MAH.. KOK JADI GINI, YA? - DWI YULIA & SAFIRA
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa. Berkat limpahan karunia-nya, kami dapat menyusun Cerpen yang berjudul “Mah.. Kok Jadi Gini, ya?”. Dalam penyusunan Cerpen ini penulis telah mengusahakan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan penulis. Namun sebagai manusia biasa, penulis tak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi penulisan maupun tata bahasa.
Terima kasih kami ucapkan kepada bapak/ibu guru pembimbing yang telah menuntun kami dalam proses penyusunan cerpen ini. Karena tanpa adanya masukan-masukan dari berbagai pihak, mungkin kami tidak mampu menyelesaikan Cerpen ini. Cerpen ini dibuat sedemikian rupa semata-mata untuk meningkatkan minat baca para putra/putri Indonesia dan semata-mata untuk memotivasi kreativitas para pembaca untuk ikut serta menciptakan suatu karya tulis.
Jakarta, Oktober 2024
1
Prolog
17 Februari 2003, Kebahagiaan yang luar biasa dirasakan oleh sepasang suami istri yaitu Jaeral Kartanegara dan Ria Anasyahla. Lahir anak perempuan pertama mereka yang mereka panggil Ana Kartanegara. “Cahaya hidupku” itu yang ada dibenak mereka.
17 Juli 2006, Kebahagiaan keluarga Jaeral kini bertambah. Pada hari itu, lahir anak perempuan kedua dari mereka yang diberi nama Syahla Kartanegara. Tangis haru dirasakan oleh Jaeral dan Ria. “Bahagiaku” itu pikir mereka.
17 Maret 2008, Keluarga kecil Jaeral yang disebut “Keluarga Cemara” sedang berkunjung ke kebun binatang. “Ana, Syahla, kalau kalian sudah besar nanti ajak anak-anak kalian ke sini ya, dan bilang sama mereka kalau kalian pernah berkunjung kesini sama ayah dan mamah.” Ucap Ria kepada kedua putri kecil mereka.
31 April 2009, “ANA, AWAS!!” Awal kehancuran bagi keluarga Jaeral. BRAKKK. “Mas! Tolongin anak kita!” Ucap Ria yang sudah banjir air mata. Tak berdaya rasanya saat melihat putri sulungnya
2
tergeletak dijalan sebab menjadi korban tabrak lari sebuah mobil sedan di halaman rumahnya. “Tulang kaki Ana remuk, dia bisa sembuh hanya saja tak normal lagi.” Ucap dokter membuat hati Jaeral dan Ria hancur bagaikan ditusuk seribu pisau.
31 Oktober 2012, “Syahla, sini nak.” Panggil Ria kepada putri bungsunya. “Syahla anak mamah yang pintar. Nanti kalau mamah pergi, mamah titip ayah dan kak Ana ya, nak. Nanti kalau Syahla capek, Syahla tidur ya sebentar, tapi esok hari harus bangun lagi. Nak, ingat pesan mamah, dunia itu keras, nak. Kamu harus berani ambil keputusan dan berani ambil resiko. Kamu harus bisa menyusun masa depan yang baik. Bantu ayah dan kak Ana ya, Nak.” Tutur Ria yang dipanggil “Mamah” oleh Syahla.
31 Desember 2012, “Istirahat yang tenang, mah. Syahla janji bakal susun masa depan Syahla dengan baik. Syahla bakal selalu ingat pesan mamah. Syahla bakal jagain ayah dan kak Ana. Syahla sayang mamah” Batin Syahla berusaha melepaskan kepergian sang ibu.
3
BAB 1
Kalau bisa, tidur selamanya saja ‘Menurutmu, hari ulang tahun itu seperti apa? Menyenangkan? penuh haru? atau sebuah kegagalan manusia yang tertunda? Sejak kematian ibu, hari ulang tahun ku menjadi kelabu, selalu bertepatan dengan hujan yang membawa langit berubah menjadi pilu. Tapi, setidaknya aku memiliki ayah dan kakak yang tetap membuat rumah ini hangat, walau tanpa usap dan dekap hangat ibu ku. Namun, apa jadinya jika ulang tahunmu berubah menjadi semakin menyeramkan, berubah semakin pilu, karena adanya benalu.’
Remaja menuju dewasa itu memandangi setiap bait yang tertoreh dalam diary book-nya, kata demi kata yang teruntai membuatnya teringat, ini adalah curahan
4
hati terakhirnya, tepat saat dirinya berumur lima belas tahun dengan penuh penekanan dan ketidakrelaan, membuat Syahla berhenti menulis di buku kesayangannya tersebut.
Syahla tersentak mendengar knop pintu kamar yang perlahan terbuka, dengan terburu-buru, ia menutup diary book kesayangannya itu. Lalu dengan cepat memutar tubuhnya untuk memusatkan fokus pada orang yang dengan lancangnya membuka pintu kamar tanpa mengetuk. “Syahla, Nak,” sang ayah berkata diiringi dengan gerak tangan yang mengusap lembut rambut anak sulungnya, “Bunda Tami bilang, saat pulang sekolah, kamu nangis, ya? Ada apa nak, Syahla mau berbagi cerita kepada ayah?” Sang ayah bertanya dengan sangat lembut, namun tidak menghilangkan nada kekhawatiran dari tiap ucapannya. Syahla bergeming, dengan mata yang berkaca-kaca Syahla berucap, “Kalau aku gagal di setiap langkahku nanti, apa ayah dan kakak akan terus mendamping ku? Rasa-rasanya, aku seperti melanggar semua janjiku mamah, bahkan aku tidak bisa menjaga kalian, tidak bisa membahagiakan kalian, semuanya
5
terasa berputar di kepala ku, semuanya selalu ada pada ku, nyaman rasanya memiliki tempat pulang. Tapi kenapa semuanya terasa hampa, yah? rasanya begitu frustasi, semuanya membuat aku Ingin menenggelamkan diri ku sendiri, aku..” Suaranya begitu lirih, serat akan frustasi yang selama ini dipendam, rasanya setiap kata yang diucapkan menutup rongga dadanya sehingga menjadi sesak.
Nafas Syahla semakin memberat, dibarengi oleh lengan hangat sang ayah yang mendekap erat dirinya, seolah mengatakan, ‘Tidak apa, ada ayah di sini, kamu akan baik-baik saja.’ Sesosok anak dan ayah itu pun menangis tersendu, menjatuhkan ego untuk menangis tersendu dalam dekapan hangat masing-masing, menunjukan kerapuhan dan kelemahan dalam jumawa semesta. “Syahla, kamu mau untuk konsultasi dengan psikolog? Ayah akan mengantarmu, jika kamu mau,” Sang ayah merasakan gelengan pelan dalam pelukannya, tanda bahwa Syahla menolak. Ayah menyisir pelan rambut Syahla, seraya berkata, “Ya sudah, kalau begitu Syahla tidur ya. Besok masih harus sekolah, kan?” Dituntunnya Syahla menuju ranjang tidur, dengan lembut,
6
ayah membaringkan Syahla, sembari memberikan kecupan-kecupan kecil pada pucuk kepala sang anak. “Syahla, jangan berpikir terlalu keras ya nak, ayah dan kakak akan selalu melindungimu, menjadi rumah dan menjadi sandaran ternyaman untuk Syahla. Tidur ya, Syahla butuh banyak istirahat hari ini,” Sang ayah berucap lirih sekali, dan setelahnya melenggang pergi dari kamarnya. Syahla menatap kosong punggung lebar sang ayah yang kian menjauh, ‘Kalau bisa, Syahla ingin tidur selamanya saja.
§
BAB 2
7
Tuhan, Bukankah Itu Terlalu Kejam? “Sudah mau berangkat, dek?” Suara yang mengalun merdu keluar dari mulut sang kakak. Ia berjalan mendekat kearah kakak-nya, “Iya kak, aku harus berangkat lebih pagi, hari ini ada pentas seni, jadi aku harus berangkat lebih cepat untuk ngebantu panitia yang lain.” Ana mengangguk pasti, “Siap deh, good luck ya, dek! Duh, bangga banget kakak, dulu masih kecil bisanya merengek tapi sekarang udah bisa jadi panitia. Oh iya, kamu pulang malam dong, dek?” Sang kakak bertanya diselingi kekehan kecil, mengingat sang adik yang dulu hanya bisa merengek, sekarang malah sudah bisa berpartisipasi dalam event besar. Syahla hanya mengangguk sebagai jawaban, lalu menyalami Ana dan bergegas keluar dari rumah. Takut-takut tertinggal busway. Syahla berjalan dengan cepat menuju halte, mulutnya terhenti merapalkan doa agar tidak tertinggal busway pertama di pagi ini, bisa gawat jika datang terlambat dan sedikit membantu, bisa-bisanya nanti dirinya terkena makian dari berbagai divisi.
8
Sesampainya Syahla di halte bus, ia melihat bus pertamanya hampir jalan meninggalkan dirinya. “Pak, tunggu pak. Aduh, mana supirnya bolot lagi,” Syahla menggerutu sendiri, dengan terus menambah kecepatan pada tungkai kakinya, untungnya dengan tubuhnya yang ringan, Syahla bisa berlari dengan sangat cepat dan berhasil mendapatkan bus pertama di pagi ini. “Neng–
neng, bus itu datangnya pagi, jangan lelet kalo bangun. Emang kebiasaan anak jaman sekarang susah amat bangun pagi,” Sopir bus tersebut berbicara dengan sarkas, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sepertinya sang sopir kepalang sebal dengannya. Syahla hanya tersenyum pahit sambil mengatur nafasnya yang tersengal.
Saat sudah sampai di sekolahnya; salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri yang terkenal dengan keunggulannya, Syahla pun berlari dengan cepat menuju lapangan utama, tempat pentas seni akan diadakan.
Syahla langsung bergegas mengerjakan jobdesk-nya.
9
Mari sejenak kita tinggalkan Syahla agar fokus mengerjakan tanggungjawabnya. Jika kalian bertanya, apakah Syahla termasuk anak berprestasi dan aktif? Jawabannya adalah, ya. Ia merupakan anak berprestasi serta aktif dalam kegiatan kepanitiaan. Namun, semuanya ia lakukan karena perasaan kosong yang selalu menemaninya, banyaknya kegiatan yang dilakukan semata-mata hanya untuk mengisi kekosongan yang ada di relung hatinya. Entahlah, Syahla selalu merasa sendiri, kosong, frustasi, walau mempunyai banyak orang terkasih, tidak menutup kemungkinan bahwa Syahla merasakan semua perasaan itu. Syahla sering terlalu kalut, ia akan melakukan self harm dengan alasan ‘kepuasan diri’ banyak sekali hal-hal yang tidak dimengertinya, ada apa sebenarnya? Apakah hanya perasaan kalut akan kehilangan sang ibunda tercinta, atau memang ia dilahirkan untuk merasakan itu semua? Tertelan oleh rasa frustasi membuat banyak lubang hitam dalam hatinya, mengantarkannya dalam kekosongan luar biasa.
