Buku kecil milik aleya-YASMINE SYAHRANI
Buku kecil milik aleya
Aleya Arunika tidak menyangka jika kehidupannya yang selalu dipenuhi kebahagiaan, dan
kasih sayang harus hancur dalam seketika.
Semua bermula ketika sebuah kecelakaan merenggut salah satu orang terkasih di kehidupan
aleya. Ayahnya yang begitu menyayangi dirinya dan selalu memanjakannya harus pergi
Selama-lamanya dalam kecelakaan tersebut. Rumah yang semulanya penuh canda-tawa,
perlahan berubah menjadi hampa, terkadang rumahanya selalu terdapat sebuah tangisan yang
begitu memilukan setiap malamnya.
Setelah kepergian itu semuanya perlahan berubah.
Ibu yang biasanya selalu menyiapkan sarapan di iringi dengan senyum lembut yang melekat
pada wajahnya. Tak lupa dengan panggilan sayang dan elusan lembut di puncak kepala yang
ia berikan kepada anak-anak nya, kini tak lagi ada akibat terenggut oleh duka kehilangan
yang mendalam.
Senyuman yang dulu ia berikan itu telah di gantikan oleh wajah yang penuh kehampaan. Tak
lagi ada panggilan sayang dan elusan lembut, karena ibunya pun terlihat enggan menjalankan
kehidupan seperti sebelumnya.
Hal yang sama pun terjadi kepada kakak laki-laki dan perempuannya. Mereka yang dahulu
selalu mengajaknya bermain, mereka yang selalu memberikannya hadiah, dan mereka yang
biasanya memeluk sembari menciumnya kini tak lagi sama. Perlahan namun pasti, kasih
sayang mereka tak terlihat lagi oleh Aleya. Mereka lebih sering menghabiskan waktu diluar
rumah dan pergi bersama teman-temannya tanpa mengingat jika adiknya ini pun memerlukan
mereka.
Terkadang aleya harus merasakan sepinya meja makan ketika sang ibu mengurung dirinya
didalam kamar, dan juga ketika kedua kakaknya tak pulang untuk menemani nya. Hanya ada
hembusan angin malam yang masuk untuk menyapa dan menemaninya di kala sepi saat itu.
Aleya pun tak mengerti dengan apa yang seharusnya ia lakukan saat itu. Apakah perlu ia
menangis? Atau perlu ia pergi ke tempat yang jauh untuk menenangkan diri? Langkah yang
ia ambil hanya berdiam sembari melihat kacaunya orang-orang yang ia sayangi.
Tak mengerti oleh keadaan membuat aleya saat itu berani bertanya kepada sang ibu yang
sedang menyiapkan makanan nya, dengan tatapan kosong itu.
“Ibu. Kapan keluarga kita seperti dulu?”
Bukan jawaban yang ia dapat, namun hanya Isakkan kecil yang keluar dari mulut sang ibu.
Sejak saat itupun aleya memilih untuk bungkam dan tak berani bertanya kembali walaupun
selama bertahun-tahun ia harus bertahan berada di keheningan rumahnya yang luas ini.
Satu hal yang aleya sadari yaitu satu persatu seisi rumah seakan tak melihat kehadiran Aleya
di dalam nya. Mereka tenggelam oleh duka yang telah menarik mereka kedalam dasar
kesedihan hingga tak mampu meraih cahaya kembali.
Aleya menutup buku kecil yang ia pegang.
Rasanya begitu menyakitkan saat ia kembali membaca tulisan yang selalu Mengingatkannya
terhadap Momen-momen yang telah lama ia kubur. Semua yang sebelumnya telah aleya
alami, hanya akan abadi di dalam tulisannya ini.
Dahulu hal yang sebelumnya begitu menghancurkan keluarga yang semulanya sempurna
membuat aleya ikut larut dalam kesedihan. Saat di masa-masa itu aleya masih terlalu dini
untuk mengerti apa itu luka. Membuat aleya bingung harus seperti apa dalam masa itu.
Namun kini semuanya sudah berjalan sesuai dengan arahnya masing-masing. Ibunya sudah
berusaha bangkit dari keterpurukan dan memiliki kehidupan baru dengan ayah tirinya.
Begitupun halnya dengan kedua kakaknya yang sudah kembali seperti sedia kala. Aleya pun
akan bangkit dan berjalan bersama dengan keluarganya yang kini kembali utuh.
Walaupun tanpa ayah yang dulu selalu menemani nya.
Di keluarga barunya ini mungkin masih terdapat ibu dan Kakak-kakak nya, namun aleya
sempat tak mampu beradaptasi dengan orang yang kini ia panggil dengan sebutan papah,
rasanya masih begitu kelu saat ia mengucapkan kata itu. Ditambah saat ia mendapatkan
kedua kakak tiri laki-laki yang ternyata begitu penyayang membuat aleya yang terbiasa
kesepian, bingung harus bereaksi seperti apa.
Tapi tuhan memang begitu berbaik hati kepada aleya sehingga ia di berikan kembali
limpahan kasih sayang yang sudah lama tak dirasakan. Ketulusan keluarga barunya membuat
aleya terbuai dan dengan cepat menerima kehadiran mereka.
Kini aleya bisa kembali mendapatkan senyuman nya yang sempat hilang termakan oleh
waktu. Aleya juga dapat merasakan kembali hangatnya keluarga yang telah lama hilang, dan
yang terpenting keluarganya dapat melepaskan kesedihan yang sebelumnya begitu
membelenggu.
Buku kecil yang menjadi tempat ia menaruh segala cerita kini ia simpan rapih dalam sebuah
kotak yang berisikan ribuan kenangan. Semuanya tersimpan rapih tanpa goresan kecil pun
yang menyentuh.
Hal yang selalu aleya yakinkan bahwa. Kehidupan tak selalu berjalan sesuai dengan apa yang
kita mau. Mungkin kita tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Tetapi takdir yang telah di
tetapkan tidak akan pernah bisa dirubah oleh keinginan manusia. Lebih tepatnya “manusia
bisa berencana, tap tuhan yang punya kuasa.”
Semua yang telah dilewati oleh aleya bukanlah sebuah kebetulan semata, akan tetapi itulah
catatan takdir yang telah ditulis sesuai urutan, sebelum lahirnya aleya ke dunia ini.
Kehilangan adalah pelajaran bagaimana caranya untuk mengikhlaskan. Sesuatu yang telah
pergi, bukan berarti benar-benar hilang. Mereka akan selalu ada. Tak terlihat. Namun
hadirnya yang penuh hangat begitu terasa.
Mungkin segalanya akan terasa menyakitkan, tetapi jika kita percaya sehabis badai akan ada
pelangi, maka percayalah juga jika sehabis kesedihan tentu ada kebahagiaan. Di balik semua
itu, Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik dari dugaan manusia. Dan jangan pernah
menganggap jika Tuhan itu tidak adil, kenyataan nya setiap manusia yang masih sama-sama
mendapatkan nafas saja sudah menjadi bentuk keadilan yang Tuhan berikan.
Percayalah jika Tuhan membawa pergi satu hal dari kita, maka Tuhan akan menggantikannya
dengan ribuan hal yang lebih baik dari sebelumnya.
teruntuk aleya, selamat menjalankan kebahagiaanmu kembali. Dan cerita ini kututup dengan
penuh keikhlasan dan sukacita.
Sesuatu yang telah usai, tak akan pernah hilang. Tetapi tersimpan rapih delam memori yang
diberi nama “kenangan.” Cerita ini berakhir dengan penuh senyuman.
Salam hangat, penulis
Yasmine Syahrani
.jpg)
Komentar
Posting Komentar