melompat keluar, “Ayo perbaiki.” Revan  hanya menatap melongo Syahla dengan muka bingung 

51 

setengah mati, “Waktu itu kamu tanya kan, kita bisa  memperbaiki semua ini atau ngga. Jawabannya bisa, ayo  perbaiki semuanya. Maaf aku udah banyak jahat ke  kamu,” Syahla memeluk laki-laki yang lebih muda itu  mengelus punggung tubuh di depannya dengan halus. Tuhan, kali ini bukan Syahla yang membeku tetapi  Revan. Dirinya bingung harus memberikan respon seperti  apa, dirinya hanya diam sampai Syahla melepas  pelukannya dan memberikan Senyum yang sangat tulus.  

Revan menarik tubuh kakak kelasnya itu ke dalam  pelukan hangatnya, mengelus surai halus perempuan itu  dengan lembut membisikkan banyak kata terima kasih.  Syahla tertawa pelan dengan respon Revan yang  menurutnya seperti anak kecil. Tunggu, Syahla tidak  merasakan perasaan sesak karena dirinya sudah terbiasa  dengan presensi Revan, dengan Revan yang selalu  melakukan hal-hal baik kepadanya bahkan kepada  keluarganya. Syahla melepas pelukannya dan menarik  tangan laki-laki yang lebih muda itu untuk menjauh dari  lingkungan perpustakaan, takut penjaga perpus memarahi  mereka karena membuat kebisingan.

52 

Revan tidak henti untuk menggandeng tangan  Syahla menuju kelas sang perempuan. Menggenggam  erat seolah tidak ada hari lain bersama perempuan  terkasih.  

Saat sudah berada dalam mobil, Revan dan Syahla  membicarakan hal-hal kecil; Inilah yang Syahla suka,  mempunyai little talk bersama seseorang membuat ia  nyaman dan tenang. Dengan tangan yang terus  menggenggam satu sama lain seolah tidak mau  kehilangan momen barang sedetik pun. 

§

53 

BAB 8 

“Kenapa aku nggak pantes bahagia,  Van?” 

Hari demi hari mereka lampaui dengan hubungan  yang sangat baik, mewujudkan banyak wishlist yang  Syahla miliki sewaktu SMP dulu; Ternyata Revan selalu  mengingatnya, mengingat hal-hal kecil tentangnya.  

Namun di hari itu, tiba-tiba ada pesan masuk.  Sebuah nomor tidak dikenal mengajaknya untuk bertemu  di sebuah kedai kopi hits di kotanya. Tadinya Syahla  malah malas melayaninya, tidak penting pikirnya. Namun  nomor itu membicarakan tentang Revan, semua yang  berkaitan dengan Revan. Syahla pun bergegas untuk 

54 

menemui orang dibalik nomor asing itu. Menuju Kedai  kopi tanpa memberi tahu oknum yang akan dibicarakan.  

Saat membuka pintu kaca kedai kopi itu, ada  seorang perempuan yang seumuran dengan Syahla  melambaikan tangan. Jadi itu, orang dibalik nomor asing  yang menghubunginya? “Kak Syahla bisa duduk di  samping ku? Aku nggak mau bertele-tele kak,” Syahla  mengangkat alisnya sinis, Perempuan di depannya ini  sangat tidak sopan, apa-apaan sudah ditemui malah  memerintah. Namun Syahla tetap menuruti kemauan  perempuan itu. Perempuan itu tersenyum manis, “Nama  ku Ziva, Kak. Kakak pasti Syahla kan? Pacarnya Revan.”  

Selanjutnya perempuan itu tersenyum sendu.  Membawa telapak tangan Syahla mengusap perutnya  yang baru Syahla sadari sedikit membesar. “Di dalam  perut ku ada anaknya Revan kak, dia nggak sebaik apa  yang kamu pikirkan, dia pembohong ulung. Dia juga  mengajakku menjalin hubungan, memberikan banyak  perhatian dan janji manis. Namun semuanya diingkari,  dirinya memaksa aku untuk menggugurkan bayi ini kak.  Aku cuma mau kakak ninggalin Revan, untuk aku dan 

55 

anak ku kak. Mungkin dengan cara dia tidak berhubungan  dengan kakak bisa membuatnya sadar, yang aku kandung  itu anaknya kak!” Ziva berteriak tertahan dengan terus  menekan tangan Syahla pada permukaan perutnya, agar  Syahla dapat merasakan bahwa benar ada kehidupan baru  di perutnya.  

