OMOIDE - ALYA RAMADHANI
Omoide
Alya Ramadhani – X-MPLB 1
“Seperti yang anda lihat, Para Pemirsa. Cuaca akhir-akhir ini sangat buruk untuk kita yakini bisa pergi berlibur. Dari informasi yang kami dapatkan dari Badan Cuaca Kyora Harian mengungkapkan, bahwa suhu akan menurun menjadi minus lima derajat celsius. Diharapkan agar masyarakat bisa membeli keperluan yang penting agar tidak berbelanja di saat cuaca yang total kacau seperti suatu saat nanti. Pertama dan paling utama, Waspada Badai Omoide!” ucap Reporter dari televisi supermarket.
Asuka Nishizawa, seorang ibu muda yang memiliki kehidupan biasa-biasa saja sedang membayar belanjaan di kasir seraya mendengar informasi yang dibawakan oleh sang Reporter. “Keadaan benar-benar buruk sekarang,” ucap Penjaga kasir.
“Ya, tidak ada yang bisa kita lakukan selain bertahan hidup,” jawab Asuka.
“Terkadang aku berpikir, kapan negara kita bisa hidup dengan normal tanpa ada sedikit guncangan bencana.”
“Kita tidak pernah tahu, mungkin ada hikmah di baliknya.”
“Maksudku – badai ini telah merenggut nyawa calon tunanganku dan aku ....” Penjaga kasir menyeka air matanya.
“Kamu masih muda dan kamu masih memiliki banyak kesempatan untuk menjalani hidup. Jangan pernah menyerah dengan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Aku turut berduka.”
“Omoide apanya!? Nama bencana terburuk dalam sejarah.”
“Sudahlah, Naomi. Menyalahi sesuatu tidak akan memperbaiki keadaan. Yang kau perlu lakukan hanya bertahan hidup.”
“Ya, kau ada benarnya.”
Asuka melihat jam yang tergeletak di pergelangan tangannya. “Ya ampun, aku harus bergegas menjemput Kyoko. Sampai jumpa!”
“Iya, hati-hati!”
Saat menginjak aspal, ia langsung membuka pintu mobil dan menekan pedal gas. Jalan raya saat ini sangat kacau. Cuaca yang berangin berhasil menghalau penglihatan Asuka untuk pergi terburu-buru ke Taman kanak-kanak.
Alhasil, ia tetap sampai di sana dengan aman. Namun, perasaannya yang tidak aman. Khawatir dengan buah hatinya. Ia berjalan seraya menahan angin yang mampu untuk menerbangkannya ke angkasa luar.
Setiba di lorong, ia mengetuk pintu yang paling terdekat, yaitu ruang penjemputan. Saat membuka pintu, ia lekas menutup kembali. Takut kalau-kalau angin masuk dan menghancurkan ruangan. Namun, bukannya mendapat sang anak. Ia justru melihat para wali murid yang sedang protes ke guru. Mata Asuka menelusuri tiap ruangan, mencari Kyoko. Ketika pandangan mereka bertemu, mereka langsung berlari dan mendekap.
“I-ibu, aku takut.”
“Tidak apa-apa, ibu ada di sini. Tidak ada yang perlu ditakuti. Sekarang, ibu minta kamu untuk duduk di ujung sana dulu, ya? Ibu mau melihat apa yang sedang terjadi.” Asuka menunjuk ke arah kursi di samping pintu. Kyoko hanya menjawab perintah Asuka dengan sebuah anggukan pelan.
Sementara itu, Asuka berjalan dengan pelan. Berusaha memahami apa yang sedang terjadi saat ini. Para wali murid berteriak di mana-mana. Dari yang Asuka dengar, mereka memberi protes agar Taman Kanak-kanak sebaiknya diliburkan saja demi keamanan sang buah hati. Guru-guru yang ada di sana merasa sedikit kewalahan menanggapi mereka semua. Teriakan tidak terima membuat jawaban para guru dianggap debu yang terhempas angin.