Hari sudah gelap, dan acara sudah hampir rampung, Syahla memijat pangkal hidungnya, pertanda bahwa dirinya sudah lelah. Mengurusi acara seperti ini
10
sejujurnya membuat dirinya muak, sesak rasanya setiap berhadapan dengan orang, semuanya terasa menyebalkan, mengerjakan sesuatu hanya untuk mengisi kekosongan yang tidak dapat diobati membuat dirinya muak.
Tepat jam setengah sebelas malam, semua acara sudah rampung, semua panitia dibubarkan oleh satpam sekolah, karena waktu pulang yang tidak sesuai dengan surat izin yang diberikan. Syahla sangat gembira dengan itu, ia buru-buru memesan ojek online, tanpa berpikir; bahwa ini sudah larut malam, driver mana yang mau menerima pesanannya. Namun, dalam waktu 5 menit ada driver yang menerimanya, Syahla bersorak senang dalam hati karena bisa pulang tanpa drama susah transportasi. “Mba Syahla, ya?” Syahla mengangguk seraya naik ke atas motor sang driver.
Selama perjalanan driver tersebut mengajaknya berbicara, banyak sekali topik yang dibuka oleh driver tersebut, namun Syahla hanya menjawabnya dengan deheman pelan; Sudah lelah diajak bicara pula, pikirnya. Tangan driver itu merambat mengelus paha Syahla, “Mba
11
cantik deh, tapi kalo diajak bicara kayak orang bisu, jawab dong mbak, saya kurang ganteng ya makannya mbak ga jawab?” Driver ojek itu makin bertindak kurang ajar, mengelus paha Syahla dengan pelan sampai hampir menyentuh pangkal selangkangannya. Keringat sebulir
bulir biji jagung mulai menetes di sekujur tubuhnya, nafasnya memburu seakan ada batu besar yang menyangga paru-parunya, tubuhnya membeku dengan suhu tubuh yang semakin mendingin. Syahla ketakutan setengah mati. Ia memegang kencang lengan driver tersebut, menghempaskannya kasar sampai motornya terjatuh di jalanan sepi, masih jauh dari rumahnya.
Syahla terisak, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, ia ketakutan setengah mati. “Mas! Jangan keterlaluan ya sama saya! Brengsek, emangnya mas kira saya itu hewan yang bisa seenaknya disentuh!” Syahla berteriak bagai orang kesetanan, dengan tubuh yang bergetar Syahla mulai berbalik, berjalan dengan terseok-seok. Driver tadi mengejar Syahla, dan dengan mudahnya sang driver berhasil menangkap Syahla, karena memang, kondisi Syahla jauh dari kata baik. Air mata yang terus mengalir di matanya, celana bagian lutut
12
yang robek dan mengeluarkan darah segar. “Mau kemana lu, pasti lu mikir bisa kabur cepet ya,” Driver tersebut berkata dengan nada tinggi, seringai seram mulai muncul di wajahnya dengan mencengkram kuat rambutnya. Rasa
rasa, pada detik itu kewarasan Syahla ditarik dari raganya. Syahla mencengkram tangan driver tersebut seiring dengan jambakan di kulit kepalanya, Syahla diseret menuju pinggiran, tepatnya di sebuah ruko kosong di seberang jalan kosong itu. Syahla menggeleng kuat, tangisannya terdengar semakin pilu, terus-menerus dirinya mengampun pada sang pelaku, namun seperti dirasuki iblis, driver tersebut menyeretnya semakin bengis.
Tubuh Syahla dilempar dengan kasar ke dinginnya lantai ruko. Kepala Syahla terus menggeleng, menangis sesegukan dengan telapak tangan yang digosokkan satu sama lain. Syahla terus memohon ampun, menyerta mertakan permintaan maaf atas sikap buruknya tadi, membungkukan tubuhnya seolah meminta pengampunan pada Tuhan.
Namun semuanya sia-sia, tangan bejat itu terus menggerayangi tubuh tidak berdayanya, menyentuh
13
bagian-bagian intim tubuh Syahla. Menghiraukan teriakan permohonan yang selalu diserukan. Syahla meraung-raung, terus mencoba mendorong tubuh bejat Itu dari atas tubuhnya. Ia ketakutan setengah mati. Namun nihil, tubuh itu lebih besar darinya, bahkan dari perlawanan yang dilakukan, tubuh kotor tersebut tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya. “Anak kecil kayak kamu emang pantes diginiin, biar nggak songong,” Tawa iblis itu keluar dari mulut kotor pelaku, seolah menertawakan ketidakberdayaan gadis di bawahnya. Syahla menggeleng gusar, terus meminta tolong, entah pada siapa. Tubuhnya dijamah, nyawanya seakan dicabut paksa dari tubuhnya, Syahla memandang kosong langit langit usang di atasnya, matanya tidak henti mengeluarkan air mata, rintihan demi rintihan kesakitan keluar dari mulutnya. Menyerukan terus menerus nama sang ayah, mama dan kakak di dalam hatinya. Seakan akan permintaan tolongnya sampai karena telepati jiwa, meminta keadilan Tuhan yang selalu jahat kepadanya, kenapa semuanya jadi seperti ini?
§
14
BAB 3
Bukan Awal Dari Penderitaan Tepat jam 12 malam, terlihat seorang perempuan penuh memar dengan baju yang berantakan sedang menangis pilu. Itu Syahla, berjalan gontai ditempuhnya
15
tempuh menuju rumah, tanpa memakai alas kaki dalam perjalanan dengan jarak yang cukup jauh untuk mencapai rumah. Sekujur tubuh perempuan itu terasa sakit, tetapi rasa sakitnya tidak sebanding dengan luka jiwa yang terasa. Syahla memeluk dirinya sendiri, udara dingin menusuk-nusuk tubuhnya yang sudah seperti kanvas, penuh dengan goresan tinta. Satu jam, Syahla menempuh perjalanan panjang penuh luka, pupil matanya bergerak ke bawah, melihat kakinya yang sudah terbalut darah.
Ia Melangkahkan kakinya ke dalam rumah, matanya menyoroti sekitar; sepertinya semua sudah terlelap. Malam ini, Syahla melihat nyata bahwa sehancur apapun dirinya, dunia akan tetap berjalan sesuai porosnya. Pikirannya kacau, rasanya semuanya sudah hancur sejak kejadian itu. Raganya masih ada, namun jiwanya seakan
16
mati lebih cepat. Malam itu, dinding-dinding kamar Syahla menjadi saksi bisu betapa hancurnya gadis itu. Syahla berjalan pelan ke arah kamarnya, dengan bercak darah bercetakan kakinya ia torehkan pada lantai dingin rumahnya. Terduduk pelan di pinggir kasurnya, mengambil pulpen tajam di laci meja belajarnya. Ia menangis sesenggukan, semuanya terasa semakin melelahkan. Tangan kanannya memegang sebatang pulpen yang sangat tajam. Secara perlahan, Syahla
menusukan pulpen tersebut ke pergelangan tangannya, saat bagian tajam pulpen sudah menembus kulitnya, ia secara pasti menggeser sambil menekan pulpen tersebut agar menusuk lebih dalam nadinya, sehingga tercipta garis horizontal yang mengeluarkan darah segar dari pergelangan tangannya. Torehan luka di tangannya seakan mengungkapkan sebagian kecil rasa sakit yang dia
17
rasakan. Sesaat setelah Syahla menelan 5 tablet Paracetamol bersamaan dengan soda, pandangannya kabur dan sepenuhnya kehilangan kesadaran. ‘Ayah, kak Ana, maaf.. Aku gagal’
§
Isak tangis terdengar samar di sekelilingnya membuatnya memaksa untuk membuka mata. Sorot lampu tepat menyoroti matanya. Tidak, ini bukan dirumah. Bola matanya mulai bergerak, mencoba mencermati dimana dan dengan siapa dia saat ini. “Syahla, kamu bangun, nak? untungnya dokter sigap menangani mu, nak.” Sang ayah segera mendekap putri bungsunya itu. Syahla awalnya menerima kedatangan sang ayah dalam peluknya, namun sesaat setelahnya, rekaman tentang kejadian malam itu seolah terputar otomatis dalam benaknya. Ia mencengkram rambutnya dengan kasar, peluh sudah membanjiri dahinya, dirinya, dadanya bergerak naik turun secara cepat seirama dengan nafasnya yang memburu. “BRENGSEK, JAUH-JAUH DARI GUE SIALAN, LO JAHAT, JAHAT SIALAN!” Syahla berteriak secara histeris. Reflek sang ayah
18
terdorong menjauh, ia terkejut melihat anaknya berteriak. Sorot matanya memandang sang ayah dengan tatapan takut. “Syahla kenapa, nak?” Sang ayah menatap khawatir dan mencoba mengikis jarak dengan Syahla. Namun, semakin ia mendekat, semakin kuat jerit yang Syahla teriakkan. “Menjauh Brengsek! Bajingan tengik kamu begitu menjijikkan!”
Ana meminta ayahnya untuk keluar dari ruangan, sedangkan ia mencoba menenangkan adiknya. “Syahla sayang, ini kakak, sayang. Syahla tenang, ya. Hanya ada kakak dan kamu disini” Seraya didekapnya tubuh sang adik; mengharapkan ketenangan adiknya.
“Saya rasa pasien baru saja mendapatkan perlakuan yang tidak pantas diterimanya sehingga dia mengalami gangguan mental, Pak. Banyak memar di sekujur tubuhnya menandakan keaadaan yang tidak biasa bahkan pasien menjerit ketakutan tidak hanya kepada bapak, bahkan saat saya mencoba memeriksa keadaan pasien tadi, pasien menolak dan ketakutan. Kalau boleh saya sarankan, pasien di visum saja, bagaimana?”
19
“Lakukan yang terbaik, dokter. Saya mohon, lakukan apapun yang terbaik untuk kesembuhan putri saya.”
Proses visum telah berhasil dilewati oleh Syahla. Meskipun banyak penolakan dan pemberontakan yang dilakukan olehnya, syukurnya semua berjalan sesuai yang diharapkan. Tiga hari setelahnya, Syahla di izinkan pulang dengan syarat; harus rutin konsultasi ke Psikologi setiap hari Rabu, Jumat, dan Minggu. Hasil visum sudah terbit, dan dinyatakan bahwa Syahla baru saja mengalami pelecehan seksual beberapa waktu lalu. Hancur? tentu. Hal itu dirasakan oleh ayah dan kakaknya. Mereka merasa gagal menjaga gadis kecil itu. Namun, sang ayah bertekad untuk menangkap pelaku baik hidup maupun mati. Hatinya penuh dendam kepada pelaku yang telah melakukan hal kotor dan menjijikkan kepada putrinya.
Keadaan Syahla semakin memburuk, ia enggan bertemu dengan laki-laki termasuk ayahnya. Ia juga enggan diajak bicara dengan siapapun. Tatapannya kosong dan penampilanya berantakan seperti tak terurus. Dalam beberapa waktu, sesekali Syahla mengamuk dan
20
menjerit saat traumanya kambuh. Hal itu membuat ibu tiri Syahla dan Ana kewalahan karena harus merawat anak ‘gila’ dalam kesehariannya.
