NEGERI DI PERSIMPANGAN - JENIFER ASSYFA

Negeri di Persimpangan 

Langit kelabu menggantung di atas ibu kota, seperti peringatan halus bahwa negeri  ini sedang tidak baik-baik saja. Di jalanan, orang-orang berjalan tergesa dengan kepala  tertunduk, seakan takut menatap kenyataan yang ada. Harga kebutuhan pokok  melambung, pekerjaan semakin sulit didapat, dan orang-orang yang dulu punya harapan  kini hanya bisa mendesah pasrah. Tapi, tidak apa-apa. Kata mereka, "Yang penting damai." 

Di sudut kota, seorang ibu terduduk di trotoar dengan kedua anaknya yang  kelaparan. Pemerintah baru saja mengeluarkan kebijakan ekonomi yang katanya demi  kesejahteraan rakyat. Sayangnya, rakyat yang mana? Karena yang ibu itu rasakan hanya  harga bahan pokok yang melonjak gila-gilaan, sementara penghasilan tetap stagnan, kalau  bukan malah lenyap. Tapi, tentu saja, pemimpin kita berkata, "Rakyat harus bersabar. Ini  demi kebaikan bersama." Mungkin maksudnya kebaikan untuk mereka yang duduk manis  di kursi empuk, sambil minum kopi di gedung ber-AC. 

Di sisi lain, mereka yang masih berani berpikir kritis mulai merasakan dampaknya.  Aktivis dan jurnalis yang dulu vokal sekarang mendadak menghilang, suara-suara yang  menyampaikan kebenaran mendadak dibungkam. Katanya, ini demi menjaga stabilitas  negara. Tapi entah stabilitas untuk siapa, karena bagi rakyat, negeri ini justru semakin  terasa seperti penjara. Oh, jangan khawatir, pemerintah kita punya solusi: Matikan televisi,  tutup media sosial, dan nikmati hidup tanpa perlu tahu apa-apa! 

Salah satu yang merasakannya adalah Arya, seorang mahasiswa yang kerap turun  ke jalan menuntut keadilan. Suatu malam, ia diculik dari tempat kosnya, dan sejak saat itu,  ia menjadi bagian dari daftar panjang orang-orang yang lenyap tanpa jejak. Teman temannya hanya bisa berbisik dalam ketakutan, karena mereka tahu, jika mereka berbicara  terlalu keras, nasib mereka bisa saja sama. Tapi tenang saja, pemerintah berjanji bahwa  semua ini untuk melindungi kita dari "ancaman." Ancaman siapa? Tidak ada yang tahu.  Atau mungkin ancaman yang dimaksud adalah rakyat yang sudah muak dengan  kebohongan mereka sendiri. 

Sementara itu, di jalanan, ribuan mahasiswa dan buruh turun ke jalan, berusaha  menyampaikan suara mereka. Spanduk diangkat tinggi, suara lantang menggema di depan  gedung parlemen. Mereka menuntut keadilan, menuntut agar suara rakyat tidak  diabaikan. Tapi tentu saja, jawaban dari pemimpin kita adalah gas air mata, pentungan, dan  tembakan peringatan. Karena rupanya, di negeri ini, meminta hak dianggap sebagai  bentuk perlawanan. "Jangan melawan," kata mereka, "kami sudah bekerja keras untuk  rakyat." Rakyat mana? Oh ya, rakyat yang duduk di gedung tinggi itu.

Di Malang, aksi damai berakhir dengan puluhan mahasiswa yang terkapar berdarah darah. Aparat berdalih bahwa mereka hanya menjalankan tugas, dan kalau ada korban, itu  semata karena "provokator" di antara demonstran. Lucu sekali, karena yang menjadi  provokator di sini justru adalah mereka yang takut pada suara rakyatnya sendiri. Hebatnya  lagi, beberapa stasiun TV nasional melaporkan bahwa demo berjalan "tertib dan kondusif."  Tentu saja, karena yang tertib hanyalah media yang sudah dibungkam, dan yang kondusif 

adalah mereka yang sudah kehilangan nyali. 

