RUMAH - RASYA AJI ARDIANSYAH
SMA 1 Jakarta adalah tempat seorang siswa yang bernama Rinjani Salsabila Putri yang kerap di panggil Rinjani itu mencari ilmu. Dia merupakan siswa terpintar di angkatannya. Bahkan dia sempat mengikuti perlombaan akademik dan berhasil meraih juara. Namun usahanya tersebut tidak pernah mendapat apresiasi dari kedua orangtuanya.
Orangtua dari Rinjani lebih memerhatikan adik laki-lakinya yang hanya terpaut dua tahun dengan Rinjani. Adiknya itu bernama Azka Raymond Saputra, namun itu tidak mematahkan semangat Rinjani yang ingin menjadi seorang dokter. Menjadi seorang dokter merupakan salah satu impian Rinjani sejak kecil, karena sewaktu kecil ia melihat dokter seperti malaikat yang mampu menyembuhkan orang yang sedang sakit.
Di sekolah Rinjani memiliki dua orang sahabat dekatnya, yaitu Andini dan Felicia. Mereka terkenal karena kepintarannya, terutama Felicia yang merupakan seorang anggota OSIS yang membuat namanya terkenal hingga satu sekolah. Mereka juga sudah bersama sejak SMP. Rinjani dikenal sebagai anak yang ambis dalam belajar sejak kelas VII SMP. Dia selalu belajar disaat dia memiliki kesempatan demi mencapai tujuannya untuk mejadi dokter. Untuk mencapai tujuannya itu memang tidak mudah, banyak rintangan yang harus Rinjani hadapi
terutama dari kedua orangtuanya.
Rinjani selalu mendapat perhatian dari kedua orangtuanya, tapi itu semua tidak bertahan lama sejak adiknya lahir dia seakan dilupakan oleh kedua orangtuanya. Walaupun Rinjani merasa sedikit sakit hati, tapi dia tidak pernah membenci adiknya. Rinjani juga berusaha untuk menarik perhatian dari kedua orangtuanya walau tidak pernah berhasil membuat kedua orangtuanya memberinya apresiasi atas kerja keras yang dia lakukan.
Suatu hari di sekolah Rinjani sedang berkumpul bersama kedua sahabatnya pada saat istirahat seperti biasa Rinjani pasti akan membaca buku pelajaran kesukaannya, yaitu buku tentang kimia dan kedua sahabatnya sudah terbiasa dengan Rinjani. Felicia yang sedang makan akhirnya membuka suara.
“Rinjani kamu gamau makan dulu? nanti sakit gimana.”
Pertanyaan Felicia hanya mendapat gelengan kepala dari Rinjani. Kemudian Andini membantu Felicia untuk membujuk Rinjani agar mau makan terlebih dahulu.
“Rinjani kamu harus makan dulu biar kamu ga lemas nanti sewaktu belajar.” Rinjani akhirnya menaruh bukunya diatas meja dan menghelakan napas pasrahnya “Bagaimana yaaa cara aku bikin ayah sama bunda bangga sama aku??” Kedua sahabatnya saling menatap, mereka sudah tahu apa yang Rinjani rasakan. Lelah, harus mencari atensi agar orantuanya memberinya apresiasi.
“Rinjani, kamu jangan pikirin itu dulu yaa, kamu pikirin kesehatan kamu dulu. Gimana orangtua kamu mau seneng kalo kamunya sakit.”
Ucap Andini yang terus membujuk Rinjani, hingga akhirnya ia mau makan terlebih dahulu sebelum melanjutkan belajarnya. Memang Rinjani sering sekali makan pada saat istirahat sekolah, dia lebih memilih untuk terus belajar dan menjadi yang terbaik agar orangtuanya bangga.
Setelah menyelesaikan pelajarannya disekolah, Rinjani langsung kembali ke rumahnya. Namun, saat di rumah dia merasa sangat kesepian walau dia memiliki seorang adik. Azka justru memiliki sifat yang sangat terbalik dengan Rinjani, dia sangat pemalas dan sering berbuat ulah di sekolah.
“Huh!! Aku sangat lelah, andai saja kedua orangtuaku menanyakan keadaanku hari ini, pasti aku akan bercerita tentang banyak hal yang terjadi hari ini.”
Rinjani hanya bisa merebahkan tubuhnya di kasurnya yang sangat nyaman, kemudian dia mulai tertidur karena dia merasa lelah menjalani hari ini.