Terapi dan pengobatan untuk Syahla telah berjalan selama 3 Bulan penuh. Tanpa sekolah, tanpa bermain, dan tanpa interaksi dengan dunia luar. Syahla hanya berinteraksi dengan kakaknya, ibu tirinya, dan dokter psikiaternya.
Jika kalian bertanya bagaimana dengan ayahnya? Apa peran sang ayah? Jaeral berperan di belakang layar, dia yang membayar biaya psikiater Syahla, menebus obat Syahla, membeli makanan untuk Syahla, membayar segala kebutuhan Syahla, bahkan membayar biaya taxi
online untuk Syahla pergi terapi rutinan ke rumah sakit. Jaeral bersama dengan polisi juga masih berusaha menyelidiki pelaku yang membuat Syahla menjadi seperti ini. Bukti-bukti seperti akun ojek online milik pelaku, alamat pelaku, dan identitas pelaku sudah ada ditangan. Sekarang tinggal menunggu kesaksian Syahla saja, namun sayangnya, kondisi mental dan kejiwaan Syahla belum siap untuk menguak kejadian malam itu.
21
BAB 4
Ayah, Maaf..
6 Bulan berlalu, keadaan Syahla kian membaik. Syahla sudah bisa diajak bicara dengan normal oleh kakak dan ibunya, meski tetap enggan untuk bertemu dengan
22
laki-laki. Kini syahla kembali bersekolah lagi. Berharap semuanya menjadi lebih baik tanpa kecemasan kecemasannya yang akan muncul.
Rindu? Itu adalah perasaan yang dirasakan oleh Jaeral kepada putri bungsunya. Ayah dari dua anak itu kini mulai mencoba berbagai hal untuk berusaha bertemu dengan putrinya itu. Mulai dari berpura-pura menjadi perempuan dengan berpenampilan seperti perempuan pada umumnya, memakai topeng boneka, dan percobaan lainnya hanya untuk berinteraksi dengan Syahla. Namun Syahla bukan anak kecil yang bisa dibodohi begitu saja. Berulang kali ayahnya mencoba mendekatinya, berulang kali juga Syahla mengusirnya menjauh. Bahkan Syahla pernah tiba-tiba memohon ampun saat ayahnya mendekatinya.
“Syahla, udah pulang, sayang?” Sapaan hangat sang kakak membuka percakapan antara kakak beradik tersebut. “Udah kak, hari ini aku sedikit nggak enak badan. Jadi disuruh pulang lebih cepat.” Ana yang mendengar jawaban adiknya tentu terkejut, raut wajahnya yang hangat kini berubah menjadi khawatir. “Syahla sakit? apa yang sakit, sayang?” Sang kakak berjalan
23
perlahan dengan serseok-seok lalu segera menyentuh kening Syahla. Syahla terkekeh kecil melihat kekhawatiran sang kakak, “Kak, aku cuma agak pusing aja. Bukan apa-apa kok. Jangan khawatir, ya.”
Mendengar Ana bernafas lega, Syahla segera membantunya untuk duduk di sofa dan ia segera berbenah dan membersihkan diri. Setelahnya, Syahla menyusul sang kakak untuk duduk di sofa. Namun, Syahla hanya diam tanpa suara membuat suasana menjadi sedikit canggung. “Dek..” Panggil sang kakak berusaha memecahkan keheningan namun hanya dibalas dengan deham-an dari sang adik. “Kamu nggak kangen ayah?” Sesaat setelah pertanyaan itu dilontarkan oleh sang kakak, Syahla langsung mematung. “Kangen, kak. Tapi entah kenapa, kalau aku dekat sama laki-laki rasa takutku saat kejadian waktu itu muncul lagi.” Ucapnya setelah itu menunduk lesu. “Tapi laki-laki itu ayahmu, dek. Ayah kangen sama kamu, ayah nggak jahat kayak laki-laki diluar sana” Syahla bergeming. “Kak, aku capek. Mau ke kamar dan istirahat dulu, ya.” Setelah itu Syahla berlalu pergi meninggalkan sang kakak sendirian. Ana menghembuskan nafas berat karena adiknya; entah
24
sampai kapan dia akan terus menghindari ayahnya sendiri.
Hari ini Syahla pulang sekolah lebih sore dari biasanya. Dia pulang pukul setengah lima sore karena ada latihan untuk lomba menyanyi di sekolahnya. Saat ingin menyebrang di lampu merah, Syahla melihat badut dengan kostum boneka beruang diseberang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Tau siapa orang dibalik badut tersebut, ia memutar bola matanya malas. Ia segera membalikkan badan dan menjauh dari badut boneka yang ada di seberang sana.
Badut itu berusaha mengejar Syahla dengan berlari kecil. Namun, sulit untuk berlari karena beratnya kostum badut tersebut menghambat pergerakannya. Saat ia berusaha menyeberang untuk mengejar Syahla, BRUKK! Sebuah motor jatuh karena menghindari badut tersebut. Syahla menoleh kebelakang dan melihat badut beruang itu sedang berlutut di hadapan orang lain yang sedang memaki-nya seraya menyatukan kedua tangannya di depan muka menandakan kalau ia memohon maaf. Syahla yang melihat kejadian tersebut segera berlari
25
menghampiri dan segera meminta maaf kepada pengendara motor tersebut mewakili badut yang bersalah. Masalah selesai, orang-orang yang hadir dalam masalah tadi sudah berlalu lalang pergi menyisakan Syahla dengan badut beruang dihadapannya. “Lain kali hati-hati!” Pesan Syahla ketus. Badut itu mengangguk antusias tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Kemudian tangan badut tersebut terbuka memberi isyarat kepada Syahla untuk tunggu sebentar. Syahla mengernyitkan dahi dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh badut tersebut. Melihat Syahla mengiyakan permintaan badut itu, ia segera memulai atraksi-atraksi sederhana seperti juggling bola di tangan, menghilangkan koin, dan yang
terakhir ia memberikan sebuah coklat untuk Syahla. Tak sadar, air mata Syahla mulai mengalir setetes demi setetes, membuat badut tersebut panik setengah mati
26
karena takut melakukan kesalahan. Badut tersebut berlutut dihadapan Syahla kemudian menyatukan kedua tangannya lalu menunduk memohon maaf dari gadis kecil dihadapannya.
Sontak Syahla memeluk badut beruang itu membuat badut itu membeku. “Ayah, Maaf..” Dua kata yang keluar dari mulut Syahla membuat keduanya berderai air mata. Lega rasanya mengetahui bahwa Syahla berhasil mempercayai ayahnya setelah sekian lama. Didekapnya tubuh kecil milik anak perempuannya itu; meluapkan rasa rindunya yang kian membara. Meskipun tanpa suara, isak tangis dari sang ayah bisa dirasakan oleh Syahla. Perlahan Syahla melepas peluknya dan membuka bagian kepala kostum badut yang dikenakan oleh sang ayah. Terlihat di wajah sang ayah ada rasa lelah dan pucat dengan keringat dan air mata. Hal itu membuat hatinya hancur. Padahal dulu, dia memilih untuk bertahan hidup untuk ayah dan kakaknya. ‘Mah, maaf aku membuat ayah menjadi seperti ini.’
§
27
BAB 5
Pecundang yang Takut Interaksi.. Hari berganti hari, Syahla mulai menerima semua takdirnya walaupun itu hal yang menyakitkan. Pagi itu, Syahla diantar sang ayah untuk sekolah. Sedang manja ceritanya. Saling melemparkan candaan selama perjalanan, mobil sang ayah mengemudi dengan
28
kecepatan sedang, agar tidak telat tetapi tetap selamat. Saat sudah sampai di sekolah, Syahla langsung berpamitan pada ayahnya. “Ayah doakan Syahla ya, agar Syahla sukses selalu,” Ucap Syahla dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Sang ayah mengelus lembut rambut putri bungsunya, “Pasti sayang, ayah akan selalu mendoakan Syahla, tanpa diminta pun, ayah akan selalu jadi orang pertama yang mendoakan Syahla.” Suaranya yang mengalun lembut membuat Syahla sesak, mengingat dirinya yang sempat menolak kehadiran sang ayah saat rasa takut menguasainya. Syahla buru-buru mengangguk dan menyalami sang ayah, membuka pintu mobil ayahnya secara cepat. “Dah ayah, Syahla sayang ayah,” Syahla tidak lupa memberikan kecupan kecil di pipi sang ayah.
Sebenarnya hari-hari di sekolah berjalan begitu monoton, Syahla hanya bangun pagi, mandi, sarapan, berangkat sekolah diantar ayah dan berlalu dengan cepat menuju kelas. Dengan tujuan meminimalisir kontak fisik dengan laki-laki. Sebenarnya Syahla tidak masalah jika hanya kontak fisik, tetapi kontak fisik minim. Meski
29
Syahla masih sering sesak dan merasa takut oleh nada keras juga makian.
Syahla berjalan gontai ke arah kelasnya. Hari ini, ia merasa sangat malas bersekolah, udara yang dingin membuatnya berbaring sangat nyaman di kasur empuknya tadi pagi.
Syahla terhuyung ke depan saat ada laki-laki yang menginjak tali sepatunya yang lepas. Jatuh dengan posisi tengkurap di koridor dingin sekolahnya. ‘Sial, pagi-pagi sudah jatuh,’ mendengus dengan kasar mencoba memperbaiki posisi tubuhnya sebelum tubuhnya membeku saat ada tangan yang menepuk pundaknya. “Kak, butuh bantuan?” Syahla berbalik dengan cepat seraya menepis tangan lelaki di depannya. “Nggak, gue jatuh juga karena lo, sialan!” Syahla berteriak di depan orang tersebut, melihat ada satu garis di dasinya; laki-laki dari kelas satu. Menjengkelkan, Syahla merasa dirinya akan muntah sekarang juga. Syahla berbalik, berlari dengan sekencang mungkin untuk mencari tempat Tujuannya yaitu, Toilet Sekolah. Syahla memuntahkan semua makanan yang sudah masuk di perutnya,
30
memandang kaca dengan tangan yang sudah bergetar dan keringat dingin yang mengucur di seluruh tubuhnya. Nafasnya memburu, tubuhnya luruh bersandar pada dinding.
Semua suara hari itu berputar di kepalanya bagaikan lonceng kematian untuknya. Sial, ia kira dirinya sudah membaik secara penuh, nyatanya ia hanya pecundang yang selalu takut pada interaksi. Suara tangisannya menyayat hati, memukul-mukul lantai sampai tangannya memerah yang akan meninggalkan bekas kebiruan nantinya. Mengambil satu butir obat penenang yang sudah tak disentuh selama satu minggu. Ternyata, ia masih membutuhkan bantuan untuk menenangkan dirinya.
Setelah keadaan tubuhnya membaik, Syahla bergegas berjalan ke kelasnya karena jam sudah menunjukkan jam tujuh kurang sepuluh. Bel masuk sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu, Syahla pasti akan telat mengikuti pembelajaran. Namun saat sampai di depan kelasnya, ternyata guru yang mengajar tidak ada,
31
desas-desusnya sedang ada rapat. Syahla bernapas lega, dirinya langsung menuju tempat duduknya; barisan belakang paling pojok. Ia langsung menelungkupkan kepalanya di lipatan tangan, lelah rasanya.
“La, gue mau ngasih bingkisan nih, dari adek kelas kalo ngga salah,” Orang yang berbicara padanya adalah Lilly, teman sekelasnya yang cukup dekat dengannya.” Syahla hanya celingukan, memproses otaknya yang tiba-tiba diberikan bingkisan. Lilly semakin menjulurkan bingkisannya ke depan wajah Syahla, “Ini, cepat ambil, katanya sih simbol permintaan maaf.” Ia langsung tertegun, pikirannya langsung berkelana, apa jangan-jangan anak kelas sepuluh yang tadi menabraknya di koridor sekolah. “Buang aja, gue lagi mual,” Syahla kembali membaringkan kepalanya pada meja. “Ih, jangan gitu lah, gue taro sini ya, siapa tau lo berubah pikiran. Kasian tau dia, kayaknya mah ngerasa bersalah banget,” Syahla hanya mengusir pelan Lilly dengan gestur tangannya; tanda mengusir.
§
32
BAB 6
Revan Wicaksana
Jam pelajaran pun berakhir, ini saatnya untuk pulang. Syahla membereskan semua alat tulis miliknya, tidak lupa untuk memasang earphone pada telinganya. Membawa tasnya di satu bahu, lalu berjalan keluar dari kelas yang sudah sepi. Dirinya sengaja pulang terakhir
33
karena menunggu bus sepi, malas berdesakkan dan berakhir panas-panasan di dalam bus ber-Ac, pikirnya. Saat sampai di sekitar halte dekat sekolah, dirinya merasa ada yang memanggil, entah siapa itu. “Kak!” Ternyata anak kelas sepuluh yang tadi menginjak tali sepatuku ada di depan muka. Anak laki-laki itu menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal, bingung
harus mulai dari mana. “Kak, udah nerima bingkisan permintaan maaf saya? Maaf ya kak saya ngga ngasih langsung karena tadi kakak gak ada di kelas, saya jadi bingung. Maaf juga kak kalo misal tadi saya lancang menyentuh pundak kakak, kakak jadi nangis keras seperti tadi pagi,” Kalimat panjang dan lebar keluar dari mulutnya, melelahkan mendengarkan ocehan tidak
34
bermutu laki-laki di depannya ini, menyebalkan. “Revan Wicaksana, betul?”
Syahla menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, “Gini ya, saya udah maafin kamu walaupun kamu sudah lancang. Jadi, berhenti terus menerus merasa bersalah. Dan berhenti ganggu saya apalagi memberikan saya bingkisan permintaan maaf, dari kemarin, presensi kamu di hadapan saya itu mengganggu mata sehat saya. Ini!” Ucapan tegas Syahla bagai menyayat hati, dengan tangan yang menyerahkan balik bingkisan yang Revan beri padanya tadi pagi. Saat tidak ada pergerakan dari bocah di depannya, Syahla menjatuhkan bingkisan itu ke lantai dan berbalik pergi meninggalkannya. Revan hanya memandangi punggung kakak kelasnya yang semakin menjauh, “Kamu kenapa jadi impulsif gini ya, kak?” Lirih Revan.
Lelaki kelas sepuluh dengan mata hitam legamdengan rambut undercut, disempurnakan oleh hidung bengir dan alis tebal dengan bibir tipisnya, bahkan dengan proporsi rahang tegas yang kokoh itu. Dianugerahkan wajah yang sangat proporsional tidak membuatnya diterima baik oleh Syahla, bahkan badannya
35
saja sangat sempurna. Dengan tinggi seratus delapan puluh sentimeter yang nantinya bisa terus bertambah, kulitnya yang berwarna sawo matang sangat match dengan proporsi bahunya yang lebar dan kokoh seperti tembok itu. Pintar? Bahkan Revan selalu menjadi murid pararel satu di sekolahnya, menjuarai berbagai jenis lomba akademik dan non akademik.
Setelah Syahla menghilang dari pandangannya, ia langsung menaiki motor sportnya itu, dengan kecepatan di atas rata-rata.
Syahla berjalan sejauh dua kilometer untuk menuju halte bus, malas menunggu di halte bus dekat sekolah karena ada bocah yang lancang menyentuhnya. Bahkan Syahla tidak marah saat bocah itu menginjak tali sepatunya sehingga menyebabkannya jatuh tersungkur di lantai dingin koridornya, tetapi ia menjadi sangat emosional saat lelaki itu menyentuh pundaknya.
§
Syahla sudah sampai di rumahnya tepat sebelum malam. Saat ini, ia sedang makan malam bersama
36
keluarganya. “Gimana sekolahnya, la?” Sang ayah bertanya sambil menyuap makanannya. “Ya…. Seperti itu yah, biasa saja, nothing special,” Kakaknya mulai tertarik mendengarkan obrolan ayah dan anak itu. “Masa sih dek, kamu nggak mau deket sama siapa gitu di sekolah?” Syahla melepaskan pegangannya dari sendok makan miliknya, sampai menimbulkan suara kencang dentingan sendok dan piring. Lalu Syahla mendengus kencang, menyendokan kembali makanan ke dalam mulutnya.
Ayah dan bunda Tami yang mendengar dengusan kasar Syahla pun hanya terdiam di tempat, masih asik menikmati hidangan makan malamnya; Sang ayah tidak bisa berbuat lebih karena istrinya tersebut pasti akan sangat tidak suka kalau dirinya mencampuri terlalu dalam anak-anaknya dan membuat kenyamanan serta ketenangan istrinya terganggu. “Perilaku kamu itu harus dirubah, biar sopan sama yang tua, kebiasaan jelek mu itu terlalu sering diwajarkan, benar-benar buruk,” Bunda Tami berucap dengan tenang tetapi sangat menyayat hati, Syahla yang terbiasa dengan bundanya itu hanya diam dan asyik memakan hidangannya dengan lahap. Ana yang
37
menjadi percikan api di dinginnya makan malam hari ini hanya mengatupkan bibirnya; Takut salah berbicara lagi. §
Pagi ini Syahla sampai di sekolah lebih pagi dari biasanya. Resolusi pagi hari yang dingin disertakan awan mendung itu adalah tidur setengah jam sebelum jam pelajaran dimulai. Tetapi Syahla menemukan sebuah bingkisan berisi keychain berbentuk karakter-karakter lucu di laci mejanya, siapa yang menaruhnya? Kemarin saat ia pulang, dirinya tidak menemukan apapun di dalam lacinya. Kening Syahla berkerut, memikirkan segala kemungkinan orang yang menaruhnya di sini, “Siapa sih, rese banget.” Menggerutu sekarang menjadi salah satu hal wajib di hidupnya, apapun keadaannya.
Tujuh hari mulai terlampaui dengan sedikit baik, dengan bingkisan-bingkisan kecil yang selalu ada di laci mejanya, sebenarnya siapa? Manusia tidak punya kerjaan mana yang selalu menaruhnya tanpa absen, tidak mengganggu namun menimbulkan ketakutan tersendiri bagi Syahla.
38
Pagi itu Syahla berangkat lebih pagi dari biasanya. Ia melihat ada orang yang sedang menaruh sesuatu di mejanya, Syahla mengangguk pelan dengan berjalan penuh keangkuhan sambil bersedekap tangan, Syahla mendekati orang aneh tersebut. Saat Syahla sudah sampai di belakang punggungnya, orang di depannya berbalik pasti. Wajah orang di depannya terlihat sangat kaget terbukti dengan tubuhnya yang terdorong pelan ke belakang sampai menabrak meja Syahla. “Bukannya udah gue peringatin? Lo masih belum ngerti juga? Freak banget, sumpah!” Syahla berujar kasar pada laki-laki yang ada di depannya.
Revan Wicaksana, bocah menyebalkan, anak yang pernah memiliki cerita manis dengannya saat masa Sekolah Menengah Pertama. Entah bagaimana dulu mereka bisa dekat. “I’m just recalling things you like kak, maaf ya kalo mengganggu, aku mau kita dekat seperti dulu lagi, I'm just-” Revan berucap lirih, mendekatkan tubuhnya pada kakak kelas yang paling dikaguminya ini. Syahla bergerak mundur. “KELUAR DARI KELAS GUE SEKARANG!” Teriakan Syahla menggelegar
39
seperti emosinya yang meledak-ledak sekarang, Revan bergerak untuk memeluk tubuh Perempuan di depannya. Merapalkan kata maaf kepada tubuh di pelukannya, tetapi dirinya panik saat merasakan napas Syahla menjadi tidak beraturan dengan tubuh yang perlahan meluruh di dekapannya. “Kak, aku-” Belum sempat Revan menyelesaikan kalimatnya, dirinya sudah lebih dulu terdorong kuat oleh perempuan dihadapannya. “Lancang lo, sialan!” Ucap Syahla lirih lalu segera berlalu pergi meninggalkan adik kelasnya itu.
Dengan nafas yang memburu dan langkah lebar Syahla segera menuju ke toilet. Untuk kesekian kalinya Syahla harus menelan obat penenang karena ulah adik kelasnya yang lancang menyentuhnya. Tangisnya kini pecah, ia berdiri didepan cermin toilet dan memandang dirinya yang tengah diselimuti dengan ketakutan yang mendalam saat ini. Persetan dengan sembuh dari traumanya, bahkan untuk pulih saja sulit.
Setelah dirasa Syahla mampu mengendalikan ketenangan dalam dirinya, ia bergegas menuju ke
40
kelasnya. Jam menunjukan pukul setengah tujuh; hampir setengah jam Syahla mengambil space untuk menenangkan diri di toilet sekolah. Beruntungnya tidak ada siswi yang pergi ke toilet pagi itu. Jam pelajaran dimulai, Syahla menjalankan harinya seperti biasanya.
§
BAB 7
“Ayo Perbaiki”
Seminggu setelah kejadian pagi itu, Syahla menyadari bahwa tidak ada tanda-tanda kehadiran Revan lagi. Baguslah, pikirnya. Ia bisa menjalani hari-harinya dengan baik tanpa kehadiran bocah tengil yang sangat dibencinya.
41
Pagi ini Syahla lupa membawa topi, padahal hari ini adalah hari Senin, dan sekolah selalu mengadakan upacara rutin. Jika ada siswa yang tidak membawa atribut lengkap maka sanksi nya akan dipajang di depan lapangan dengan dikalungi papan bertuliskan “Saya melanggar tata tertib sekolah” lalu ditampilkan didepan seluruh warga sekolah saat upacara. Panik? itu yang dirasakan oleh Syahla pagi ini. Secara, Syahla merupakan murid teladan yang menjadi kebanggaan sekolah; mau ditaruh dimana mukanya. Salahnya sendiri semalam terlelap dan lupa menyiapkan hal-hal yang harus dibawa besok pagi ke sekolah.
