Dia di antara keramaian-Marsela afrilia

DIA DI ANTARA
KERAMAIAN

sebuah cerita pendek tentang perasaan yang tumbuh

dalam diam.

Marsela Afrilia

Tidak semua perasaan lahir dari
perkenalan panjang atau percakapan

yang sering.

Sebagian tumbuh diam-diam, dari
hal-hal kecil yang nyaris tak

disadari.

Satu tatapan di tengah keramaian.
Satu senyum singkat yang datang

tanpa rencana.

Dan sejak saat itu, hati mulai
belajar menyimpan nama,
menyimpan rasa,

tanpa pernah benar-benar tahu ke
mana perasaan itu akan berlabuh.

Thanks to...

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang
Maha Esa karena cerpen berjudul Dia di Antara
Keramaian ini akhirnya dapat diselesaikan. Cerita ini
lahir dari pengamatan sederhana tentang perasaan
remaja—tentang kagum, gugup, dan bahagia yang sering
kali hadir tanpa rencana.
Cerpen ini ditulis untuk menggambarkan bagaimana
momen kecil dapat memiliki arti yang besar. Sebuah
senyum, tatapan singkat, dan perasaan yang tumbuh
diam-diam di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari.
Penulis berharap cerita ini dapat menemani pembaca,
terutama mereka yang pernah merasakan jatuh cinta
dalam sunyi.
Penulis menyadari bahwa cerpen ini masih memiliki
banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan
karya di masa mendatang. Semoga cerpen ini dapat
memberikan kesan hangat dan menjadi bacaan yang
menyenangkan.

PROLOG
Ada perasaan yang tumbuh tanpa pernah direncanakan.
Datang perlahan, lalu menetap tanpa permisi.
Ia tidak selalu muncul lewat kata-kata. Kadang hanya

berupa tatapan singkat, senyum sederhana, atau detik-
detik hening di tengah keramaian. Perasaan itu tidak

meminta untuk diperhatikan, hanya ingin dirasakan.
Dan tanpa sadar, aku mulai menyimpannya dalam
diam—seperti rahasia kecil yang hanya aku dan hatiku
yang tahu.

1

Minggu ini terasa berbeda dari minggu-minggu
sebelumnya. Entah karena tugas sekolah yang sedang
tidak terlalu banyak, atau karena suasana hatiku yang
terasa lebih ringan. Aku jadi punya lebih banyak waktu
untuk diriku sendiri. Dua malam di awal minggu, aku
menghabiskannya dengan membaca novel romance yang
baru saja kubeli. Aku tenggelam begitu dalam pada
ceritanya, sampai-sampai lupa waktu. Setiap adegan
manis membuatku senyum sendiri di kamar. Kadang aku
menutup buku itu sebentar, memeluknya, lalu
membayangkan bagaimana rasanya jika berada di posisi
tokoh perempuan di dalamnya.

Aku selalu suka cerita tentang pertemuan tak terduga.
Tentang dua orang yang awalnya hanya saling melihat,
lalu perlahan menjadi sesuatu yang lebih berarti. Saat

membaca, aku sering berpikir, “Apa hal seperti itu benar-
benar ada di dunia nyata?” Lalu aku tertawa kecil,

merasa pertanyaanku sendiri terdengar konyol. Tapi tetap
saja, jauh di dalam hati, aku berharap suatu hari nanti
aku juga merasakan cerita yang sederhana namun
berkesan seperti di novel itu.

Memasuki malam Sabtu, lamunanku harus berhenti. Ada
hal nyata yang menungguku: wawancara OSIS. Sejak
mendaftar, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk

2

mencoba sebaik mungkin. Aku berdiri di depan cermin
cukup lama, berlatih memperkenalkan diri, menjawab
pertanyaan, bahkan mengatur ekspresi wajah agar
terlihat yakin. Beberapa kali aku salah ucap dan malah
tertawa sendiri. Tapi di balik itu, ada rasa gugup yang
terus mengganggu.

