SI SULUNG & LUKANYA - KESYA ECHA WULANDARI

Letteaaa




Si Sulung

&

Lukanya




THANKS TO


TERIMAKSIH untuk bapak/ibu guru yang sudah memberikan kesempatan saya untuk menulis. Terima kasih dukungan bapak/ibu guru untuk membantu saya menulis, terimakasih juga kepada teman-temanku yang sudah mensupport saya selama penulisan ini.

          Saya juga sangat berterimakasih kepada diri saya sendiri yang sudah bersemangat menulis, agar bisa mewujudkan impian saya untuk menjadi penulis.

          Berkat dukungan kalian semua, saya berhasil menyelesaikan penulisan ini hingga terbit. Saya sangat senang jika karya saya dibaca oleh orang lain. Terimakasih.




PROLOG


“KAMU tuh emang dasar anak yang gatau diuntung ya!”.

          Malam yang yang menjadi malam yang paling menakutkan bagi anak gadis yang baru beranjak usia 16 tahun. Malam itu menjadi saksi bagaimana luka yang menyakitkan diberikan kepada Damara dari kedua orang yang seharusnya menyayanginya. 

          “Aku lelah, kenapa tidak kalian bunuh saja anak yang tidak diuntung ini, bu?”. Balas Mara dengan suara yang dicampur isak tangis.

          Setelah mendengar perkataan sang anak, ibunya hanya bisa diam dan tidak tau harus membalas dengan kata apa. Damara terus mengeluarkan tangisannya itu di depan kedua orang tuanya. 

          Mara merasa lelah dengan apa yang telah terjadi di hidupnya tadi pun, ia memutuskan untuk keluar rumah dan menuju pada tempat untuk membuang semua isi pikirannya malam itu.

          Setiap malam, Mara selelu pergi ke danau dekat taman yang sering ia kunjungi untuk mengeluarkan isi di pikirannya yang sangat berisisk.

          Disanalah, Mara kembali menumpahkan air matanya. Mara yang selalu berfikir, kenapa orang tua yang seharusnya menjadi pendukung ini malah sebaliknya. Orang tua yang selalu memberi luka bertubi tubi pada dirinya.

          Mara mulai melepaskan pikirannya yang mengganjal yang ada di dalam hati maupun pikirannya. Gadis malang yang mempunyai kedua orang tua lengkap, namun tidak mendapatkan peran mereka sebagai ibu dan ayah.

          Tuhan, Mara juga ingin disayang, Aku mau tidak ada suara-suara bising di kepalaku lagi.




DAMARA RUMMIE DIRAMA

Si anak sulung yang memiliki sifat yang humoris, cantik dngan rambut khas dia yang berwarna hitam tebal itu. Gadis yang pandai menutupi luka dengan keceriaannya.


CHAPTER  1



Berharap Kasih Sayang


PAGI ini Damara sudah bersiap untuk berangkat ke sekolah. Mara berniat untuk meminta dibawakan bekal oleh ibunya. Setelah keluar dari kamarnya, namun pandangannya teralihkan pada sekelompok keluarga yang sangat serasi sedang sarapan bersama. Niat Mara yang ingin minta dibawakan bekal pun terurung. Orang tua Mara sama sekali tidak menyadari ada anak sulungnya itu. Mara yang tersadar akan hal itu pun segera bergegas keluar rumah, Mara yang sudah bete itu pun segera berangkat ke sekolah menggunakan ojek online.

          Setelah sesampainya di kelas, Mara sudah disambut oleh sahabatnya, namanya  Aralia yang biasa dipanggil, Lia.

          “Hei Mara!!” Lia menyapa dengan semangat.

          Damara hanya membalas dengan senyuman. Lia menyadari bahwa sahabtnya ini sedang tidak baik-baik saja.

          “hei!, cemberut aja nih, kenapa si?” Lia bertanya dengan penuh penasaran.

          “Gapapa kok, Lia!” Mara membalas dengan penuh keyakinan.

          Lia pun berfikir dan memikirkannya selama pelajaran dimulai hingga jam istirahat telah tiba. Lia berusaha mencerna, ada masalah apa dengan sahabatnya itu.

          Setelah mendengar jam istirahat berbunyi, Mara yang selalu senang saat jam istirahat pun segera menarik tangan sahabatnya itu ke kantin.

          “Eh eh, sabar dulu dong” Lia sontak terkejut ketika Mara tiba-tiba menarik tangannya dan berlari.

          “Gabisa tau, Lia, nanti kita bisa-bisa ga kedapetan tempat loh!” Jawab Mara yang terlihat semangat menuju kantin.

          Lia yang sudah terbiasa dengan sifat Mara yang seperti itu pun hanya bisa menghela nafasnya. Namun di dalam hati Lia dia juga ikut senang, karena bisa melihat Mara yang selalu tersenyum bahagia ketika sedang bersamanya. 

          Setelah sampai di kantin, Lia langsung menempati tempat duduk, dan Mara bertugas untuk memesan makanan. Mara terlihat sangat ahli ketika sedang menyelip antrian, karena keahlian Mara pun, Lia jadi sangat senang bisa mendapatkan makanan tanpa menunggu lama.

          “Wah, kamu memang selalu keren, Mar’ Ucap Lia sembari tersenyum bangga dan mengacungkan kedua jempol miliknya kea rah Mara.

          “Iya dong” Mara menjawab dengan senyuman khas Mara kepada Lia.

          Selesai makan, dua gadis itu pun kembali ke kelas. Siswa/siswi di sekolah itu sangat tidak heran dengan dua gadis itu, pasalnya mereka memang selalu bersama dan tidak bisa terpisahkan. Anak-anak di sekolah itu pun sudah menggap mereka seperti anak kembar, karena memang lama-lama wajah mereka berdua hamper mirip, layaknya anak kembar. 

          Tak terasa bel pulang sudah berbunyi, Mara yang terlihat kembali murung sama seperti ia berangkat tadi pagi. Mara sedih jika harus berpisah dengan Lia, dan harus berkelahi dengan suasana di rumahnya.

         

          Setelah berpisah dengan Lia, Mara terlihat kebingungan untuk memilih, antara langsung pulang ke rumah atau merenungkan isi kepalanya yang berisik itu di taman. Dan akhirnya Mara memilih untuk pergi ke taman, dan memutuskan untuk telat pulang kerumah.

          Menuju taman, Mara memilih untuk berjalan kaki, karena taman yang biasa ia kunjung tak jauh dari arah sekolahnya. Setibanya di taman, Mara segera menuju kursi taman yang biasa ia duduki. Mara melamun berusaha untuk mengurangi isi kepalanya yang sudah terlalu berisik.

          Tak tersadar, air mata Mara menetes, jujur ia sudah tidak sanggup dengan beban pikiran di umur dia yang seharusnya, hanya memikirkan pelajaran dan main saja. Menjadi anak sulung itu memang tidak mudah, ia harus selalu mengalah dengan adiknya. Dia juga harus menyimpan semua harapan orang tuanya semua di pundaknya.

          Setelah cukup untuk mengosongkan pikirannya, Mara pun memutuskan kembali ke rumah. Walau hatinya memiliki rasa berat hati untuk pulang. Bagi Mara, taman itu tempat ternyaman untuk membuang semua isi pikirannya yang penuh itu. Karena disitulah, Mara tidak harus menjadi orang lain untuk menutupi masalah-masalah yang menimpa dirinya.

          Sesampainya di rumah, Mara langsung mendapatkan cacian dari sang ibu.

          “Kemana saja kamu? Anak perempuan jam segini baru pulang, mau jadi apaan kamu?”. Cacian itu berhasil keluar dari mulut sang ibu.

          Mara yang kaget itu pun, hanya bisa terdiam dan menahan sesak di dadanya. 

          “Maaf, bu” ucap Mara yang sudah bosan dengan cacian dari ibunya tersebut.

          Mara yang merasakan sesak di dadanya, tanpa pikir panjang segera bergegas menuju kamarnya, tanpa memperdulikan sang ibu. Sesampainya di kamar, Mara  yang tak kuat menahan air matanya itupun, segera meneteskanya detik itu juga.

          Dada Mara sangat sesak, yang baru tadi sore ia keluarkan semua isi pikirannya, sekarang malah harus bertambah. 

          “Kenapa kalua aku yang pulang telat, selalu mendapatkan cacian dari ibu?” Mara yang mencoba berbicara, walau sulit karena isak tangisnya.

          “Ibu tidak tau, hati Mara sehancur apa sekarang. Aku juga butuh ibu, untuk menghibur aku ketika aku sedang merasa dunia ini tidak baik-baik saja” 

          “Bukan malah memberi Mara cacian seperti ini.” Lanjutnya.

          

          





“Ibu, aku lelah, aku butuh pelukan hangat darimu, bukan malah cacian yang kau berikan padaku”.


          







“Ayah, apakah dirimu tidak ada niatan untuk membantuku dari cacian ibu, yah?”








“Anak pertama gaboleh nangis! Anak pertama harus menjadi sosok yang paling kuat”




              Dengan berat hati, Damara memutuskan untuk kabur dari rumah. Mara berniat untuk pergi mengunjungi rumah sahabatnya, namun Mara memutuskan untuk mampir terlebih dahulu di taman yang selalu menjadi saksi luka-luka Damara. 

          Damara melamun untuk mengeluarkan semua isi pikirannya yang sudah penuh, satu-satunya cara untuk mengosongkan pikirannya Mara memilih untuk berdiam diri di taman tanpa menceritakan kepada orang lain. Karena menurut Mara dirinya sendirilah yang akan membantu, orang lain tidak mungkin bisa menerima cerita sedih miliknya.

           Sudah sekitar 2 jam Mara disana, namun isi pikirannya tak kunjung kosong. Alhasil ia memilih untuk berdiam diri disana dan membatalkan kunjungannya ke rumah sahabatnya. 

          Tanpa Mara sadari langit yang awalnya terang kini menjadi gelap, yang menantadakan waktu malam telah tiba. Tapi Mara masih bertahan di posisinya yang sedari tadi siang duduk di kursi taman itu sendirian.