Melihat keadaan yang sangat kacau-balau itu, Asuka segera bertindak untuk menertibkan para wali murid. Bunyi meja dipukul membuat perhatian semua orang yang berada di ruangan beralih ke sumber suara. “Bisakah kalian semua mendengar apa yang para guru ingin beritahu? Kalau kalian semua memotong pembicaraan masalah tidak akan pernah selesai. Apa kalian tidak melihat anak kalian menangis saat ini, karena melihat kalian berteriak dan marah-marah tidak jelas?”
Merasa malu, kepala mereka semua tertunduk dengan rasa sedikit bersalah. Sementara itu, Asuka menatap dan mengangguk pelan kepada para guru. Memberi kode bahwa keadaan sudah terkendali. “Terima kasih, Nyonya Nishizawa,” ucap salah satu guru. “Bapak dan Ibu yang kami hormati. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya karena ini semua. Maka dengan itu, kami akan mengkoordinasikan laporan yang diterima dengan membentuk rapat pada siang hari. Mohon dimaklum. Terima kasih.” Para guru di sana melalukan Ojigi, atau membungkukkan tubuh mereka sebagai permintaan maaf.
Tidak bisa berkata-kata, mereka juga membalas dengan membungkukkan badan mereka pula. Setelahnya, mereka langsung memanggil sang anak dan pergi keluar ruangan. “Nyonya Nishizawa, mohon tunggu sebentar!” ucap salah satu guru tadi, Ibu Matsumoto.
“Ya?” tanya Asuka seraya menghampiri ibu Matsumoto.
“Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu. Tanpamu mungkin kami kewalahan menghadapi para orang tua.”
“Itu bukan masalah.”
“Sebagai gantinya, aku ingin memberikanmu ini.” Ibu Matsumoto mengambil sesuatu dari saku roknya. Asuka melihat bahwa itu adalah gelang Kurama. Gelang yang dipercaya bisa menyelamatkan diri kita dari segala ancaman bahaya.
“Tidak, tidak perlu repot-repot untuk memberikan saya ini. Ini adalah barang berharga. Lagipula, yang tadi itu hanyalah hal yang biasa.”
“Tidak, kau harus menerimanya.”
“Baiklah, terima kasih.” Asuka melakukan Ojigi dan memutuskan untuk langsung kembali.
Saat membuka pintu, ia langsung menahan Kyoko dalam dekapannya. Berusaha menempuh angin yang berusaha untuk menjatuhkan mereka. “Ibu, tadi ada apa?” tanya Kyoko saat ia sudah menduduki kursi mobil.
“Tidak, Sayang. Tidak apa-apa. Sebaiknya kita lekas pulang, okey?”
Asuka mendorong kenop pintu Akasia yang terletak di depannya. Kyoko langsung berlarian pelan ke kamar mandi, ingin menghangatkan tubuhnya. Asuka hanya tersenyum melihat tingkah putrinya itu. Ia memandikan Kyoko seraya mengeluarkan beberapa bahan tertawaan. Hal itu ia lakukan agar Kyoko tidak panik dengan cuaca yang tidak mengenakkan itu.
“Ibu, sampai kapan badai ini berakhir?”
“Suatu saat nanti.”
“Nanti itu kapan? Kyoko rasa ibu sudah mengucapkan itu ribuan kali.” Kyoko mengangkat alisnya pelan.
“Ribuan kali?” tanya Asuka. Hal yang sangat pelik baginya.
“Kyoko selalu merasa, dunia kita tidak pernah berjalan ke depan. Seakan-akan, kita hidup dengan waktu yang berputar-putar. Semuanya terjadi berulang-ulang entah sampai kapan berakhir.”
Asuka menatap lama mata Kyoko. Mencerna apa yang baru saja diujarkan oleh sang putri. Merupakan hal yang aneh seorang anak berusia lima tahun mengucapkan hal serumit itu. Yang belum tentu akan dipahami anak seusianya. “Dari mana kamu mendapat kata-kata seperti itu?” tanya Asuka dengan wajah yang sedikit tidak percaya.
“Kyoko seminggu yang lalu menonton The Omoide, dengan hal itu, Kyoko merasa kita hidup tanpa akhir.”