Rinjani tertidur sejak pulang sekolah dan sekarang jam telah menunjukan angka 6 yang artinya Rinjani telah tertidur hampir 2 jam. Dia terbangun dari tidurnya dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah membersihkan dirinya dia langsung turun menuju meja makan, yang dimana sudah terdapat ayah dan bundanya.
“Selamat malam ayah, bunda. Gimana pekerjaan kalian?”
Pertanyaan Rinjani sama sekali tidak dijawab oleh ayah dan bundanya, itu sudah biasa bagi Rinjani walau terasa menyakitkan jika diabaikan.
Saat bundanya menuju wastafel ia melihat tumpukan piring kotor yang belum dicuci. bundanya menjadi marah pada Rinjani karena tidak mengerjakan tugasnya dengan baik. “Kenapa kamu belum mencuci piring, Rinjani? Kamu sangat pemalas ya!” “Maaf bunda, aku tadi ketiduran sewaktu pulang sekolah, jadi tidak sempat mencuci piring.” Jawabku dengan rasa bersalah.
“Alasan saja kamu! Cepat cuci piring itu setelah itu cuci baju!”
“Baik, bunda”
Lelah? Tentu Rinjani sudah lelah dengan harinya di sekolah, dan ditambah sekarang dia harus mengerjakan pekerjaan rumah. Selama di rumah dia hampir tidak pernah punya waktu untuk belajar bahkan beristirahat dengan tenang. Namun, dia tidak pernah mengeluh atas apa yang dia kerjakan. Dia paham kalua orangtuanya juga lelah bekerja untuknya dan juga adiknya.
Dan hal yang paling menjengkelkan bagi Rinjani adalah ketika sedang membersihkan rumah, adiknya Azka bertindak seenaknya di rumah. Azka sering membuat rumah menjadi berantakan bahkan setelah Rinjani merapihkannya.
“Azka! Aku baru saja memrapihkan kamarmu dan sekarang kamu mengacak-acak lagi!”
“Kenapa sih kak?! Aku lagi cari baju buat jalan-jalan sama pacar aku nih!”
Kesal? Tentu saja Rinjani kesal dengan adiknya itu, tapi dia tetap berusaha sabar karena adiknya sudah sering bertindak seperti itu. Rinjani sudah terbiasa dengan tindakan keluarganya itu, dan dia tidak pernah membenci perlakuan itu terhadap dirinya.
Keesokan harinya saat di sekolah tepatnya pada saat mata pelajaran Matematika tiba-tiba saja Pak Riko mengadakan ulangan dadakan. Hal itu membuat semua siswa tercengang begitupun dengan Rinjani. Tanpa menerima protes sedikit pun Pak Riko langsung memulai ulangan tersebut. Setelah semua selesai mengerjakan soal ulangan yang membuat otak bekerja lebih keras, jawaban semua siswa dikumpulkan dan langsung diberikan nilainya saat itu juga. Saat melihat nilai, Rinjani terkejut karena dia tidak mendapatkan nilai 100. Dia memperoleh nilai 85 pada ulangan dadakan kali ini.
Pada saat kembali ke rumah dia bertemu bundanya yang sedang bersantai di sofa sambil menonton film. Rinjani dengan berat hati menghampiri bundanya dan menunjukkan hasil ulangan Matematika tersebut.
“Bund, maaf, aku hanya mendapatkan nilai 85 pada ulangan Matematika dadakan.” “Dasar anak bodoh! Kenapa bisa nilaimu menurun?!”
“Maaf bun, aku kurang fokus.”
Plak, bunda Rinjani kemudian menampar pipi Rinjani yang membuat pipinya memerah. Rinjani kemudian berlari menuju kamarnya sambil menangis. Sakit hati? Tentu Rinjani merasa sakit hati akibat perkataan dan perbuatan bundanya, tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena memang dia juga salah.
Saat di kamar Rinjani hanya bisa menangjs karena tamparan bundanya. Tidak lama handphone nya berdering, layar dari handphone itu menunjukan nama Andini. Rinjani kemudian mengangkat telepon dari sahabatnya itu.
“Halo, ada apa Din?”
“Halo Jani, kita keluar yuk malam ini. Aku dengar di alun-alun ada pasar malam.” Mendengar ajakan sahabatnya itu Rinjani langsung tersenyum dan tidak lagi menangis. “Seriusan!! Aku mau ikut kalau begitu. Felicia ikutkan?”
“Pastinya ikut dong dia kan selalu ikut.”
“Oke! Aku mau ikut!”
”Oke sampai ketemu nanti malam jam 6 sore ya, nanti langsung aja ke alun-alun.” “Okee, byee Andin.”