CHAPTER 2



Luka


Damara lupa kalau hari ini ia harus berangkat ke sekolah, mata bekas menangis semalam meninggalkan bekas yang begitu nyata. Mara si gadis cerdas itu pun akhirnya memutuskan untuk menggunakan kacamata yang ia miliki. Setelah merasa sudah siap untuk berangkat, ia pun segera keluar dari kamar tidurnya. Saat ia keluar terdapat ibunya yang sedang memasak untuk sarapan, namun Mara tidak memperdulikan keberadaan sang ibu. Mara langsung berjalan keluar rumah dan menunggu ojek online yang sudah ia pesan sedari ia bersiap.

          Karena jam masuk sekolah sekitar jam 07.00 dan Mara masih memiliki banyak waktu untuk menuju sekolah, ia memutuskan untuk mampir sebentar ke taman yang sering ia kunjungi. Sesampainya di taman, Mara melamun untuk membuang semua pikirannya. Mara membuka playlist Spotify miliknya dan langsung menyetelnya. 

          Playlist Spotify Mara tak jauh-jauh dengan lagu yang relate dengan kehidupannya. Seperti lagu yang berjudul daur hidup karya Donne Maula. Lirik lagu yang paling disukai gadis yang penuh luka di hidupnya

Hai perkenalkan aku jiwa yang bertahan

Sudah ditempa keras oleh banyak cerita

Mati berkali-kali tapi bisa hidup lagi

Konon jika selamat, aku semakin hebat.

          Lirik itulah yang selalu terbayang di pikirannya. Gadis yang sedari kecil sudah ditempa luka-luka dari orang terdekatnya dan tidak ada yang menyembuhkannya. Ia selalu belajar untuk berdiri sendirian tanpa ada yang membantunya, ia pun tidak berharap ada yang membantunya. Karena ia tahu bahwa luka yang dimilikinya sekarang tidak akan pernah sembuh hingga ia beranjak dewasa.

          Tersadar ketika Mara melihat jam di ponselnya itu, ia segera berlari menuju sekolahnya. Taman yang letaknya tidak jauh dari sekolahnya itu pun memungkinkan Mara untuk berlari saja.

          Beruntung Mara tidak terlambat, Mara segera bergegas menuju kelasnya. Melihat keberadaan sahabatnya yang sudah sedari menunggu kedatangan dirinya, ia langsung menghampiri sahabatnya.

          “Tumben banget kamu baru dateng, aku kira kamu ga hadir hari ini”. Tanya Lia yang sedari tadi pagi mengkhawatirkan sahabatnya itu.

          “Tadi aku mampir dulu ke taman dekat sekolah, maaf ya kalua aku bikin kamu khawatir gini” Balasnya dengan perasaan bersalah.

          Lia yang sudah tau tujuan Mara ke taman itu pun hanya bisa menghela nafasnya. Mereka ialah dua gadis yang saling melengkapi, Mara yang banyak menyimpan luka di hidupnya begitupun dengan Lia yang selalu ditekankan untuk mendapat nilai yang bagus dari kedua orang tuanya. Dua gadis yang sama-sama memiliki banyak masalah di hidupnya.

          Lia selalu menganggap Mara sebagai tempat untuk menumpahkan isi pikiran di kepalanya, Mara selalu menjadi orang pertama yang memberikan pundaknya pada Lia dan siap untuk mendengarkan semua keluh kesah yang dimiliki sahabatnya itu. Lia pun tipikal orang tidak mau ikut campur untuk masalah orang lain, menurut dia masalah yang ia hadapi saja sudah cukup membuatnya hampir gila, bagaimana jika ia mendengarkan masalah yang Mara alami, bisa-bisa kepala dia bisa meledak.

          Maka dari itu Mara memilih untuk menyimpan semuanya sendiri, karena ia tidak mau sahabatnya ikut pusing dengan masalah yang ia alami. Pundak Mara memang selalu menjadi sandaran bagi orang yang memang membutuhkan pundak untuk bersadar. Begitupun dengan telinga Mara yang selalu siap untuk mendengarkan masalah-masalah orang lain.

          Bagi Mara jika ia bisa membantu maka akan ia bantu, namun jika tidak Mara akan memberikan saran-saran atau kata-kata motivasi untuk orang itu. Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri? Yang tidak memiliki pundak untuk bersandar dan telinga untuk mendengarkannya. Seperti lirik lagu Berakhir di aku karya Idgitaf.

Jika semua bersandar padaku

Lalu aku bersandar kemana?

          “Mara, kamu mau ke kantin ga?”. Tanya Lia yang membuyarkan lamunan Mara.

          “Aku ngga dulu deh, Li. Aku mau dikelas aja, kamu kalau mau ke kantin sendiri dulu ya? Gapapa kan?”. Balas Mara yang seraya memandang ke arah jendela.


          Lia yang mendengar jawaban Mara pun segera pergi meninggalkan Mara tanpa membalas kembali pertanyaan yang dilontarkan oleh Mara.

        





          


          


      


         


           Begitulah Lia, ia selalu ingin dimengerti namun tidak mau mengerti. Mara sudah biasa dengan pertemanan seperti itu, setiap orang yang berteman dengannya pasti akan pergi. Kali ini ia berdoa agar Lia yang sekarang menjadi satu-satunya teman yang ia miliki tidak akan pernah meninggalkan dirinya. Walau Mara tau pasti ia akan terhasut dengan teman-temannya yang lain, karena memang Lia cukup anak terhitz di sekolahnya. 

Dia adalah teman satu-satunya yang aku miliki, namun aku mungkin salah satu teman yang ia miliki.


          Di sisi lain, Lia selalu membicarakan buruk tentang Mara pada teman-teman dia yang lain. Jika Mara tau, mungkin Mara tidak akan mau berteman lagi dengannya. 

          “Kalian tau ga?, tadi gue udah berusaha ajak dia ke kantin. Tapi tuh bocah songong, sok-sokan mau sendiri dulu lah”. Adu Lia pada teman-temannya.

          “Dia kalau gue ga baik hati buat nemenin dia, gabakal ada yang mau nemenin sama dia. Anak terlantar yang gapernah dianggap sama keluarganya”. Sambung Lia sembari tertawa bersama teman-temannya.

          “Aduh, emang kasihan banget dia, liat aja badannya udah kurus banget, disedot mungkin sama ibu bapaknya” Ucap salah satu temannya.

           “HAHAHA…”. Mereka sangat puas menertawakan Mara.

          Sementara itu, Mara yang sedari tadi melamun pun tertidur pulas dengan posisi kepala ditundukan ke meja dengan ditopang tangan kanannya, Terlihat bagaimana penampilannya yang setiap hari terus menerus memakan luka. Gadis ceria itu terlihat begitu mengenaskan dengan tubuh yang begitu kurus.

          Setelah bel pergantian jam pelajaran berbunyi, Lia dan teman-temannya kembali ke kelas. Lia mendapati gadis yang mukanya tertutupi dengan rambutnya yang berantakan. Menyadari hal itu Lia segera membangunkan Mara untuk melanjutkan kegiatan pelajaran.

          “Mar, bangun udah bel”. Ucap Lia sembari menepuk punggung gadis itu.

          Mara yang terkejut ketika ada yang mnepuk pundaknya, Mara pun segera bangun dan membuka ponselnya untuk mengecek bekas tangisnya semalam, apakah masih bengkak atau tidak. Untung saja sudah hilang sedari tadi ia tertidur.

          Untung saja udah hilang. Batinnya.

          “Ini udah bel dari tadi ya, Li?”. Tanya Mara pada Lia.

          “Udah.” Jawabnya singkat.

          Mara yang sudah merasakn keanehan dari jawaban sahabatnya pun langsung berfikir. Kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga sahabatnya bersikap dingin seperti itu.

          









CHAPTER 3


MENCARI RUMAH


Setelah berfikir lama, Mara memutuskan untuk pulang ke rumah. Walaupun dengan berat hati iya melangkah ke dalam rumah. Sesampainya dirumah, Mara melihat sang ayah duduk sambil memandang dirinya yang baru sampai di dalam rumah.

          “Dari mana saja kamu anak sialan!” Tanya sang ayah dengan raut wajah yang begitu marah.

          Mara menunduk ketakutan dan tidak berani menjawab pertanyaan dari sang ayah. Jujur Mara sudah siap jika ia akan mendapat pukulan dari ayahnya. 

          “PLAKK!!”. Satu tamparan mendarat tepat di pipi kanannya.

          “Apa kamu bisu? Kamu gabisa menjawab pertanyaan ayah, kamu bisu?” Tanya sang ayah lagi dengan nada yang begitu lantang.

          “Aku…”. Katanya terjeda sembari memegang pipinya kesakitan karena tamparan sang ayah.

          “Aku apa!”

          “Maaf yah, aku habis kerjain tugas di café dekat rumah”. Jawabnya dengan penuh ketakutan.

          “Anak gak tau di untung kamu ya!. Saya sudah peringatkan kamu untuk berdiam diri dirumah, kenapa malah keluyuran tidak jelas!”. 

          Mara hanya terdiam menunduk seraya takut untuk menatap sang ayah. Ayah Mara sangat menakutkan jika sudah marah, ini baru menampar saja, biasanya ia jika sudah marah tak tanggung-tanggung untuk membanting anak pertama perempuannya itu.

          Sejujurnya Mara sudah biasa dengan kejadian seperti ini. Mara bukan hanya menjadi anak yang terus-menerus diberi luka tapi ia juga menjadi samsak ketika ayahnya sedang marah. Tanpa diketahui dengan teman-teman Mara, tubuh yang selalu tertutupi dengan jaket dan cardigan itu penuh dengan tanda kasih sayang kedua orang tuanya.

          “Kamu tuh jangan bisanya cuma nangis-nangis aja”. Ketus sang ayah pada putri sulungnya itu.

          “Aku gak akan nangis kalau ayah gak sebegininya sama aku, yah”. Jawab Mara terjeda-jeda karena isak tangisnya.

          “Berani kamu menjawab pembicaraan saya, ha?!”