Sebelum upacara dimulai, ia berkeliling dari kelas ke kelas untuk menanyakan apakah ada yang membawa dua topi. Namun nihil, siapa yang memiliki dua topi sedangkan setiap anak hanya diberikan satu topi saat pembelian atribut di koperasi? Dan siapa yang akan
merelakan dirinya dihukum hanya untuk meminjamkan topi ke Syahla?
Upacara akan segera dimulai, Syahla sudah pasrah dan merelakan dirinya menjadi tontonan seluruh warga
42
sekolah. Namun saat dirinya sedang menuju ke lapangan untuk berbaris, Lilly menghampiri Syahla dan memberikan sebuah topi untuknya. “La, nih pakai topinya.” Syahla mengernyitkan dahi bingung, siapa pemilik topi itu? padahal saat dirinya berkeliling dari kelas ke kelas tadi tidak ada satupun siswa yang mau memberikan topi untuknya. “Punya siapa ly?” Tanya Syahla penasaran. “Pakai aja La, daripada lo dipajang di depan lapangan nanti.” Dibalas dengan anggukan oleh Syahla; tak ada waktu untuk memikirkan siapa pemilik topi ini, yang penting dia selamat.
Upacara akan berlangsung dan guru-guru sudah berkeliling untuk menarik siswa-siswi yang tidak memakai atribut lengkap. Saat guru-guru bergegas kembali ketempatnya, hanya satu siswa yang ditarik ke depan oleh guru. Awalnya Syahla bernafas lega karena ia tidak menjadi salah satu siswi yang akan menjadi bahan sorotan hari ini. Namun sesaat setelahnya, matanya terbelalak melihat siapa yang ditarik maju kedepan lapangan oleh guru. “Wah, wah.. hari ini kita dapat siswa teladan yang ga taat tata tertib nih. Revan.. Revan.. Jangan mentang-mentang kamu siswa berprestasi, kamu bisa
43
seenaknya melupakan tata tertib sekolah ya. Harusnya kamu bisa jadi contoh buat siswa-siswi lainnya, masa bawa topi untuk upacara aja lupa!” Orang yang menjadi sorotan kini hanya menunduk saat mendengar celotehan guru BK dihadapan seluruh warga sekolah.
Kini ia siap untuk menjadi tontonan gratis para siswa-siswi dengan cap ‘siswa melanggar tata tertib sekolah.’ Syahla yang melihat pemandangan tidak mengenakkan didepannya segera melepas topinya dan menyidik topi yang baru saja dikenakannya; berharap mendapat petunjuk tentang siapa pemilik topi tersebut. Benar saja, di bagian dalam topi tersebut terdapat coretan spidol kecil yang bertuliskan ‘Revan 10A.’ Hal itu membuat dirinya mendengus kesal. Nyatanya niat baik Revan tidak diterima baik oleh Syahla.
Upacara selesai, para guru dan siswa-siswi berlalu lalang meninggalkan lapangan menyisakan Syahla dan Revan di sana. Dengan langkah lebar Syahla menghampiri adik kelasnya itu dan menyerahkan topi padanya dengan sedikit kasar. “Lain kali gak usah sok baik, deh! Gue ga butuh bantuan lo!” Ucap Syahla ketus
44
seraya membalikkan badan meninggalkan Revan dilapangan.
§
Bel istirahat berdering nyaring, menandakan waktu yang ditunggu para murid untuk mengisi amunisinya telah tiba. Begitupun dengan Syahla dan Lilly yang sekarang berjalan bersemangat menuju kantin, tunggu; Hanya Lilly yang bersemangat sambil menarik pelan tangan Syahla. “Ayo La, lama banget sih jalannya,” Lilly menggerutu pelan, Syahla ini tipikal orang yang kalo jalan harus dinikmati. “Ya udah lo duluan aja, kaki gue pegel males jalan ce- eh, dia kenapa kok masih dihukum? Bukannya kalau udah masuk jam istirahat hukuman kecil udah pasti dibebasin ya?” Lilly celingukan mencari orang yang dimaksud Syahla, gotcha ia menemukannya dan langsung bersemirik menatap Syahla dengan pandangan yang ambigu. “Duh, nggak tau deh, kasian ya dia. Ngga pakai topi karena ngasih topinya buat orang tersayang, tapi orangnya nggak peka, mana nggak peduli lagi. Aduh aduh, mukanya udah pucet banget, takut dia pingsan deh,” Lilly berucap dengan nada yang begitu menyebalkan,
45
Syahla berdecak kencang dan tiba-tiba berlari kencang ke arah kantin tanpa memperdulikan Lilly yang mencaci makinya karena merasa ditinggalkan.
Syahla mondar mandir di pinggir lapangan sambil membawa air dingin di tangannya, apakah dirinya harus memberikan air ini sebagai ucapan terima kasih? Atau menitipkan saja pada orang lain, bimbang melanda. Namun Lilly yang berada di sebelahnya terus saja mendorong tubuhnya agar semakin mendekat pada tengah lapangan agar memberikan botol itu secara langsung. Agar Lebih sopan katanya.
Revan yang sedang dijemur itu merasa kaget saat ada tangan yang terulur berisikan botol air digenggamannya. Saat ia memiringkan tubuhnya, Revan langsung melihat oknum yang memberikannya minuman. Revan langsung senyum-senyum sendiri melihat Syahla yang mengulurkan tangan dengan wajahnya yang masam. Revan mendekatkan tubuhnya kepada Syahla dengan tangannya yang disatukan agar membentuk pelindung kepala dan di letakkan di atas kepala Syahla, “Jangan ke sini kak, panas. Kulit kakak nanti merah-merah.” Syahla
46
mengeratkan genggaman tangannya pada botol yang ada di tangannya itu. “Ini cepet diambil, lo nggak ngebolehin gue kepanasan tapi lo bikin tangan gue pegel!” Revan buru-buru menerima botol air yang disodorkan oleh Syahla, dan ia tidak lupa untuk meneriakkan terima kasih kepada kakak kelasnya yang punggungnya mulai menjauh dari pandangannya.
Dengan senyum mengembang menjalankan hukumannya, kapan lagi hukuman membawa sesuatu yang buruk berakhir manis.
Jam pulang sekolah pun datang, ini saatnya mereka pulang dan mengistirahatkan tubuh ke dekapan kasur yang empuk. Seperti hari-hari biasa, Syahla akan menunggu transportasi umum dengan duduk di kursi halte. Earphone sudah terpasang apik di kuping kanan, dengan volume full. Secara tiba-tiba Revan yang sedang membawa motor sportnya memarkirkannya di depan halte, mendekatinya dan duduk di sebelahnya. ”Busnya lama loh kak, mau pulang bareng aku?” Syahla diam tidak berkutik, menganggap Revan hanya angin lalu. Revan mulai mengulurkan tangannya untuk mengajak Syahla
47
pulang bersama, namun Syahla masih tidak bereaksi apapun. Revan yang tidak menyadari apapun akhirnya menyentuh telapak tangan Syahla. Sendi-sendi Syahla terasa kaku, nafasnya mulai memburu. Menepis kencang tangan yang dengan lancang menyentuhnya, kepalanya terasa berdengung dengan pandangan yang memburam. Revan hanya mencerna perbuatannya yang membuat Syahla merasa sangat kesakitan, membuat Syahla semakin ketakutan padanya. “Kak maaf, aku ngg-” Ucapannya terpotong oleh tubuh Syahla yang berjalan cepat menuju bus yang sialnya sudah datang, bertepatan dengan semua kejadian yang berjalan cepat.
§
Hari kian berganti hubungan Syahla dan Revan semakin dekat, dengan cara pendekatan yang tidak agresif mendekatkan Revan pada kakak kelasnya itu. Dirinya perlahan mengetahui bahwa perempuan itu bukan lagi perempuan remaja awal yang suka-suka saja jika mendapat sentuhan kecil seperti saat mereka SMP. Bahkan dirinya mulai mengetahui ada yang aneh dari
48
Syahla karena reaksi berlebihannya kepada sentuhan, apalagi kontak fisik dengan laki-laki.
Revan sedari tadi mencari Syahla kemana pun, namun ia tidak menemukannya dimana-mana. Saat berpas-pasan dengan salah satu teman Syahla, dirinya bertanya dimana presensi kakak kelasnya itu, Lilly hanya mengangkat bahunya dan menjawab kemungkinan ada di perpustakaan. Revan memutuskan untuk mencarinya ke perpustakaan, dirinya celingak celinguk bagaikan maling yang menunggu korbannya pergi. Matanya pun menangkap presensi Syahla yang tengah menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan buku yang menutupi kepalanya.
Revan berakhir duduk di bangku sebelah Syahla, dengan kepala yang mulai didekatkan pada wajah Syahla yang sebagian terdapat helaian rambutnya. Revan menyentuh helaian rambut Syahla yang menutupi wajahnya, menyelipkan ke belakang telinga. Oh, Syahla ternyata merasa terganggu dengan kegiatan Revan yang sedang memperbaiki rambutnya itu. Keningnya mengkerut, namun Revan semakin mendekatkan wajahnya dengan jarak lima sentimeter ia bisa melihat
49
wajah cantik di depannya. Meniup dahi Syahla pelan dan mengusapkan kerutan dahi Syahla dengan tangan dinginnya. Lalu Revan mengeluhkan kepalanya di lipatan tangan dengan menghadap ke arah Syahla, jari telunjuknya menelusuri wajah Syahla yang terasa sempurna itu. Mengusap hidung perempuan di depannya dengan sangat halus, membingkai pipinya dengan satu tangan besarnya. C'mon Revan Syahla akan terbangun dan menendang mu saat dirinya tahu.
Bel pelajaran sudah berganti, rasa pegal di tangannya membangunkan perempuan itu dari tidur nyenyaknya. Dirinya merasa terkejut saat melihat ada presensi Revan di hadapannya, bahkan wajahnya berdekatan dengan wajah Revan. Syahla mulai memikirkan segalanya, apakah dirinya harus membuka lembaran baru. Mencoba menerima Revan dalam hidupnya, rasa-rasa Revan selalu melakukan banyak hal agar membuatnya merasakan tenang dan aman. Syahla perlahan mendekatkan telapak tangannya untuk mengusap rahang tegas Revan. ‘Apakah harus dirinya terjebak lagi pada kisah cinta monyetnya dulu?’ Effort Revan untuknya jelas sangat banyak, Syahla ingat sekali
50
saat Revan berusaha untuk menjemputnya namun dengan kontak fisik yang minim. Revan langsung menjemputnya menggunakan mobil dan berusaha untuk menghindari kontak fisik dengannya. Memesan makanan kesukaannya saat dirinya sedang sibuk di organisasi. Bahkan selalu menunggunya sampai larut agar bisa mengantar Syahla ke rumahnya dengan selamat.