Syahla menggeleng dengan napas tersenggal dan  mata buram karena air mata, “Ngga mungkin, kamu  bohong sialan!” Ziva menggeleng kencang dan  mencengkeram tangan Syahla semakin keras  menimbulkan ringisan kecil, “Mungkin kak, semuanya  mungkin. KAKAK GAK BISA EGOIS, ANAK KU  JUGA BUTUH HIDUP, BUTUH AYAHNYA!” Ziva  bertindak secara agresif dengan menodongkan cutter yang entah kapan dikeluarkan. Syahla menangis tersendu  melepas kencang cengkraman tangan itu dan mendorong  bahu Ziva yang emosinya sedang membludak itu.  

Berjalan dengan gontai dengan handphone yang  menunjukan bahwa ia sedang menghubungi Revan;  Oknum yang membuat semuanya kacau. Saat telepon  tersebut sudah terhubung, Revan dari seberang sana  terlihat sangat khawatir karena hanya terdengar tangisan 

56 

sendu sang kekasih. “Kak kamu kenapa, tolong jawab  aku!” Revan berteriak kencang pada benda di  genggamannya, dengan tangan satunya yang mengacak acak laci meja untuk mencari kunci mobil. Untungnya  Handphone Syahla dan Revan terhubung, jadi laki-laki itu  tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui dimana  kekasihnya saat ini berada. “KAK PLEASE JAWAB  AKU! KAMU KENAPA-” Belum sempat dirinya  menyelesaikan ucapan, “Kamu jahat Van, kamu udah  ngehancurin aku, kenapa, kenapa aku nggak pantas untuk  bahagia ya, Van?” Revan yang mendengar itu hanya  menggeleng yang nyatanya tidak terlihat oleh Syahla.  Revan kalang kabut saat telepon itu mati. Mengendarai  mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, dirinya harus  sampai dengan cepat ke tempat Syahla berada.  Perasaannya mulai resah.  

Di sisi lain, Syahla tengah berjalan gontai sebelum  pundaknya ditarik oleh perempuan yang ditemuinya tadi.  Pipinya terasa panas karena tamparan yang dilakukan  oleh Ziva. “KAMU JAHAT, ORANG TEREGOIS.  KAMU ITU UDAH NGGAK PANTES SAMA 

57 

REVAN!” Ziva berteriak sangat kencang sampai-sampai  semua orang yang ada di sana memandang keduanya  aneh. Ziva terus mendorong tubuh Syahla yang hanya  diam dengan keadaan kacau dengan air mata yang terus 

menerus mengalir dan dengan napas tersengal. “Tolong…  Lepas,” Syahla berucap lirih kepalanya menggeleng  pelan. Namun perempuan gila itu tetap tidak melepasnya,  Ziva terus mendorongnya sampai ke jalan raya. Syahla  terus menerus meracau, tubuhnya sudah mulai limbung. 

Dengan kekuatan yang terkumpul Syahla  mendorong Ziva dengan keras sampai perempuan itu  terduduk dengan memegangi perutnya sendiri. Syahla  tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan berjalan cepat.  Ia tidak bisa berlari karena kondisinya begitu  mengenaskan. Syahla tidak mengetahui bahwa Ziva  bangkit lagi dengan emosi yang lebih menggebu.  Mendorongnya begitu kencang sampai, kebisingan  terdengar di jalan raya itu.  

Syahla terdorong jauh, namun Syahla tidak  mengetahui jika ada mobil yang sedang melaju kencang.  Tubuh Syahla terpental jauh karena tertabrak mobil 

58 

tersebut. Sedangkan sang pengemudi merasa Shock dengan apa yang baru terjadi.  

Revan keluar dari mobil, tubuhnya membeku  berusaha menyadari apa yang sedang terjadi saat ini. Di  depannya, orang yang dirinya tabrak adalah orang yang  mengatakan dirinya jahat. Revan menggeleng kencang  melihat tubuh sang terkasih sudah terkapar dengan darah  yang membanjiri tubuh cantik perempuan itu. Revan 

berlari dan memangku kepala perempuan itu; Syahla,  perempuan yang berbaring tenang dengan darah yang  sudah menggenang. Revan memeluk kepala Syahla.  “Nggak kak… nggak, kakak gapapa kalo mau maki aku,  mau benci sama aku. Tapi tolong jangan seperti ini kak,  ayo bangun kak,” Revan mengguncang pelan tubuh yang  ada di pelukannya, menyatukan kening keduanya dengan  air mata yang terus menetes.  