          “Aku tuh capek, harus terus nurut sama ayah dan ibu, tapi aku gak pernah dapat kasih sayang dari kalian. Kalian hanya bisa ngasih luka”.

          BUGG!!

          Satu pukulan berhasil mendarat tepat di bagian perut Mara. 

          Setelah mendapatkan hadiah dari sang ayah, Mara langsung terjatuh ke lantai yang sangat dingin itu. Mara sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya bisa menahan sakit di perutnya. 

           Si sulung perempuan yang seharusnya dijadikan ratu oleh ayahnya, namun Mara selalu menjadi bahan pelampiasan amarah sang ayah.

          Ayah yang seharusnya melindungi putrinya, ini menjadi pisau yang sangat tajam bagi anak perempuannya.

          Tanpa berfikir panjang, Mira segera berlari ke kamarnya. Ayah yang terus berteriak memanggilnya, Mara tidak memperdulikannya. Mara sakit, sakit sekali. Ia hanya butuh peran kedua orang tuanya, itu saja. Tapi kenapa yang ia dapat luka yang terus menerus datang tanpa berhenti.


         Mara yang berdiam diri di dalam kamar, menahan sakit di pipi kanan dan perutnya berkat karya sang ayah. Ntah sudah berapa banyak karya yang ayahnya berikan padanya. Mungkin tidak terhitung, Mara sudah tidak tau bagaimana menyembunyikan luka-luka ditubuhnya itu.

          Gadis yang sudah lelah dengan semuanya, memilih untuk menyayat lengan kirinya, sebagai tanda betapa sakit dirinya dengan alur di hidupnya.

          Mara hanya membutuhkan tempat pulang untuk mengadu keseharian dia yang lelah namun, rumah yang ia cari tidak kunjung ketemu. Ia sudah sangat frustasi, seharusnya anak yang hanya memikirkan bagaimana nilai ujiannya nanti, kini harus memikirkan banyak hal yang seharusnya tidak dipikirkan.

Pada akhirnya aku sadar, bahwa aku tidak pernah diberi waktu untuk membela diriku sendiri, semua menjadi salahku, dan aku dipaksa diam, mengerti, memahami dan menerima semuanya.

          Mara hanya ingin mempunyai rumah yang nyaman untuk ia pulangi, bukan rumah yang berisi duri-duri yang tajam dan pisau-pisau yang akan menusuknya. Ia ingin memiliki pelukan hangat, bukan pelukan pisau tajam yang menusuk dadanya.

Peluk aku saat meringkuk sesegukan

Temaniku saat kesepian.

          Apakah salah jika anak perempuan berharap untuk bisa dirangkul kedua orang tuanya?. Damara gadis yang ceria di luar sana untuk meneutupi kesedihan dan luka yang ada pada dirinya. Pikirannya sudah sangat penuh dengan semua kata-kata yang menyakitkan dari kedua orang tuanya.






          

Aku adalah si sulung yang terlahir di rumah yang begitu sepi. Aku tumbuh beriringan dengan mereka yang selalu sibuk dengan pekerjaannya.

Aku anak yang sangat membutuhkan kasih sayang dari mereka. Namun, mereka hanya bisa memberiku luka yang sangat amat susah untuk disembuhkan.

Aku selalu berdiri disini sendirian tanpa ada orang yang membantu memikul beban yang sudah sangat banyak di umurku yang masih sangat kecil.



         

         

        

           Suasana kamar Mara yang begitu menyedihkan, dengan penghuninya yang tak kalah menyedihkan. Sudah 4 jam lamanya, Mara hanya melamun di atas tempat tidurnya. Selimut outih yang sedang diduduki oleh Mara kini sudah dipenuhi dengan darah yang mengalir dari tangan kirinya. 

          Ntah sudah berapa sayatan yang tersayat di lengan kirinya namun, Mara sama sekali tidak merasakan sakit pada lengan kirinya. Mungkin karena hatinya sudah terlalu sakit, sehingga dirinya sudah tidak bisa merasakan sakit lagi.

          Mara yang sudah terlalu lama melamun pun telah tertidur pulas di atas ranjang yang sudah dipenuhi dengan darah. Ia terlihat sangat capek dengan kejadian yang baru saja menimpanya. Tamparan yang tadi dilemparkan sang ayah pada pipi kirinya meninggalkan bekas yang begitu nyata. 

          Karena terlalu banyak menangis, sekarang Mara sudah susah untuk mengeluarkan air matanya. Jujur ia sudah sangat muak dengan semuanya, terkadang ia berfikir untuk mengakhiri hidupnya namun, ia memiliki mimpi untuk ia gapai.

          Kalau bukan karena ia sayang dengan ibu dan ayahnya, mungkin ia sudah meninggalkan mereka untuk selamanya.

Tuhan… Tolong beri aku kekuatan untuk bertahan hidup disini, aku sayang ayah ibu walaupun ayah dan ibu tidak sayang aku.

          Ketika Mara sudah terbangun dari tidurnya, langit gelap berubah menjadi langit terang yang mengharuskan ia untuk berangkat ke sekolah. 

          Sesampainya di sekolah Mara segera menuju ke kalasnya. Kini ia memutuskan untuk berangkat di pagi-pagi buta. Sampai di kelas, ialah orang pertama yang hadir disana. Mara langsung menuju tempat duduknya dan melanjutkan lamunannya dengan ditemani suara-suara berisik di kepalanya.

CHAPTER 4


MENANGGUNG SEMUANYA SENDIRI


Damara adalah anak yang selalu menutupi semuanya dengan senyuman cerianya. Ia tidak ingin membebani orang lain dengan masalah-masalah yang ia alami sekarang. 

          Gadis yang penuh senyum tapi tidak dengan luka-luka yang selama ini ia tutupi dengan jaket maupun cardigan. Ia harus menanggung ekspetasi orang tuanya dan juga ia harus siap untuk bekerja keras untuk membantu menghidupi mereka. Walaupun ia tidak pernah merasakan sedikit kata selamat dari orang tuanya.

          Bukan tugas Mara untuk menanggung semua beban, Mara hanyalah gadis kecil yang belum mengetahui apa-apa. Ia hanyalah anak yang menginginkan kasih sayang dari orang tuanya. Hanya itu saja.

          Sekarang Mara sedang berada di tempat yang sudah dianggapnya sebagai tempat pulang. Kini Mara sedang berusaha mengeluarkan semua isi hati dan pikirannya. Luka Mara memang bisa sembuh namun, bekasnya tidak akan pernah hilang.

          Menjadi anak pertama memang berat, ia harus terus bangkit dan berdiri dikakinya sendiri tanpa ada orang yang ingin membantunya. Menjadi anak pertama juga harus kuat, tidak boleh lemah karena, kita adalah satu-satunya harapan orang tua untuk menjamin masa depan adiknya.

          Anak pertama juga harus bisa mengalah dan disalahkan, walaupun tidak salah pasti akan tetap salah.

          Mara sangat ingin sekali sembuh namun, tidak ada yang membantunya untuk sembuh. Kini, Mara hanya bisa mengandalkan dirinya saja, kuat atau tidak.

          Gadis yang sangat ceria itu kini berada di tengah taman, memandangi anak kecil yang begitu bahagia yang bisa bermain bersama orang tuanya. Sekarang ia sangat iri melihatnya. Jangankan untuk bermain, barbicang dengannya saja saat ia sedang dimarahi. Seperti biasa Mara selalu menggunakan headset untuk mendengar playlist yang berisi tentang lagu-lagu yang relate dengan kisah hidupnya sembari mengeluarkan isi kepalanya yang sudah sangat penuh itu.

          Kini lagu yang pertama kali berputar ialah lagu dari Feby Putri yang berjudul  kembali pulang.

Kesana kemari tanpa arah 

Serta ratusan makian…

Kembali pulang

Tuk menenangi

Banyaknya luka yang berantakan

Peluk hangat sigap tuk sembuhkan.

          Namun, dirinya tidak ada yang memeluknya erat dan memebantu menyembuhkan luka. Kini, Mara hanya sendirian. Ntah sudah berapa lama ia berada disana, walau disana berisik Mara, sangat nyaman untuk mengeluapkan pikirannya. Mara sudah tidak sanggup untuk menangis, 


ini sudah hal biasa yang sudah terjadi padanya tapi, tolong peluk ia erat, ia juga butuh pelukan hangat.

          Sepertinya ia sudah 3 hari tidak makan namun, perutnya sama sekali tidak merasakan lapar. Apa mungkin perutnya merasakn kesdihan bersama?.

          Mara, memutuskan untuk meninggalkan taman itu untuk pergi berjalan-jalan di sekitaran sana. Berjalan terus berjalan, ntah mau sampai mana, ia terus berjalan. Rumah yang kini ia tempati tidaklah layak untuk disebut rumah, suasana yang menakutkan, tidak ada keharmonisan dalam keluarganya.

          Ia sudah tidak tahu lagi akan pergi kemana, tidak memungkinkan dirinya untuk pulang kerumah disituasi rumahnya yang begitu menakutkan. Dan akhirnya Mara memutuskan untuk berdiam diri di pinggir jalan, memandangi kendaraan yang sedang berlalu-lalang itu membuat pikirannya merasa lebih baik disbanding sebelumnya. 



         Kalau dipikir-pikir kepala Mara rasanya ingin pecah, ia sudah tidak sanggup menanggungnya sendirian. Ia ingin istirahat. Seketika lamunannya buyar ketika menyadari nada dering di ponselnya berbunyi.


          Melihat isi pesan yang ia dapatkan dari sang ibu, Mara pun segera bergegas untuk kembali pulang kerumah.Walaupun di dalam lubuk hatinya ia sangat kecewa dengan kedua orang tuanya itu.


          Sesampainya ia dirumah, Mara mendapatkan sang ibu yang sedang duduk di sofa seraya menunggu kehadirannya.Ntah kejadian apa lagi yang akan ia alami, apakah ibunya akan memberikan kejutan padanya?. Tangan Mara gemetar hebat, hatinya bergedup kencang. Jujur, ia rasanya ingin menghilang detik itu juga.

