TAGIHAN HABIS RAMADHAN - VALENCIA PUTRI AMANDA

“ TAGIHAN HABIS RAMADHAN ” 

Cipt : Valencia 

Teriakan ibuku menyauti mata ku yang masih tertutup, “KUNCORO SHOLAT IDUL FITRI,  BURUAN BANGUN!!” Teriaknya sambil menggedor pintu kamarku, aku terheran ingin marah  namun setelah ku lihat jam... SUDAH PUKUL 6.30 PAGI, aku bergegas loncat menuju pintu dan  membukanya tanpa melihat dulu wajah ibuku yang sudah penuh rasa amarah denganku, padahal baru  saja ingin bermaaf - maafan di hari yang suci ini. Aku tak memikirkan suhu air yang begitu dingin,  ku siramkan langsung ke seluruh tubuh, agar hilang rasa kantuk ku. Aku menggunakan baju jubah  putih yang ku gunakan untuk lebaran tahun lalu, melipat sarung pun ku asal-asalan, entah biarkan ku  rapihkan di jalan menuju masjid saja... namun aku tidak akan melewati untuk menyisir rambut ku,  walaupun waktu sholat sudah 5 menit lagi mulai. Ku keluar pintu rumah dan terlihat kakak, adik, dan  ayah sudah menunggu dengan wajah kusut namun memilih untuk tidak berdebat pada saat itu juga.  Ayahku berkata “Sudah kan? Ayo jalan nanti keburu mulai” Itulah ayahku, memilih damai daripada  ribut nanti tertinggal untuk sholat idul Fitrinya. 

Syukur saja, perjalanan menuju masjid dari rumahku cukup dekat, hanya sekitar 250 meter bisa di  tempuh dalam waktu 2 menit jika lari. Kita berjalan tanpa terburu buru, entah mengapa ayah dan  kakak ku tidak terlihat panik takut telat, mungkin mereka tidak terbawa suasana karena aku telat  bangun. Tiba di masjid tempat kita beribadah, berkumandang takbiran yang di setiap penjuru dunia.  Perbedaan waktu tak memisahkan kebersamaan yang ada di dalam agama kita. Lebaran tahun ini  terasa tak lengkap, tahun lalu biasanya kita semua merayakan dengan abah, namun tahun ini  berbeda... almarhum telah berpulang dahulu sebelum ramadhan hadir tahun ini. Namun itu semua  harus ikhlas dan berlapang hati agar tenang di sana.  

Mataku yang kantuk saat mendengarkan khutbah tiba tiba teringat tagihan ku untuk membayar biaya  pay latter yang semakin melonjak bunganya, aku pun terisak tangis penyesalan ku karena sifat boros  yang tak pernah sembuh dari jiwaku ini. Sedangkan umurku yang hampir tidak termasuk kategori  penerimaan THR, harus bisa mengelabui target-target saudaraku. Kalau tidak aku tak dapat  memikirkan nasibku jika sudah jatuh tempo, entah bagaimana ku bisa membayar tagihannya.. Huft.  Selesailah sudah khutbahnya, aku pun bergegas pulang ke rumah namun aku harus menunggu  keluargaku selesai bersalaman dengan para tetangga, malas rasanya harus menunggu.. Sedangkan  perutku sudah bunyi “krukk, krukk” tanda perlu di isi oleh opor dan rendang yang ibu masak. Tak  disadarkan, tiba tiba ada seseorang yang memanggil ku dari arah belakang, sontak ku memutarkan 