Takdir apa yang sudah dibuat Tuhan sampai sampai membuat salah satu hambanya merasa begitu  tersiksa. Membuat perempuan malang itu lagi-lagi  bermain dengan kematian untuk yang kedua kalinya.  

Apakah Tuhan tidak bisa mengabulkan  permintaan hambanya, agar bisa merasakan bahagia 

59 

dalam waktu yang lama. Apakah Tuhan tidak bisa  membuat hambanya saling menggenggam dalam kasih  sayang yang hakiki pada kisah hidup yang fana ini? § 

BAB 9 

Penderitaan Bertubi-tubi 

‘Sembuhkan hambamu, Tuhan. Kasihanilah  Syahla. Hidupnya sudah cukup menderita, Tuhan.’ Sore  itu Revan terus bernegosiasi pada Tuhan dalam doanya di  depan ruang ICU yang dimana di dalam sana terdapat  sang kekasih hatinya yang tengah terbaring lemah  dikelilingi oleh para tenaga medis. Tak berselang lama,  Jaeral datang dengan Ana yang terduduk dikursi rodanya  dengan raut wajah khawatir. “Dimana Syahla?” Tanya  Jaeral mencari keberadaan Anak Bungsunya. Tak ada  jawaban dari Revan, dirinya yang sebelumnya menatap  Jaeral kini hanya menoleh kearah ruang ICU seolah  menunjukan keberadaan sang empu yang dicari. 

“Kenapa bisa jadi seperti ini, Revan?” Nada Ana  pilu. “KENAPA, REVAN? KAMU JANJI MAU JAGA  ADIK AKU, KENAPA BISA JADI KAYAK GINI?!” 

60 

Nadanya meninggi dan penuh emosional namun Revan  tetap bergeming.  

Suasana didepan ruang ICU menjadi semakin  mencekam, Revan mengakui bahwa dirinya tidak gentle  man karena untuk menceritakan apa yang terjadi pada  Jaeral dan Ana saja ia tak mampu. Ditambah lagi tak ada  satupun tim medis yang menangani Syahla keluar dari  ruangan; menandakan Syahla belum selesai ditangani.  Padahal sudah terhitung 4 jam semenjak Syahla masuk  dalam ruang tersebut. 

Hening, tak ada suara apapun selain suara samar  indikator dari dalam ruang ICU. Mereka semua sibuk  merayu Tuhan dalam doanya berharap tuhan luluh dan  menyelamatkan hambanya yang sedang diambang  kematian. Hancur? Tentu! Perasaan tersebut dirasakan  oleh tiga orang yang sama-sama menyayangi Syahla.  Rasanya benar-benar tidak siap untuk kehilangan Syahla  secepat itu. ‘Gadis kecil sepertimu kenapa harus se menderita ini, Syahla?’ 

§

61 

7 jam berlalu, akhirnya dokter keluar dari ruang  ICU. “Saya ingin bicara dengan salah satu keluarga  pasien, bisa ikut keruangan saya?” Dibalas anggukan oleh  Jaeral yang berstatus sebagai ayah pasien. Jaeral berlalu  meninggalkan Ana dan Revan di depan ruang ICU.  Mereka saling menatap tanpa membuka suara. Sangat  terlihat dari tatapan Revan, ia sangat takut menatap kakak  dari sang kekasih. Ana justru sebaliknya, tatapannya amat  mengintimidasi dan penuh dengan emosi.  

“Aku mau kamu jelasin apa yang terjadi, Revan. 