          “Dari mana saja kamu?” Tanya sang ibu dengan raut wajah yang begitu terlihat marah.

          “Aku habis keluar sebentar, nyari udara segar disana. Ibu mau marah? Tapi tolong jangan sekarang bu, Mara lagi capek banget hari ini” Tegasnya kepada sang ibu.

          “Ibu ga akan marah, ibu Cuma mau tolong jaga rumah dulu ibu mau pergi buat beli perlengkapan sekolah adikmu” Pinta dan jelas sang ibu.

DEGG

          Hati Mara seakan tertusuk tombak yang sangat panjang seketika, rasanya ia sangat ingin sekali berkata jujur pada sang ibu. Disaat Mara sedang menahan sakit akibat ulah ayahnya kemarin, sang ibu sama sekali tidak memperdulikannya, setidaknya menanyakan keadaannya sekarang atau memberinya obat untuk mengobati lukanya. Ibu memang sangat tidak peduli dengan Mara, berbeda disaat sang adik yang terjatuh, ibu langsung berlari panik dan langsung mengecek keadaan adiknya dengan penuh perasaan khawatir. 

          Mara terheran, apakah memang ia terlahir bukan menjadi penantian mereka? Sehingga kedua orang tuanya memperlakukan dirinya sangat berbeda disaat mereka memperlakukan sang adik.

          Setelah Mara memperhatikan punggung wanita itu samar-samar menghilang, Mara segara melaju menuju kamarnya. Lalu ia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, di kamar mandi ia merenungi nasibnya di bawah shower yang menyala. Ia sudah sangat putus asa, sehingga ia berfikir untuk menghilang dari sana dan tidak akan menampakkan dirinya kepada semua orang.

          Ketika Mara sedang membaringkan tubuhnya di tempat ternyaman ia untuk beristirahat, ia terbangun kaget ketika ia mendengar teriakan sang ayah yang begitu menggelegar ke seluruh rumah. Mendengar teriakan sang ayah, Mara buru- berlari menghampiri sumber suara yang ia dengar.

          “Ayah….” Satu dua tiga detik tidak ada jawab dari laki-laki paruh baya itu.

          PRANG

          Gelas kaca yang melambung ke udara dan berhasil pecah tersebar di seluruh sudut ruang tamu.

          “Sekarang terserah kamu, ibu dan ayah akan bercerai. Adik kamu sekarang ikut ibu, dan kamu juga harus ikut ibu. Saya tidak sudi untuk mengurus kamu!” Ucapnya yang spontan membuat hati Mara seketika sesak.

          “Kalau ibu gamau aku ikut dia?” Tanyanya di sela-sela menahan tangis.

           “Yasudah jadi gelandangan saja kamu” Jawab sang ayah yang seraya pergi meninggalkan anak perempuannya itu.

          Setelah sang ayah berkata seperti itu, sang ayah langsung pergi meninggalkan rumah dengan membawa koper. Ya, gadis itu sudah tidak memiliki apa-apa lagi selain dirinya sendiri dan rumah yang ia tinggali sekarang.

          Melihat punggung ayahnya yang perlahan menghilang, air mata Mara mulai keluar dari kantong matanya.

          Ia sekarang sedang berfikir ternyata ibu dan adiknya hanya beralasan untuk pergi membeli sesuatu. Tolong bereskan rumah dulu ibu dan adikmu mau pergi keluar sebentar. Maksud untuk membereskan rumah itu ia sudah diberi kode untuk tinggal sendiri dirumah itu.

           



CHAPTER 5



INGIN ISTIRAHAT


Kini, Mara berada di bawah pohon besar yang ada di taman. Ia memikirkan, apakah ia tidak di takdirkan untuk bahagia bersama keluarganya.


          Tuhan… kapan aku bisa beristirahat?

          Jikalau memang aku tidak ditakdirkan untuk bahagia, tolong peluk erat tubuh yang penuh dengan luka ini tuhan.

          Disela-sela Mara sedang merenungi nasib, ada seorang laki-laki yang menghampiri dirinya. Ia bertanya kepada Mara yang terlihat seperti orang yang sedang mempunyai banyak masalah yang tidak bisa ia selesaikan.

          “Hei bengong aja, nanti kesurupan” Guman seorang laki-laki itu yang ntah dari mana ia berasal.

          Mara yang mendengarnya pun hanya bisa melirik dan membuang muka karena malas. Ya, kini laki-laki yang ia lihat adalah teman masa kecilnya yang sudah lama menghilangkan jejak kepada Mara.

         Itu adalah Rafael Zevallo teman masa kecil Damara. Mereka berdua sudah lama tidak kontakan karena Rafael sendiri yang pindah tanpa memberi kontak untuk menghubunginya. Dan kini, Rafael hadir tanpa ia mengabari Mara.

          “Ngapain dateng? Masih inget gue?” Tanya Mara kepada Rafael. “Gue kira lo pergi buat ninggalin gue disini sendiri”. Lanjutnya.

          “Masa iya gue lupa sama sahabat gue yang mini ini” Ledek Rafael sengaja.

          “Sialan banget lo!” Omel Mara. Mara bangun dari duduknya dan langsung memukul punggung Rafael kuat. “Sini lo! Jangan lari!” Pinta Mara sembari mengejar Rafael yang hendak lari.

          “Sini kejar anak kecil” Ledek Rafael sembari berlari menjauh dari Mara.

          “Udahh, gue nyerah, langkah kaki lo kebesaran” Ucap Mara sembari mengatur nafasnya yang terengah engah itu.

          Mendengar omongan  Mara, Rafael pun segera berhenti berlari dan langsung menghampiri Mara yang terlihat sedang kecapean karena mengejarnya.

          “By the way, gimana kabar lo, anak kecil?” Tanya Rafael kepada Mara sembari menaikan satu alisnya dengan ekspresi meledek.

          “Manggil gue anak kecil lagi, abis lo” Ancam Mara sembari mengepalkan tangannya ke arah wajah Rafael. “Gue baik, lo gimana?” Sambungnya untuk menyanyakan kembali kepada Rafael.

          “Gue juga baik” Jawabnya. “Bukannya lo paling anti ya sama baju lengan panjang kaya gini?” Tanya Rafael yang membuat mata mara melebar dan membuat dadanya sesak seketika.

          “Kan… Kan dulu lo liat gue gamau pake lengan panjang, sekarang gue lebih suka pake baju lengan panjang” Jawabnya yang berusaha menyembunyikan luka goresan di tangannya dan hadiah-hadia kecil dari ayahnya.

          Rafael menaikan satu alisnya karena ia sedikit ragu dengan jawaban Mara. Rafael yang baru mengingat sesuatu pun seketika langsung melebarkan matanya. Ya, ia teringat dengan kisah kehidupan Mara yang sedari kecil selalu mendapatkan kejutan dari kedua orang tuanya.

          Menyadari hal itu, Rafael segera menarik tangan Mara dan menggulung baju lengan panjang itu. Betul saja, Rafael mendapatkan banyak luka goresan disana semakin bertambah.

          “Sekarang lo jadi anak alay ya? Ini tanda lo buat jadi anak alay ya, Mar?” Tanya Rafael seperti sedang marah namun dengan raut wajah yang begitu khawatir. “Siapa yang bikin lo jadi anak alay kaya gini, Mar? Bokap lo atau nyokap lo?” Rafael kembali bertanya, ketika Mara berusaha untuk menjawab pertanyaanya yang pertama namun sudah diberi pertanyaan lagi oleh Rafael yang membuat dadanya kembali sesak.

          Mara mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanya-pertanyaan dari Rafael. Ia kini hanya bisa menundukan kepalanya sembari menahan air mata yang hendak keluar di kantong matanya.

         



           Mata Mara melebar ketika Rafael memeluknya erat. Rafael tahu bahwa sedari kecil Mara selalu menjadi samsak untuk ayahnya. Dahulu ketika Mara kecil sedang dimarahi orang tuanya habis-habisan ia selalu pergi ke rumah Rafael untuk singgah agar ia tidak terkena pukulan-pukulan dari sang ayah.

              Orang tua Rafael lah yang selalu melindungi Mara dari kedua orang tuanya yang begitu menyeramkan. Terkadang Mara tinggal di rumah Rafael sampai beberapa hari untuk menghidari dan melindungi Mara dari orang tuanya.

          Tetapi tiba-tiba Rafael dan keluarganya pergi untuk pindah ke luar kota dan tidak meninggalkan jejak sama sekali. Dan akhirnya Mara kehilangan tempat perlindungan dari pukulan sang ayah. Dan disitulah Mara kembali menjadi samsak terbaik sang ayah untuk melampiaskan amarahnya. 

          Kini, Mara sudah tidak sanggup menahan air matanya lagi. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukan Rafael. Sungguh ia merindukan tempat perlindungannya. Ia tidak menyangka jika tempat perlindungannya kembali dihadapnnya langsung.

          “Nangis aja gapapa, nangis sepuas lo Mar, sekarang ada gue disini” Ucap Rafael sembari sesekali mengusap punggung dan kepala Mara.

          Di dalam hati Rafael yang paling dalam, ia juga sangat merindukan gadis itu. Setelah ia pindah dan hilang kontak dengan Mara, Rafael berusaha mencari nomor telfon Mara namun, hasilnya nihil. Ia terus berusaha untuk mengetahui keadaan sahabat kecilnya itu. Ia selalu khawatir, takut jika sahabat kecilnya itu sekarang dipenuhi luka ditubuhnya. Dan benar saja kini, tubuh gadis itu yang semulanya mulus tanpa adanya luka sekarang menjadi penuh dengan luka di tubuhnya.

          Melihat gadis yang ia sayang kini menjadi gadis murung dan dipenuhi dengan luka-luka yang di berikan oleh ayahnya, hatinya begitu sangat sesak dan sakit. Ntah apa yang sudah dilakukan dengan ayahnya yang membuat gadis ini memiliki banyak luka.

          Mara sudah berhenti menangis dan melepas pelukan dari sahabat kecilnya itu.