Kata-kata yang dilontarkan oleh mulut Kyoko benar-benar sangat berat untuk dipahami anak kecil berusia lima tahun. “Lebih baik kamu tidur siang sekarang, ya? Kita bahas itu lain kali saja.”
“Baik, Ibu.” Kyoko mengangguk pelan.
Asuka memencet tombol merah di atas kanan telekendali dan mengarahkannya ke televisi. Serial mau pun film yang ada di sana tidak menarik baginya. Ia terus-menerus mengganti saluran, sampai saluran televisi nomor dua puluh enam. Saluran bernamakan de myth cukup menarik rasa penasaran Asuka.
“Ibu, apa yang sedang ibu tonton?” tanya Kyoko.
“Belum tahu, tapi ibu rasa ini tentang Omoide.”
“Serius⁉️”
“Kenapa? Kamu juga ingin menontonnya?”
“IYA!” teriak Kyoko.
“Oke-oke, santai saja. Sebentar lagi acaranya akan dimulai. Lebih baik kamu duduk dengan tenang dulu di sini,” pinta Asuka sambil menepuk sofa di sampingnya.
“Baik, Ibu!”
Setelah menunggu sekitar dua menit, acara yang dimaksud akhirnya telah dimulai. Kyoko yang menonton sambil terkantuk-kantuk pun tak lama tertidur di pangkuan sang ibu. Asuka membawa Kyoko ke kamar tidurnya dan mematikan lampu. Ia memutuskan untuk menonton The Omoide, kisah yang selalu dibicarakan oleh Kyoko. Melihat cerita The Omoide menurutnya seperti melihat kehidupan Asuka di masa lalu.
Di suatu hari, hiduplah seorang pria bernama Natsuki Fujikawa. Ia adalah seorang pekerja keras dalam hidupnya. Dalam negara terhormat, negara Ozani, ia adalah seorang pahlawan yang menyelamatkan negara Ozani dalam belenggu yang ditahan negara asing. Lima belas tahun adalah usianya pada abad ke-12 ini.
Dia tinggal di sebuah pedesaan di selatan Ozani. Cuaca di sana cukup dingin pada pertengahan bulan Desember. Kegiatan pertanian dihentikan untuk sementara waktu hingga cuaca kembali memungkinkan bagi para petani menanam kembali sayur-sayuran. Natsuki hanya mencari makanan dari hasil jual pancingan ikan yang ia dapat sehari-hari.
“Ibu, aku pergi dulu ke laut Sani!” ujar Natsuki.
“Iya, berhati-hatilah! Jangan sampai kamu tergigit lagi oleh ikan komabi itu!” pinta ibu Natsuki, Ryoko.
“Baik!”
Natsuki keluar dari rumahnya dan memancing ikan lagi di suatu laut Sani. Laut yang kaya akan perikanan. Namun, ia tetap harus berhati-hati. Karena cuaca yang dingin itu,
membuat jalan menjadi sangat licin. Air di laut Sani pun sudah sangat ingin membeku. Begitu pula dengan para ikan dan hewan laut yang tinggal di sana.
“Tuhan, aku mohon. Berikan aku ikan komabi yang sangat besar!” teriak Natsuki seraya melempar kail pancingan ke dalam laut.
Ia sangat menantikan pancingannya itu bergerak. Kunjung lima menit, ia sudah hampir pasrah dengan keadaan yang sangat kacau ini. Tetapi siapa sangka ternyata masih ada sisa ikan yang masih hidup di laut kecil itu. Saat pancingan ditarik dengan keras, ia mendapatkan seekor ikan Komabi. Ikan yang sangat menarik di matanya.
Secara tiba-tiba, Natsuki merasa ada yang janggal dengan ikan Komabi itu. Ada sebuah batu-batu bersiluet garis yang membentuk garis layaknya seekor badai. Ia melepaskan gelang itu dari ekor si ikan dan melemparnya ke lautan lepas. Natsuki bergegas pulang ke rumah, meminta sang Ibu, Ryoko, untuk mengolah ikan itu dan dijual.