“Aku pasti bisa,” bisikku pada bayangan di cermin.

Sabtu pagi datang lebih cepat dari yang kuharapkan.
Perutku terasa sedikit mual karena tegang. Sepanjang
perjalanan ke sekolah, aku menarik napas dalam-dalam,
mencoba menenangkan diri. Di ruang wawancara, aku
berusaha duduk tegak dan tersenyum. Kakak-kakak
OSIS bertanya cukup banyak hal—tentang alasan
mendaftar, tentang tanggung jawab, tentang bagaimana
aku menghadapi masalah. Aku menjawab sebisaku.
Kadang suaraku sedikit bergetar, tapi aku tetap mencoba
menatap mereka dengan yakin.

Saat semuanya selesai, aku keluar ruangan dengan
perasaan lega yang luar biasa. Rasanya seperti beban
besar yang akhirnya terangkat. Aku tidak tahu hasilnya
akan seperti apa, tapi setidaknya aku sudah berusaha.

3

Siangnya, aku langsung berganti suasana. Aku ikut
mama jualan di Bazar Festival Betawi. Begitu sampai di
lokasi, suasana ramai langsung menyambutku. Musik
tradisional terdengar dari panggung kecil di tengah
lapangan. Warna-warni pakaian adat Betawi menghiasi
kerumunan. Ada penampilan lenong yang membuat
banyak orang tertawa lepas. Anak-anak berlarian sambil
membawa layang-layang, menengadah ke langit yang
cerah.

Aku membantu mama menata barang dagangan,
menyusun rapi di atas meja. Sesekali aku menawarkan
pada pengunjung yang lewat. Beberapa membeli,
beberapa hanya melihat-lihat sambil tersenyum.
Panasnya matahari sempat membuatku berkeringat, tapi
suasana yang meriah membuat semuanya terasa lebih
menyenangkan.

Teman-temanku juga datang untuk menemaniku. Mereka
membantu sebentar, lalu lebih sering mengajakku

mengobrol. Kami tertawa bersama, membicarakan hal-
hal sepele. Aku merasa hari itu berjalan biasa saja...

sampai momen itu datang.

4

Di tengah keramaian yang penuh suara dan tawa,
pandanganku tiba-tiba tertuju pada seseorang.

Langkahku berhenti.

Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.

Dia.

Crush aku.

Aku tak pernah benar-benar tahu sejak kapan perasaan
itu tumbuh. Barangkali sejak sebuah acara yang
berlangsung tak jauh dari rumahku, sebuah perayaan
Maulid Nabi Muhammad SAW. Sejak saat itu, tanpa
banyak kusadari, rasa kagum itu hadir dan bertahan
dalam waktu yang lama.

Dia berdiri tidak terlalu jauh dari stand jualan mama.
Bersama dua temannya, ia terlihat santai berjalan
menyusuri bazar. Ia memakai pakaian sederhana, tapi
entah kenapa selalu terlihat berbeda di mataku.

5

Senyumnya itu—yang tipis tapi hangat—selalu berhasil
membuatku kehilangan kata-kata.

“Eh, itu diaaa...!” bisik salah satu temanku sambil
cekikikan.

Aku pura-pura tidak dengar. Aku sibuk merapikan
barang yang sebenarnya sudah rapi. Tanganku sedikit
gemetar. Aku mencoba tidak terlalu jelas menatapnya,
tapi tetap saja mataku seperti punya kemauan sendiri.

Lalu tanpa sengaja, pandangan kami bertemu.

Waktu terasa melambat.

Suara tawa, musik, dan riuh bazar seperti menjauh. Yang
ada hanya dia, berdiri beberapa meter dariku, menatap
balik dengan ekspresi yang sulit kuartikan.

Dia terdiam sesaat.

6

Lalu tersenyum.

Senyum kecil. Tidak lebar. Tapi cukup untuk membuat
pipiku terasa panas.

Aku hampir lupa cara bernapas. Dalam hati aku
bertanya-tanya, “Dia sadar nggak sih kalau aku lagi
panik?”