          “Lo kemana aja si el, lo gatau kan gue disini nunggu pertolongan dari lo el!” Ucap Mara memukul Rafael sembari menangis kembali tersedu-sedu.

          Rafael hanya diam menerima semua pukulan dari gadis itu. Memang dari awal semuanya salah dia, ia yang pergi tanpa berpamitan dan menghilangkan jejaknya di sana. 

          Rafael merasa sangat bersalah. Ia menyesal telah meninggalkan gadis yang sangat ia sayangi itu.

          “Gue minta maaf sama lo, Mar. Gue merasa bersalah banget udah ninggalin lo” Ucap Rfael “Gue juga khawatir sama keadaan lo disini, Mar” Lanjutnya.

          “Sekarang pukul gue sepuas lo, Mar. Gue ngaku salah, tapi tolong maafin gue.” Lanjut Rafael yang memasang badan untuk dipukuli oleh Mara. “Sekarang gue disini, gue gabakal ninggalin lo lagi sendirian disini”.

          Mara hanya mengangguk saja sekilas melihat wajah laki-laki di depannya.


          



CHAPTER 6


CINTA PERTAMA



Kini, Mara berada di rumahnya yang sekarang hanya dia satu-satunya penghuni disana. Mara sudah bersiap untuk berangkat sekolah, di depan rumahnya seseorang yang sudah siap menuju sekolah bersama. Itu ialah Rafael kemarin ternyata setelah kembali ke lingkungan pertamanya, ia sudah memutuskan untuk mendaftar sekolah yang bersamaan dengan gadis kesayangannya itu.

          Setelah Rafael menunggu sudah cukup lama, akhirnya gadis ia tunggu-tunggu muncul juga. Rafael tercenga ketika melihat gadis itu berjalan ke arahnya, dadanya berdegup kencang seketika.

          “Kenapa lo?, awas kesurupan” Tanya Mara dengan sedikit ledekan.

          Setelah mendengar ucapan Mara, Rafael segera sadar.

          “Udah buru naik, telat nanti. Hari pertama gue ini” Ucapnya yang berusaha menutupi salah tingkahnya.

          Rafael melanjutkan dengan memasangkan helm kepada Mara

          “Ni pake, kemarin gue baru beli buat lo. Harus dipake terus kalo mau ngendarain motor ya” Ucap Rafael yang masih sibuk memasangkan helm. “Kalo naik ojol, pakenya helm ini ya” Sambungnya.

          Mara hanya mengangguk gemas, sedari dulu sifat romantis Rafael tidak penah hilang sampai sekrang.

          “Ternyata lo masih sama kaya dulu ya” Ucap Mara yang membuat Rafael kebingungan.

          “Sama giamana dulu ini?” Tanya Rafael sembari menaikan satu alisnya.

          “Masih sama sweetnya kayak dulu” Jawab Mara yang tersenyum hingga memperlihatkan gingsul miliknya.

          “Karena lo itu princes gue, anak kecil” Ucap Rafael yang terkekeh gemas. ‘Buru naik, nanati telat” Sambung Rafael yang sedang membuka step motor untuk Mara.

          Setelah sampai di sekolah, siswa/siswi disana bertanya-tanya siapa laki-laki yang berjalan berdua dengan Mara. Sepanjang jalan Mara hanya mendengar bisikan-bisikan dari siswa tukang gossip di sekolahnya. Ia langsung berfikir apakah nantinya ia akan terkena semprot dari siswa tukang gossip itu?.

          Rafael yang sedari tadi di parkiran sudah menggandeng Mara itulah yang membuat siswa/siswi itu terheran-heran.

          Disaat Mara berusaha menutup telinga untuk tidak mendengar bisikan-bisikan dari siswi yang sedang julid. Ketika mereka berdua ingin menuju ruang guru untuk mengantar sahabatnya itu. Tetapi Lia yang sudah lama ia tidak berteman mengahmpirinya dan bertanya.

        “Mara, dia siapa kamu, Mar?” Tanya Lia yang membuat Rafael kebingungan siapakah orang yang bertanya kepada Mara itu?.

          “Dia…” Belum selesai berbicara tetapi, omongannya terjeda karena Rafael tanpa menyela pembicaraanya.

          “Gue pacarnya” Tegas Rafael kepada Lia yang membuat gadis itu merasa menyesal telah bertanya.

          Tanpa basa-basi Rafael segera menarik tangan Mara untuk melanjutkan perjalanannya menuju ruang guru.

          “Kalo ada yang ganggu lo lagi, bilang gue jangan dipendem sendiri ya” Ucap Rafael sembari berjalan menggandeng tangannya.

          Mara hanya mengangguk paham. Ia sudah tahu bahwa sahabatnya itu paling tidak suka jika dirinya di usik ketengannya dengan orang lain.


          Sesampainya di ruang guru, Mara hanya menunggu sahabat kecilnya itu di depan ruangan.

          Ketika Mara sedang menunggu Rafael yang masih berada di ruang guru itu, Lia menghampiri Mara dan kembali bertanta dengan pertanyaan yang sama.

          “Itu beneran pacar lo, Mar?” Tanya Lia dengan raut wajah yang begitu penasaran.

          “Eee… Iya itu pacar gue” Jawab Mara dengan agak gagu, dank arena ia tidak mau lagi berurusan dengan Lia, Mara hanya menjawab seperti jawaban yang diberikan Rafael sebelumnya.

          Lia yang mendengarnya pun segera pergi meninggalkan gadis itu sendiri di depan ruang guru.

          Melihat Rafael yang telah keluar dari ruang guru itu, Mara buru-buru menyakan apa saja yang laki-laki itu bicarakan dan lakukan.

          “Gimana gimana, lo sekelas sama gue kan?” Tanya Mara dengan penuh rasa penasaran.

          “Yah.. engga, cil” Jawab Rafael dengan raut wajah murung. “Ga salah lagi, kita sekelas, cil” Sambungnya dengan raut wajah yang begitu riang.

          Mara yang sebelumnya merasa sedih kini, ia tersenyum dengan gigi gingsulnya yang muncul. Ia begitu riang dan gembira ketika tahu sahabat kecilnya akan sekelas dengan dirinya.

          Mereka berdua berjalan untuk menuju kelas mereka berdua. Rafael begitu senang melihat gadis itu yang tersenyum riang sepanjang jalan. Sedari dulu Rafael begitu jarang melihat Mara tersenyum bahagia seperti sekarang yang ia lihat. 

          Mara kini, sudah pandai untuk menutupi luka yang ia punya dengan senyuman yang terukir di wajahnya. 

          






          



CHAPTER 7


PELINDUNG DAMARA




Ketika Rafael memelehkan suasana dengan lenlontarkan suatu pertanyaan pada Mara.

          “Gue pengen ketemu dong sama orang tua lo, cil” Tanya Rafael polos kepada Mara.

          Mara yang mendengar pertanyaan itu seketika membuat dadanya sesak.

          “Ibu sama ayah gue udah pisah, el” Jawabnya spontan. “Dari waktu kita pertama ketemu di taman, itu hari ibu sama ayah pisah” Sambung Mara yang membuat Rafael shock, kaget sejadi-jadinya.

          “Kenapa lo ga bilang kemarin? Tanya Rafael 

          “Gue takut bilang ke orang el, gue takut dijauhin orang-dan gada yang mau temenan sama gue Cuma karena gue broken home” Jelas Mara dengan menahan tangis. “Udah cukup gue dimanfaatin sama temen gue yang udah gue anggap sebagai sahabat gue” Sambung Mara yang tidak kuat membendung air matanya.

          Rafael hanya terdiam mematung. Ternyata semenjak ia pergi meninggalkan Mara sendirian, Mara begitu hancur. Tidak ada tempat yang harus ia pulangi, tidak ada rumah untuk ia berlindung.

          Mara menangis sejadi-jadinya di depan Rafael, dengan pekanya Rafael segera memeluk gadis itu.

          ‘Maafin gue ya, maafin gue udah nanya-nanya gini ke lo” Maaf Rafael kepada Mara sembari mengusap pucuk pelanya dan punggungnya. “Ayo ketemu bunda, lo pasti kangen kan sama bunda?” Tanya Rafael sembari menatap Mata Mara dan memastikan gadis kecilny itu sudah tidak menangis lagi.

          “Iya gue mau ketemu bunda” Balas Mara seraya membalas tatapan sahabat kecilnya itu.


          Setelah membutuhkan waktu yang lama untuk Mara berhenti menangis. Mereka bergegas untuk menuju rumah Rafael untuk bertemu dengan ibunda Rafael yang dahulu sering kali membantu melindungi Mara dari kedua orang tuanya itu.

          Sesampainya di rumah Rafael, betapa terkejutnya ibunda Rafael melihat gadis kecil yang dahulu sudah ia anggap seperti anaknya berada di depan matanya sekarang menjadi gadis remaja yang begitu cantik. Melihat gadis itu ibunda Rafael berlari segera untuk memeluk gadis itu.

          Sungguh ia tak percaya yang ia peluk adalah pahlawan dirinya sejak kecil. Ini seperti mimpi ketika dirinya bisa mmeluk ibunda Rafael.

   “Damara.. Damara apa kabar sayang?” Tanya ibunda Rafael seraya menangkap kedua pipi Mara.

       “Aku baik bunda, bunda sendiri bagaiaman?” Tanya kembali Mara kepda ibunda Rafael.

          “Ya ampun, anak ibun sekarang sudah tumbuh besar. Maafin ibun karena dulu ibun pergi tanpa pamit sama kamu sayang” Maaf ibunda Rafael  sembari menangis yang sudah tidak bisa ia tahan lagi.

          ‘Iya ibun, gapapa” Balas Mara.

          Rafael yang melihat moment itupun tidak bisa menahan tangisnnya. Disisi Mara, ia sangat beruntung bisa bertemu dengan keluarga Rafael. Dan disisi Rafael ia begitu beruntung bisa dipertemukan dengan Damara Rummie Dirama.