Komabi adalah ikan yang sangat berharga, menurut leluhur yang pernah diberi tahu oleh Ryoko, Komabi adalah peliharaan Kaisar Kazehaya yang agung. Siapa yang dapat menangkap ikan Komabi, konon, hidupnya akan diberi kesejahteraan yang kekal. Natsuki percaya akan hal itu.
Sesampai di rumah, Natsuki berkata,”Ibu, aku mendapat ikan komabi!” “Jangan bercanda ka– YA AMPUN, KOMABI!?”
Ryoko sontak saja mengambil Komabi yang Natsuki pegang. “Dari mana kamu mendapatkan ini?”
“Dari laut Sani.”
“Tunggu ... di mana gelangnya?” ujar Ryoko seraya memutarbalikkan Komabi. “Gelang? Gelang apa?” Natsuki mengangkat alisnya.
“Gelang kurama, itu adalah gelang yang sangat berharga.”
Natsuki menatap ke arah langit-langit atap, berpikir keras dengan gelang yang dimaksud. Dengan ekspresi yang terkejut, ia langsung bergegas keluar dan mengambil gelang itu kembali saat ia menyadari gelang yang ia lempar ke lautan adalah gelang Kurama. Pijakan tanah yang dalam mengarah ke lautan.Anak muda itu celingukan ke sana ke mari mencari si gelang. Ia menyipitkan matanya melihat sesuatu yang mengambang. Ia mencari ranting kayu di sekelilingnya, berusaha untuk menggapai gelang itu. “AKHIRNYA, HUH!” ujar Natsuki ketika ia sudah memegang gelang itu.
“Apa kupakai saja, ya? Kalau kubawa seperti ini kurasa akan terjatuh.”
Tak lama kemudian, ia memasang gelang itu di tangannya. Secara tiba-tiba, cahaya berwarna ungu keluar dari garis-garis badai itu. Membuat mata Natsuki membelalak tak percaya apa yang dilihatnya. Natsuki langsung berlari-lari dengan sangat cepat layaknya
sedang dikejar hantu. Sesampai di depan rumah, ia langsung melempar sandal ke sembarang arah. “IBU, LIHATLAH INI!”
Ryoko yang masih terkejut, melihat gelang dipakai oleh Natsuki membuatnya pingsan. Sang ayah, Takumi, menghela napas berat seraya menepuk dahinya. “Natsuki-Natsuki.” Takumi menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ada apa? Apa aku membuat kesalahan?” tanya Natsuki dengan tingkah yang gelagapan.
“Gelang Kurama tak bisa dipakai oleh sembarang orang,” jawab Takumi singkat. “Tidak ada yang memberi tahuku kalau tidak boleh dipakai!”
“Memangnya kenapa, sih?” tanya Sakura, adik Natsuki.
“Gelang itu adalah gelang keramat, karena ....”
“Karena?” sambung Sakura.
“Kenapa diam saja? Karena apa, Ayah?” Natsuki menggoyang-goyangkan Takumi yang sedang melamun.
“Ah, sudahlah! Kalian cari saja sendiri.” Raut wajah kecewa terhampar ke dalam wajah kakak-adik itu. Natsuki pergi ke kamarnya dan memutuskan untuk merebahkan diri di kasur. Memikirkan gelang Kurama sangat membuang-buang energi yang ia rasa lebih baik ia habiskan dengan memancing ikan untuk dijual.
Di sisi yang lain, seorang dukun di kota Koraido itu mendatangi kaisar Koraido. Ia dilarang masuk oleh penjaga istana. “Berhenti mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal!” bentak Penjaga Istana.
“Ada apa ramai-ramai di sini?” tanya Takahashi, pelayan setia Kaisar Koraido.
“Ini, Tuan. Ada orang asing yang datang kemari, ia mengaku, sebagai ahli nujum. Ia mengatakan bahwa akan ada pewaris Omoide.”
Takahashi mengangkat sebelah alisnya. Ia menyeringai kecil, merasa penasaran dengan apa yang ingin dibahas oleh si Dukun. Takahashi akhirnya memperbolehkan si Dukun masuk ke dalam istana ‘tuk menemui Kaisar. Takahashi mengantar Dukun ke kamar pribadi Kaisar dan membiarkan mereka berbicara. Di dalam, ia bukan peduli dengan keamanan Kaisar, tetapi ia memedulikan pewaris Omoide.
“Omoide? Kenangan? Mengapa bisa dinamakan Omoide?” tanya Kaisar.
“Dalam kitab sejarah, Omoide terbentuk dari seseorang yang tidak bisa melupakan kenangannya semasa ia hidup. Semakin ia mengenang, semakin ia pudar dan membentuk diri menjadi badai Omoide,” jelas si Ahli Nujum.
“Siapa pewaris Omoide itu, sang Ahli?”
“Aku tidak cukup jelas mengenal orang itu, tetapi ia tinggal di daerah pedesaan di ujung selatan. Begitulah yang kulihat, ia mengenakan gelang Kurama.”
“Bagaimana seorang pewaris Omoide bisa mendapat gelang Kurama sekaligus?” “Itulah yang tidak kuketahui, Kaisar. Ini yang membuat hamba merasa bingung.” “Segera cari anak itu!” perintah Kaisar.
Si Ahli Nujum menunduk ke arah Kaisar. Bersama dengan para prajurit, mereka berjalan menuju ke pedesaan yang dimaksud. Di tengah perjalanan mereka berhenti untuk sementara, karena matahari sudah tak lagi menampakkan dirinya. Mereka membangun sebuah tenda dan tidur di sana. Kecuali beberapa prajurit yang bergantian untuk menjaga satu sama lain dikarenakan mereka masih curiga dengan si Ahli Nujum.
Keesokan hari, matahari masih malu-malu untuk keluar dan itu membangunkan mereka semua untuk lanjut berjalan ke pedesaan. “Mengapa sekarang? Ini masih gelap!” ujar si Ahli Nujum. Secepat kilat, salah satu komandan prajurit menatap tajam ke arahnya dan itu membuat si Ahli Nujum tak bisa berkutat.
Ketika mereka sudah sampai di gapura pedesaan kecil itu, segera saja, seluruh warga desa diperintahkan untuk keluar dari tempat tinggal mereka. Hal itu tentunya menimbulkan protes dari warga desa. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena yang memerintah adalah sang Kaisar itu sendiri. Diamati oleh si Ahli Nujum satu-persatu, yang dirasa bukan anak muda itu akan dikembalikan.
Sontak saja, ada suara pijakan tanah yang mendekat ke arah desa dari luar. Seorang anak muda datang dengan napas yang terengah-engah setelah berlari lamanya, Fujikawa Natsuki. “I-itu dia!” teriak si Ahli Nujum seraya menunjuk ke arah Natsuki yang membuatnya merasa kebingungan. Keluarga Fujikawa langsung meneriakinya untuk segera pergi dari sana.
“NATSUKI, SUDAH KUBILANG JANGAN KEMBALI LAGI!” bentak Takumi.
Sementara itu, Ryoko tak kuasa menahan tetesan air mata yang jatuh melihat nasib sang anak. Ia menangis sesenggukan melihat anaknya pergi menjauh dari kejaran para prajurit. Sakura, anak kecil yang tak tahu apa-apa hanya ikut menangis melihat sang Ibu. Komandan prajurit mendekati Takumi dan menggamparnya. “APA YANG KAULAKUKAN KEPADA WARGA SIPIL, HAH!?” bentak Takumi seraya memukul balik si Komandan. Melihat Takumi berani melawan prajurit kerajaan membuat para warga turut serta melawan si Komandan hingga membuatnya tidak sadarkan diri lagi.