Beberapa detik terasa seperti menit yang panjang.
Akhirnya, dengan sisa keberanian yang kupunya, aku
membalas senyumnya. Pelan. Canggung. Tapi tulus.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada kata.

Hanya senyum yang seperti menyimpan sesuatu.

Setelah itu, ia kembali berbicara dengan teman-
temannya, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi untukku,

7

momen singkat itu terasa sangat berarti. Aku bahkan

salah menaruh barang karena terlalu gugup. Teman-
temanku tertawa kecil melihat reaksiku.

“Parah banget kamu,” kata mereka menggoda.

Aku hanya tersenyum, berusaha terlihat biasa saja,
padahal jantungku masih berdebar tidak karuan.

Malamnya, saat bazar hampir selesai, aku masih
memikirkan kejadian tadi. Setiap kali mengingat
senyumnya, rasa lelahku seperti berkurang. Aku
membantu mama membereskan barang dengan perasaan
yang berbeda. Rasanya ringan. Hangat.

Hari Minggu, bazar masih berlanjut. Dalam hati kecilku,
aku berharap bisa melihatnya lagi. Aku bahkan tanpa
sadar lebih sering menoleh ke arah pintu masuk. Setiap
kali ada sosok yang mirip dengannya, jantungku
langsung bereaksi.

Tapi sampai siang berlalu, dia tidak muncul lagi.

8

Ada sedikit rasa kecewa, tapi juga rasa syukur karena
setidaknya kemarin aku sempat melihatnya. Aku sadar,
mungkin baginya itu hanya momen biasa. Hanya senyum
singkat pada seseorang yang kebetulan bertemu. Tapi
bagiku, itu lebih dari sekadar senyum.

Minggu ini memang terlihat sederhana. Tidak ada
kejadian besar selain wawancara OSIS dan bazar. Tapi
justru dari hal-hal kecil itulah aku belajar sesuatu.

Aku belajar bahwa keberanian kadang dimulai dari hal
sederhana—seperti membalas senyum.

Aku belajar bahwa perasaan tidak selalu harus diucapkan
dengan kata-kata. Kadang cukup dirasakan.

Dan aku belajar bahwa kebahagiaan bisa datang dari
momen yang sangat singkat.

Malam ini, sebelum tidur, aku kembali membuka novel
romance yang kubaca di awal minggu. Kali ini, saat

9

membaca adegan pertemuan dua tokohnya, aku tidak
lagi hanya membayangkan cerita mereka.

Aku tersenyum.

Karena ternyata, dunia nyata juga bisa punya adegan
manisnya sendiri.

Semoga suatu hari nanti, senyum singkat di tengah
keramaian itu bisa berubah menjadi sapaan kecil. Lalu
percakapan sederhana. Lalu mungkin... cerita yang lebih
panjang.

Dan jika hari itu benar-benar datang, aku ingin
menuliskannya lagi di halaman berikutnya—dengan
perasaan yang sama hangatnya seperti hari ini.

TAMAT

EPILOG
Keramaian selalu berlalu. Musik berhenti,
lampu dipadamkan, dan orang-orang
kembali ke kehidupan masing-masing.
Tapi perasaan tidak selalu ikut pergi.
Senyum singkat itu masih tinggal di
ingatanku. Bukan sebagai harapan yang
berlebihan, melainkan sebagai pengingat
bahwa kebahagiaan bisa hadir dengan
cara paling sederhana.
Mungkin kami tidak saling mengenal lebih
jauh. Mungkin cerita ini tidak akan
berlanjut seperti di novel-novel romantis.
Tapi satu hal yang pasti, perasaan itu
nyata—dan pernah membuat hatiku
berdebar di tengah keramaian.
Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup.

2

DIA DI ANTARA
KERAMAIAN

sebuah cerita pendek tentang perasaan yang tumbuh

dalam diam.

Marsela Afrilia

Tidak semua perasaan lahir dari
perkenalan panjang atau percakapan

yang sering.