          Mara tidak sekalipun terfikirkan untuk bertemu dengan keluarga Rafael. Seberuntung itu ia dipertemukan dengan keluarga malaikat seperti mereka. Tapi di lubuk hati Mara yang paling dalam ia begitu merindukan kedua orang tuanya. Sampai sekarang pun ia tidak tahu bagaimana keadaan mereka berdua. Karena sejak mereka memutuskan untuk berpisah, Mara sama sekali sudah tidak mendapatkan kabar dari kedua orang tuanya.

          Sungguh ia sangat merindukan kedua orang tuanya. Ia berfikir apakah mungkin ia benar-benar dibuang?. Tetapi setelah bertemu kembali dengan keluarga Rafael ia berdoa supaya mereka tetap ada disisi Mara untuk waktu yang lama. Seperti lagu “Yang lain boleh hilang asal kau jangan” Karya Mitty Zasia.

Yang lain boleh hilang asal kau jangan

Dunia boleh sepi asal kau disini

          Terkadang Mara begitu iri melihat Rafael yang selalu dikelilingi dengan kasih sayang dari keluarganya. Tidak demikian dengan dirinya yang sudah dibuang oleh keluarganya.

          Namun, dilubuk hati afael yang paling dalam, Ia begitu bahagia melihat dua perempuan yang paling ia sayangi kini tersenyum gembira. Rafael laki-laki yang begitu mencintai kedua wanita di depannya. Ia sangat tidak ingin kelihalangan mereka.


  







“Hidup bukan tentang dipukul lalu membalas, tapi tentang bagaimana kau mampu berdiri tegak walau banyak pukulan yang kau terima”.







         

          Setelah mengunjungi rumah Rafael kini, Mara kembali menuju rumah yang sudah tidak layak disebut dengan rumah. Normalnya isi rumah itu berisi dengan sekumpulan keluarga. Tapi justru rumahnya hanya berisi dirinya sendiri. Penghuni lainnya sibuk denga nisi rumahnya masing-masing tanpa mereka sadari rumah yang dulunya dibangun untuk satu keluarga sudah hanya tertinggal satu penghuni.

          Mara tenggelam dalam lamunannya. Walaupun ia sering menjadi samsak sang ayah, selalu menjadi tempat tuduhan sang ibu, ia selalu merindukan keduanya walaupun tidak dengan perannya.













Tuhan… Tolong berikan aku kesempatan untuk sembuh. Sudah banyak sekali luka yang aku terima, jadi tolong bantu aku agar bisa sembuh.







          Ditangan Mara sudah ada silet untuk kembali membuat tanda bahwa dirinya sudah tidak sanggup dengan masalah-masalah yang menimpa dirinya.

          Satu goresan ia berikan di tangan kirinya, dua, tiga dan goresan seterusnya hingga ia merasa cukup lega. Ntah sudah berapa kali dalam seminggu ini ia memberikan goresan-goresan indah itu lengan kirinya. Namun, tanpa orang lain ketahui tanda yang ia buat di lengannya, ia buat juga di perut dan paha kirinya. 

          Jujur Mara sudah tidak sanggup dengan semuanya, rasanya ia ingin sekali mati dengan tenang. 

          Tuhan… Maafkan aku yang sudah merusak ciptaanmu, aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana supaya kepalaku tidak berisik.

          Tidak banyak yang ia inginkan, ia hanya ingin pengertian dari kedua orang tuanya bukan hanya dia yang harus mengerti. Tolong sekali ini saja biarkan ia hidup bebas tanpa adanya makian dan pukulan. Ia juga butuh istirahat.

          







Si sulung ini masih sering menangis hingga pagi.

Seumur hidup ia bertahan untuk semua orang kecuali dirinya sendiri.















“Si sulung ini sering kali merenung meratapi hatinya yang tak kunjung rampung, dan adik-adiknya yang selalu disanjung, yang si sulung dapat lakukan hanyalah merenung”








          Dahulu yang ayah tahu hanyalah aku selalu menyusahkan ibu dan selalu mengusik ketenangan adik. Nyatanya aku lah yang diusik dan akulah yang selalu diberi perintah yang tidak aku bisa.

         Dahulu juga yang ibu tahu hanyalah aku si pemalas yang kerjaannya selalu mengurung diri di kamar. Nyatanya si pemalas ini yang selalu menjadi tamengmu disaat ayah marah, dan berujung aku yang menjadi samsa pukulan ayah.



CHAPTER 8


KEMBALI PULANG

Pagi ini Mara memilih untuk berangkat bersama Rafael dan mengurungkan niatnya untuk memesan ojek online. Mau tidak mau karena Rafael sedari pagi sudah apel di depan rumah Mara. Disepanjang jalan, mereka berdua saling menutup mulutnya untuk tidak berbicara.

          Mara yang sibuk memandangi indahnya kota Jakarta, Rafael yang fokus pada jalanan yang ia lewati. Semenjak kejadian semalam, Rafael memilih untuk diam dan mengurungkan niatnya untuk melempar beberapa pertanyaan pada Mara, karena ia tahu perasaan Mara kini sedang tidak baik baik saja.

          Sesampainya di sekolah, Rafael dengan sifat pekanya segera membukakan helm yang terpasang di kepala Mara. Rafael adalah laki-laki yang memiliki lima love language. Kelimanya ia lakukan kepada dua perempuan terkasihnya, yaitu Damara Rummie Dirama dan bundanya Asha Alaya.

          Kini yang ia berikan pada Mara ialah Acts of Service. Rafael laki-laki pertama yang membuat hati Mara nyaman ketika ia sedang bersamanya.

          “Makasih ya” Ucap Mara singkat sembari memberikan senyuman tipis untuk Mara.

          “Bilang makasih segala, biasanya juga gini. Baru kali ini juga lo bilang makasih” Balas Rafael heran dan sesekali meledek gadis itu.

          Mara yang tidak bisa menahan salah tingkahnya pun, melarikan diri tanpa menghiraukan laki-laki itu.

          “Hei jangan lari, jatuh nanti, lo mau emang nanti gue gendong?” Tanyanya dengan suara yang sedikit berteriak.

          Mara yang mendengar ucapan itu seketika berhenti untuk berlari. Mara sangat tidak suka jika ia digendong oleh laki-laki itu, karena jujur saja Mara adalah gadis yang tidak bisa menahan salah tingkahnya. Salah tingkah yang dia keluarkan pasti sangat memalukan.

          Rafael yang melihat gadis itu sudah berhenti berlari, ia segera menghampirinya.

          “Jangan deket-deket gue” Ucap Mara dengan nada bicara yang sedikit berteriak.

          “Kenapa lo, salting lo ya?” Tanya Rafael terkekeh gemas dengan tingkah gadis yang berdiri tepat di sampingnya.

          Lo tau gue salting, pake dideketin segala. Batinnya.

          Sesampainya di kelas Rafael yang tidak menyerah untuk membuat Mara kembali mengobrol dengannya untuk waktu yang lama.

          Rafael terus menatap wajah Mara berharap gadis itu menoleh kepadanya, namun hal itu sama sekali tidak membuat gadis itu luluh dan menoleh ke arahnya. Berharap Mara lah yang salah tingkah dengan kelakuannya, tetapi kini justru ialah yang salah tingkah melihat kecantikan yang gadis itu miliki.

          Ini hati gue apa aman kalo setiap hari dikasih keindahan yang lebih lebih lebih dari kata indah. Batinnya.

          Tapi tuhan tolong beri umur panjang untuknya, izinkan saya menyembuhkan luka-lukanya yang telah tertanam abadi di tubuhnya.

          Rafael begitu berharap agar bisa hidup bersamanya dengan waktu yang begitu lama. Ia juga berharap agar tidak ada satu orang pun yang berani melukai gadis itu lagi. 

          Setelah menatap gadis itu dalam selama hamper satu jam, gadis itu akhirnya terbangun dari lamunannya.

          “Mau sampe kapan lo ngeliatin gue begitu?. Bel udah bunyi balik badan lo sana!” Ucapnya yang membuat lamunan Rafael buyar sembari membalikan badan Rafael menghadap arah depan.

          

KRINGGGG…

          Bel istirahat berbunyi nyaring, dengan cepat Rafael segera menggandeng tangan Mara menuju kantin.

          “Ayo buru kita cari makanan favorit lo, hari ini biar gue traktir” Ucapnya sembari menggandeng tangan Mara dengan kuat.

          “Iya si, tapi ini lo kenceng banget ngegenggamya, sakit ni tang ague” Jawab Mara sembari meringis kesakitan akibat genggaman tangan Rafael yang begitu kuat.

          “Biarin, nanti lo ilang gue gabisa hidup tanpa lo” Ucapnya reflek.

          Mara hanya bisa terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Rafael. Hatinya kini bergedup kencang, tangannya seketika gemetar.

          Rafael berhenti menyadari ada yang aneh pada gadis yang kini sedang ia gandeng.

          ‘Eh, tangan lo kenapa tiba-tiba gemetaran gini? Gue kekencengan ya? Lo sakit/ ke UKS sekarang ya?” Pertanyaan yang tidak bisa berheti dari mulu Rafael. Ia panik seketika.

          “Gapapa gue gapapa. Lebay lo, udah buru ke kantin nanti makanan yang gue pengen keabisan!” Balasnya seraya menutupi salah tingkahnya itu.

          Rafael menaikan satu alisnya, merasa ragu dengan jawaban yang dilontarkan oleh gadis itu.

          “Gue gapapa, RAFAEL ZEVALLO!!” 

          Merasa sudah yakin dengan jawaban gadis itu, Rafael kembali menggandeng tangan Mara. Rafael sangat bahagia ketika melihat Mara tersenyum lebar yang menunjukan gingsul khasnya itu.

          

          Dikantin terlihat senyuman bahagia yang terukir di wajah kedua remaja itu. Rafael menepatkan janjinya untuk mentraktir semua yang Mara mau dan suka. Kini keduanya menikmati makanan yang telah dipesan oleh Rafael.

          Didalam hati Mara yang paling dalam, kini ia merasa sangat bersyukur sudah dipertemukan laki-laki yang memiliki hati bak malaikat. Dari kecil Mara telah menggap Rafael adalah sosok penolongnya. Karena, kalau dia tidak dipertemukan dengan laki-laki itu, ia mungkin sudah mati di tangan sang ayah.