Jangan jadi pengecut, kamu!” Nada Ana penuh  penekanan namun dapat diketahui bahwa dirinya benar benar menahan amarah. “Maaf kak, Aku benar-benar  minta maaf. Aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi,  tapi sebelumnya Syahla telepon aku sambal nangis,  ucapannya ngelantur dan aku nggak ngerti apa 

62 

maksudnya. Saat aku coba untuk cari dia-” Ucapnya  terputus. Nafasnya seperti tercekat, tak sanggup  membayangkan kejadian saat dia menjadi pelaku atas  kecelakaan sang terkasih. Ana tetap menunggu penjelasan  dari Revan. “Salahku, kak. Aku terlalu panik sampai  berkendara dengan kecepatan diatas rata-rata. Aku nggak  tau saat tiba-tiba Syahla terhuyung ke tengah jalan dan  aku nabrak dia dengan mobilku.” Tangisnya pecah,  hancur rasanya saat tahu bahwa dirinya lah penyebab  yang membuat Syahla menjadi seperti saat ini. Ana  terpaku, mencoba mencermati kata demi kata yang  diucapkan oleh orang yang katanya menyayangi adiknya.  

Mendengar penjelasan Revan, membuat Ana  dikuasai oleh amarah yang menggebu-gebu. “Brengsek!  Kalau kamu gabisa melindungi adikku, JANGAN  NAMBAH PENDERITAAN DIA SAMPAI HARUS  BERMAIN-MAIN DENGAN KEMATIAN, SIALAN!  PERGI KAMU, REVAN. JANGAN PERNAH  MENEMUI ADIKKU LAGI, APAPUN  KEADAANNYA!” Tangis Ana pecah, ia tak mampu  menampung kekacauan pada dirinya lagi. Baginya, Revan  lah yang harus disalahkan sepenuhnya. Namun, bukan 

63 

kemauan Revan juga untuk mencelakai orang terkasih.  Semua orang seharusnya tau bahwa Revan juga menjadi  salah satu orang yang hatinya hancur atas kejadian ini.  

Revan berlutut dihadapan Ana, tangannya  disatukan dan matanya yang sembab menatap sayu ke  arah Ana, menandakan bahwa dirinya memohon ampun  dari perempuan itu. “Kak, semua memang aku yang salah,  tapi aku mohon jangan suruh aku untuk pergi dari Syahla,  aku nggak akan bisa kak.” Air mata kini sudah  membanjiri wajah kedua insan yang tengah menangisi  orang yang sama. 

“Kamu nggak ngerti Bahasa manusia ya? Aku  bilang pergi ya pergi, Revan. Enyah kamu dari hidup  Syahla!” Suaranya sayu namun penuh penekanan,  membuat laki-laki dihadapannya tak dapat berkutik.  Dengan berat hati, Revan bangun dari posisinya  kemudian berjalan gontai meninggalkan rumah sakit  tersebut.  

§

64 

BAB 10 

Tuhan, Kemana? 

Dokter masuk keruangannya dengan diikuti oleh  Jaeral dibelakangnya, tak ada perbincangan selama  perjalanan menuju ruangan; membuat suasana terasa  begitu menegangkan. Jaeral tahu bahwa akan ada kabar  yang cukup serius terkait dengan putri bungsunya itu. 

Dokter duduk dan mempersilahkan Jaeral duduk  di kursi seberang mejanya. Ia memegang sebuah emplop  dan mengeluarkan lembaran hasil Rontgen tulang  belakang Syahla. Disodorkan kepada Jaeral  mempersilahkan Jaeral melihat lebih jelas mengenai hasil  Rontgen tersebut.  

“Syukurnya pasien dapat diselamatkan. Namun,  karena benturan yang cukup hebat, tulang belakang  pasien mengalami cidera yang cukup serius. Hal ini bisa  menyebabkan pasien mengalami kelumpuhan permanen.”  Dokter tersebut menjelaskan seraya menunjuk bagian 

bagian pada hasil Ronggeng dan CT. Scan yang  menunjukan tentang bagian mana yang mengalami 

65 

cedera. Jaeral mengamati dengan seksama meski tak  dapat dipungkiri hatinya sakit bagaikan tersayat seribut  silet.  

“Apakah ada cara untuk menyembuhkannya,  dok?” Nada Jaeral gemetar, berusaha menahan tangis. Dokter menghela nafas panjang sebelum akhirnya  melanjutkan berbicara. “Mohon maaf, untuk saat ini di  Negara kita belum memiliki fasilitas yang efektif untuk  menangani pasien. Jika anda ingin perawatan yang lebih  intensif, saya rasa anda bisa membawa pasien ke  Singapore untuk perawatan eksperimental dan teknologi  prostetik yang lebih canggih.” 