Revan mengerjapkan matanya pelan saat merasakan elusan lembut pada rahangnya, ternyata Syahla yang sedang membingkai rahangnya dengan tangan yang kecil dan lembutnya itu. Syahla tersenyum kecil saat menyadari bahwa Revan sudah membuka mata, dirinya bergerak untuk melepas tangannya dari rahang sang adik kelas. Menegakkan tubuhnya sambil membereskan buku-bukunya. Syahla berjalan menuju rak untuk menaruh buku yang sudah ia pinjam, Revan mengekor bagai anak bebek yang takut kehilangan induknya. Revan hampir saja terbentur rak buku karena nyawanya yang belum terkumpul apalagi saat kakak kelasnya itu mengucapkan kata-kata yang membuat jantungnya melompat keluar, “Ayo perbaiki.” Revan hanya menatap melongo Syahla dengan muka bingung
51
setengah mati, “Waktu itu kamu tanya kan, kita bisa memperbaiki semua ini atau ngga. Jawabannya bisa, ayo perbaiki semuanya. Maaf aku udah banyak jahat ke kamu,” Syahla memeluk laki-laki yang lebih muda itu mengelus punggung tubuh di depannya dengan halus. Tuhan, kali ini bukan Syahla yang membeku tetapi Revan. Dirinya bingung harus memberikan respon seperti apa, dirinya hanya diam sampai Syahla melepas pelukannya dan memberikan Senyum yang sangat tulus.
Revan menarik tubuh kakak kelasnya itu ke dalam pelukan hangatnya, mengelus surai halus perempuan itu dengan lembut membisikkan banyak kata terima kasih. Syahla tertawa pelan dengan respon Revan yang menurutnya seperti anak kecil. Tunggu, Syahla tidak merasakan perasaan sesak karena dirinya sudah terbiasa dengan presensi Revan, dengan Revan yang selalu melakukan hal-hal baik kepadanya bahkan kepada keluarganya. Syahla melepas pelukannya dan menarik tangan laki-laki yang lebih muda itu untuk menjauh dari lingkungan perpustakaan, takut penjaga perpus memarahi mereka karena membuat kebisingan.
52
Revan tidak henti untuk menggandeng tangan Syahla menuju kelas sang perempuan. Menggenggam erat seolah tidak ada hari lain bersama perempuan terkasih.
Saat sudah berada dalam mobil, Revan dan Syahla membicarakan hal-hal kecil; Inilah yang Syahla suka, mempunyai little talk bersama seseorang membuat ia nyaman dan tenang. Dengan tangan yang terus menggenggam satu sama lain seolah tidak mau kehilangan momen barang sedetik pun.
§
53
BAB 8
“Kenapa aku nggak pantes bahagia, Van?”
Hari demi hari mereka lampaui dengan hubungan yang sangat baik, mewujudkan banyak wishlist yang Syahla miliki sewaktu SMP dulu; Ternyata Revan selalu mengingatnya, mengingat hal-hal kecil tentangnya.
Namun di hari itu, tiba-tiba ada pesan masuk. Sebuah nomor tidak dikenal mengajaknya untuk bertemu di sebuah kedai kopi hits di kotanya. Tadinya Syahla malah malas melayaninya, tidak penting pikirnya. Namun nomor itu membicarakan tentang Revan, semua yang berkaitan dengan Revan. Syahla pun bergegas untuk
54
menemui orang dibalik nomor asing itu. Menuju Kedai kopi tanpa memberi tahu oknum yang akan dibicarakan.
Saat membuka pintu kaca kedai kopi itu, ada seorang perempuan yang seumuran dengan Syahla melambaikan tangan. Jadi itu, orang dibalik nomor asing yang menghubunginya? “Kak Syahla bisa duduk di samping ku? Aku nggak mau bertele-tele kak,” Syahla mengangkat alisnya sinis, Perempuan di depannya ini sangat tidak sopan, apa-apaan sudah ditemui malah memerintah. Namun Syahla tetap menuruti kemauan perempuan itu. Perempuan itu tersenyum manis, “Nama ku Ziva, Kak. Kakak pasti Syahla kan? Pacarnya Revan.”
Selanjutnya perempuan itu tersenyum sendu. Membawa telapak tangan Syahla mengusap perutnya yang baru Syahla sadari sedikit membesar. “Di dalam perut ku ada anaknya Revan kak, dia nggak sebaik apa yang kamu pikirkan, dia pembohong ulung. Dia juga mengajakku menjalin hubungan, memberikan banyak perhatian dan janji manis. Namun semuanya diingkari, dirinya memaksa aku untuk menggugurkan bayi ini kak. Aku cuma mau kakak ninggalin Revan, untuk aku dan
55
anak ku kak. Mungkin dengan cara dia tidak berhubungan dengan kakak bisa membuatnya sadar, yang aku kandung itu anaknya kak!” Ziva berteriak tertahan dengan terus menekan tangan Syahla pada permukaan perutnya, agar Syahla dapat merasakan bahwa benar ada kehidupan baru di perutnya.
Syahla menggeleng dengan napas tersenggal dan mata buram karena air mata, “Ngga mungkin, kamu bohong sialan!” Ziva menggeleng kencang dan mencengkeram tangan Syahla semakin keras menimbulkan ringisan kecil, “Mungkin kak, semuanya mungkin. KAKAK GAK BISA EGOIS, ANAK KU JUGA BUTUH HIDUP, BUTUH AYAHNYA!” Ziva bertindak secara agresif dengan menodongkan cutter yang entah kapan dikeluarkan. Syahla menangis tersendu melepas kencang cengkraman tangan itu dan mendorong bahu Ziva yang emosinya sedang membludak itu.
Berjalan dengan gontai dengan handphone yang menunjukan bahwa ia sedang menghubungi Revan; Oknum yang membuat semuanya kacau. Saat telepon tersebut sudah terhubung, Revan dari seberang sana terlihat sangat khawatir karena hanya terdengar tangisan
56
sendu sang kekasih. “Kak kamu kenapa, tolong jawab aku!” Revan berteriak kencang pada benda di genggamannya, dengan tangan satunya yang mengacak acak laci meja untuk mencari kunci mobil. Untungnya Handphone Syahla dan Revan terhubung, jadi laki-laki itu tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui dimana kekasihnya saat ini berada. “KAK PLEASE JAWAB AKU! KAMU KENAPA-” Belum sempat dirinya menyelesaikan ucapan, “Kamu jahat Van, kamu udah ngehancurin aku, kenapa, kenapa aku nggak pantas untuk bahagia ya, Van?” Revan yang mendengar itu hanya menggeleng yang nyatanya tidak terlihat oleh Syahla. Revan kalang kabut saat telepon itu mati. Mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, dirinya harus sampai dengan cepat ke tempat Syahla berada. Perasaannya mulai resah.
Di sisi lain, Syahla tengah berjalan gontai sebelum pundaknya ditarik oleh perempuan yang ditemuinya tadi. Pipinya terasa panas karena tamparan yang dilakukan oleh Ziva. “KAMU JAHAT, ORANG TEREGOIS. KAMU ITU UDAH NGGAK PANTES SAMA
57
REVAN!” Ziva berteriak sangat kencang sampai-sampai semua orang yang ada di sana memandang keduanya aneh. Ziva terus mendorong tubuh Syahla yang hanya diam dengan keadaan kacau dengan air mata yang terus
menerus mengalir dan dengan napas tersengal. “Tolong… Lepas,” Syahla berucap lirih kepalanya menggeleng pelan. Namun perempuan gila itu tetap tidak melepasnya, Ziva terus mendorongnya sampai ke jalan raya. Syahla terus menerus meracau, tubuhnya sudah mulai limbung.
Dengan kekuatan yang terkumpul Syahla mendorong Ziva dengan keras sampai perempuan itu terduduk dengan memegangi perutnya sendiri. Syahla tidak menyia-nyiakan kesempatan dengan berjalan cepat. Ia tidak bisa berlari karena kondisinya begitu mengenaskan. Syahla tidak mengetahui bahwa Ziva bangkit lagi dengan emosi yang lebih menggebu. Mendorongnya begitu kencang sampai, kebisingan terdengar di jalan raya itu.
Syahla terdorong jauh, namun Syahla tidak mengetahui jika ada mobil yang sedang melaju kencang. Tubuh Syahla terpental jauh karena tertabrak mobil
58
tersebut. Sedangkan sang pengemudi merasa Shock dengan apa yang baru terjadi.
Revan keluar dari mobil, tubuhnya membeku berusaha menyadari apa yang sedang terjadi saat ini. Di depannya, orang yang dirinya tabrak adalah orang yang mengatakan dirinya jahat. Revan menggeleng kencang melihat tubuh sang terkasih sudah terkapar dengan darah yang membanjiri tubuh cantik perempuan itu. Revan
berlari dan memangku kepala perempuan itu; Syahla, perempuan yang berbaring tenang dengan darah yang sudah menggenang. Revan memeluk kepala Syahla. “Nggak kak… nggak, kakak gapapa kalo mau maki aku, mau benci sama aku. Tapi tolong jangan seperti ini kak, ayo bangun kak,” Revan mengguncang pelan tubuh yang ada di pelukannya, menyatukan kening keduanya dengan air mata yang terus menetes.
Takdir apa yang sudah dibuat Tuhan sampai sampai membuat salah satu hambanya merasa begitu tersiksa. Membuat perempuan malang itu lagi-lagi bermain dengan kematian untuk yang kedua kalinya.
Apakah Tuhan tidak bisa mengabulkan permintaan hambanya, agar bisa merasakan bahagia
59
dalam waktu yang lama. Apakah Tuhan tidak bisa membuat hambanya saling menggenggam dalam kasih sayang yang hakiki pada kisah hidup yang fana ini? §
BAB 9
Penderitaan Bertubi-tubi
‘Sembuhkan hambamu, Tuhan. Kasihanilah Syahla. Hidupnya sudah cukup menderita, Tuhan.’ Sore itu Revan terus bernegosiasi pada Tuhan dalam doanya di depan ruang ICU yang dimana di dalam sana terdapat sang kekasih hatinya yang tengah terbaring lemah dikelilingi oleh para tenaga medis. Tak berselang lama, Jaeral datang dengan Ana yang terduduk dikursi rodanya dengan raut wajah khawatir. “Dimana Syahla?” Tanya Jaeral mencari keberadaan Anak Bungsunya. Tak ada jawaban dari Revan, dirinya yang sebelumnya menatap Jaeral kini hanya menoleh kearah ruang ICU seolah menunjukan keberadaan sang empu yang dicari.
“Kenapa bisa jadi seperti ini, Revan?” Nada Ana pilu. “KENAPA, REVAN? KAMU JANJI MAU JAGA ADIK AKU, KENAPA BISA JADI KAYAK GINI?!”
60
Nadanya meninggi dan penuh emosional namun Revan tetap bergeming.
