HILANG - NIKEISHA VIVIAN ARDIANTY

HILANG


Jakarta, 05 Juli 2024
Awal saat semua hal berbeda dalam hidup ku terjadi, jatuh cinta. Asing rasanya jika seorang
perempuan berusia 17 tahun membicarakan tentang cinta, tapi ini lah yang terjadi dalam
hidupku, tentang aku, kamu, dan masa putih abu itu.

Ini semua berawal dari sebuah social media yang bernama instagram. Singkatnya, aku mulai
tertarik saat sebuah akun instagram milik seorang lelaki mengikuti akun instagram ku.
Bagaimana bisa tidak tertarik? Seorang lelaki tampan, juga seorang atlet basket itu baru saja
mengikuti aku di sebuah social media. Ya Tuhan ini semua rasanya seperti mimpi, aku yang saat
itu terbilang cukup biasa saja sontak terkejut, juga bertanya tanya bagaimana dia bisa mengetahui
akun social media ku?

Perkenalan singkat pun terjadi di antara kami, bermula dari aku yang iseng iseng membalas
sebuah sorotannya dan berakhir dengan perkenalan yang tidak akan pernah aku lupakan sampai
kapan pun. Usut punya usut, ternyata dulu kami pernah bersekolah di sekolah yang sama,
terdengar cukup aneh di telingaku, karena aku tidak pernah bertemu dengan-nya saat bersekolah
dulu.
Setelah perkenalan singkat itu terjadi, interaksi lainnya pun tak terelakkan, mulai dari ucapan
selamat pagi dan selamat malam, hingga saling mengabari aktivitas masing-masing. Tetapi itu
semua tidak bertahan lama, karena secara tiba tiba ia menghilang dari ruang obrolan kami.
Entahlah, aku sendiri pun tidak tau salah ku dimana sehingga ia memutuskan untuk menghilang
dari ruang obrolan hangat kami.

Seiring waktu pun berganti, aku semakin dibuat tak karuan dengan hilang nya dia dari jarak
pandangku. Padahal sedari awal aku tidak pernah serius saat merespon hadirnya ia di hidup ku,
tetapi mengapa sekarang aku menjadi sekacau ini, hanya karena tidak mendapat kabarnya?

Tepat sebulan setelahnya, ia kembali muncul dan membuka ruang perbincangan hangat di antara
kita. Terkejut? Tentu saja, maksudku hey, bagaimana bisa aku tidak terkejut ketika ia mulai
membuka obrolan di antara kami, setelah satu bulan lamanya menghilang tidak ada kabar. Aku
memberi respon yang cukup baik ketika kita mulai kembali berbincang seperti satu bulan lalu.
Bulan demi bulan berganti, kita semakin dekat, dan aku semakin tidak bisa jika bukan dengan
dia. Aneh, bukan ini yang aku mau ketika kita memulai percakapan saat pertama kali. Semakin

ku jalani hari bersama-nya, semakin tumbuh pula rasa ini kepada-nya, dan semakin berubah pula
sikap-nya. Dia semakin tidak terkendali, aku di buat kewalahan dengan semua sikap-nya. Semua
hal yang berkaitan dengan-nya membuat aku merasa sakit, belum lagi lisan-nya yang tajam bak
duri mawar itu.

Saat itu aku tau bahwa, hati ku sudah sepenuhnya berlabuh kepada dirinya. Aku yang sudah
bergantung akan hadir-nya di sisi ku, dengan nekat mengambil langkah untuk berjauhan dan
menutup semua akses komunikasi ku dengan-nya. Sebulan, dua bulan, aku merasa bahwa tidak
seharusnya aku menutup akses komunikasi antara aku dan dirinya, mengingat bahwa dua bulan
ini aku sudah berangsur angsur membaik tanpa diri-nya. Setelahnya, komunikasi pun berjalan
dengan baik seperti yang aku harapkan, permintaan maaf pun tak luput dia ucapakan, ketika kita
mulai berbincang kembali.

Semua berjalan dengan sangat lancer, kita berteman baik tanpa mengungkit masalah yang kita
hadapi kemarin. Bahkan ketika Desember tiba pun, aku tak lupa untuk mengucapkan selamat
natal, dan selamat tahun baru kepada dirinya dan keluarga.

Jakarta, 16 Januari 2025
Seperti takdir Tuhan yang tulis, tidak pernah tau bagaimana hari esok akan berjalan. Kita
kembali mendekat, yang aku sendiri tidak tau secara rinci karena apa. Aku tidak tau maksud
kamu apa, yang tiba tiba membuka ruang obrolan hangat kita lagi. Lepas dari kamu itu susah,
karena itu aku mikir dua kali untuk balik ke kamu lagi, tapi perasaan aku ga pernah bisa bohong,
kalau aku masih butuh kamu disini.

Kedekatan kita kali ini bener-bener ngebuat aku bergantung sama kamu, aku ga bisa jabarin
seberapa sayang aku ke kamu. Kamu manis banget saat itu, ngebuat aku bener bener ngerasa
beruntung bisa kenal dekat sama kamu. Semua perlakuan manis kamu, semua perkataan manis
kamu, semua waktu yang kita habisin bareng, ngebuat aku merasa dicintai dan disayangi segitu
besarnya sama kamu. Tapi memang sejati nya aku ga pernah paham sama diri kamu, aku gatau
hal apa yang bikin kamu mudah berkata “mati rasa” ke aku. Semua waktu yang udah kita habisin
bareng, kayanya emang ga pernah berarti buat kamu.

Aku udah gatau seberapa tidak suka nya teman teman aku sama kamu. Laki-laki jahat, tidak
berperasaan, semua hal buruk mereka cap untuk kamu. Mati-matian aku ngebela kamu di
hadapan mereka, mati-matian juga kamu ngebuktiin omongan mereka.

Perasaan aku bener-bener tulus buat kamu, bahkan sangkin tulusnya aku masih nerima kamu,
saat kamu membalikkan badan ke arah aku.

Jakarta, 08 April 2025
Hari dimana dengan sangat sadar, aku memutuskan untuk balik lagi ke kamu. Kesempatan
terakhir yang aku berikan juga ke kamu. Ngga banyak hal indah di pertemuan kali ini, kamu
berubah. Tidak semanis dulu, tidak sehangat saat kali pertama kita memutuskan untuk lebih
dekat. Aku ga kenal sama kamu di pertemuan kita kali ini, atau memang mungkin, aku ngga
pernah bener-bener kenal sama diri kamu?

Bulan berganti, semua percakapan di antara kita makin terasa hambar. Sampai akhirnya, kamu
memutuskan untuk menyudahi pertemuan kita kali ini. Keadaan yang memang menuntut
membuat kita harus segera menyudahi ruang obrolan hangat ini, tanpa bisa membantah apapun.
Bodohnya, saat selesai pun aku tetap berharap bahwa kita masih memiliki perasaan yang sama,
mengingat kisah kita berahkir bukan dari kemauan diri kita.

Sampai suatu ketika, aku tau hubungan antara kamu dan perempuan itu. Tidak ada amarah, tidak
ada dendam, hanya ada perasaan kecewa yang terselip dihati aku, ketika aku mengetahui
perempuan itu.
Sakit? Jelas, hampir satu tahun aku mengusahakan semua yang terbaik untuk dirinya, tapi ini
yang aku dapat, hanya perasaan sakit dan kecewa, yang bahkan aku sendiri tidak tau pasti kapan
itu akan hilang.

Jakarta, 21 Juni 2025
Hari dimana aku memutuskan untuk menutup semua halaman tentang kamu, perasaan sedih
benar benar mendominasi diri aku. Berat rasanya ketika aku harus melepaskan sesuatu, yang
dengan jelas aku sendiri pun tak mau untuk melepasnya. Perempuan itu seolah tak memiliki rasa
bersalah saat bersitatap dengan diriku, tak ada satu pun kalimat yang terlontarkan dari mulutnya
ketika ia melihat sosokku. Sakit rasanya saat aku melihat netra gelap yang menjadi pelabuhan
tempat mu bersinggah sekarang.

Tidak ada salahnya untuk mengumbar hubungan mu dengan perempuan itu ke khalayak umum.
Tidak akan ada aku lagi yang mengganggu hidup mu, aku mengikhlas kan mu. Mencintai lah
dengan benar kali ini. Walaupun akhir cerita yang aku dapat seperti ini, setidaknya aku pernah
merasakan hangat pelukmu, merasakan rasanya di tatap dan di sayangi dengan penuh rasa
hangat, dan di cintai dengan penuh rasa aman. Tumbuh lah dengan pribadi yang lebih baik lagi,
aku tidak pernah menyalahkan mu sepenuhnya di hubungan ini, karena aku pun ikut andil di
dalam nya.
Maaf jika hadirku hanya menjadi penghalang untuk hidupmu, sekarang lanjutkan lah hidup mu
sebagaimana mestinya. Aku melepaskan mu, sungguh.

Jakarta, 24 Juni 2025
Hari ini aku menuliskan ulang semuanya, mulai dari pertemuan kita, ruang perbincangan hangat
kita, juga dengan perpisahan kita. Aku menulis semua ini, bukan semata mata agar semua orang
membenci mu, melainkan, aku ingin semua orang tau bahwa kamu lah satu satu nya sosok yang
aku usahakan mati matian. Jangan tanyakan bagaimana perasaan ku hari ini, karena jujur
perasaan kecewa dan sedih itu masih terdapat di dalam di hati ku, bercampur rata dengan
perasaan cinta ku kepada mu.

Bahagia selalu ya? Aku disini masih, dan akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu. Tidak
ada yang aku sesali, karena mungkin ini lah takdir yang Tuhan tuliskan untuk ku.
Nanti kita bertemu lagi ya? Untuk membicarakan semua yang sudah terjadi, tetapi dengan
perasaan yang jauh lebih ikhlas.

Terimakasih banyak, Julian.

Komentar

Postingan Populer