Jaeral menghela nafas frustasi, “Kira-kira, berapa  biaya yang harus dikeluarkan, dok?” Dokter hanya  menggeleng pasti, “Untuk itu saya tidak bisa tau pasti,  pak. Sesuai dengan arahan dan perawatan yang dilakukan  di sana. Tetapi yang jelas, harga perawatannya sangat  mahal.”  

“Syahla maaf, ayah tidak bisa memberikan yang  terbaik untuk kamu. Maafkan ayah nak, ayah benar-benar 

66 

orang tua yang gagal.” Jaeral terus menangis tersendu,  menatap anaknya yang selalu tertimpa sial, ibunya yang  harus meninggal saat anak itu membutuhkan kasih  sayang, kehilangan dirinya disaat mencoba mencari jati  diri, dan sekarang harus terbaring dengan banyak alat  yang terpasang di tubuhnya untuk memacu jantungnya  agar tetap berdetak, agar nafasnya tetap berhembus.  

Ana yang melihat ayahnya hancur memeluk  ayahnya dari belakang, “Ayah, jangan seperti ini. Ana  sangat sedih jika ayah seperti ini, adek pasti sembuh yah,  Ayah nggak perlu banyak mikirin tentang biaya  perawatan adek. Ana pasti bantu yah.” Jaeral menggeleng  kuat, “Nggak Ana, uang itu milik kamu, tabung uang itu  untuk masa depan kamu. Jangan memikirkan ayah,  pikirkan diri kamu. Tolong Ana…” Suara Jaeral begitu  lirih, merasa hancur saat anaknya memberikan  penawaran. 

BAB 11

67 

Tentang Keputusan dan Kegundahan  Hati 

Saat ini, Jaeral dan Ana sudah duduk di salah satu  bangku dari ruangan yang megah, tepatnya di lantai lima  belas. Ah, atau bisa disebut juga sebagai salah satu  perusahaan terkemuka di kota ini? Perusahaan yang  dipimpin oleh manusia brengsek. 

Hanya ada suara ketukan dari jari-jari tangan yang  dipertemukan pada permukaan meja, di depannya ada  seorang laki-laki tua. Tersenyum miring, dengan mata  hitam legamnya yang menyorot genit kepada salah satu  objek perempuan yang ada di hadapannya. “Jadi, kalian  ke sini untuk meminjam uang, ya? Sudah semakin m  rupanya,” Laki-laki tua itu berucap dengan nada  mengejek diselingi oleh tawa sarkas yang  mendengungkan telinga. Jaeral sebagai kepala keluarga  akhirnya menyahuti kalimat sarkas itu, “Benar, Pak  Baskara. Kami membutuhkan uang untuk membawa  Syahla ke rumah sakit. Kami-” Ucapan Jaeral terpotong  karena laki-laki tua itu tiba-tiba tertawa terpingkal pingkal sambil menutupi wajahnya dengan telapak 

68 

tangannya. “Saya sudah tau itu semua Jaeral, tolong  jangan memberikan informasi yang sudah basi seperti itu.  Kamu tau kan di dunia ini tidak ada yang gratis?” Jaeral  mengangguk perlahan, dan laki-laki tua itu melanjutkan  ucapannya. “Saya punya sat- Oh! Tidak, tidak. Saya  memiliki dua syarat yang harus kalian penuhi.” Baskara  Wicaksana namanya, laki-laki tua dengan umur enam  puluh tahun, mata keranjang selalu menjadi nama  tengahnya. Ayah dari Revan Wicaksana. 

“Yang pertama, kalian pasti tau. Revan  Wicaksana, kalian tau nama itu? Ya! Benar sekali, dia  adalah anak laki-laki saya, oh harus saya tekankan, anak  tunggal kebanggaan saya. Anak yang dipuja oleh keluarga  Wicaksana. Saya sudah mengatur takdirnya, bahkan  Tuhan pun tidak berhak untuk memutuskan dengan siapa  Revan akan berjodoh, hanya saya yang pantas menulis  takdir untuk anak saya. Begitupun dengan pasangannya.  Dan, kalian tau kan, Syahla itu cacat, dia sudah pernah  disetubuhi oleh seseorang kan?” Belum sempat laki-laki  tua itu melanjutkan kalimatnya, Jaeral berdiri dengan  tangan yang terangkat di udara, siap untuk mendaratkan  bogeman tangannya pada laki-laki tua brengsek yang 

69 

selalu mencoreng harga diri keluarganya. Namun, Ana  yang melihat itu segera menahan lengan sang ayah dan  menggeleng pelan, karena Ana tau, ini bukan waktu untuk  bertengkar, bukan juga waktu untuk mendengarkan  kalimat menyakitkan yang dikeluarkan Baskara. Karena  laki-laki tua itu akan selalu menjadi pribadi yang  menjengkelkan.  

