SENTARI - NURUL HANDAYANI

 SENTARI

BY : NURUL HANDAYANI


Matahari terbenam selalu membawa hal yang baru, begitu juga dengan seorang gadis yang bernama Mentari. Seorang gadis yang memiliki kehidupan yang tidak ia harapkan. Mentari tinggal seorang diri, orang tua nya menaruhnya di Panti asuhan pada saat ia masih bayi. Namun, saat usianya sudah menginjak 18 tahun dan sudah lulus SMA, Mentari memutuskan untuk keluar dari Panti asuhan dan memulai hidupnya seorang diri. Ia memutuskan untuk tinggal di Bandung. Ia juga sampai saat ini tidak mengetahui siapa orang tua nya. Karena, setiap Mentari bertanya kepada pihak Panti asuhan mereka selalu menjawab tidak tahu, orang tua mu hanya menaruh mu di dalam keranjang bayi dan di letakkan di teras Panti asuhan.Namun, pihak Panti asuhan sempat memberi selembar surat kepada Mentari yang dimana itu merupakan surat yang ditaruh oleh orang tuanya di dalam keranjang bayi nya.

“ Siapa pun yang membaca ini kami mohon

jaga putri kecil kami dengan baik. Kami percaya 

bahwa tempat ini adalah tempat terbaik untuk 

putri kami di didik dan di besarkan. Kami sadar 

bahwa kami tidak cukup baik untuk melakukan itu. 

Jika putri kami Sudah remaja nanti,

berikanlah surat ini padanya

“Anakku, Mentari…, maafkan ayah dan mama, kami tidak bisa menjadi orang tua yang baik untukmu. Tapi, perlu kamu ketahui nak, kami sangat menyayangi mu, hidup kami terlalu keras untukmu kami tidak mau kau mengikuti hidup kami, kami mau kau bahagia, Mentari…”

Sekali lagi Kami mohon dan terimakasih.”

Sekarang, Mentari sudah dewasa ia sadar bahwa ia tidak boleh terus menerus larut dalam kesedihan, Mungkin ini memang jalan yang diberikan oleh Tuhan padanya. Kini Mentari Bekerja Di sebuah Toko bunga. Di toko bunga itulah Mentari bertemu dengan sosok lelaki yang bisa merubah hidupnya menjadi tidak kesepian dan hampa lagi. Yaitu, Senja Mahesa Bagaskara. Ia merupakan sosok lelaki yang menemani hari-hari Mentari. Awalnya,Mereka bertemu karena Senja ingin membeli Bunga untuk mamanya. Dan semenjak itu Senja menjadi sering menemui Mentari.

Angin – angin di pagi hari serta sedikit hangat dari Matahari yang baru saja terbit membuat tubuh Mentari merasa hangat ketika sedang Menyirami bunga yang tertata rapih di dalam pot.

“Indah banget, bunga emang ga pernah gagal buat siapa pun yang melihatnya menjadi menyukai keindahannya.” Ucap mentari sembari melihat bunga-bunga yang telah ia tata rapih di toko bunga.

”Bunga emang ga pernah salah, dan ga pernah gagal seperti yang kamu bilang tadi, selama saya mendirikan toko bunga ini,saya selalu bahagia,bahagia ketika melihat bunga-bunga bermekaran, bahagia ketika melihat seseorang yang diberikan bunga oleh orang yang ia sayang, bahagia terasa sederhana semenjak saya mengenal bunga.” Ucap Kak Joana yang merupakan pemilik toko bunga tersebut.

“Iya benar kak, bunga memang seindah itu.” Ucap Mentari yang menanggapi perkataan Kak Joana.

Tak lama setelah itu, Mobil Jeep berwarna hitam pun terparkir di area depan toko bunga. Itu adalah mobil Senja, lalu ia masuk ke dalam area toko bunga

 “Permisi.” Ucap senja yang datang mengunjungi toko bunga.

“Selamat datang.” Sambut Mentari sambari sibuk membenarkan apronnya.

“Hai,Apa kabar Mentari?” Sapa Senja sekaligus menanyakan kabar Mentari.

Menyadari Suara itu Mentari sedikit kaget dan ketika dilihat benar rupanya ada Senja.

Mentari tersenyum. “Hai,Kabar baik Senja. Mau beli bunga?” tanya Mentari, karena Mentari sangat gugup entah mengapa.

Senja tertawa kecil. “Ngga, aku kesini mau bicara sama kamu.”

“Bicara soal apa?” tanya Mentari sedikit penasaran.