Suasana didepan ruang ICU menjadi semakin mencekam, Revan mengakui bahwa dirinya tidak gentle man karena untuk menceritakan apa yang terjadi pada Jaeral dan Ana saja ia tak mampu. Ditambah lagi tak ada satupun tim medis yang menangani Syahla keluar dari ruangan; menandakan Syahla belum selesai ditangani. Padahal sudah terhitung 4 jam semenjak Syahla masuk dalam ruang tersebut.
Hening, tak ada suara apapun selain suara samar indikator dari dalam ruang ICU. Mereka semua sibuk merayu Tuhan dalam doanya berharap tuhan luluh dan menyelamatkan hambanya yang sedang diambang kematian. Hancur? Tentu! Perasaan tersebut dirasakan oleh tiga orang yang sama-sama menyayangi Syahla. Rasanya benar-benar tidak siap untuk kehilangan Syahla secepat itu. ‘Gadis kecil sepertimu kenapa harus se menderita ini, Syahla?’
§
61
7 jam berlalu, akhirnya dokter keluar dari ruang ICU. “Saya ingin bicara dengan salah satu keluarga pasien, bisa ikut keruangan saya?” Dibalas anggukan oleh Jaeral yang berstatus sebagai ayah pasien. Jaeral berlalu meninggalkan Ana dan Revan di depan ruang ICU. Mereka saling menatap tanpa membuka suara. Sangat terlihat dari tatapan Revan, ia sangat takut menatap kakak dari sang kekasih. Ana justru sebaliknya, tatapannya amat mengintimidasi dan penuh dengan emosi.
“Aku mau kamu jelasin apa yang terjadi, Revan.
Jangan jadi pengecut, kamu!” Nada Ana penuh penekanan namun dapat diketahui bahwa dirinya benar benar menahan amarah. “Maaf kak, Aku benar-benar minta maaf. Aku nggak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi sebelumnya Syahla telepon aku sambal nangis, ucapannya ngelantur dan aku nggak ngerti apa
62
maksudnya. Saat aku coba untuk cari dia-” Ucapnya terputus. Nafasnya seperti tercekat, tak sanggup membayangkan kejadian saat dia menjadi pelaku atas kecelakaan sang terkasih. Ana tetap menunggu penjelasan dari Revan. “Salahku, kak. Aku terlalu panik sampai berkendara dengan kecepatan diatas rata-rata. Aku nggak tau saat tiba-tiba Syahla terhuyung ke tengah jalan dan aku nabrak dia dengan mobilku.” Tangisnya pecah, hancur rasanya saat tahu bahwa dirinya lah penyebab yang membuat Syahla menjadi seperti saat ini. Ana terpaku, mencoba mencermati kata demi kata yang diucapkan oleh orang yang katanya menyayangi adiknya.
Mendengar penjelasan Revan, membuat Ana dikuasai oleh amarah yang menggebu-gebu. “Brengsek! Kalau kamu gabisa melindungi adikku, JANGAN NAMBAH PENDERITAAN DIA SAMPAI HARUS BERMAIN-MAIN DENGAN KEMATIAN, SIALAN! PERGI KAMU, REVAN. JANGAN PERNAH MENEMUI ADIKKU LAGI, APAPUN KEADAANNYA!” Tangis Ana pecah, ia tak mampu menampung kekacauan pada dirinya lagi. Baginya, Revan lah yang harus disalahkan sepenuhnya. Namun, bukan
63
kemauan Revan juga untuk mencelakai orang terkasih. Semua orang seharusnya tau bahwa Revan juga menjadi salah satu orang yang hatinya hancur atas kejadian ini.
Revan berlutut dihadapan Ana, tangannya disatukan dan matanya yang sembab menatap sayu ke arah Ana, menandakan bahwa dirinya memohon ampun dari perempuan itu. “Kak, semua memang aku yang salah, tapi aku mohon jangan suruh aku untuk pergi dari Syahla, aku nggak akan bisa kak.” Air mata kini sudah membanjiri wajah kedua insan yang tengah menangisi orang yang sama.
“Kamu nggak ngerti Bahasa manusia ya? Aku bilang pergi ya pergi, Revan. Enyah kamu dari hidup Syahla!” Suaranya sayu namun penuh penekanan, membuat laki-laki dihadapannya tak dapat berkutik. Dengan berat hati, Revan bangun dari posisinya kemudian berjalan gontai meninggalkan rumah sakit tersebut.
§
64
BAB 10
Tuhan, Kemana?
Dokter masuk keruangannya dengan diikuti oleh Jaeral dibelakangnya, tak ada perbincangan selama perjalanan menuju ruangan; membuat suasana terasa begitu menegangkan. Jaeral tahu bahwa akan ada kabar yang cukup serius terkait dengan putri bungsunya itu.
Dokter duduk dan mempersilahkan Jaeral duduk di kursi seberang mejanya. Ia memegang sebuah emplop dan mengeluarkan lembaran hasil Rontgen tulang belakang Syahla. Disodorkan kepada Jaeral mempersilahkan Jaeral melihat lebih jelas mengenai hasil Rontgen tersebut.
“Syukurnya pasien dapat diselamatkan. Namun, karena benturan yang cukup hebat, tulang belakang pasien mengalami cidera yang cukup serius. Hal ini bisa menyebabkan pasien mengalami kelumpuhan permanen.” Dokter tersebut menjelaskan seraya menunjuk bagian
bagian pada hasil Ronggeng dan CT. Scan yang menunjukan tentang bagian mana yang mengalami
65
cedera. Jaeral mengamati dengan seksama meski tak dapat dipungkiri hatinya sakit bagaikan tersayat seribut silet.
“Apakah ada cara untuk menyembuhkannya, dok?” Nada Jaeral gemetar, berusaha menahan tangis. Dokter menghela nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan berbicara. “Mohon maaf, untuk saat ini di Negara kita belum memiliki fasilitas yang efektif untuk menangani pasien. Jika anda ingin perawatan yang lebih intensif, saya rasa anda bisa membawa pasien ke Singapore untuk perawatan eksperimental dan teknologi prostetik yang lebih canggih.”
Jaeral menghela nafas frustasi, “Kira-kira, berapa biaya yang harus dikeluarkan, dok?” Dokter hanya menggeleng pasti, “Untuk itu saya tidak bisa tau pasti, pak. Sesuai dengan arahan dan perawatan yang dilakukan di sana. Tetapi yang jelas, harga perawatannya sangat mahal.”
“Syahla maaf, ayah tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kamu. Maafkan ayah nak, ayah benar-benar
66
orang tua yang gagal.” Jaeral terus menangis tersendu, menatap anaknya yang selalu tertimpa sial, ibunya yang harus meninggal saat anak itu membutuhkan kasih sayang, kehilangan dirinya disaat mencoba mencari jati diri, dan sekarang harus terbaring dengan banyak alat yang terpasang di tubuhnya untuk memacu jantungnya agar tetap berdetak, agar nafasnya tetap berhembus.
Ana yang melihat ayahnya hancur memeluk ayahnya dari belakang, “Ayah, jangan seperti ini. Ana sangat sedih jika ayah seperti ini, adek pasti sembuh yah, Ayah nggak perlu banyak mikirin tentang biaya perawatan adek. Ana pasti bantu yah.” Jaeral menggeleng kuat, “Nggak Ana, uang itu milik kamu, tabung uang itu untuk masa depan kamu. Jangan memikirkan ayah, pikirkan diri kamu. Tolong Ana…” Suara Jaeral begitu lirih, merasa hancur saat anaknya memberikan penawaran.
BAB 11
67
Tentang Keputusan dan Kegundahan Hati
Saat ini, Jaeral dan Ana sudah duduk di salah satu bangku dari ruangan yang megah, tepatnya di lantai lima belas. Ah, atau bisa disebut juga sebagai salah satu perusahaan terkemuka di kota ini? Perusahaan yang dipimpin oleh manusia brengsek.
Hanya ada suara ketukan dari jari-jari tangan yang dipertemukan pada permukaan meja, di depannya ada seorang laki-laki tua. Tersenyum miring, dengan mata hitam legamnya yang menyorot genit kepada salah satu objek perempuan yang ada di hadapannya. “Jadi, kalian ke sini untuk meminjam uang, ya? Sudah semakin m rupanya,” Laki-laki tua itu berucap dengan nada mengejek diselingi oleh tawa sarkas yang mendengungkan telinga. Jaeral sebagai kepala keluarga akhirnya menyahuti kalimat sarkas itu, “Benar, Pak Baskara. Kami membutuhkan uang untuk membawa Syahla ke rumah sakit. Kami-” Ucapan Jaeral terpotong karena laki-laki tua itu tiba-tiba tertawa terpingkal pingkal sambil menutupi wajahnya dengan telapak
68
tangannya. “Saya sudah tau itu semua Jaeral, tolong jangan memberikan informasi yang sudah basi seperti itu. Kamu tau kan di dunia ini tidak ada yang gratis?” Jaeral mengangguk perlahan, dan laki-laki tua itu melanjutkan ucapannya. “Saya punya sat- Oh! Tidak, tidak. Saya memiliki dua syarat yang harus kalian penuhi.” Baskara Wicaksana namanya, laki-laki tua dengan umur enam puluh tahun, mata keranjang selalu menjadi nama tengahnya. Ayah dari Revan Wicaksana.
“Yang pertama, kalian pasti tau. Revan Wicaksana, kalian tau nama itu? Ya! Benar sekali, dia adalah anak laki-laki saya, oh harus saya tekankan, anak tunggal kebanggaan saya. Anak yang dipuja oleh keluarga Wicaksana. Saya sudah mengatur takdirnya, bahkan Tuhan pun tidak berhak untuk memutuskan dengan siapa Revan akan berjodoh, hanya saya yang pantas menulis takdir untuk anak saya. Begitupun dengan pasangannya. Dan, kalian tau kan, Syahla itu cacat, dia sudah pernah disetubuhi oleh seseorang kan?” Belum sempat laki-laki tua itu melanjutkan kalimatnya, Jaeral berdiri dengan tangan yang terangkat di udara, siap untuk mendaratkan bogeman tangannya pada laki-laki tua brengsek yang
69
selalu mencoreng harga diri keluarganya. Namun, Ana yang melihat itu segera menahan lengan sang ayah dan menggeleng pelan, karena Ana tau, ini bukan waktu untuk bertengkar, bukan juga waktu untuk mendengarkan kalimat menyakitkan yang dikeluarkan Baskara. Karena laki-laki tua itu akan selalu menjadi pribadi yang menjengkelkan.
Dengan wajah menjijikan itu, Baskara melanjutkan ucapannya. “Jauhkan anak menjijikan kalian dari hadapan Revan, bawa anak itu sejauh-jauhnya. Oh, yang ke dua. Saya suka dengan barang-barang cantik, barang unik yang memiliki nilai,” Baskara hampir saja mendaratkan telapak tangan dinginnya untuk mengelus pipi Ana, namun ditepis oleh perempuan itu. “Nah! Yang seperti ini yang saya suka. Cantik, unik dan memiliki nilai. Jadi, jika kamu ingin adikmu itu selamat. Memohon lah, sembah saya seakan saya Tuhan mu yang bisa kapan saja melenyapkan nyawa berharga manusia. Saya sangat suka disembah oleh orang-orang seperti mu.” Jaeral tidak bisa menahan emosinya lagi mendengar kalimat-kalimat kotor yang dikeluarkan oleh laki-laki tua bau tanah itu.