badanku dan melihat seorang wanita yang mempunyai tubuh tidak terlalu tinggi dan suara yang  lembut, aku saat menatap matanya belum bisa mengenal siapa dirinya, namun saat dia memanggil  panggilan kecilku “curut” tiba tiba ku ingat siapa dirinya, Ya benar.. dia Sinta teman main ku dulu,  sudah lama tidak melihatnya, namun saat ku terakhir dengar kabarnya dia sudah pindah ke Surabaya  untuk kuliah di Universitas Gajah Mada, dan saat ini ku melihat dirinya lagi. Dia menghampiri ku  dan tiba tiba mencubit perutku, “ADUH!” ucapku kaget karena tingkahnya. Dia menanyakan apakah  diriku masih mengingat dirinya atau tidak, “Eh apa kabar lo curut, udah lama banget buset kita engga  ketemu, terakhir kayanya 9 tahun lalu deh HAHAHA, masih ingat gue kan??” tanya Sinta. “Eh sakit  tau cuy, gue awalnya engga mengenali wajah lo tapi pas lu panggilan kecil gua tiba tiba ingat kalau  lo doang yang manggil gue pake panggilan itu, Sintil alias Sinta mungil, HAHA” jawabku dengan  sedikit meledek. Namun seketika mukanya kesal kepadaku tetapi kemudian dirinya tertawa lepas,  “HAHAHAHA curut2 dari dulu lo gak pernah berubah sama sekali, dari cara bicaranya, humornya  sampai tatapan lo ke gua, unik deh lo!” Ucap Sinta kepadaku. Dan akhirnya pembicaraan panjang di  mulai hingga berujung dia mampir ke rumahku. Ibu dan papa pun langsung menyiapkan banyak  topik pembicaraan untuk di bahas bersama Sinta, karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu.  

Hari telah menunjukkan pukul 11 siang., Tamu semakin banyak datang ke rumah ku untuk  bersilahturahmi. Tamu yang ku tunggu – tunggu akhirnya datang, adik dari ayah yang sudah lama tak  bertemu semenjak. Pindah dari jakarta ke kalimantan untuk urusan bisnisnya tahun ini dapat  berkumpul kembali. Terakhir ku dapat tunjangan dari dia cukup besar, tembus 1 Juta hanya dari dia  saja, memang royal sekali, semoga tahun ini aku akan mendapatkan lebih besar dari tahun lalu.  Harapku untuk belanja dari uang THR ku hapus sedemikian hanya untuk membayar hutangku yang  akan jatuh tempo bulan ini, sudahlah kalau ku terus memikirkan tagihan itu, aku bisa stres dan gila  sendiri. Aku memilih untuk ikut gabung bersama saudari yang seumuran dengan ku, walaupun  pembahasan nya agak membosankan namun setidaknya aku tidak harus membantu anak lima tahun  berhenti merengek nangis.  

Tak terasa waktu mengejar malam, hari ini terasa ada yang kurang dari rutinitas umat islam, Selama  1 bulan belakang, biasanya setiap adzan maghrib kita terbiasa untuk buka bersama keluarga di  rumah. Dan saat ini kita sudah makan malam masing-masing tanpa berbincang satu kata pun. Aku  harap kita masih dapat bersama hingga ramadhan tahun depan. Huft.. aku mengeluh namun ini  semua demi THR, andai jika saudara ku datang hanya untuk memberi THR aku tak akan mengeluh,  namun itu semua membuatku menjadi orang yang gila duit, semua karena tagihan pay latterku. 

Tamu terakhir telah menyelesaikan pembicaraan hingga pukul 10 malam... tapi tidak apa apa karena  sudah lumayan THR ku hari ini sudah cukup untuk membayar bunga yang mekar di dalam tagihanku  haha. Semoga lebaran di esok hari dapat memenuhi targetku untuk membayar setengah cicilannya..  

Sebelum tidur, ku akan amankan duit THR ini di bawah bantalku yang sungguh keras seperti batu  ini. Ku berdoa agar mimpi indah dan tenang dari segala gangguan notifikasi telepon dari tagihan  paylatter itu.  

Lemparan panci di dapur membangunkan ku dari mimpi indah, entah sengaja atau tidak namun  uniknya sekeluarga langsung bangun untuk siap siap memulai pagi. Hari kedua aku dan keluargaku  akan menuju keluarga ibu di jawa timur. Sudah 8 tahun aku tidak mengunjungi tempat lahirku sejak  aku pindah, dan sekalian untuk menjenguk nenek buyutku yang sudah mau menyentuh 1 abad, beliau  tetap sehat bugar di setiap. Malam jumat namun selain hari itu susah untuk bangun dari ranjangnya  yang terbuat dari kayu itu. Agak mistis namun beliau tetap sholat sesuai kewajibannya sebagai umat  islam. Entah ilmu apa yang di pakai nya. Perjalanan menggunakan kereta ekonomi ini mungkin akan  memakan waktu 12 jam hingga aku sampai di stasiun Malang, Jawa Timur. Selama di perjalanan aku  tak memikirkan tagihan-tagihan itu, aku akan mencoba melupakan sejenak dengan di hiasi pemandangan rumput-rumput hijau yang tenang dan asri.  