“Kamu pulang dari Toko Bunga jam berapa?” Jawab Senja sekaligus bertanya kepada Mentari

“Jam 3 Sore sih biasanya, kenapa Senja?” Mentari sedikit heran, karena tiba-tiba saja Senja menanyakan hal itu.

“Aku mau ngajak kamu ke salah satu tempat. Ga jauh kok, mau ga?. Maaf ya aku secepat ini ngajak kamu jalan padahal kita baru kenal.” Senja sangat takut jika Mentari mengira yang aneh-aneh mengenai dirinya.

Mendengar hal itu,Mentari berpikir sejenak lalu menjawab “Boleh … lagi pula aku nanti sore ngga ada kegiatan.” Mentari menerima ajakan Senja karena menurutnya tidak ada salahnya juga jika ia ikut dengan Senja nanti sore, ia bisa merasakan jika Senja ini orang baik dan ia juga nyaman berada di dekat Senja.

Senja yang mendengar hal itu bernafas lega. “Serius?” tanya Senja meyakinkan Mentari.

“Serius Senja.” Senyum Mentari terpancar di wajahnya.

”Oh ya, rumah kamu dimana? biar nanti aku jemput.” Senja menanyakan alamat rumah Mentari.

“Ga jauh dari sini kok. Di jalan Dago kamu cari aja kost-an ibu Ning.”

“Oke siap, aku jamin kamu ga akan nyesel ikut aku kali ini.” Ucap Senja dengan senyum yang tulus.

“Iya Senja, aku percaya.” Membalas dengan senyuman pula.

“Ya sudah, sampai bertemu nanti sore Mentari.” Ucap Senja sembari pergi dan melambaikan tangan kepada Mentari yang dibalas dengan lambaian tangan Mentari pula. 

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Dengan menggunakan gaun berwarna biru muda dan rambut yang tergerai Mentari pun sudah siap untuk pergi bersama Senja.

“Neng tari, ada tamu tuh.” Ucap Ibu Ning.

Mentari sudah menebak bahwa itu adalah Senja.

“Iya ibu makasih ya udah kasih tau Mentari, ini Mentari mau turun.” Ucap Mentari lalu berpamitan dengan Ibu Ning.

 Sesampainya di bawah ia mendapati Senja yang Sedang bersandar di depan mobilnya.

“Hai Mentari, Cantik sekali.” Senja benar-benar memuji Mentari dengan suara yang lantang.

“Hai, Terima kasih Senja.” Jujur Mentari rasanya ingin teriak ketika Senja memuji nya seperti itu.

Senja pun membuka kan pintu mobil untuk Mentari “Silakan.” 

Sekarang mereka sudah berada di dalam mobil, selama di perjalanan mereka tidak banyak bicara. Mereka pun sampai di Kiara Artha Park pada jam 6 sore. Tempat itu memang sangat terkenal di Bandung, biasanya orang-orang melihat Senja disana.

“Gimana?, bagus ga tempatnya?” tanya Senja dengan ceria.

“Bagus banget Senja,sekarang langitnya juga udah mulai Jingga.” Mentari tidak bisa membohongi raut wajahnya, ia sangat menyukai tempat ini. Tidak terlalu ramai, angin yang tidak terlalu kencang, langit yang sudah mulai menjingga dan tentunya Senja Mahesa Bagaskara yang membuatnya semakin merasa tenang.

“Duduk disana yuk.” Senja menunjuk salah satu bangku yang berada di sana.

Mereka pun berjalan menuju bangku itu.“Kamu duduk disini dulu ya, aku mau beli hot chocolate.”

Mentari pun mengangguk dan Senja yang tidak ingin meninggalkan Mentari sendiri terlalu lama, ia berlari ke mobil untuk mengambil bunga Dandelion yang akan ia berikan kepada Mentari. Lalu, ia memesan 2 hot chocolate di salah satu cafe. Setelah itu, Senja pun kembali menghampiri Mentari yang tengah duduk seorang diri.

“Aku bawakan bunga Dandelion untukmu, Mentari …” Ucap Senja yang kemudian duduk di samping Mentari.

Mentari yang melihat itu hanya shock dan menutup mulutnya. Mentari masih tidak menyangka bahwa bunga yang ia dapat pertama kali itu adalah bunga dandelion, bunga yang menjadi favoritnya sejak masih kecil. 

“Kenapa kamu kasih aku Dandelion?” tanya Mentari.