Sebagian tumbuh diam-diam, dari
hal-hal kecil yang nyaris tak

disadari.

Satu tatapan di tengah keramaian.
Satu senyum singkat yang datang

tanpa rencana.

Dan sejak saat itu, hati mulai
belajar menyimpan nama,
menyimpan rasa,

tanpa pernah benar-benar tahu ke
mana perasaan itu akan berlabuh.

Thanks to...

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang
Maha Esa karena cerpen berjudul Dia di Antara
Keramaian ini akhirnya dapat diselesaikan. Cerita ini
lahir dari pengamatan sederhana tentang perasaan
remaja—tentang kagum, gugup, dan bahagia yang sering
kali hadir tanpa rencana.
Cerpen ini ditulis untuk menggambarkan bagaimana
momen kecil dapat memiliki arti yang besar. Sebuah
senyum, tatapan singkat, dan perasaan yang tumbuh
diam-diam di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari.
Penulis berharap cerita ini dapat menemani pembaca,
terutama mereka yang pernah merasakan jatuh cinta
dalam sunyi.
Penulis menyadari bahwa cerpen ini masih memiliki
banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran
yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan
karya di masa mendatang. Semoga cerpen ini dapat
memberikan kesan hangat dan menjadi bacaan yang
menyenangkan.

PROLOG
Ada perasaan yang tumbuh tanpa pernah direncanakan.
Datang perlahan, lalu menetap tanpa permisi.
Ia tidak selalu muncul lewat kata-kata. Kadang hanya

berupa tatapan singkat, senyum sederhana, atau detik-
detik hening di tengah keramaian. Perasaan itu tidak

meminta untuk diperhatikan, hanya ingin dirasakan.
Dan tanpa sadar, aku mulai menyimpannya dalam
diam—seperti rahasia kecil yang hanya aku dan hatiku
yang tahu.

















Minggu ini terasa berbeda dari minggu-minggu
sebelumnya. Entah karena tugas sekolah yang sedang
tidak terlalu banyak, atau karena suasana hatiku yang
terasa lebih ringan. Aku jadi punya lebih banyak waktu
untuk diriku sendiri. Dua malam di awal minggu, aku
menghabiskannya dengan membaca novel romance yang
baru saja kubeli. Aku tenggelam begitu dalam pada
ceritanya, sampai-sampai lupa waktu. Setiap adegan
manis membuatku senyum sendiri di kamar. Kadang aku
menutup buku itu sebentar, memeluknya, lalu
membayangkan bagaimana rasanya jika berada di posisi
tokoh perempuan di dalamnya.

Aku selalu suka cerita tentang pertemuan tak terduga.
Tentang dua orang yang awalnya hanya saling melihat,
lalu perlahan menjadi sesuatu yang lebih berarti. Saat

membaca, aku sering berpikir, “Apa hal seperti itu benar-
benar ada di dunia nyata?” Lalu aku tertawa kecil,

merasa pertanyaanku sendiri terdengar konyol. Tapi tetap
saja, jauh di dalam hati, aku berharap suatu hari nanti
aku juga merasakan cerita yang sederhana namun
berkesan seperti di novel itu.

Memasuki malam Sabtu, lamunanku harus berhenti. Ada
hal nyata yang menungguku: wawancara OSIS. Sejak
mendaftar, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk

2

mencoba sebaik mungkin. Aku berdiri di depan cermin
cukup lama, berlatih memperkenalkan diri, menjawab
pertanyaan, bahkan mengatur ekspresi wajah agar
terlihat yakin. Beberapa kali aku salah ucap dan malah
tertawa sendiri. Tapi di balik itu, ada rasa gugup yang
terus mengganggu.

“Aku pasti bisa,” bisikku pada bayangan di cermin.