Dengan wajah menjijikan itu, Baskara  melanjutkan ucapannya. “Jauhkan anak menjijikan kalian  dari hadapan Revan, bawa anak itu sejauh-jauhnya. Oh,  yang ke dua. Saya suka dengan barang-barang cantik,  barang unik yang memiliki nilai,” Baskara hampir saja  mendaratkan telapak tangan dinginnya untuk mengelus  pipi Ana, namun ditepis oleh perempuan itu. “Nah! Yang  seperti ini yang saya suka. Cantik, unik dan memiliki  nilai. Jadi, jika kamu ingin adikmu itu selamat. Memohon  lah, sembah saya seakan saya Tuhan mu yang bisa kapan  saja melenyapkan nyawa berharga manusia. Saya sangat  suka disembah oleh orang-orang seperti mu.” Jaeral tidak  bisa menahan emosinya lagi mendengar kalimat-kalimat  kotor yang dikeluarkan oleh laki-laki tua bau tanah itu. 

70 

Jaeral dengan cepat mendaratkan kepalan  tangannya ke wajah Baskara, tidak kenal siapa dia saat ini,  tidak memperdulikan tujuan awalnya datang, yang ada  saat ini hanyalah rasa dendam dan nelangsa karena  mendengar ucapan yang menjelekkan keluarganya. Ana  tersadar dari keterkejutannya, menarik kuat ayahnya agar  menjauh. Orang yang saat ini ayahnya pukuli bukan orang  sembarangan. Baskara kebal hukum, Ana takut masalah  ini akan menjadi semakin rumit nantinya. “CUKUP  AYAH, JANGAN BEGINI YAH! AYAH HARUSNYA  TAU SEGALA KONSEKUENSINYA. CUKUP!” Ana  menarik Jaeral untuk keluar dari ruangan itu. “Ingat! Jika  ingin dibantu penuhi syarat itu! MEMOHON DAN  BERSUJUD KEPADA SAYA! HANYA SAYA YANG  SAAT INI BISA MENOLONG ANAK CACAT  KALIAN!” Baskara berujar dengan lantang dan diiringi  dengan suara tawa yang memekikkan gendang telinga. 

BAB 12 

Waktu Yang Terus Berjalan

71 

Sore itu, Syahla sadar dengan keadaan yang  mengenaskan. Menangis tersendu karena rasa sakit di  sekujur tubuhnya. Dokter bilang, Syahla akan lumpuh  total jika tidak mendapatkan perawatan yang baik. Jaeral  dan Ana semakin gundah, apa yang bisa mereka perbuat?  Terkhususnya Jaeral, ia tidak bisa mengorbankan Ana  untuk menyelamatkan Syahla. Tapi tidak bisa juga  menelantarkan Syahla dengan sakit yang terus mendera  tubuhnya. “SAKIT, KEPALA AKU SAKIT AYAH!  BADAN AKU SEMUANYA SAKIT! TOLONG  AYAH!” Syahla berteriak di brangkar rumah sakit yang  sejak beberapa hari lalu menjadi temannya.  

Berteriak bagai orang kesetanan yang tidak dapat  diredakan oleh apapun, demi Tuhan wajah Syahla terlihat  sangat menyeramkan, mata perempuan itu memerah  seakan jika dirinya menangis lebih lama akan  mengeluarkan darah, dengan aliran air mata yang  memenuhi setiap inchi wajah cantiknya.  

§ 

Jaeral hanya bisa memeluk Syahla, mengelus  lembut rambut sang anak dengan mengucapkan kata-kata 

72 

penenang. Berkata bahwa semuanya baik-baik saja, oh  ayolah Jaeral, bahkan anak bayi saja tau bahwa Syahla  Sedang tidak dalam kondisi baik.  