“Jadi, Dandelion itu melambangkan Pertumbuhan dan kehijauan setelah Musim dingin yang keras. Aku memang ga tahu banyak tentang kamu. Cuma aku tahu sedikit dari kak Joana tentang kamu. Aku Cuma mau kamu memulai hidup kamu yang baru dengan lebih kuat dan aku akan selalu ada untukmu. Senja akan selalu ada untuk Mentari begitu pun sebaliknya.” Senja menjelaskan panjang lebar kepada Mentari yang membuat Mentari terharu karena dandelion yang diberikan Senja ini memiliki arti yang sangat dalam untuk kehidupan Mentari.

“Senja terima kasih ya … Terima kasih telah membuat aku merasa di rayakan. Terima kasih telah membuat aku tenang, terima kasih telah membuat aku tidak lagi menjadi ruang kosong dan hampa. Perkenalan yang begitu singkat dengan mu namun sangat berarti bagi ku.” Mentari mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Senja. Ia merasa sangat bersyukur sekarang.

Kini Mereka berdua sedang memandangi Senja, sembari menikmati hot chocolate mereka berdua belum menyatakan apapun mengenai perasaan mereka. Tetapi, perasaan tersirat mereka sudah sama-sama mengatakan nyaman dan cinta. Sekarang Mentari sedang menyandarkan kepalanya di bahu Senja. Mereka pun menikmati Senja di kota Bandung yang di mana itu adalah impian Mentari sejak dulu. Sekarang mereka sedang berbincang-bincang.

”Nama mu sangat indah, Kamu harus berterima kasih kepada siapapun yang telah memberikanmu nama itu.” Ucap Senja memuji Mentari.

“Iya Senja, Mentari memang indah.Tapi … tidak dengan ku.”Mentari tersenyum pahit

“Kamu jauh lebih indah dari Mentari. Bahkan aku yang baru bertemu dengan mu, sudah bisa merasakan keindahan yang ada pada diri kamu.” Senja Menimpali Perkataan Mentari tadi.

“Terima kasih Senja.”

“Kalau boleh tahu, kamu kenapa mau kerja di toko bunga?” tanya Senja dengan sedikit penasaran 

”Aku itu suka banget sama bunga, bunga yang ngajarin aku kalau ketenangan dan keindahan itu nyata. Karena, selama aku tidak mengenal bunga, Mungkin aku sampai sekarang belum paham apa arti ketenangan dan keindahan.” Jelas Mentari kepada lelaki tersebut.

Lelaki itu mengangguk tanda ia mengerti apa yang diucapkan oleh Mentari. “Keren sekali.” Ucap lelaki tersenyum bangga.

Setelah itu tiba-tiba Senja pun berbicara

“Mentari … Aku ingin menjadi Senja yang menemani mu dikala hidup mu sedang redup dan aku ingin kamu menjadi Mentari di kala hidup ku tengah redup. Apakah kamu mau dan mengizinkan aku untuk itu Mentari?” ucap Senja yang membuyarkan lamunan Mentari.

Mentari mengangkat kepalanya yang sedari tadi bersandar di bahu Senja lalu menatap Senja dengan hangat. Ia tidak menemukan keraguan disana, ia tidak lagi memikirkan jawaban. Karena ia sudah sangat jatuh hati pada lelaki di hadapannya. Lelaki yang menjadi cinta pertamanya. Dan bagi Senja, Mentari juga Merupakan Cinta pertamanya. Mentari mengizinkan Senja untuk menjadi Senjanya setiap hari. Dan Mentari juga bersedia untuk menjadi Mentari bagi Senja setiap saat bukan hanya ketika hidup Senja sedang redup saja.

 “Terima kasih Mentari … Kamu adalah Mentari Pertama ku yang membuat aku jatuh hati. Kita akan Menjadi Sentari Senja dan Mentari yang saling melengkapi. Aku Menyayangimu Mentari.” Ucap Senja dengan perasaan yang sangat bahagia.

Mentari membalas perkataan Senja. “Aku lebih Menyayangimu Senja.”

Senja membawa Mentari ke dalam pelukannya. Mereka merasakan rasa yang nyaman. Detak jantung yang saling bertemu juga membuat pelukan mereka semakin hangat.

Kisah Senja dan Mentari kini telah selesai, kisah nya begitu singkat untuk diceritakan tapi begitu panjang untuk dijalani. Mereka akan menjadi Sentari selamanya. Mereka akan membuat cinta pertama mereka Seindah Senja dan Mentari Juga Seindah bunga dandelion yang menjadi saksi kisah cinta mereka. Tak lupa juga dengan Bandung yang membuat kisah mereka semakin indah.

Bagi mereka, cinta adalah Tentang kekuatan, Tentang Kenyamanan dan Tentang ketenangan.


Komentar

Postingan Populer