WHAT MAKES US HUMAN? - JAZEERA VANIA SALAM


“What Makes Us Human? A Reflective Essay”
Karya: Jazeera Vania Salam 

Humans. Perhaps, one of the most interesting living beings I have ever seen. Throughout my life, I have seen a little bit of the ups and downs of humanity. So, here's the question, what makes us even considered "humans" in the first place? 

The only thing differentiating homo sapiens/humans from other living beings is the ability to think. Humans had evolved into the 'best' version of a species. Logic and emotions are the best components of a human being. Without them, you're just not human. 

Some of the best decisions in the world were made by the human logic, some of the best art ever made were based on human emotions and feelings. Our ability to create beauty from pain is sincerely fascinating. But what truly amazes me, is our "incredible" wit to ruin ourselves.

For thousands of years, humans have perfected the art of "being the best human". In a world full of violence, corruption, greed, and hate, how can you function and rule over the weak? The answer is through our minds. In the little organ sizing only two adult fists, lies the controls that determines how we live and function as a whole. How amazing the human brain is. 

It's the thing that makes us so vulnerable to downfall. It's not the humanity ourselves that breaks us, rather, the ability to think is what could potentially destroy us. The primal instincts of humans paired with our egoistical and greedy ideology made them even worse.

However, we should remember that the human brain is complicated. The nature of humans is to ask questions. It's the reason humans created ideologies, arguments, and even philosophy. All for the sake of answering the questions about humanity and reality itself. Perhaps, bringing light into the darkness.

So, back to the question. What makes us human? This is a pretty complex question, as the answer varies from people to people. To me, it's the ability to think logically and feel emotions, the ability to be complex, also the fact that no one can truly "understand" one another.

Still, there's an alternative. Other than trying to "understand" a human's thought process and emotions, we humans have one thing–Empathy.

Empathy created kindness, love, and eventually–peace, even though we never truly "understand" people.

The conclusion is, humans are like treasure hunts. Except the treasures are sunk in the Pacific Ocean. They are never asked to be found and probably will never be, even if we YEARN to find it.










Terjemahan:

Manusia. Mungkin, salah satu makhluk hidup paling menarik yang pernah saya lihat. Sepanjang hidup saya, saya telah menyaksikan sedikit pasang surut kehidupan manusia. Jadi, pertanyaannya, apa yang membuat kita dianggap "manusia" sejak awal?

Satu-satunya hal yang membedakan homo sapiens/manusia dari makhluk hidup lainnya adalah kemampuan berpikir. Manusia telah berevolusi menjadi versi 'terbaik' dari suatu spesies. Logika dan emosi adalah komponen terbaik manusia. Tanpanya, Anda bukanlah manusia. 

Beberapa keputusan terbaik di dunia dibuat oleh logika manusia, beberapa karya seni terbaik yang pernah dibuat didasarkan pada emosi dan perasaan manusia. Kemampuan kita untuk menciptakan keindahan dari rasa sakit sungguh menakjubkan. Namun yang benar-benar membuat saya takjub adalah kecerdasan kita yang "luar biasa" untuk menghancurkan diri kita sendiri.

Selama ribuan tahun, manusia telah menyempurnakan seni "menjadi manusia terbaik". Di dunia yang penuh kekerasan, korupsi, keserakahan, dan kebencian, bagaimana Anda bisa berfungsi dan memerintah yang lemah? Jawabannya ada melalui pikiran kita. Di dalam organ kecil seukuran dua kepalan tangan orang dewasa ini, terdapat kendali yang menentukan bagaimana kita hidup dan berfungsi secara keseluruhan. Betapa menakjubkannya otak manusia.

Otaklah yang membuat kita begitu rentan terhadap kehancuran. Bukan kemanusiaan kita sendiri yang menghancurkan kita, melainkan kemampuan berpikirlah yang berpotensi menghancurkan kita. Naluri primal manusia yang dipadukan dengan ideologi egois dan serakah kita justru memperburuk keadaan mereka.

Namun, kita harus ingat bahwa otak manusia itu rumit. Sifat manusia adalah bertanya. Itulah alasan manusia menciptakan ideologi, argumen, dan bahkan filsafat. Semua demi menjawab pertanyaan tentang kemanusiaan dan realitas itu sendiri. Mungkin, membawa cahaya ke dalam kegelapan.

Jadi, kembali ke pertanyaan. Apa yang menjadikan kita manusia? Ini adalah pertanyaan yang cukup kompleks, karena jawabannya bervariasi dari orang ke orang. Bagi saya, itu adalah kemampuan untuk berpikir logis dan merasakan emosi, kemampuan untuk menjadi kompleks, juga fakta bahwa tidak seorang pun dapat benar-benar "memahami" satu sama lain.

Namun, ada alternatifnya. Selain mencoba "memahami" proses berpikir dan emosi manusia, kita manusia memiliki satu hal—Empati.

Empati menciptakan kebaikan, cinta, dan akhirnya—kedamaian, meskipun kita tidak pernah benar-benar "memahami" orang lain.

Kesimpulannya, manusia itu seperti perburuan harta karun. Hanya saja harta karun itu ditenggelamkan di Samudra Pasifik. Harta karun itu tidak pernah diminta untuk ditemukan dan mungkin tidak akan pernah ditemukan, bahkan jika kita INGIN menemukannya.


Jumlah kata dalam esai : 415 kata
Bahasa asli esai : Inggris


Komentar

Postingan Populer