“Iya pak sabar dong, nanti saya juga akan bayar setelah saya pulang kampung untuk menjenguk ibu  saya” Ucap seseorang pria yang duduk di sebelah bangku ibuku, ku tidak sengaja menguping  pembicaraan mereka... sepertinya pria itu senasib denganku, dia di ganggu oleh penagih hutang  pinjol ilegal yang beredar di situs web, untung saja aku hanya menggunakan paylatter bukan  pinjaman online. Aku berdoa semoga selama aku di sana aku tidak di ganggu seperti dirinya.  

“Saat ini kita memasuki kota Malang, Jawa Timur.” Ucap masinis tanda kita sebentar lagi akan  sampai di tujuan, terdengar samar saat mataku mulai melihat cahaya matahari. Waktu menunjukkan  pukul 8.30 pagi. Yang berarti 30 menit lagi kita akan sampai di stasiunnya. Ibu yang sudah rapih  dengan sweater tebalnya seakan-akan kita akan menuju gunung Everest, ingin heran namun itu ibuku  sendiri. Kakak yang sedang mendengarkan musik di bangku belakang sepertinya tidak sadar bahwa  kita sebentar lagi akan sampai, ku biarkan saja.. biar dia repot sendiri nanti. “Tring... Tring... Tring..” 

Tiba tiba handphone ku bergetar di saku bajuku ini, sontak ku melihat notifikasi dari nomor yang tak  dikenal, “BAYAR TAGIHAN ANDA SEBELUM PUKUL 15.00 WIB” panik, gelisah, takut itulah  peryama kali yang ku rasakan saat membacanya. Aku langsung mematikan total hp ku agar ibu tidak  curiga oleh kegelisahanku. “Duh... kok tiba-tiba jatuh tempo sekarang sih? Bukannya akhir bulan  ya.. Ibu seketika sadar dan mengucapkan satu kalimat yang membuat otakku seketika berfikir keras 

untuk menjawabnya “Kenapa Nak? Ada masalah?” tanya beliau sambil menatapku. “Eeee tidak ada  bu, Cuma kaget sedikit karena ada kabar teman ku hilang saat naik gunung...” jawabku dengan asal  karena tidak bisa lagi berfikir dengan keadaan panik seperti ini.. namun untungnya ibu percaya dan  

langsung berdoa untuk temanku yang hilang agar cepat di temukan.. maafkan aku ibu, harus  berbohong saat ini.  

Mentari sudah menyengat tepat di atas kepalaku.. namun aku masih belum bisa mencari solusi untuk  membayar tagihan ku sore ini, kurang 500 ribu agar aku dapat melunasinya. Kalau aku meminjam  kakaku, pasti dia akan curiga untuk apa aku uang sebesar itu, lagi pula aku akan di sindir karena aku  masih dapat THR dari para saudara sedangkan dia tidak, aku benar-benar tidak bisa mencari jalan nya. Mengapa saat aku sampai di tempat kelahiran ku. Malah aku harus memikirkan semua ini, aku  hanya ingin tenang dan lepas dari semua masalah tagihan ini. Aku selama menuju pemberhentian  angkot, raut wajahku terlihat cemas seperti orang yang dikejar-kejar hantu namun ini lebih seram  dari hantu. Ah sudahlah aku akan memberanikan diri untuk coba meminjam ke kakakku dengan  alasan keperluan praktik di sekolah.  