Rinjani langsung menuju lemari pakaiannya memilih pakaian yang akan dia kenakan. Dia akhirnya memilih celana panjang dan baju berwarna hitam, tidak lupa dengan cardigan merah mudanya. Jam telah menunjukkan pukul 5 sore, itu artinya Rinjani sudah harus bersiap untuk pergi. Setelah dirasa sudah siap Rinjani keluar dari kamarnya dan tidak menemukan
seseorang dirumah. Rinjani akhirnya memilih mengirimkan pesan kepada orangtuanya untuk izin dan dia segera pergi menuju alun-alun.
Tepat sesuai perjanjian Rinjani sampai di alun-alun pada pukul 6 sore dan langsung bertemu dengan kedua sahabatnya.
“Halo guys. Kalian udah lama disini?”
“Ga, kok. Kita juga belum lama sampainya.” Jawab Felicia.
“Iyanih, ayok kita jajan dulu.” Timpal Andini.
‘AYOK!” Jawab mereka dengan kompak.
Mereka bertiga menikmati hiburan yang ada di pasar malam itu sambil menikmati jajanan dan juga wahana yang tersedia di pasar malam itu. Sampai jam menunjukkan pukul setengah 9 malam, yang dimana Rinjani seharusnya sudah pulang ke rumah.
“Udah jam setengah 9, aku pulang duluan yaa. Aku takut bunda sama ayah mencari aku.” Titah Rinjani dengan khawatir.
“Oke, bareng sama kita aja kebetulan kita juga mau pulang.” Saran Andin dan diberi anggukan oleh Felicia.
“Memangnya ga repotin kalian berdua kalau harus antarin aku dulu?” Tanyaku karena merasa tidak enak hati kepada kedua sahabatnya.
“Gapapa ayok, kita yang nawarin kamu buat bareng sama kita.” Pertanyaan Rinjani dijawab oleh Felicia.
Akhirnya Rinjani pulang bersama kedua sahabatnya menggunakan mobil Felicia. Andini dan Felicia dengan senang hati mengantarkan Rinjani pulang ke rumahnya.
Tidak lama kemudian mereka bertiga sampai di kediaman Rinjani. Rinjani langsung turun dari mobil Felicia dan setelah berpisah dia langsung masuk ke dalam rumahnya. Di ruang tamu sudah ada ayah dan bunda yang menunggu Rinjani pulang. Sang bunda langsung menatap sinis ke arah Rinjani yang baru memasuki ruangan.
“Bagus ya kamu, bukannya belajar malah keluar malam-malam!” Ucap sang bunda “Ayah dengar dari bunda kamu katanya kamu dapat nilai 85 ya di ulangan Matematika?!” Timpal sang ayah kepada Rinjani.
“I-iya, yah. Maafin Rinjani yah.” Ucap Rinjani dengan suara yang sedikit serak dan ketakutan. Dan secara tiba-tiba PLAK. Rinjani dipukul pada bagian pipinya oleh sang ayah. “DASAR ANAK BODOH!! Kamu memang tidak pernah bisa membuat kami bangga!” Bentak sang kepala keluarga kepada Rinjani. Kemudian ayah Rinjani membawa Rinjani ke ruangannya. Di dalam ruangan itu Rinjani dipukul menggunakan rotan ayahnya hingga menimbulkan bekas luka pada tubuh Rinjani. Mendapatkan hukuman dari orangtuanya karena mendapat nilai dibawah 95 sudah biasa bagi Rinjani. Walaupun harus menahan rasa sakit pada tubuhnya Rinjani tetap berusaha untuk tetap tegar.
“KAMU MEMANG DASAR ANAK PEREMPUAN BODOH!! KAMU LEBIH PANTAS KALAU MENJADI PEMBANTU SAJA!!” Berbagai cacian dan makian Rinjani terima dari mulut sang ayah. Rinjani merasa sakit hati akibat ucapan ayahnya dan dia hanya bisa menangis dan merasakan tubuhnya yang terus dipukuli ayahnya.
Setelah semalaman dipukul oleh ayahnya Rinjani hanya berada di kamar miliknya dan terus menangis. Hati dia merasa sakit karena dicaci oleh ayah kandungnya sendiri, ditambah sekarang ditubuhnya terdapat banyak luka bekas pukulan rotan
ayahnya. Dan kini dia harus menjalani hari-harinya sebagai seorang siswa di sekolah. Seperti hari biasanya Rinjani akan berkumpul bersama sahabatnya. Namun, keanehan mulai dirasakan oleh kedua sahabatnya.
“Rinjani, kamu kenapa kaya lemas begitu? Kamu lagi sakitk ya?” Tanya Felicia karena dia sudah merasa sangat khawatir pada Rinjani.