70
Jaeral dengan cepat mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Baskara, tidak kenal siapa dia saat ini, tidak memperdulikan tujuan awalnya datang, yang ada saat ini hanyalah rasa dendam dan nelangsa karena mendengar ucapan yang menjelekkan keluarganya. Ana tersadar dari keterkejutannya, menarik kuat ayahnya agar menjauh. Orang yang saat ini ayahnya pukuli bukan orang sembarangan. Baskara kebal hukum, Ana takut masalah ini akan menjadi semakin rumit nantinya. “CUKUP AYAH, JANGAN BEGINI YAH! AYAH HARUSNYA TAU SEGALA KONSEKUENSINYA. CUKUP!” Ana menarik Jaeral untuk keluar dari ruangan itu. “Ingat! Jika ingin dibantu penuhi syarat itu! MEMOHON DAN BERSUJUD KEPADA SAYA! HANYA SAYA YANG SAAT INI BISA MENOLONG ANAK CACAT KALIAN!” Baskara berujar dengan lantang dan diiringi dengan suara tawa yang memekikkan gendang telinga.
BAB 12
Waktu Yang Terus Berjalan
71
Sore itu, Syahla sadar dengan keadaan yang mengenaskan. Menangis tersendu karena rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dokter bilang, Syahla akan lumpuh total jika tidak mendapatkan perawatan yang baik. Jaeral dan Ana semakin gundah, apa yang bisa mereka perbuat? Terkhususnya Jaeral, ia tidak bisa mengorbankan Ana untuk menyelamatkan Syahla. Tapi tidak bisa juga menelantarkan Syahla dengan sakit yang terus mendera tubuhnya. “SAKIT, KEPALA AKU SAKIT AYAH! BADAN AKU SEMUANYA SAKIT! TOLONG AYAH!” Syahla berteriak di brangkar rumah sakit yang sejak beberapa hari lalu menjadi temannya.
Berteriak bagai orang kesetanan yang tidak dapat diredakan oleh apapun, demi Tuhan wajah Syahla terlihat sangat menyeramkan, mata perempuan itu memerah seakan jika dirinya menangis lebih lama akan mengeluarkan darah, dengan aliran air mata yang memenuhi setiap inchi wajah cantiknya.
§
Jaeral hanya bisa memeluk Syahla, mengelus lembut rambut sang anak dengan mengucapkan kata-kata
72
penenang. Berkata bahwa semuanya baik-baik saja, oh ayolah Jaeral, bahkan anak bayi saja tau bahwa Syahla Sedang tidak dalam kondisi baik.
Setengah jam terlampaui, namun rasa sakit yang menjalar di tubuh Syahla tidak juga berkurang. Semakin lama, tubuhnya terasa semakin sakit, seperti dibenturkan pada batu keras yang akan menghancurkan tubuhnya kapan saja. Lagi dan lagi, Syahla terus mengamuk bagai orang kesetanan, air matanya bahkan kering karena mengeluarkan air mata dalam volume yang besar. Ana yang sejak tadi terisak di belakang sang ayah akhirnya beranjak keluar untuk memanggil dokter.
§
Tak tega melihat Syahla merasakan sakit yang berangsur-angsur, membuat pikiran Ana berkecamuk akan banyak hal. ‘Apakah sekarang saatnya melakukan pengorbanan besar untuk adik terkasih?’ Lamunan nya dibuyarkan saat mendengar teriakan Syahla dari dalam ruangan. Ia mendengar Syahla yang terus-menerus menyalahkan dokter yang seolah tak becus mengobati dirinya. Tak tega dengan keadaan sang adik, terlintas di
73
pikirannya untuk melakukan hal yang besar demi adiknya.
Ana bergegas menghampiri sang ayah, izin meninggalkan rumah sakit sebentar. Mau pulang kerumah dulu, katanya. Ayahnya sempat menawarkan untuk mengantarkan Ana, namun Ana menolak dengan dalih ‘Siapa yang akan menjaga Syahla?’ Membuat hal itu disetujui sang ayah.
Dengan tongkat jalannya, Ana berjalan mengarahkan kakinya ke arah lobby rumah sakit, menemui taxi online yang sudah dipesannya sejak lima belas menit yang lalu. Ana mendudukkan tubuhnya dalam taxi online tersebut lalu menyapa sang driver. “Tujuan kita ke kantor pusat Wicaksana Group, ya, mbak?” Ana mengangguk pelan, dirinya menghembuskan nafas berat, seperti tak percaya tentang apa yang akan dilakukannya.
§
BAB 13
Pengorbanan Terbesar
74
Ana turun dari taxi nya, berdiri didepan sebuah gedung pencakar langit dengan papan nama ‘Wicaksana Group.’ Dirinya terpogoh-pogoh berjalan dengan tongkatnya menuju lift untuk naik ke lantai lima belas. Selama perjalanan, rasa takut tentunya terukir jelas dalam pikiran Ana. Namun demi Syahla, dirinya rela melakukan hal segila ini.
Untuk kedua kalinya, Ana masuk kedalam ruangan megah yang terasa menjijikkan itu. Diseberang meja sana, terlihat laki-laki tua duduk dan menatap puas kearahnya. “Pelan-pelan, cantik. Susah ya jalan memakai tongkat seperti itu?” Laki-laki tua itu beranjak dari singgasananya dan segera menghampiri Ana. Tangan kotornya dengan lancang membingkai pipi Ana membuat Ana terkejut dan sontak menepis tangan laki-laki tua itu. Kini posisi mereka sedang berhadapan, berdiri dan bertatap mata tanpa kata. Ekspresi laki-laki tua itu seperti singa kelaparan yang bertemu dengan mangsanya. Sebaliknya, Ana menatap laki-laki di hadapannya dengan tatapan sendu bercampur dengan takut. Bahkan terlihat dari tangan Ana yang sudah bergetar sejak awal.
75
Tanpa berkata apapun, Ana tersungkur dihadapan laki-laki itu, kedua tangannya disatukan mengartikan bahwa ia sedang memohon. “Lihat? Saya menang lagi, Jaeral. Hahahaha” Ucap Baskara sambil tertawa kemenangan, puas sekali rasanya mendapatkan segala yang ia inginkan hanya dengan uang. “Ku mohon, sembuhkan adikku, dia sudah cukup menderita, tolong-” Belum sempat Ana menyelesaikan ucapannya, ucapannya sudah dipotong oleh laki-laki tua yang ada di hadapannya. “Sujud! Keselamatan anak cacat itu sebanding dengan hargamu saat mencium sepatuku.” Air mata Ana mengalir deras, harga dirinya benar-benar di injak-injak saat ini. Namun apalah daya, hal ini harus dilakukan demi keselamatan adiknya. Mau tidak mau, dia harus melakukannya.
“Saya akan memberimu pinjaman sebesar yang dibutuhkan, dengan jaminan..” Baskara berjongkok dan mengelus sensual punggung perempuan yang sedang bersujud dikakinya. Membuat perempuan tersebut sontak terbangun dari sujudnya, menatap laki-laki tua tersebut dengan penuh kebencian. “Jaminan nya adalah rumah ayahmu, kantornya, harta benda, bahkan tubuhmu. Jika
76
dalam satu setengah tahun kamu tidak mengembalikan uangnya, maka semuanya termasuk tubuhmu akan menjadi milik saya.” Ucap pria itu dengan nada lirih penuh nafsu.
Pria itu beranjak ke arah mejanya, mengeluarkan secarik kertas dan melemparkannya ke arah perempuan yang masih terduduk di lantai. “Tanda tangani itu, uangnya akan dikirimkan ke rekening ayahmu.” Ucapnya tak lupa melemparkan sebuah bolpoin. Seolah semua ini telah disusun rapih oleh Baskara.
Ana telah menandatangani surat perjanjian tersebut dan ingin cepat-cepat pergi dari ruangan yang berhawa neraka itu. “Aku telah menandatangani surat perjanjiannya, kirim uangnya sekarang.” Ujar Ana. Baskara menyunggingkan senyum sinisnya lalu berjalan mendekati Ana. “Sudah ku kirim sejak awal, cantik. Jangan terburu-buru, bagaimana kalau kita sedikit bermain, lalu akan kutambahkan nominalnya.” Baskara menggenggam kedua tangan Ana dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ana. Saat ini posisi Ana sudah berada dibawah kukungan laki-laki tua itu, dirinya mencoba
77
memberontak dan memberikan perlawanan, namun tidak semudah itu karena keterbatasan fisik yang Ana miliki. Tanpa mereka ketahui, dibalik pintu diseberang sana, percakapan mereka didengar oleh Revan sedari tadi. Mendengar akan terjadi hal-hal yang buruk didalam sana, Revan dengan cepat masuk kedalam ruangan ayahnya. Melihat anaknya yang berdiri dipintu, dengan santainya Baskara kembali berdiri tegak dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Hal tersebut membuat Revan geram dengan sang ayah, namun Revan juga tidak bisa bertindak lebih jauh karena takut Syahla dan keluarganya akan semakin tersiksa karena ulah ayahnya.
Ana segera beranjak dan meraih tongkatnya, berjalan terpogoh-pogoh meninggalkan sepasang ayah dan anak yang sama brengseknya menurutnya.
BAB 14
Lahir dari Keluarga yang Salah
78
“Jangan ganggu apapun yang sudah saya takdirkan Revan, saya tidak akan segan untuk mengambil nyawa manusia yang tidak patuh terhadap hal yang sudah saya persiapkan, kamu seharusnya mengerti hal itu Revan,” Baskara berujar dengan tenang seolah manusia di depannya bukanlah darah dagingnya, berjalan pelan dan duduk kembali di meja kebanggaannya.
Revan bergerak cepat ke hadapan sang ayah, menggebrak meja dari kayu jati tersebut seolah-olah hanyalah kapas ringan yang bisa kapan saja ia hancurkan. Matanya berkilat tajam, “Apapun yang saya pilih adalah keputusan saya, apapun yang saya kehendaki pun begitu.” Revan menunjuk Baskara dengan tidak sopannya, menghentikan kalimatnya barang sejenak, nafasnya sudah memburu dengan emosi yang membuncah. “Tidak usah ikut campur lebih jauh, tetaplah jadi orang asing. Menjauhlah dari apa yang saya kehendaki, saya bukan pesuruh anda. Jadi, berhenti memerintah saya!” Apa itu rasa bersalah? Bagi orang seperti Baskara, rasa bersalah dan kasihan adalah hal mustahil. Psikopat brengsek yang bahkan dengan berani dan sadar menghancurkan
79
.jpg)
Komentar
Posting Komentar