RINDU YANG BERBISIK-YASMINE SYAHRANI
RINDU YANG BERBISIK
Oleh yasmine syahrani
Rembulan terlihat bersinar begitu terang memancarkan cahayanya. Langit terbentang begitu
luas tanpa awan yang menemani. Angin pun berhembus begitu pelan membisikkan kata rindu
pada malam ini. Di tengah Temaramnya lampu yang menghiasi jalanan, terlihat bayangan
seorang gadis yang memantul di jalanan akibat cahaya yang menyorotnya.
Gadis cantik tersebut mengenakan sebuah dress putih selutut dan juga sebuah pita berbentuk
Kupu-kupu menghiasi rambut panjangnya yang tergerai. Seakan tak merasa kedinginan
mengenakan pakaian seperti itu pada malam hari, gadis itu justru merentangkan tangannya
saat angin bertiup dan membelai lembut dirinya.
Ia tersenyum tipis menikmati malam yang penuh keheningan dan rasa dingin ini, sembari
bersenandung kecil. Kakinya sesekali melompat riang saat melewati beberapa lubang di
jalan.
“Malam begitu menyenangkan, walaupun penuh kegelapan”ucap gadis tersebut menatap
langit gelap yang membentang tanpa di temani oleh Bulan maupun Bintangnya.
Rembulan Abigail itulah nama gadis tersebut yang kini berjalan menuju sebuah taman. Tidak
ramai namun terdapat orang-orang yang tengah menikmati malam seperti dirinya, ia pun
mendudukan dirinya di sebuah bangku yang ada di taman tersebut.
“Langit malam hari ini saja terlihat sepi tanpa adanya bintang yang menerangi, apalagi aku
tanpa kalian”ucap Rembulan pelan sembari memainkan jemarinya yang tertaut. Gadis
tersebut menatap orang-orang yang terlihat bahagia menikmati malam bersama orang
Terkasihnya. Ia begitu iri melihat itu.
Rembulan menundukkan kepalanya. Angin malam yang semula terasa lembut kini seakan
membawa kenangan yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.
Matanya menatap kosong pada jalan setapak di taman itu. Lampu taman yang redup membuat
bayangannya terlihat panjang di tanah, seolah bayangan itu adalah masa lalu yang terus
mengikutinya ke mana pun ia pergi.
Sudah hampir dua tahun berlalu sejak malam kelam itu. Malam yang merenggut dua sosok
yang paling ia sayangi.
Kedua abang laki-lakinya.
Kecelakaan itu terjadi begitu tiba-tiba. Sebuah kabar yang datang seperti petir di siang hari,
menghancurkan hati keluarganya dalam sekejap. Sejak saat itu, rumah yang dahulu penuh
tawa berubah menjadi rumah yang dipenuhi keheningan.
Rembulan mengingat bagaimana ibunya sering menatap kursi makan yang kosong.
Sedangkan ayahnya lebih sering menghabiskan waktu bekerja, seakan mencoba melupakan
luka yang tak terlihat.
Ia menarik napas panjang. Kenangan itu seperti ombak yang datang tanpa diundang,
menghantam hatinya berkali-kali.
Namun Rembulan tahu, ia tidak boleh terus tenggelam di dalamnya.
“Abang… pasti tidak ingin melihatku terus menangis seperti ini,” bisiknya lirih.
Angin malam kembali berhembus, memainkan helai rambutnya yang panjang. Gadis itu
memejamkan mata sejenak. Dalam keheningan taman, ia mencoba berdamai dengan masa
lalu.
Langit malam memang tampak gelap, tetapi Rembulan percaya bahwa di balik kegelapan itu
selalu ada cahaya yang menunggu untuk muncul.
Ia teringat kata-kata salah satu abangnya dahulu.
“Hidup itu seperti langit malam, Bulan. Kadang gelap, tapi bintang pasti akan muncul kalau
kita mau menunggu.” Perlahan, senyum kecil kembali terukir di wajahnya.
Ia sadar bahwa kehilangan memang tidak bisa dihapus dari ingatan. Namun kenangan tidak
selalu harus menjadi luka. Kadang, kenangan justru menjadi alasan untuk tetap melangkah.
Rembulan berdiri dari bangku taman itu.
Ia menatap langit sekali lagi.
“Mungkin malam ini memang sunyi,”gumamnya pelan, “tapi aku masih punya ayah dan ibu
yang harus aku bahagiakan.”
Langkahnya kini terasa lebih ringan. Jalan pulang yang tadi terasa panjang kini seperti
memanggilnya dengan hangat.
Di dalam hatinya, Rembulan berjanji pada dirinya sendiri.
Ia tidak akan terus terjebak dalam kesedihan.
Ia akan hidup dengan lebih kuat, lebih tabah, dan lebih bersyukur.
Karena ia percaya, cinta dari orang-orang yang telah pergi tidak pernah benar-benar hilang.
Cinta itu hanya berubah menjadi doa yang menjaga dari kejauhan.
Seperti bulan yang tetap bersinar walau kadang tertutup awan.
Amanat penulis:
“Kehilangan memang meninggalkan luka yang mendalam, tetapi hidup harus tetap berjalan.
Kenangan pahit tidak seharusnya membuat seseorang berhenti melangkah, melainkan
menjadi kekuatan untuk menghargai orang-orang yang masih ada dan menjalani hidup dengan penuh harapan.”
.jpg)
Komentar
Posting Komentar