Sabtu pagi datang lebih cepat dari yang kuharapkan.
Perutku terasa sedikit mual karena tegang. Sepanjang
perjalanan ke sekolah, aku menarik napas dalam-dalam,
mencoba menenangkan diri. Di ruang wawancara, aku
berusaha duduk tegak dan tersenyum. Kakak-kakak
OSIS bertanya cukup banyak hal—tentang alasan
mendaftar, tentang tanggung jawab, tentang bagaimana
aku menghadapi masalah. Aku menjawab sebisaku.
Kadang suaraku sedikit bergetar, tapi aku tetap mencoba
menatap mereka dengan yakin.

Saat semuanya selesai, aku keluar ruangan dengan
perasaan lega yang luar biasa. Rasanya seperti beban
besar yang akhirnya terangkat. Aku tidak tahu hasilnya
akan seperti apa, tapi setidaknya aku sudah berusaha.

3

Siangnya, aku langsung berganti suasana. Aku ikut
mama jualan di Bazar Festival Betawi. Begitu sampai di
lokasi, suasana ramai langsung menyambutku. Musik
tradisional terdengar dari panggung kecil di tengah
lapangan. Warna-warni pakaian adat Betawi menghiasi
kerumunan. Ada penampilan lenong yang membuat
banyak orang tertawa lepas. Anak-anak berlarian sambil
membawa layang-layang, menengadah ke langit yang
cerah.

Aku membantu mama menata barang dagangan,
menyusun rapi di atas meja. Sesekali aku menawarkan
pada pengunjung yang lewat. Beberapa membeli,
beberapa hanya melihat-lihat sambil tersenyum.
Panasnya matahari sempat membuatku berkeringat, tapi
suasana yang meriah membuat semuanya terasa lebih
menyenangkan.

Teman-temanku juga datang untuk menemaniku. Mereka
membantu sebentar, lalu lebih sering mengajakku

mengobrol. Kami tertawa bersama, membicarakan hal-
hal sepele. Aku merasa hari itu berjalan biasa saja...

sampai momen itu datang.

4

Di tengah keramaian yang penuh suara dan tawa,
pandanganku tiba-tiba tertuju pada seseorang.

Langkahku berhenti.

Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.

Dia.

Crush aku.

Aku tak pernah benar-benar tahu sejak kapan perasaan
itu tumbuh. Barangkali sejak sebuah acara yang
berlangsung tak jauh dari rumahku, sebuah perayaan
Maulid Nabi Muhammad SAW. Sejak saat itu, tanpa
banyak kusadari, rasa kagum itu hadir dan bertahan
dalam waktu yang lama.

Dia berdiri tidak terlalu jauh dari stand jualan mama.
Bersama dua temannya, ia terlihat santai berjalan
menyusuri bazar. Ia memakai pakaian sederhana, tapi
entah kenapa selalu terlihat berbeda di mataku.

5

Senyumnya itu—yang tipis tapi hangat—selalu berhasil
membuatku kehilangan kata-kata.

“Eh, itu diaaa...!” bisik salah satu temanku sambil
cekikikan.

Aku pura-pura tidak dengar. Aku sibuk merapikan
barang yang sebenarnya sudah rapi. Tanganku sedikit
gemetar. Aku mencoba tidak terlalu jelas menatapnya,
tapi tetap saja mataku seperti punya kemauan sendiri.

Lalu tanpa sengaja, pandangan kami bertemu.

Waktu terasa melambat.

Suara tawa, musik, dan riuh bazar seperti menjauh. Yang
ada hanya dia, berdiri beberapa meter dariku, menatap
balik dengan ekspresi yang sulit kuartikan.

Dia terdiam sesaat.

6

Lalu tersenyum.

Senyum kecil. Tidak lebar. Tapi cukup untuk membuat
pipiku terasa panas.

Aku hampir lupa cara bernapas. Dalam hati aku
bertanya-tanya, “Dia sadar nggak sih kalau aku lagi
panik?”

Beberapa detik terasa seperti menit yang panjang.
Akhirnya, dengan sisa keberanian yang kupunya, aku
membalas senyumnya. Pelan. Canggung. Tapi tulus.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada kata.