          Tolong hidup lebih lama ya, Mara. Batin Rafael memohon sembari menatap wajah cantic gadis di hadapannya.

          “Makan, jangan ngeliatin gue begitu!” Ucap Mara yang menyadari bahwa sedari tadi Rafael menatap wajahnya dalam sembari mengacak-acak rambut laki-laki itu.





          Rafael hanya terkekeh dengan tingkah laku Mara yang membuatnya begitu gemas. Hati Rafael ntah mengapa tiba-tiba bergedup kencang kita Mara melmparkan physical attack-nya kepada Rafael.

          “IHH!, Lo kenapa mukanya merah gitu?” Tanya Mara yang baru disadari oleh Rafael bahwasannya ia ketika salah tingkah menunjukan tanda merah di wajahnya.

          Rafael begitu malu ketika Mara mengatakan itu. Selama ini ia berhasil untuk menyembunyikan salah tingkahnya di depan Mara. Tapi kini, ia terang-terangan menunjukan salah tingkahnya di depan Mara.

          “Dih PD banget lo, yakali gue salting sama bocil bau minyak telon” Balasnya yang seketika membuat Mara begitu geram dan kesal.

          “Apasi, mana ada gue bocil!!!” Marahnya kepada Rafael.

          “Lo kira dengan lo marah gitu gue bakalan takut?, ya ngga lah, marahnya anak kecil malah bikin gemes” Ucap Rafael sembari terkekeh meledek Mara.

CHAPTER 9


RUMAH TERINDAH

 

Malam ini Rafael mmeutuskan untuk mengajak Mara untuk berkeliling mengelilingi taman yang dahulu Mara jadikan sebagai tempat untuk mengeluarkan semua isi kepalanya.

          Mara sangat dejavu, dahulu ia sring sekali mengunjungi taman ini namun, setelah kedatangan Rafael kembali dihidupnya. Kini, ia tidak perlu lagi mampir ke taman itu setiap pulang sekolah. Sekarang ia mengeluarkan isi kepalanya bersama Rafael.

          Kini, ia tak perlu repot-repot lagi berjalan kaki untuk mengunjungi taman itu. Sekarang tempatnya sudah siap sedia menunggu dirinya untuk bercerita. Bukan hanya mendengar teteapi, tempat itu akan memeluknya hangat ketika ia sedang menangis.

          “Gimana tempat lo dulu?. Sekarang banyak berubahnya kan?” Tanya Rafael yang berhasil mencairkan suasana. “Perubahan taman ini itu pertanda, kalo lo itu udah mulai sembuh, makannya taman ini banyak berubah yang artinya taman ini tersenyum senang melihat perempuan cantik yang selalu nangis disini”.


          Mara menjadikan Rafael sebagai cinta pertamanya, begitupun dengan Rafael, Oleh karena itu sebabnya mengapa Rafael selalu nyaman ketika sedang bersama Mara, begitupun dengan Mara.

          Mara sudah menganggap Rafael sebagai rumahnya untuk pulang ketika ia sedang merasa tidak baik-baik saja. Dan Rafael yang selalu siap sedia menjadi pendengar yang baik bagi Mara.

          Semenjak kehadiran Rafael di hidupnya, kini Mara sudah jarang merasakan berisik dikepalanya. Kini, hidup Mara sudah dijamin aman dan bahagia dengan keberadaan Rafael disisnya.

          “Habis keeliling taman, giamana kalo ke pantai?” Ucap Rafael berhasil mencairkan suasana. “Hari ini, gue pengen full berduaan sama lo. Sedikit demi sedikit gue bakal berusaha buat nyembuhin luka-luka lo, Mar” Sambungnya sembari menatap dalam Mara.

          Mara hanya tersenyum sembari membalas tatapan Rafael. Sungguh ia sangat bahagia karena tuhan sudah mengirimkan sumber kebahagiaannya.

          

          Sesampainya di pantai, Mara dan Rafael sudah disambut hangat dengan udara dan ombak-ombak yang saling bersahutan. Disini tempat Mara sekita ia hamper putus asa. Ntah darimana Rafael tahu tempat ini. Pantai ini memang terkenal sebagai pantai terpencil dan jarang sekali orang tahu keberadaan pantai ini. Tapi kenapa Rafael tahu tempat ini? Batinnya.

          “Lo pasti bertanya-tanya kenapa gue bisa tahu pantai ini?” Ucapnya yang membuat bola mata Mara membesar dan terkejut. “Tempat ini kan yang jadi saksi disaat lo hamper putus asa dan miih buat mengakhiri hidup lo?” Sambungnya yang semakin membuat jantung Mara bergedup kencang.

          Mara tidak menjawab pertanyaan dari Rafael, kini ia hanya berdiam mematung di tempat.

          Rafael yang melihat ketakutan Mara pun segera menepuk pundak Mara. “Udah gausah terlalu dipikirin, yang pentingkan lo ga beneran ngelakuin itu” Ucap Rafael sembari tersenyum ke arah Mara. “Mending sekrang lo coba keluarin semua isi pikiran lo disini dengan cara teriak. Kaya gue gini” 

          “AAAAA TUHAN TERIMAKSIH TELAH PERTEMUKANKU DENGAN PEREMPUAN HEBAT INI TUHAN!!!” Teriak Rafael yang membuat Mara terkejut mendengar perkataannya.

          “Nah gitu, coba sekarang gentian lo” Pinta Rafael kepada Mara.

          Mara membalas tatapan laki-laki itu dan kembali menunduk. 

          “Gapapa, ayo”

          “TUHANNN!! AKU LELAH AKU JUGA INGIN BAHAGIA, TOLONG BERI KESEMPATAN UNTUK AKU MERASAKAN KEBAHAGIAAN!!” 

          “Gimana? Lega ngga?” Tanya Rafael tersenyum saat melihat gadis disampingnya membuang nafas kasar.





          Mara hanya mengangguk dan kembali menunduk.

           “Iya dong harus” Ucap Rafael tersenyum sembari mengelus lembut pucuk kepala Mara. “Lo pasti lapar kan? Ayo k pinggir, gue udah bawain banyak makanan yang lo suka. Gue juga udah siapin tiker buat piknik disini” Ucapnya sembari menggandeng Mara menepi di tepi pantai.

          Rafael segera menyiapkan tikar untuk mereka berdua duduki, sembari menikmati angina khas pantai yang menusuk ke dalam kulit. 

          “Hari ini, gue bareng bunda udah masakin special buat lo” Ucapnya sembari menyusun makanan yang ia sudah siapkan sedari tadi pagi buta dengan bundanya.

          “Wih masakan bunda emang udah ga diragukan lagi” Ucapnya sembari menghirup aroma makanan yang menyebar luas.

          “Yee, gue juga bantuin bunda masak kalii, yang dipuji masa bunda doang” Ucapnya rengek sembari memasang muka murung.



          “Utututu bayiku ngambek yaa, iya ko iya masakan Pael emang tidak diragukan lagii, pintelnya bayikuu” Ledeknya sembari mengelus-elus pucuk kepala Rafael.

          Rafael yang memiliki sifat iseng pun membalas keisengan Mara. Rafael semakin membuat ekspresi murung ke Mara.

          “Apaan si lo, geli gue litany, udah sana” Mara yang menyadari bahwa sahabatnya itu sedang usil pun segera mendorongnya jauh dari hadapannya.

          Rafael yang melihat ekspresi Mara hanya terkekeh, juju ria pun sangat kegelian saat melakukan hal memalukan di depan Mara. 

          “Udah makan, udah jam makan siang ini” Ucapnya sembari meniapkan makanan untuk Mara makan.

          Mara hanya mengangguk mengerti. Melihat satu piring yang sudah disiapkan oleh Rafael, Mara pun segera menghabiskannya. Rafael tersenyum memandangi gadis yang yang ada di depannya itu. Mara adalah salah satu perempuan yang ingin sekali ia lindungi setelah Ibundanya.

          Rafael berharap Mara adalah cinta pertama dan terakhir di hidupnya. Ia ingin sekali melihat Mara bahagia bersama dirinya sampai maut yang memisahkan. Rafael berjanji untuk menyembuhkan luka dan trauma yang Mara miliki sampai benar-benar sembuh.

          “Minggu depan kita wisuda kan?, ga kerasa ya waktu cepet banget perasaan baru kemarin gue pindah kesana” Ucap Rafael berhasil memecahkan keheningan. “Gimana ibu sama ayah lo, dia dating ga nanti?” Ucapnya membuat Mara yang tengah makan berhasil tersedak.

          Mara hanya mengangkat kedua pundaknya dan melanjutkan makannya. “Gue aja gatau kabar mereka gimana, udahlah lagian mereka juga udah punya keluarga masing-masing” Ucapnya setelah menelan makanan yang ia makan. “Kalo mereka aja ga nanyain kabar gue dan ngga ngasih tau kabar mereka, berarti emang gue udah ga dianggap keluarga lagi sama mereka. Toh kartu keluarga gue juga udah di robek jadi dua” Sambungnya yang berhasil membuat Rafael reflek memeluk bgadis didepannya. “Gue juga ga berharap mereka dateng, El”


          “Maafin gue, tiba-tiba nanyain kaya gitu” Ucapnya sembari memeluk Mara dan sesekali mengelus puncuk kepala Mara. “Bunda sama Ayah gue juga orang tua lo, Mar. Mereka dating buat kita, jadi lo jangan mrasa sendiri dan gapunya orang tua. Orang tua gue orang tua lo juga, Damara Rummie Dirama” Sambungnya sembari mencium puncuk kepala Mara.

          “Makasih ya, El. Makasih banget lo dan keluarga udah hidup di dunia ini dan hadir dalam hidup gue” Ucap Mara .

          Rafael hanya mengangguk dan Mara pun merasakan anggukan itu. Makasih juga karena lo udah bertahan selama ini. Batin Rafael.







CHAPTER 10


ABADI DI HATIKU


Dihari Kelulusan….