Namun, di tengah semua ini, masih banyak yang memilih diam. Mereka menutup  mata, menutup telinga, dan berkata, "Sudahlah, biarkan saja mereka yang peduli yang  berjuang. Kalau berhasil, kita juga ikut menikmati hasilnya." Lebih parah lagi, ada yang  menertawakan demonstran, menyebut mereka hanya pembuat onar. Sebagian besar  rakyat memilih jalan aman: tidak tahu, tidak peduli, dan berharap semuanya akan membaik  dengan sendirinya. Padahal, mereka tidak sadar bahwa diam mereka adalah restu bagi  penguasa untuk semakin menindas. "Kita butuh pemimpin yang tegas!" kata mereka,  sambil menertawakan mereka yang berani melawan. Tegas dalam apa? Dalam menindas? 

Dan benar saja. Satu per satu mereka yang berani melawan ditangkap, dibungkam,  atau bahkan dihilangkan. Kampus-kampus yang dulu jadi benteng intelektual kini berubah  menjadi tempat yang sunyi, dihantui rasa takut. Media tak lagi menyiarkan kebenaran,  hanya pujian-pujian untuk pemimpin yang semakin tenggelam dalam janji-janji palsunya.  "Lihatlah pembangunan ini! Lihatlah investasi ini!" katanya. Tapi apakah rakyatnya semakin  sejahtera? Tentu tidak. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin diperas. Negara  semakin maju, katanya, tapi entah maju ke mana. 

Malam itu, di sebuah gang sempit, seorang pemuda berlari sekuat tenaga, nafasnya  tersengal. Di belakangnya, derap sepatu berat semakin mendekat. Ia berbelok, mencari  tempat persembunyian, tapi sebelum sempat mencapai titik aman, sepasang tangan  menariknya ke dalam kegelapan. Tidak ada suara teriakan, hanya dentuman keras yang  mengakhiri segalanya. 

Keesokan harinya, berita tentang pemuda itu tidak pernah muncul. Sama seperti  lainnya, ia menghilang begitu saja, seakan tidak pernah ada. Dan negeri ini? Negeri ini  semakin sepi, semakin gelap, dan semakin tenggelam dalam ketakutan. Tapi tak apa-apa,  katanya. Yang penting stabilitas terjaga, kan? 

Negeri ini berada di persimpangan, katanya. Tapi tampaknya, kita sudah tahu jalan  mana yang dipilih. Demokrasi hanyalah kata kosong yang kian kehilangan maknanya,  sementara tirani tumbuh subur di bawah selimut kebungkaman. Harapan yang dulu  menyala kini padam, tertelan janji-janji manis yang ternyata hanya racun. 

Di lorong sempit sebuah gedung tua, seorang jurnalis bernama Dara menyusun  catatan terakhirnya. Ia tahu bahwa waktunya tidak banyak. Sudah beberapa hari ia  dibuntuti oleh orang-orang tak dikenal, dan kini, ia hanya bisa berharap agar tulisannya  bisa keluar dari negeri ini sebelum dirinya ikut lenyap. Dengan tangan gemetar, ia  mengetik: "Jangan pernah berhenti berbicara, karena suara kita adalah nyawa bagi  kebenaran."

Sementara itu, seorang pria paruh baya yang dulu seorang aparat kini duduk  termenung. Ia telah melihat banyak hal—terlalu banyak. Dalam keheningan malam, ia  membuka lembaran catatan tentang mereka yang menghilang. Satu per satu, nama-nama  yang dulu berteriak menuntut keadilan kini menjadi barisan kosong di atas kertas. Ia  menghela napas panjang. "Mungkin sudah waktunya aku berhenti diam," gumamnya. 

Dan sekarang, bagi mereka yang dulu memilih diam, selamat menikmati. Karena ketika  ketidakadilan mengetuk pintu rumahmu sendiri, tidak akan ada lagi yang tersisa untuk  berjuang demi kamu. 

“Kamu bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat kelak.” 

J.A(more)

Komentar

Postingan Populer