Mereka sudah muak menuruti titah Kaisar yang menuntut pewaris Omoide harus dihabisi. Dalam kata lain, mereka ingin melawan. Mereka sudah tidak bisa lagi menerima anak mau pun cucu mereka yang merupakan pewaris Omoide dihilangkan dari muka bumi. Bagi kerajaan, Omoide bagaikan sebuah ancaman Kaisar. Dalam masa prasejarah, ada sebuah prasasti yang masih dijaga oleh Kerajaan. Prasasti Monaiko, prasasti yang mengungkapkan Omoide adalah segalanya. Siapa pun harus tunduk dengan pewaris Omoide.
Natsuki dengan tergesa-gesa menyusuri hutan belantara yang ia tidak ketahui. Sesaat ia merasa kalau sudah tidak dibuntuti oleh prajurit, ia menghela napas berat seraya menyandarkan dirinya ke pohon beringin besar yang terletak di tengah-tengah hutan. Natsuki tak lagi tahu harus ke mana. Hidup layaknya tidak punya arah tujuan lagi. Lamunan ia tersadarkan saat ada buah Apel yang jatuh tepat di depannya. Tangannya mencapai buah itu dan langsung saja memakannya, ia tidak peduli apakah itu beracun atau tidak. Perutnya sudah keroncongan.
Ketika anak muda itu sedang asyik mengunyah apel, Natsuki merasa ada suara yang sangat berisik di balik semak-semak yang menjulang tinggi. Natsuki mengambil sebuah ranting kayu kecil yang tergeletak di sebelahnya. Berjaga-jaga kalau itu adalah salah satu dari prajurit kerajaan atau pun hewan buas yang sedang mencari mangsa.
Natsuki menahan napas dengan erat. Ketika makhluk itu keluar, ternyata ia hanyalah seorang gadis muda yang terlihat sangat tersesat. Seperti dirinya. Namun, ia tak percaya begitu saja. Di dunia yang keras ini, sangat sulit untuk mempercayai siapa pun. Sebelum bertingkah macam-macam, gadis itu sudah terjatuh pingsan. Natsuki berlari pelan untuk melihat keadaan si gadis.Ia menggeser rambut yang menghalangi wajah si gadis. Perempuan yang sangat indah parasnya. “Sepertinya dia pingsan,” gumam Natsuki.
Natsuki mengangkat gadis itu dan segera membawanya ke bawah pohon beringin. Sadar langit sudah semakin gelap, ia mencari beberapa kayu bakar. Selesai itu, ia langsung menyalakan api untuk menghangatkan diri. Cuaca di sana tidak tertahankan jika kau memakai baju berbahan tipis. Layaknya gadis itu. Masih dalam pingsannya, ia menggigil kedinginan. Natsuki melepaskan jaket bulunya dan segera memakaikan itu ke sang gadis.
Terbawa dengan suasana, kantuk menghampiri Natsuki. Ia sudah tak tahan untuk memejamkan mata dikarenakan waktu yang sudah larut seperti ini. Ia bermimpi, ia mendapati kehidupan yang syahdu dengan keluarganya. Takumi, Ryoko, dan Sakura sedang tertawa dengan lelucon aneh buatan Takumi. Dalam tidurnya, Natsuki tertawa-tawa sendiri. Membuat si Gadis yang sedang memandangi Natsuki menertawakan kepelikan Natsuki. “Bodoh sekali!” ucap si Gadis.
Mimpi itu tidak berlangsung lama. Natsuki terbangun karena suara burung yang sangat ramai di atas pohon membuatnya gelisah. Natsuki memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Ia sedikit terkejut ketika menoleh ke kanan ada si Gadis yang menatapnya dalam dalam. “Apa yang kaulihat?” tanya Natsuki.
“Mukamu memerah, tuh!” Jari telunjuk si Gadis teracung ke arah Natsuki. “Suka-sukamu saja,” jawab Natsuki datar.
“Aku bertanya-tanya, apakah kau yang memindahkanku dari pohon seberang sana? Karena seingatku, aku terjatuh di situ.” Pertanyaan dari si Gadis hanya dibalas anggukan kecil oleh Natsuki. “Kau sedang apa di sini?” Setelah bertanya, ia menarik tangan Natsuki dan berkata, “Jadi benar ada pewaris Omoide?” tanya si Gadis heboh.