“Aku gapapa kok Fel, aku ga lagi sakit juga.” Jawab Rinjani.
“Tapi kamu kayak keliatan lagi sakit Jani.” Bantah Andini.
“Kamu ga dipukulin lagi sama ayah kamu lagikan Jani?!” Ucap Felicia dengan perasaan khawatir. Rinjani hanya terdiam tidak membalas ucapan Felicia.
“Kamu emang ga capek diperlakuin begitu terus sama keluarga kamu Jani? Kamu mau gak tinggal sama aku aja, aku kasihan lihat kamu yang terus diperlakuin gak adil sama keluarga kamu.” Ucap Andini dengan prihatin kepada Rinjani.
“Mereka masih sayang sama aku kok!” Ucap Rinjani dengan penuh kepercayaan diri. Setelah mengatakan hal tersebut kepada sahabatnya, Rinjani langsung kembali menuju kelasnya.
Setelah selesai menjalan harinya di sekolah Rinjani kembali ke rumahnya. Namun, saat sampai di rumah Rinjani menemukan kedua orangtuanya sedang bertengkar. Mereka saling memaki dan melontarkan kata-kata kasar. Kejadian tersebut membuat keadaan mental Rinjani menjadi menurun. Dia memutuskan untuk berlari masuk ke dalam kamarnya dan mengurung dirinya di kamar.
Tidak lama Rinjani mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya. Dia lantas membuka pintu kamarnya dan melihat ayahnya yang berdiri di depan kamarnya.
“Ayah, ada apa?” Tanya Rinjani dengan suara lirih akibat menangis.
Ayahnya langsung menarik Rinjani keluar dari kamarnya dan membawanya keluar dari rumah. “PERGI KAU!! AKU TIDAK MAU KAU ADA DI RUMAH INI! KAU SAMA SAJA DENGAN BUNDAMU!” Bentak ayahnya pada Rinjani.
“Tapi kenapa ayah?! Aku tidak melakukan kesalahan apapun.” Bela Rinjani. “Aku sudah muak dengan bundamu! Dan sekarang kau harus pergi dari rumah ini, sama seperti bundamu! Dasar anak bodoh!”
Rinjani berlari meninggalkan rumahnya itu dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Dia berlari menuju rumah sahabatnya Felicia, berharap sahabatnya tersebut mau membantunya.
Setelah menempuh perjalanan menuju rumah Felicia yang sedikit jauh dari rumah Rinjani, akhirnya dia sampai di rumah sahabatnya itu. Rinjani langsung memencet bel rumah Felicia, dia merasa sedikit tidak enak hati pada sahabatnya itu. Hingga akhirnya, Felicia keluar dan menemukan Rinjani yang terlihat berantakan dan lemas.
“Rinjani, ada apa? Kamu kenapa?” Tanya Felicia dengan perasaan sedikit panik.
“Aku....diusir oleh ayahku Fel. Dia tadi bertengkar sama bunda terus ayah usir bunda dari rumah. Dan sekarang dia juga usir aku dari rumah, Fel.” Cerita singkat Rinjani, sampai ia tak kuasa menahan isak tangisnya.
“Astaga, Rinjani. Kamu yang sabar ya, ayok kamu masuk dulu ke dalam rumah.” Ajak Felicia agar dia bisa membuat Rinjani tenang.
Rinjani mengikuti sahabatnya itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Di dalam kamar, Rinjani terus menangis. Dia merasa sakit hati denga napa yang telah di perbuat ayahnya kepada Rinjani. Sementara sebagai sahabat yang baik, Felicia terus memberi Rinjani semangat sambil mengobati beberapa luka yang Rinjani dapat akibat perbuatan ayahnya. Rinjani merasa sedih, karena dia tidak pernah mendapatkan perhatian seperti yang dia dapat dari sahabatnya tersebut. Dia merasa beruntung memiliki sahabat seperti Andini dan Felicia.
Tidak lama setelahnya, Andini pun sampai di rumah Felicia karena Felicia yang menyuruh Andini untuk datang ke rumahnya.
“Halo, maaf aku lama datangnya.” Ucap Andini yang baru saja sampai. “Iya Din, gapapa kok. Rinjani udah sama aku.” Balas Felicia sambil memeluk Rinjani. Andini dan Felicia berusaha untuk memberi semangat kepada Rinjani yang sedang berada di fase terendahnya.
“Rinjani, kamu masih ada kita berdua. Jadi, jangan sedih kayak gini dong.” Hibur Andini pada Rinjani.