Setengah jam terlampaui, namun rasa sakit yang  menjalar di tubuh Syahla tidak juga berkurang. Semakin  lama, tubuhnya terasa semakin sakit, seperti dibenturkan  pada batu keras yang akan menghancurkan tubuhnya  kapan saja. Lagi dan lagi, Syahla terus mengamuk bagai  orang kesetanan, air matanya bahkan kering karena  mengeluarkan air mata dalam volume yang besar. Ana  yang sejak tadi terisak di belakang sang ayah akhirnya  beranjak keluar untuk memanggil dokter.  

§ 

Tak tega melihat Syahla merasakan sakit yang  berangsur-angsur, membuat pikiran Ana berkecamuk  akan banyak hal. ‘Apakah sekarang saatnya melakukan  pengorbanan besar untuk adik terkasih?’ Lamunan nya  dibuyarkan saat mendengar teriakan Syahla dari dalam  ruangan. Ia mendengar Syahla yang terus-menerus  menyalahkan dokter yang seolah tak becus mengobati  dirinya. Tak tega dengan keadaan sang adik, terlintas di 

73 

pikirannya untuk melakukan hal yang besar demi  adiknya.  

Ana bergegas menghampiri sang ayah, izin  meninggalkan rumah sakit sebentar. Mau pulang kerumah  dulu, katanya. Ayahnya sempat menawarkan untuk  mengantarkan Ana, namun Ana menolak dengan dalih  ‘Siapa yang akan menjaga Syahla?’ Membuat hal itu  disetujui sang ayah.  

Dengan tongkat jalannya, Ana berjalan  mengarahkan kakinya ke arah lobby rumah sakit,  menemui taxi online yang sudah dipesannya sejak lima  belas menit yang lalu. Ana mendudukkan tubuhnya dalam  taxi online tersebut lalu menyapa sang driver. “Tujuan  kita ke kantor pusat Wicaksana Group, ya, mbak?” Ana  mengangguk pelan, dirinya menghembuskan nafas berat,  seperti tak percaya tentang apa yang akan dilakukannya. 

§ 

BAB 13 

Pengorbanan Terbesar

74 

Ana turun dari taxi nya, berdiri didepan sebuah  gedung pencakar langit dengan papan nama ‘Wicaksana  Group.’ Dirinya terpogoh-pogoh berjalan dengan  tongkatnya menuju lift untuk naik ke lantai lima belas.  Selama perjalanan, rasa takut tentunya terukir jelas dalam  pikiran Ana. Namun demi Syahla, dirinya rela melakukan  hal segila ini. 

Untuk kedua kalinya, Ana masuk kedalam  ruangan megah yang terasa menjijikkan itu. Diseberang  meja sana, terlihat laki-laki tua duduk dan menatap puas  kearahnya. “Pelan-pelan, cantik. Susah ya jalan memakai  tongkat seperti itu?” Laki-laki tua itu beranjak dari  singgasananya dan segera menghampiri Ana. Tangan  kotornya dengan lancang membingkai pipi Ana membuat  Ana terkejut dan sontak menepis tangan laki-laki tua itu.  Kini posisi mereka sedang berhadapan, berdiri dan  bertatap mata tanpa kata. Ekspresi laki-laki tua itu seperti  singa kelaparan yang bertemu dengan mangsanya.  Sebaliknya, Ana menatap laki-laki di hadapannya dengan  tatapan sendu bercampur dengan takut. Bahkan terlihat  dari tangan Ana yang sudah bergetar sejak awal.

75 

Tanpa berkata apapun, Ana tersungkur dihadapan  laki-laki itu, kedua tangannya disatukan mengartikan  bahwa ia sedang memohon. “Lihat? Saya menang lagi,  Jaeral. Hahahaha” Ucap Baskara sambil tertawa  kemenangan, puas sekali rasanya mendapatkan segala  yang ia inginkan hanya dengan uang. “Ku mohon,  sembuhkan adikku, dia sudah cukup menderita, tolong-”  Belum sempat Ana menyelesaikan ucapannya, ucapannya  sudah dipotong oleh laki-laki tua yang ada di hadapannya.  “Sujud! Keselamatan anak cacat itu sebanding dengan  hargamu saat mencium sepatuku.” Air mata Ana mengalir  deras, harga dirinya benar-benar di injak-injak saat ini.  Namun apalah daya, hal ini harus dilakukan demi  keselamatan adiknya. Mau tidak mau, dia harus  melakukannya. 

“Saya akan memberimu pinjaman sebesar yang  dibutuhkan, dengan jaminan..” Baskara berjongkok dan  mengelus sensual punggung perempuan yang sedang  bersujud dikakinya. Membuat perempuan tersebut sontak  terbangun dari sujudnya, menatap laki-laki tua tersebut  dengan penuh kebencian. “Jaminan nya adalah rumah  ayahmu, kantornya, harta benda, bahkan tubuhmu. Jika 

76 

dalam satu setengah tahun kamu tidak mengembalikan  uangnya, maka semuanya termasuk tubuhmu akan  menjadi milik saya.” Ucap pria itu dengan nada lirih  penuh nafsu.  

Pria itu beranjak ke arah mejanya, mengeluarkan  secarik kertas dan melemparkannya ke arah perempuan  yang masih terduduk di lantai. “Tanda tangani itu,  uangnya akan dikirimkan ke rekening ayahmu.” Ucapnya  tak lupa melemparkan sebuah bolpoin. Seolah semua ini  telah disusun rapih oleh Baskara.  

Ana telah menandatangani surat perjanjian  tersebut dan ingin cepat-cepat pergi dari ruangan yang  berhawa neraka itu. “Aku telah menandatangani surat  perjanjiannya, kirim uangnya sekarang.” Ujar Ana.  Baskara menyunggingkan senyum sinisnya lalu berjalan  mendekati Ana. “Sudah ku kirim sejak awal, cantik.  Jangan terburu-buru, bagaimana kalau kita sedikit  bermain, lalu akan kutambahkan nominalnya.” Baskara  menggenggam kedua tangan Ana dan mendekatkan  wajahnya ke wajah Ana. Saat ini posisi Ana sudah berada  dibawah kukungan laki-laki tua itu, dirinya mencoba 

77 

memberontak dan memberikan perlawanan, namun tidak  semudah itu karena keterbatasan fisik yang Ana miliki.  Tanpa mereka ketahui, dibalik pintu diseberang  sana, percakapan mereka didengar oleh Revan sedari tadi.  Mendengar akan terjadi hal-hal yang buruk didalam sana,  Revan dengan cepat masuk kedalam ruangan ayahnya.  Melihat anaknya yang berdiri dipintu, dengan santainya  Baskara kembali berdiri tegak dan bersikap seolah tidak  terjadi apa-apa. Hal tersebut membuat Revan geram  dengan sang ayah, namun Revan juga tidak bisa bertindak  lebih jauh karena takut Syahla dan keluarganya akan  semakin tersiksa karena ulah ayahnya.  

Ana segera beranjak dan meraih tongkatnya, berjalan  terpogoh-pogoh meninggalkan sepasang ayah dan anak  yang sama brengseknya menurutnya. 

BAB 14 

Lahir dari Keluarga yang Salah

78 

“Jangan ganggu apapun yang sudah saya  takdirkan Revan, saya tidak akan segan untuk mengambil  nyawa manusia yang tidak patuh terhadap hal yang sudah  saya persiapkan, kamu seharusnya mengerti hal itu  Revan,” Baskara berujar dengan tenang seolah manusia di  depannya bukanlah darah dagingnya, berjalan pelan dan  duduk kembali di meja kebanggaannya.  

Revan bergerak cepat ke hadapan sang ayah,  menggebrak meja dari kayu jati tersebut seolah-olah  hanyalah kapas ringan yang bisa kapan saja ia hancurkan.  Matanya berkilat tajam, “Apapun yang saya pilih adalah  keputusan saya, apapun yang saya kehendaki pun begitu.”  Revan menunjuk Baskara dengan tidak sopannya,  menghentikan kalimatnya barang sejenak, nafasnya sudah  memburu dengan emosi yang membuncah. “Tidak usah  ikut campur lebih jauh, tetaplah jadi orang asing.  Menjauhlah dari apa yang saya kehendaki, saya bukan  pesuruh anda. Jadi, berhenti memerintah saya!” Apa itu  rasa bersalah? Bagi orang seperti Baskara, rasa bersalah  dan kasihan adalah hal mustahil. Psikopat brengsek yang  bahkan dengan berani dan sadar menghancurkan 

79 


Komentar

Postingan Populer