“Bagaimana kautahu?” Natsuki menaikkan alisnya.
“Berita itu sudah tersebar luar. Apa kau juga mendapat gelang Kurama?” Natsuki lagi lagi membalas dengan anggukan. “Memangnya kenapa?”
“Gelang Kurama adalah gelang sakti, membuat si pemakai tidak akan bisa merasakan rasa sakit.” Natsuki menatap si Gadis dengan datar.
“BAGAIMANA KAU BISA BIASA SAJA!?” jerit si Gadis.
“Aku harus apa?”
“Maksudku – kautahu, gelang itu sangat diincar oleh sang Kaisar. Tentunya, karena gelang itu pasti nyawamu terancam. Apa kau tidak mau menyerahkan itu pada mereka saja?”
“Untuk apa kuserahkan? Aku yang terpilih. Mengapa aku harus menyerahkan kepada orang yang tidak bertanggung jawab?” Pertanyaan yang Natsuki lontarkan seketika membuat si Gadis merasa emosi. Namun, dengan cepat ia mengubah ekspresi amarah tadi.
“Sudahlah, bagaimanapun itu apa kau tidak memikirkan sama sekali keadaanmu sekarang?” tanya si Gadis.
Natsuki tidak menghiraukan pertanyaan si Gadis dan langsung berjalan pergi dari pohon beringin. “Mau ke mana kau? HEI, JAWAB PERTANYAANKU!?” Si Gadis mengejar Natsuki yang berjalan dengan sangat cepat sampai-sampai ia terengah-engah. Si Gadis menarik lengan Natsuki. “Apa kau benar-benar tidak ingin memberitahuku?” tanya si Gadis.
“Untuk apa?” Pertanyaan itu membuat si Gadis kebingungan. “Maksudku, apa hubungannya denganmu? Aku bahkan tidak mengenal siapa kau dan dengan santai kau bertanya macam-macam? Tentang orang asing?” Omongan Natsuki membuat si Gadis langsung tertunduk diam. Natsuki pun tidak memedulikan itu. Ia langsung berjalan.
“Apa kau tidak peduli dengan keluargamu?” tanya si Gadis masih tertunduk. Perkataan yang diucapkan oleh si Gadis menarik atensinya.
Ia menghampiri si Gadis dan mengangkat dagunya. Menatap dengan tatapan yang sangat dalam, membuat si Gadis menahan rasa gugup yang mendebar-debar di dalam dadanya. “Beri tahu apa yang harus kulakukan.”
Mereka berjalan menuju ke tempat yang diarahkan oleh si Gadis. Membuat Natsuki menelan rasa penasaran, karena perempuan yang berada tepat di hadapannya ini benar-benar merahasiakan sesuatu yang ia tidak ketahui. Natsuki selalu siaga dengan apa yang akan ia hadapi di perjalanan. Banyak kemungkinan yang ia pikirkan. Entah bertemu dengan prajurit, hewan buas. Mendaki gunung, lewati lembah. Itulah yang Natsuki lakukan demi mendapat kebenaran. Ia tidak pernah tahu siapa nama asli si Gadis. Setiap ia bertanya, akan selalu dijawab, “Akan kuberi tahu ketika kita sudah tiba.”
Ia sebenarnya tidak terlalu peduli dengan apa yang si Gadis ingin lakukan. Tetapi, ketika si Gadis mengatakan “keluarga” itu membuat Natsuki menyadari kecemasan yang merayap raganya. Natsuki sudah berhari-hari terpikirkan keadaan Takumi, Ryoko, dan Sakura. Anak muda itu hanya ingin keluarganya selamat tanpa mempedulikan nyawa kepunyaannya sendiri. Ketika mereka berdua sudah tiba di sebuah telaga. Telaga yang konon diceritakan sebagai air yang akan memberi kekekalan hidup. Namun, yang namanya cerita tetaplah cerita. Natsuki tidak mempercayai itu. Ia baru saja mendapat masalah seminggu yang lalu. Ia tidak tahu keadaan warga desa. Apakah mereka akan terkena batunya juga akibat tindakan yang diambil Natsuki? Renungan itulah yang selalu hadir dalam benak Natsuki.