“Terima kasih ya, kalian selalu ada disisi aku saat aku lagi ada masalah.” Kata Rinjani setelah sedikit tenang.
“Iya, Rinjani. Kamu jangan sungkan kalau kamu butuh bantuan, kami selalu siap buat kamu.” Titah Andini dengan senyuman yang manis.
“Iya kamu bisa tinggal sama aku kok, jadi aku punya roommate deh.” Ucap Felicia dengan nada senang karena mendapat teman sekamar.
Tangis Rinjani pecah karena melihat sikap empati sahabatnya kepada Rinjani. Dia bahkan tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan mereka berdua. “Terima kasih semua. Aku gabisa balas kebaikan kalian semua. Aku sayang sama kalian.” Ucap Rinjani dengan suara diiringi isak tangisan.
“Gapapa Rinjani, kalo kamu bosen di rumah Feli kamu bisa nginep aku kok.” Tawar Andini yang membuat mereka terkekeh.
“Maaf yaa, kalau aku menyusahkan kalian.” Tidak enak Rinjani pada kedua sahabatnya.
Rinjani sangat beruntung dan senang mendapatkan sahabat baik seperti Felicia dan Andini. Selain mereka baik, mereka juga sangat perhatian kepada Rinjani. Mereka sangat mengerti apa yang Rinjani rasakan.
Selang beberapa tahun, Rinjani telah menamatkan pendidikannya di SMA. Ia sekarang melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi di daerah Jawa Barat. Ia merasa senang karena dapat melanjutkan pendidikannya sampai ke perguruan
tinggi, semua itu dapat raih karena kerja kerasnya dan usahanya dalam belajar sampai akhirnya dia masuk fakultas kedokteran.
Tentu dari semua itu tidak terlepas dari bantuan kedua sahabatnya, yaitu Felicia dan Andini yang selalu mendukung dan memberinya semangat untuk tidak menyerah. Dan sekarang Rinjani sudah kuliah sambil bekerja, dimana uang hasil bekerjanya itu dia gunakan untuk membayar biaya kuliahnya. Walau pun hasilnya tidak begitu besar dia mampu mengatur
keuangannya itu dengan baik.
Tentu saja Rinjani juga mendapat bantuan untuk membayar biaya kuliahnya itu dari orangtua kedua sahabatnya dan pastinya dari Felicia dan Andini yang selalu bersimpati pada Rinjani. Rinjani sudah sempat menolak untuk kuliah namun, kedua sahabatnya tetap memaksanya untuk masuk ke perguruan tinggi, yang pasti dengan bantuan orangtua Felicia
untuk membujuk Rinjani. Rinjani merasa bahagia walau dirinya di usir oleh ayahnya dan tidak dipedulikan di keluarganya, dia sangat bersyukur karena memiliki sahabatnya yang sudah dia anggap seperti keluarga baginya.
Dan sudah beberapa tahun dia tidak mendengar kabar tentang keluarganya. Walau Rinjani sangat rindu dengan keluarganya namun, saat ini fokus Rinjani adalah tentang pendidikannya. Dia tidak mau kedua sahabatnya dan orangtua sahabatnya merasa kecewa kepada Rinjani. Karena mereka sudah berbaik hati ingin membiayai kuliah Rinjani dengan senang hati.
She never gives up in the face of all the problems she encounters, because she has good friends. Dia berjanji akan menjadi dokter yang mampu menyembuhkan semua orang, sesuai dengan impiannya, dan pastinya sepertinya seperti sahabatnya yang telah menyembuhkan dari rasa sakit hati yang dia dapat dari keluarganya.
Jadi, setiap masalah selalu terdapat jalan keluarnya. Kita harus bijak dalam menyikapi masalah yang kita hadapi. Kita harus mencontoh Rinjani yang selalu sabar dalam menghadapi masalah di dalam keluarganya. Dan kita jangan sungkan untuk meminta pertolongan orang lain jika kita tidak sanggup menghadapi masalah itu sendiri.
Kita juga harus berusaha dengan sungguh-sungguh dalam mengejar impian kita. Jangan menyerah hanya karena masalah yang sedang kita hadapi. Yakin kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa kita bisa menyelesaikan masalah itu. Karena Tuhan tahu seberapa kuat dan sabar kita dalam menerima ujian darinya. Terus berusaha dan juga harus terus doa kepada Tuhan. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan jika kita selalu berdoa padanya. Hal tersebut terjadi pada Rinjani yang berhasil masuk fakultas impiannya, yaitu falkultas kedokteran sesuai dengan impiannya sejak kecil.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar