BAYANGAN HATI YANG PATAH- FERLYTA ERVIANTI
Bayangan Hati Yang Patah
Kalau dipikir-pikir lagi, hubungan jarak jauh itu sebenarnya bukan cuma soal jarak. Jarak hanyalah angka.
Yang berat itu justru apa yang tidak terlihat: keraguan, rasa takut, kecemburuan yang muncul dari hal-hal
kecil, dan pikiran yang sering lari ke tempat yang tidak seharusnya. Aku tahu ini sejak awal, tapi aku tetap
melangkah masuk juga, entah karena bodoh atau karena memang ingin mencoba.
Aku masih seorang siswi SMK dengan rutinitas yang padat. Tugas, kegiatan sekolah, dan organisasi sering
kali membuat hari-hariku terasa penuh. Dia seorang mahasiswa di Gorontalo yang sama sibuknya—atau
bahkan lebih. Berbulan-bulan kami menjalani hubungan tanpa pernah tatap muka, hanya suara dan pesan
yang jadi jembatan. Lima bulan lebih. Dalam hitungan orang, mungkin belum lama. Tapi bagiku, itu cukup
untuk membuatku mengenalnya lebih dari sekadar nama di layar.
Saat pertama kali kami memutuskan untuk mencoba, aku tidak banyak berharap. Rasa sayang pun
sebenarnya belum ada waktu itu. Lebih seperti… “ya sudah, coba dulu.” Setelah masa laluku yang
berantakan, aku bahkan tidak yakin bisa punya keberanian lagi untuk membangun sesuatu bersama orang
lain. Tapi dia hadir seperti seseorang yang tidak pernah kutahu kubutuhkan. Tidak terlalu romantis, tidak
terlalu manis, tapi konsisten. Menelpon ketika sempat, cerita sedikit tentang harinya, menanyakan
kabarku—hal-hal sederhana yang secara perlahan membuatku percaya.
Kami tidak sempurna. Sudah beberapa kali bertengkar karena kesalahpahaman yang sebenarnya tidak
penting. Hal-hal kecil seperti telat bales, atau salah paham soal teman, bisa meledak jadi perdebatan. Tapi
kami selalu kembali lagi. Kadang dengan saling minta maaf, kadang dengan pura-pura lupa. LDR memang
begitu; semuanya tentang bagaimana kamu menahan diri agar tidak terlalu banyak menuntut.
Malam itu harusnya menjadi malam biasa, seperti malam-malam sebelumnya. Kami menelpon seperti biasa
ketika dia punya kesempatan. Nada suaranya terdengar sedikit lelah, tapi tetap berusaha terdengar ceria. Aku
sedang setengah mengantuk ketika tiba-tiba sambungan telepon itu mati begitu saja. Tidak ada pamit, tidak
ada tanda-tanda. Hanya suara tut pendek yang membuatku membuka mata sebentar.
"Ah, mungkin dia ketiduran," pikirku. Aku tidak ingin terlalu memikirkan apa pun malam itu, jadi aku
memejamkan mata lagi.
Tapi justru pada saat itulah mimpi aneh itu muncul.
Aku melihat status WhatsApp-nya. Ia berfoto bersama seorang perempuan. Dekat sekali. Senyum mereka
terlihat seperti orang yang nyaman satu sama lain. Dan yang paling aneh… semuanya sangat jelas. Rambut
perempuan itu, bajunya, ekspresi wajahnya—seolah aku benar-benar melihat foto asli, bukan sekadar
imajinasi otak yang setengah tidur.
Rasanya seperti dada tiba-tiba ditusuk. Dalam mimpi itu, aku merasa marah, kecewa, dan tidak terima.
Padahal itu hanya mimpi. Tapi terasa terlalu nyata sampai-sampai ketika aku terbangun, jantungku masih
berdetak kencang.
Aku mencoba menepisnya. “Itu cuma mimpi,” kataku pada diri sendiri. Tapi rasa tidak enak itu menempel
seperti bayangan yang tidak mau pergi.
Besok paginya, aku menceritakan mimpiku kepada dua temanku di sekolah.
“Kayaknya dia selingkuh,” kataku lirih.
Temanku langsung nyeletuk, “Lah… itu di mimpi doang kali. Masa percaya?”
Aku tahu itu cuma mimpi, tapi aku tidak tahu kenapa rasanya seperti peringatan. Atau firasat. Atau mungkin
hanya ketakutanku sendiri yang berubah jadi sesuatu yang terlihat nyata.
Hari itu aku tidak bilang apa-apa padanya. Aku tidak berani. Bukan karena takut dia marah, tapi karena aku
takut memvalidasi ketakutanku sendiri. Jadi aku diam.
Keesokan harinya, setelah aku selesai ujian, dia mengirim foto dirinya sedang kuliah. Biasanya aku akan
langsung tersenyum, tapi kali ini rasanya ada sesuatu yang mengganjal. Hasrat untuk menanyakan mimpi itu
tidak bisa kutahan.
“Aku mau tanya sesuatu,” ketikku.
“Kamu abis fotbar sama siapa? Kok deket banget?”
Balasannya singkat.
“Yang mana?”
Entah kenapa itu membuatku makin kesal.
“Berarti sering ya?” balasku.
Beberapa menit kemudian ia membalas,
“Konten kah? Temen doang. Dia punya cowok juga.”
“Ohh ok,” jawabku akhirnya.
Aku tidak bertanya lebih jauh. Tidak menanyakan apakah ia benar-benar memposting foto itu seperti dalam
mimpiku. Tidak menanyakan detail siapa perempuan itu. Untuk apa? Aku sudah cukup tahu untuk merasa
sakit. Kalau aku tanya lebih jauh, aku takut jawabannya akan jauh lebih buruk.
Sejak kejadian itu, ada jarak kecil di dalam diriku. Aku tidak menjauhinya, hanya… menurunkan ekspektasi.
Tidak terlalu keras menggenggam. Tidak terlalu berharap ia hanya milikku. Aku tahu batasanku. Dia punya
kehidupannya sendiri di sana, dan aku tidak selalu bisa ada untuk melihat atau menjaga.
Kadang aku iri dengan hubungan orang lain yang terlihat lebih jelas arahnya. Tapi aku juga sadar setiap
hubungan punya masalah sendiri. Tidak ada yang benar-benar sempurna.
Beberapa hari setelah itu, dia menghilang dari kabarku. Aku tahu dia sedang sibuk proker besar. Dia sudah
bilang sebelumnya. Tapi tetap saja rasanya aneh ketika ponselku tidak menunjukkan notifikasi darinya satu
pun. Aku mencoba tidak terlalu memikirkan hal buruk. “Dia sibuk, wajar,” begitu terus kubilang pada diri
sendiri.
Sampai sore itu, tiba-tiba ia menelpon.
Saat itu aku sedang tidur siang, aku terbelalak mendengar dering telepon yang berasal dari handphoneku dan
merasa jantungku turun ke perut. “Hah, siapa? Mungkinkah dia?” Aku berguman setengah sadar, sempat
ragu. Tapi akhirnya aku tekan tombol hijau itu.
“Halo? Hah?! Kamu?” Aku begitu merasa lega sekali mendengar suaranya yang lama tak kudengar.
Suaranya terdengar serak, lelah sekali. Tapi ada sedikit tawa kecil di ujungnya. “Aku udah selesai sayang,
cape banget aku tadi tuh..”
Aku diam sejenak, mendengarkan ceritanya tentang betapa melelahkannya hari-hari terakhirnya. Ia bercerita
panjang lebar—tentang drama antar panitia, deadline yang saling numpuk, tidur yang cuma beberapa jam. Ia
terdengar seperti seseorang yang akhirnya bisa napas setelah ditahan lama.
“Aku capek banget sumpah,” katanya dengan suara yang semakin pelan.
Aku tidak membahas mimpiku. Tidak membahas foto itu. Tidak bertanya kenapa ia tidak mengabariku. Aku
hanya mendengarkan, mengangguk meski ia tidak bisa melihatku.
Dia akhirnya tertidur di telepon. Napasnya terdengar pelan, teratur. Aku memandang layar ponselku, merasa
sesuatu mencubit hatiku—campuran sayang, sedih, dan takut.
Aku memutuskan tidak membangunkannya.
Biar saja dia istirahat. Toh aku memang tidak ingin bertengkar saat dia sedang seperti ini.
Kadang aku merasa hubungan ini lucu. Saat terjadi masalah, akulah yang biasanya mengalah duluan. Dia
seringnya emosian, masih belum dewasa kalau soal hubungan. Kalau dia marah, aku yang menenangkan.
Kalau dia hilang arah, aku yang mencoba jadi tempat kembali. Sementara aku sendiri sebenarnya juga butuh
tempat untuk pulang.
Tapi anehnya, aku tetap sayang.
Tetap kangen.
Tetap tidak bisa terbiasa ditinggal saat dia sibuk.
Ada hari-hari di mana aku bisa bersikap normal dan logis. Ada hari-hari lain di mana aku merasa ingin
marah dan bertanya, “Kenapa aku yang harus terus mengerti?” Tapi cinta kadang memang tidak logis.
Apalagi yang jarak jauh begini; kau belajar menerima hal-hal yang sebenarnya tidak ingin kau terima.
Beberapa hari setelah itu, kami kembali komunikasi seperti biasa. Tidak sepenuhnya seperti dulu, tapi cukup
membuatku merasa sedikit tenang. Ia mulai cerita lagi, mulai menelpon lagi ketika sempat. Aku juga mulai
lebih santai. Tidak terlalu menekan diri, tidak terlalu memaksakan hubungan ini harus sempurna.
Aku masih takut.
Masih merasa ragu.
Masih sering kepikiran mimpi itu.
Tapi aku tidak lagi membiarkan rasa takut itu menguasai segalanya.
Karena bagaimanapun, dia tetap orang yang pertama membuatku percaya lagi setelah masa lalu yang buruk.
Itulah alasan aku masih bertahan.
Apakah hubungan ini akan bertahan lama? Aku tidak tahu.
Tapi saat ini, untuk alasan yang tidak bisa sepenuhnya kujelaskan, aku masih ingin mencoba.
Aku masih ingin percaya.
Masih ingin melangkah bersama dia—meski kadang jalannya goyah, meski kadang aku terluka, meski
jaraknya terlalu jauh untuk kugapai.
Dan kalaupun suatu hari dia benar-benar dewasa, benar-benar belajar menjaga hati yang kuberi, mungkin
semua ini akan terasa layak.
Untuk sekarang… aku tidak berharap lebih.
Aku hanya ingin menikmati sedikit ketenangan yang tersisa.
Menjaga hati yang pernah patah, tapi masih mau mencoba lagi.
Dan entah bagaimana… aku tetap percaya kami masih bisa melangkah, meski pelan.
Tidak sempurna, tapi tidak sepenuhnya hancur.
Ada harapan kecil di sana.
Dan itu cukup.

.jpg)
Komentar
Posting Komentar