Mengetahui Natsuki sedang melamun, si Gadis sontak saja menampar pipi Natsuki kencang-kencang. Natsuki menatapnya bingung. “Jangan melamun!” Ketika di telaga, si Gadis meminta Natsuki untuk segera meminum air telaga. Walau sempat menolak, ia terpaksa meminumnya. Di telaga itu, Natsuki diminta oleh si Gadis untuk mencari yang diperlukan. Kayu jantung Platipus, batu Oregai, dan koral dari telaga.
Setelahnya, mereka masuk ke sebuah lorong yang sangat panjang. Ketika si Gadis membuka pagar, dan menginjakkan kaki. Secara tiba-tiba, ada seseorang yang memukul tengkuk Natsuki dari belakang yang berakhir membuatnya tidak sadarkan diri. Hal terakhir yang ia lihat adalah si Gadis menyeringai. “Kau ....”
Tak lama, Natsuki sadarkan diri. Ia diikat di sebuah papan kayu yang membentuk seperti papan salib. Ketika ia menoleh ke seluruh arah. Di ruangan yang sangat besar ini terdapat seluruh warga desa dan anak-anak kecil yang dikurung di penjara seraya menangis. Natsuki berusaha dengan sangat keras untuk melepaskan ikatan yang membelenggunya. “Seberapa keras kau berusaha, kau tidak akan bisa kabur,” ujar seseorang yang memakai sebuah jubah jingga. Ia membuka kupluk yang ia pakai. Itu adalah si Gadis.
“K-kau!” pekik Natsuki.
“Oh, Natsuki. Betapa bodohnya kau, jatuh ke dalam perangkap. Kau tidak sehebat itu menyadari kedustaanku.” Si Gadis memegang sebuah arang yang baru saja dari api.
“MENGAPA KAU TEGA MELAKUKAN INI!” bentak Natsuki.
Si Gadis menghampiri Ryoko, ibu Natsuki, dengan masih memegang arang di tangannya. Si Gadis mengatakan sebuah hal yang tak bisa didengar oleh Natsuki. Wajah Ryoko langsung berubah dengan kekhawatiran yang mendalam hingga Natsuki memaksa untuk melepaskan. Namun, si Gadis tak menghiraukan umpatan yang Natsuki keluarkan. Arang yang si Gadis pegang sekarang mengarah di depan perut sang Ibu. Membuat Natsuki semakin tak tahan untuk melepaskan amarahnya.
Ketika ia mendengar teriakan dari sang Ibu, kilatan cahaya biru keluar dari mata Natsuki. Ikatan yang membelenggu dirinya sudah hancur. Berang dengan apa yang dilakukan si Gadis terhadap keluarganya, Natsuki hampir berubah menjadi Omoide. Ya, sebuah badai yang kekuatannya tak dapat tertandingi. “Tidak ... tidak mungkin!” sangkal si Gadis.
Seakan jiwa Omoide menguasai dirinya, Natsuki langsung menghampiri si Gadis dan mencekiknya dengan rasa dendam yang tak terhitung. Kecewa, dendam, amarah, dan sedih bergabung menjadi sebuah kesatuan. “T-t-tolong ... lepaskan ... a-aku.”
Natsuki bukan lagi seorang Natsuki Fujikawa, seorang pemuda yang berusia tujuh belas tahun. Bukan seorang pemuda yang memandang dunia dengan penuh kedamaian, tidak ada pertumpahan darah. Namun, itu bukan lagi saatnya. “Berhenti, Natsuki! Tolong jangan seperti ini!” teriak sang Ibu, Ryoko.
“Orang sepertimu tidak pantas hidup!” Natsuki membanting si Gadis ke lantai. Dengan kekuatan Omoide semua barang melayang dan ia arahkan satu-persatu. Sang Kaisar menghampiri si Gadis dan berteriak.
“Anakku, Asuka Nishizawa!”
.jpg)
Komentar
Posting Komentar