Hanya senyum yang seperti menyimpan sesuatu.

Setelah itu, ia kembali berbicara dengan teman-
temannya, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi untukku,

7

momen singkat itu terasa sangat berarti. Aku bahkan

salah menaruh barang karena terlalu gugup. Teman-
temanku tertawa kecil melihat reaksiku.

“Parah banget kamu,” kata mereka menggoda.

Aku hanya tersenyum, berusaha terlihat biasa saja,
padahal jantungku masih berdebar tidak karuan.

Malamnya, saat bazar hampir selesai, aku masih
memikirkan kejadian tadi. Setiap kali mengingat
senyumnya, rasa lelahku seperti berkurang. Aku
membantu mama membereskan barang dengan perasaan
yang berbeda. Rasanya ringan. Hangat.

Hari Minggu, bazar masih berlanjut. Dalam hati kecilku,
aku berharap bisa melihatnya lagi. Aku bahkan tanpa
sadar lebih sering menoleh ke arah pintu masuk. Setiap
kali ada sosok yang mirip dengannya, jantungku
langsung bereaksi.

Tapi sampai siang berlalu, dia tidak muncul lagi.

8

Ada sedikit rasa kecewa, tapi juga rasa syukur karena
setidaknya kemarin aku sempat melihatnya. Aku sadar,
mungkin baginya itu hanya momen biasa. Hanya senyum
singkat pada seseorang yang kebetulan bertemu. Tapi
bagiku, itu lebih dari sekadar senyum.

Minggu ini memang terlihat sederhana. Tidak ada
kejadian besar selain wawancara OSIS dan bazar. Tapi
justru dari hal-hal kecil itulah aku belajar sesuatu.

Aku belajar bahwa keberanian kadang dimulai dari hal
sederhana—seperti membalas senyum.

Aku belajar bahwa perasaan tidak selalu harus diucapkan
dengan kata-kata. Kadang cukup dirasakan.

Dan aku belajar bahwa kebahagiaan bisa datang dari
momen yang sangat singkat.

Malam ini, sebelum tidur, aku kembali membuka novel
romance yang kubaca di awal minggu. Kali ini, saat

9

membaca adegan pertemuan dua tokohnya, aku tidak
lagi hanya membayangkan cerita mereka.

Aku tersenyum.

Karena ternyata, dunia nyata juga bisa punya adegan
manisnya sendiri.

Semoga suatu hari nanti, senyum singkat di tengah
keramaian itu bisa berubah menjadi sapaan kecil. Lalu
percakapan sederhana. Lalu mungkin... cerita yang lebih
panjang.

Dan jika hari itu benar-benar datang, aku ingin
menuliskannya lagi di halaman berikutnya—dengan
perasaan yang sama hangatnya seperti hari ini.

TAMAT










EPILOG
Keramaian selalu berlalu. Musik berhenti,
lampu dipadamkan, dan orang-orang
kembali ke kehidupan masing-masing.
Tapi perasaan tidak selalu ikut pergi.
Senyum singkat itu masih tinggal di
ingatanku. Bukan sebagai harapan yang
berlebihan, melainkan sebagai pengingat
bahwa kebahagiaan bisa hadir dengan
cara paling sederhana.
Mungkin kami tidak saling mengenal lebih
jauh. Mungkin cerita ini tidak akan
berlanjut seperti di novel-novel romantis.
Tapi satu hal yang pasti, perasaan itu
nyata—dan pernah membuat hatiku
berdebar di tengah keramaian.
Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup.

TENTANG PENULIS
Marsela Afrilia adalah penulis remaja
yang menyukai cerita-cerita romantis

sederhana dengan latar kehidupan sehari-
hari. Ia senang menuangkan perasaan,

momen kecil, dan pengalaman emosional
ke dalam tulisan bernuansa diary. Dia di
Antara Keramaian merupakan salah satu
karyanya yang menggambarkan perasaan
kagum dan keberanian kecil dalam dia

Komentar

Postingan Populer