“TOLONGGGG, TOLONG AKU!!” terdengar dari arah lorong belakang stasiun, sepertinya itu suara  perempuan, aku tak berfikir lama dan langsung menghampiri sumber suara teriakan itu. Aku terkejut  dan mencoba memberanikan diri saat melihat perempuan itu sedang mencoba merampas balik tas  dan koper miliknya oleh pria berbadan besar dan rambut yang ikal. “WOI, LEPASIN!” teriakku  sambil berlari dan menendang perut pria berbadan besar itu, tak sangka kekuatan ku boleh juga saat  di situasi seperti ini. Pria itu jatuh dan hampir terbentur pagar namun masih bisa berdiri dan mencoba  melawanku, dia menarik tanganku dan aku teringat saat senpai melatih bela diri ku di karate dulu. Ku  tepis dengan tangan satunya hingga ia tercekik oleh sikutku baru aku mengambil alih daya dorong  dari kakinya sebagai titik seimbangnya, aku mencoba mengambil tas dari genggamannya, dia  mencoba berontak namun ada warga yang datang dan langsung menangkap dan memukuli hingga  dirinya meminta ampun. Perempuan itu terlihat lemas di pojok stasiun dan aku menghampiri nya  dengan memberikan tas dan koper yang tergeletak di dekatnya. “Aduh.. mas makasih banget ya, saya  benar-benar hampir tak berdaya tadi kalau mas tidak datang, untung barang-barang berharga saya  tidak jadi di rampok.” Ucap perempuan itu dengan wajahnya yang sangat lemas. “Iya mba gapapa,  lagian lain kali jangan menunggu angkutan umum di belakang sini mba, soalnya rawan dari dulu,  banyak preman modal tampang doang di sini mah.” Jawabku dengan mencoba mencairkan suasana  sedikit. “haha iya mas bisa aja, sekali lagi makasih ya mas, ini ada sedikit tanda terimakasih dari  saya, pasti mas nya juga baru turun dari kereta dan ketinggalan angkot gara gara menolong saya.”  Ucap perempuan sambil mengarahkan duit di tangannya kepadaku. “EH, tidak usah mba, sumpah 

saya ikhlas membantu, saya tidak ingin ini menjadi pamrih untuk saya.” Jawabku dengan ekspresi  terkejut karena uang yang di berikan cukup besar. “tidak apa-apa mas, ambil.. saya sudah sangat  berterimakasih untuk bantuannya.” Aku pun berfikir apakah ini salah satu bantuan dari tuhan untuk  ku, dengan uang yang di berikan mba itu, sudah sangat cukup untuk melunasi tagihan pay latterku,  aku pun menerima duit itu dan langsung berterimakasih banyak kepada mba nya. “Waduh serius  mba? Yaudah saya terima ya mba dan terimakasih banyak buat ini, niat awal saya tetap ikhlas  membantu mba kok.. sekali lagi maturnuwun mba” jawabku dengan diakhiri bahasa jawa yang  berharap mbanya paham dan asli jawa timur juga. “nggeh, sami sami mas haha, yowes taxi saya  sudah menunggu mas, sekali lagi terimakasih ya” jawab mba nya, sepertinya suasana hatinya sudah  tenang dan agak senang dengan lolucon ku yang tidak terlalu garing haha. Aku pun melihat mba itu  memakai lanyard dari perusahaan “PT.PAYLATTER-INDONESIA.” Dan langsung heran dan  terkejut dengan rencana tuhan yang tidak di duga-duga, aku bisa membantu dengan orang yang  mungkin selama ini menagihi hutang-hutangku lewat notifikasi di handphone itu. Aku langsung  kembali menemui keluarga ku yang sudah menunggu diriku lama sejak tadi, dan kebetulan angkotnya sudah sampai, kita pun langsung menuju rumah nenek yang berada di kota batu, Malang,  Jawa timur.  

Saat sampai aku langsung menghitung seluruh total uang hasil THR ku dan ku rasa sudah cukup  untuk membayar seluruh tagihan pay-latterku. Aku langsung menghampiri gerai pulsa terdekat untuk  transfer tagihan ku dengan lunas ke perusahaan pay-latter itu. “Ini ya mas bukti transferannya..”  hatiku terasa lega dan pikiranku tenang saat tagihaku sudah terbayarkan semuanya. Aku janji aku  tidak akan pernah mencoba lagi untuk menggunakan sistem pay latter ataupun pinjaman online yang  membiasakan perilaku borosku terhadap duit-duit yang ku miliki. Aku ingin hidup ku menjadi tenang  tanpa harus memikirkan semua hutang ataupun tagihan yang ada, biarkan ini menjadi yang pertama  kali dan terakhir dalam hidupku. Good bye pay-latter!  

THE END. 

 

Komentar

Postingan Populer