Mara berhasil mendapatkan peringkat pertama dari satu angkastan. Tidur tak tepat waktu hanya untuk belajar dan jatuh bangun sakit hanya karena belajar, itu membawa hasil yang begitu memuaskan bagi Mara. Dan peringkat kedua diraih oleh sahabat kecilnya Rafael, mereka begitu bahagia ketika mendapatkan apa yang selama ini mereka cita-citakan.

          Namun, disis lain ada satu gadis yang sangat tidak suka melihat Mara mendududki peringkat pertama, gadis itu ialah Lia. Lia begitu memebenci gadis itu, ia berfikir seharusnya ialah yang menduduki peringkat pertama dan bukan Mara.

          Semenjak pertemanan mereka putus, Lia selalu berusaha untuk menghancurkan hidup Mara, karena ia tahu kelemahan yang Mara miliki. Namun, usahanya selalu gagal, itu disebabkan sahabat kecilnya yang selalu tahu akal-akalan bususk yang Lia lakukan. 

           Rafael adalah laki-laki yang sigap menyingkirkan orang yang berniat menghancukan hidup cinta pertamanya itu.

         “Cie cie…” Ledek Rafael kepada Mara.

          Mara menaikan satu alisnya yang menandakan bingung dengan perkataan Rafael. “Apaan si lo, gajelas” Jawab sinis yang dilemparkan oleh Mara.

          “Ayo foto berdua biar fotonya bisa jadi salah satu mahar buat ngelamar lo” Kode Rafael sesekali menyenggol pundak Mara.

          “Apaan si ni orang dari tadi gajelas banget lo” Ucap Mara segera meninggalkan Rafael di tempatnya berdiri awal.

          “Tunggu dulu, kan kita mau foto bareng!!” Teriak Rafael.

          “Yaudah buru sini”

          “Tunggu aku sayang!!” Ucap Rafael segera berlari menghampiri si cinta pertamanya.



          Rafael begitu bahagia melihat gadis yang berada di sampingnya tersenyum lebar sehingga menampakan gingsulnya. Tuhan terimakasih, terimakasih sekali. Batinnya sembari tersenyum memandang gadis di sampingnya. 

          “Lo tau ngga? Gue punya hadiah buat lo” Ucap Rafael yang penuh dengan teka-teki di wajahnya. 

          Mara hanya menaikan kedua bahunya, menandakan tidak tahu.

          “Gitu doang respon lo? Tebak dong” Sambungnya berhasil menangkap kedua pipi Mara.

          “Ih lepasih, make up gue nanti rusak, tangan lo kotor tau!!” Ucapnya menepis tangan Rafael dan menendang kaki laki-laki itu.

          Rafael meringis kesakitan. “Sakit bangettt” Ucapnya seraya berteriak. “Liat Bulan depan, gue punya kejutan buat lo” Ucap Rafael dengan memasang wajah seperti mengancam.

          “Muka lo jelek kalo gitu, ngga cocok” 

          “Iyakah? Jelas si gue kan ganteng” Ucapnya meledek ke arah Mara.


Satu Tahun Kemudian…

          Rafael yang sudah meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk melamar Mara pun sudah menyiapkan banyak hal untuk memeberi kejutan itu pada Mara. Namun, seminggu sebelum ia mengunjungi Mara hatinya terasa gelisah. 

          Ntah kejadian apa yang akan terjadi kedepan namun, ia berusaha positive thingking dan berdoa agar tidak ada kejadian apa-apa dalam keluarganya, dirinya, ataupun Mara.

          Untuk menghilangkan rasa khawatirnya, ia memilih untuk membantu bundanya untuk masak di dapur.

          “Bunda… Ada yang bisa Pael bantu ga bun?” Tanyanya yang membuat sang bunda terkejut.

          “Ih kamu ini kebiasaan ngagetin bunda, kalo terus-terusan gini bisa-bisa bunda jantungan karena kamu” Ucapnya sembari mengelus dada.

          “Bunda jangan ngomong gitu, Pael minta maaf bunda” Ucapnya sembari berlari dan berlutut di hadapan bundanya.

           “Udah bangun-bangun, bunda Cuma bercanda tadi” Balas bundanya sembari membantu anaknya untuk berdiri. “Udah sampe mana proses mau lamar anak cantic bunda?” Tanya sang bunda sembari merapikan baju yang dipakai Rafael. ‘Berantakan banget si bajunya anak bunda” Sambungnya.

          “Tinggal nyamperin aja ko bun ke si cantic, semuanya udah beres, doain lancer ya bundaku sayang” Balasnya sembari memasang wajah manja kepada sang bunda.

          “Pasti dong, bunda pasti doain yang terbaik untuk anak bunda yang paling bunda sayang” Balas sang bunda sembari mencubit hidung Rafael gemas.

          Rafael sangat gembira ketika mengobrol dengan bundanya.


          Dirumah Mara yang begitu sunyi, Mara hanya duduk dan memandangi langit-langit di ruang tengah. Bukan hanya rumahnya yang sunyi, Tapi hatinya juga sunyi. 

          Gemuruh petir saling beradu yang menandakan akan terjadinya hujan deras. Mara yang tengah duduk santai di sofa ruang tengahnya sesekali terkejut mendengar gemuruh yang sedang beradu di luar. 

          Tak hanya terkejut dengan gemuruh petir di luar, ia pun berhasil dibuat terkejut dengan sosok pria paruh baya yang mendobrak pintu rumahnya. Terlihat samar-samar siapa pria tersebut, sesekali Mara menyipitkan matanya dan jantungnya bergedub kencang sehingga ia merasa takut dengan kejadian yang kini sedang ia alami.

          “Ayah??” Tanyanya dalam hati dan perlahan bangkit dari duduknya sembari mundur perlahan ke belakang.

          Pria paruh baya yang tadi mendobrak pintu rumahnya tiba-tiba itu ialah Antoni Dirama ayah dari Mara yang selama 2 tahun hilang kabar dan membiarkan putrinya hidup sengsara dalam sendirian tiba-tiba mengejutkan dating ke rumahnya.

          Pria itu dengan cepat berlari menghampiri Mara sembari membawa sebotol alcohol kaca. Terlihat jelas bahwa pria itu sedang mabuk. Ntah setan apa yang merasuki tubuh pria itu, botol kaca yang sedang ia pegang melayang ke udara dan berhasil mendarat menjadi serpihan kaca.

          Dengan kesetan pria itu mengambil salah satu serpihan kaca yang ia buat dan melemparnya kea rah Mara yang sudah ketakutan di pojok tembok. Pecahan kaca lemparkan pria itu lolos mengenai lengan Mara yang mengakibatkan robekan di lengannya. Mara hanya bisa meringis kesakitan

          ‘Yah, sakit yah” Air matanya turun begitu deras sembari menahan tangannya yang robvek itu.

          Namun, sang ayah tidak menghiraukan perkataan gadis itu. Ia kembali bangkit menghampiri gadis malang itu. Pria paruh baya itu tak segan segan menusuk nadi yang berada di kheer Mara dengan pecahan kaca yang dibuatnya.

          Disisi lain, Rafael yang merasakan kegelisahan sedari tadi siang pun segera menengok keadaan Mara dirumahnya. Ia takut akan terjadi sesuatu pada Mara.

          Walaupun hujan deras, laki-laki itu tidak memperdulikannya, ia menerobos hujan angina itu hanya untuk menengok keadaan gadis yang ia khawatirkan sedari tadi siang.

          Sesampainya di depan rumah Mara, Rafael dipertemukan dengan mobil yang sangat ia kenali, setelah menyadari kendaraan yang terparkir di depan rumah Mara, Rafael bergegas berlari ke dalam. Betapa terkejutnya ia melihat gadis yang begitu ia cintai terbaring tak sadarkan diri dengan berlumuran darah. 

          Menyadari pria yang berdiri di dekat sofa itu, segera ia dorong kuat-kuat dan sesekali melemparkan pukulan kasar.

          “Anjing lo, ini anak lo brengsek. Bisa-bisanya lo matiin anak lo sendiri!!” Ucapnya sembari melemparkan pukulan pada pria paruh baya tersebut. “ORANG GILA LO!” 

          Setelah mendapatkan beberapa pukulan dari Rafael pria itu pun segera pergi sejauh mungkin. Rafael tidak peduli dengan kepergian pria itu. Ia segera bergegas menghampiri Mara yang sudah tidak bernyawa yang sudah dilumuri dengan darah.

          “DAMARAA!!!!!” Teriaknya histeris sembari menangis, sungguh ia berharap ini hanyalah mimpi buruk. Namun, tuhan berkehendak lain, yang ia alami sekrang ialah kenyataan pahit yang harus ia terima. “Mara, ayo bangun, luka lo udah mulai membaik. Ayo rayakan kesembuhan lo, Mar” Ucapnya sembari menangis sesegukan.

          “Ternyata tuhan lebih sayang sama lo, Mar. Gue gabisa terus-terusan nangis gini, tangisan gue gabakal bikin lo balik lagi” 

          “Ini cara lo merayakan kesembuhan lo ya, Mara?” 

          “Sekarang lo ngga akan negrasain luka itu lagi, Mara” Ucapnya lembut sembari menglus pucuk kepala Mara untuk terakhir kalinya. “Selamat beristirahat bidadariku” Ucapan terakhir yang mengukir senyuman indah untuk Damara. 








Selamat Beristirahat Damara…

          




Tentang si Penulis

           

Letteaaa as Kesya Echa Wulandari, Lahir di Tegal Jawa Tengah pada tanggal 26 Jnuari 2008. Kini, ia memasuki jenjang SMK di SMK Negeri 49 Jakarta. Menulis itu merupakan salah satu kegembiraan dan hobi saya pada saat ada waktu luang.

          Mulai gemar menulis pada akhir tahun 2020, Novel yang saya tulis ini merupakan novel ke-4 saya. Namun, saya masih malu untuk mem-publish. Semoga di novel ke-4 saya ini bisa dibaca oleh banyak orang.

Mengenal lebih lanjut tentang penulis :

Instagram : @letteaaa


Komentar

Postingan Populer