MONSTER - JAZEERA VANIA SALAM
Monster
Hujan deras turun melanda daerah tempatku tinggal. Aku terbaring di sebuah gang kecil yang sepi
dan menyedihkan, pandanganku hanya tertuju terhadap langit malam yang terus memuntahkan air
hujan ke wajahku.
Mataku terasa berat sekali. Dengan segenap tenaga, aku berusaha duduk. Sialan, kepalaku sakit sekali!
Seperti ada seratus pisau yang sedang menusuk ubun-ubunku. Aku menolehkan kepalaku ke samping
kanan dan memerhatikan sekelilingku; gelap dan suram, menyedihkan dan dingin.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah tubuh dan tanganku. Darah? Mengapa aku berdarah-darah?
Mataku terbelalak. Aku baru ingat. Tadi aku habis
berkelahi fisik dengan seseorang, dan kalah. Orang itu menghajarku habis-habisan dengan segala
kebengisannya, tidak peduli seberapa lemah aku terlihat. Aku bersumpah akan mencari orang itu!
Tangan kananku terlihat aneh, berwarna merah muda seperti daging segar, berukuran besar,
dan bentuknya lebih seperti kaki hewan. Ah, aku tahu alasannya. Si keparat itu yang membuatku seperti ini. Kegilaannya akan dunia monster itu yang membuatku rusak. Samar samar, aku mendengar suara geraman yang tentu bukan berasal dari manusia. Aku hanya menghela napas
dengan kesal. Sudah pasti suara itu berasal dari ciptaan sang Jenius itu.
Aku benci diriku. Aku benci semua aspek dari diriku saat ini. Penampilanku, kepribadianku,
kebengisanku, rasa dendamku, dan keberanian bodohku sebagai pahlawan kesiangan. Ah, sudahlah.
Lagipula aku bukan Siti lagi setelah perubahanku. Apakah aku ini? Aku tidak tahu.
Aku Siti Aminah. Nama yang cukup kuno untuk zaman sekarang, namun menurutku sangat indah.
Dulu, aku gadis pendiam berkerudung yang sangat baik hati dan
penyayang. Aku memiliki teman, Beni namanya. Ia seorang lelaki remaja berusia tujuh belas tahun yang tampan, lembut, dan jenius. Ia tinggi dan memiliki tatapan yang manis. Hampir semua gadis menyukainya. Meski penampilannya mirip anak populer pemalas pada umumnya, ia sangat terobsesi dengan sains dan mutasi genetik. Bisa dibilang ia cukup gila. Namun tentu saja, segila-gilanya diri temanku yang satu itu, ia akan selalu disukai oleh semua orang.
Apakah aku dulu menyukainya? Ya, sedikit. Bukan rasa suka, lebih ke rasa kagum.
Tatapannya yang manis itu sangat menipu. Sangat menipu sampai-sampai aku ingin
mencungkil matanya setiap kali aku teringat akan dirinya.
Saat itu, diriku yang bodoh dan tersulut amarah menerima tawaran Beni untuk bertemu di sebuah gang.
Tujuanku hanya satu, menanyakan dirinya tentang diriku yang berubah gara-gara ulahnya.
Mendengar pertanyaanku yang bodoh itu, ia hanya tertawa kecil.
“Mengapa tidak? Aku suka dirimu yang seperti itu, lagipula aku mengubah semua orang
menjadi monster utuh tanpa kemanusiaan.
Bersyukurlah kamu masih menjadi seorang manusia,” balasnya dengan angkuh.
Gila. Lelaki waras seperti apa yang menyukai perempuan setengah monster yang menjijikkan sepertiku? Tidak, ia bukan manusia lagi, ia monster.
Tanpa sadar, aku melayangkan tinju ke wajah monster itu. Aku menghajarnya berkali-kali.
Lagi, lagi, dan lagi. Namun ia sama sekali tidak terpengaruh dengan seranganku.
Ia tersenyum kecil dan malah balik memukulku dalam satu serangan.
Aku terhempas jauh sekali. Dengan tawa, ia berjalan ke arahku dengan
langkahnya yang mengintimidasi. Ia kemudian berlutut di depanku yang terduduk dengan keadaan babak belur.
“Oh, sakit, ya? Aku, kan, hanya membalasmu dengan pukulan lembut.
Jangan mengujiku,” ujarnya dengan nada yang lembut.
Lembut? Itukah yang ia anggap lembut? Aku menatapnya balik dengan amarah.
“Monster gila. Apakah kamu puas melihatku seperti ini?” tanyaku.
Mendengar itu, ia tertawa terbahak-bahak.
“Monster gila… aku suka panggilan itu. Dan untuk menjawab pertanyaanmu, tidak.
Aku hanya akan puas jika kamu melawan lebih keras,” jawabnya dengan tatapan gila itu.
Tanpa basa-basi, aku lanjut menyerangnya lebih keras.
Kekuatanku sudah bukan seperti seorang gadis remaja, lebih seperti robot pembunuh.
Namun, sekeras apapun aku mencoba, aku bukan tandingan monster itu.
Tetap saja aku kalah. Aku terkapar lemas, di situlah aku sadar, bahwa aku telah berbuat bodoh.
“Sudah selesai? Padahal aku ingin bermain lagi.
Namun sepertinya sudah cukup,” katanya, melihat ke arahku yang terbaring, Ia tersenyum puas, lalu pergi meninggalkan aku sendirian.
Begitulah cerita bagaimana aku bisa sampai ada di sini.
Ya, aku sudah membuang diriku yang lama. Diriku yang bodoh dan sok jagoan itu.
Aku berusaha berdiri, walau sakit, namun aku tetap memaksa diriku. Aku berjalan pelan keluar dari gang.
Tujuanku adalah rumah. Aku akan menemui Ibu, beristirahat sebentar,
lalu lanjut memburu monster sialan itu.
Aku bukan Siti lagi, siapapun diriku saat ini, aku akan membalaskan seluruh dendamku selama ini.
Aku bukan
gadis remaja naif lagi, aku berubah menjadi sesuatu yang sangat aku benci.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar